Aku pun terkejut setelah ndengar perkataan Irene. ski aku terkejut, tetapi aku tidak nanyakan lebih lanjut tentang hal yang Irene katakan sebelumnya karena ada hal yang harus aku lakukan terlebih dahulu, yaitu nyembuhkan Irene yang terlihat lemas. ski Irene terlihat lemas, tetapi Irene masih kuat untuk lukku dari belakang.
Aku mutuskan untuk rubah posisiku agar aku bisa lebih muda lihat dan nyembuhkan Irene. Jadi aku lalu berbalik sehingga Irene kini sedang lukku dari depan. Setelah itu, aku lalu ngarahkan tangan kananku ke arah Irene.
~Full Healing~
Aku lalu nyembuhkan Irene dengan nggunakan sihir penyembuhanku. Beberapa saat setelah aku nyembuhkan Irene, Irene mulai berbicara kembali.
"Aku sudah tidak lemas lagi?," tanya Irene.
Irene nampak bingung karena tubuhnya sudah tidak lemas lagi. Sepertinya Irene tidak nyadari kalau aku nggunakan sihir penyembuhan kepadanya. Mungkin karena saking lemasnya dia, dia jadi tidak mperhatikan hal itu. Lalu dari cara bicara Irene yang sudah njadi lancar, dapat dikatakan kalau Irene sudah pulih kembali.
Setelah Irene sudah pulih, Irene lalu lepaskan pelukannya pada tubuhku.
"Sepertinya kamu yang sudah nyembuhkanku. Terima kasih, Rid," ucap Irene.
"Iya, sama-sama," ucapku.
Setelah itu, Irene lalu lihat ke arahku, tepatnya ke wajahku.
"Kelihatannya kamu masih bingung dengan apa yang aku katakan sebelumnya. Baiklah, aku akan njelaskan maksud dari perkataanku sebelumnya kepadamu," ucap Irene.
Irene terlihat ngetahui kalau aku sedang bingung setelah lihat ke wajahku. Aku mang ingin Irene njelaskan tentang maksud perkataannya sebelumnya, tetapi sebelum itu masih ada hal lain yang harus dilakukan.
"Tunggu sebentar, Irene. Sebelum kamu njelaskan tentang itu, aku ingin nyembuhkan semua orang yang tergeletak di tempat ini terlebih dahulu," ucapku.
"....Baiklah," ucap Irene.
Aku tidak tahu apakah sihir penyembuhanku bisa mulihkan reka yang sedang tergeletak, apalagi aku masih belum tahu pasti penyebab reka tergeletak. Aku hanya tahu dari Irene kalau reka tergeletak karena perbuatanku. ski begitu, aku harus tetap berusaha untuk nyembuhkan reka.
Aku tidak tahu berapa banyak orang yang tergeletak. Kelihatannya orang-orang yang tergeletak itu tidak hanya berada di halaman depan kediaman Duke Louis saja. Maka dari itu, aku mutuskan untuk nggunakan sihir penyembuhan skala areaku untuk nyembuhkan reka semua yang tergeletak.
Aku lalu ngarahkan kedua tanganku ke atas dan kemudian mulai lancarkan sihir penyembuhanku.
~Blessing of Full Healing~
Setelah itu, bola-bola berukuran kecil dan berwarna putih mulai muncul dari kedua tanganku yang sedang diarahkan ke atas. Bola-bola putih itu pun lalu bergerak nuju ke arah orang-orang yang tergeletak itu.
-
Sentara itu, di ruangan tempat Ratu Kayana dan yang lainnya berada.
Setelah perginya nona Laviena dan para Priest yang sebelumnya datang ke ruangan itu, Ratu Kayana dan beberapa orang yang sebelumnya berdiri atau berada jauh dari tempat duduk reka pun kembali duduk ke tempat duduk reka masing-masing. reka semua terlihat masih lemas dan tidak nyangka dengan apa yang barusan terjadi.
"Aku tidak nyangka kalau salah satu dari komandan Holy Knights akan datang ke kerajaan ini. Tetapi aku lebih tidak nyangka kalau pemimpin tertinggi Holy Kingdom akan ikut dalam pembicaraan di ruangan ini. Aku sempat panik karena aku tidak nyangka kalau beliau telah ndengar pembicaraan di ruangan ini sejak komandan Holy Knights itu datang. Apalagi sebelumnya aku telah nyerang komandan Holy Knights itu. Beliau sudah pasti tahu kalau aku telah nyerang komandan Holy Knights itu," ucap Ratu Kayana.
Ratu Kayana ngatakan itu sambil duduk bersandar di kursinya. Ratu Kayana duduk sambil ndongakkan kepalanya ke atas dan juga sambil naruh tangan kanannya di atas wajahnya hingga nutupi kedua matanya.
"Iya, saya juga, Yang Mulia Ratu. Padahal saya sebelumnya berniat untuk nyerang High Priest Theodor. Saya pun juga sudah bersiap akan segala resiko yang terjadi apabila saya nyerang High Priest Theodor. Tetapi begitu saya tahu kalau ternyata pemimpin tertinggi Holy Kingdom juga ndengar pembicaraan yang terjadi di ruangan ini, entah kenapa saya ndadak njadi panik. Hanya ndengar suaranya saja, saya rasa sedikit takut," ucap Duke Louis.
Duke Louis terlihat juga sedang duduk sambil bersandar di kursi yang didudukinya.
"Aku juga sama. Entah kenapa pemimpin tertinggi Holy Kingdom itu seperti mpunyai aura dan wibawa yang kuat. Hanya dengan ndengarkan suaranya saja bisa mbuat kita sedikit takut dan rinding. Tidak ngherankan kalau beliau bisa njadi pemimpin tertinggi Holy Kingdom. Orang sekuat komandan Holy Knights barusan saja sampai patuh dengan beliau," ucap Duchess Arlet yang juga sedang duduk sambil bersandar di kursinya.
"Iya, bahkan komandan Holy Knights tadi tidak segan-segan untuk mbunuh High Priest Theodor karena telah seenaknya rintah pemimpin tertinggi Holy Kingdom,"
"Komandan Holy Knights tadi sangat kuat, dia bisa saja mbunuh kita dengan mudah. Tetapi dia tidak lakukannya, dia bahkan hanya nahan kita yang telah mbuat keributan di ruangan ini. Tetapi jika tadi kita nyinggung pemimpin tertinggi Holy Kingdom atau pemimpin tertinggi Holy Kingdom sendiri yang rintahkan dia untuk mbunuh kita, maka saat ini kita pasti sudah bernasib sama seperti High Priest Theodor," ucap Ratu Kayana.
Setelah Ratu Kayana selesai berbicara, semua orang yang ada di ruangan itu pun terdiam. reka masih sedikit lemas dan tidak nyangka dengan apa yang terjadi sebelumnya di ruangan ini.
Sentara disaat semua orang di ruangan itu sedang terdiam, Ratu Kayana yang sebelumnya sedang nutupi kedua matanya dengan tangan kanannya, kini mulai ngangkat tangan kanannya dari atas kedua matanya. Setelah itu, dia lalu noleh ke arah Duchess Ecrin dan Duchess Hazel yang sedang duduk. ski reka berdua sedang duduk, tetapi saat ini reka masih dalam kondisi tidak sadarkan diri akibat terkena efek tekanan aura yang dikeluarkan oleh nona Laviena. Saat ini, suami reka sedang gangi tubuh reka agar tubuh reka yang saat ini sedang duduk tidak terjatuh. Lalu di dekat reka, terlihat nona Karina sedang berusaha untuk nyembuhkan reka dengan nggunakan sihir tanamannya.
Setelah lihat ke arah Duchess Ecrin dan Duchess Hazel, Ratu Kayana lalu noleh ke arah Duke Louis yang sedang terduduk lemas.
"Tuan Louis, tolong hubungi Rid. Aku ingin nanyakan tentang kabar disana," ucap Ratu Kayana.
"Ah benar juga. Saya juga berniat untuk nanyakan kabar disana yang baru saja diserang oleh High Priest Julian, tetapi karena saya masih mikirkan tentang apa yang terjadi di ruangan ini sebelumnya, saya jadi lupa. Tunggu sebentar, Yang Mulia Ratu," ucap Duke Louis.
Setelah itu, Duke Louis ngambil kristal komunikasi yang ada di saku pakaiannya lalu kemudian ncoba untuk nghubungi Rid.
-
Kembali ke halaman depan kediaman Duke Louis.
Orang-Orang yang sebelumnya tergeletak satu persatu mulai bangun kembali setelah terkena bola-bola putih yang berasal dari sihir penyembuhanku. Leandra, Lily, dan senior Nadine pun juga mulai bangun setelah sebelumnya tergeletak.
"Ada apa ini? Kenapa aku bisa terbaring disini?," tanya Leandra yang bingung.
"Aku juga kenapa bisa terbaring disini? Bukankah sebelumnya kita sedang berdiri sambil ndengarkan Rid yang sedang berbicara dengan High Priest Theodor lewat kristal komunikasi?," tanya Lily.
Setelah ngatakan itu, Lily pun terdiam sesaat. Tidak lama kemudian, Lily pun mulai berbicara kembali.
"Ah benar juga, ketika kita sedang ndengarkan Rid yang sedang berbicara, tiba-tiba tekanan udara yang berada di sekitar kita njadi berat. Kita pun jadi kesulitan untuk bernafas. Setelah itu, aku tidak ingat apa-apa lagi," ucap Lily.
"Iya, kamu benar. Aku juga ngingat tentang itu, tapi setelah kita rasa kesulitan untuk bernafas, aku jadi tidak ingat apa yang terjadi setelah itu," ucap Leandra.
Sentara itu, senior Nadine yang baru saja bangun terlihat sedang mikirkan sesuatu setelah ndengar perkataan Leandra dan Lily.
"Tekanan udara yang tiba-tiba njadi berat....., ah benar juga," ucap senior Nadine.
Setelah itu, senior Nadine tiba-tiba langsung berdiri. Senior Nadine lalu lihat ke sekelilingnya seperti sedang ncari seseorang. Senior Nadine terus lihat ke sekeliling sampai akhirnya dia nemukan orang yang dia cari. Senior Nadine pun lalu langsung bergegas nghampiri orang yang dia cari.
"Rid, jadi kamu yang telah ngeluarkan tekanan aura sebesar itu," ucap senior Nadine.
Orang yang dicari oleh senior Nadine rupakan aku.
"Aku ngeluarkan tekanan aura?," tanyaku.
Aku pun rasa bingung dengan apa yang ditanyakan oleh senior Nadine. Aku tahu tentang tekanan aura karena aku pernah beberapa kali mbaca informasi tentang itu dari buku yang dimiliki kakekku. Tetapi aku rasa bingung karena tiba-tiba senior Nadine berkata kalau aku telah ngeluarkan tekanan aura yang besar. Aku mang ngetahui tentang tekanan aura tetapi aku belum pernah mpelajari itu. Karena aku hanya fokus untuk mpelajari tentang teknik bertarung dah sihir. Jadi aku bingung kenapa senior Nadine bilang kalau aku telah ngeluarkan tekanan aura.
"Iya, tekanan aura. Kamu kan yang sebelumnya ngeluarkan tekanan aura yang besar. Tidak hanya di tempat ini saja, tetapi juga di tempat kamu ngalahkan High Priest Julian," ucap senior Nadine.
"Tidak, aku tidak ngeluarkan tekanan aura," ucapku.
Senior Nadine terlihat terkejut setelah ndengar perkataanku.
"Apa? Tetapi aku yakin kalau kamu lah yang telah ngeluarkan tekanan aura," ucap senior Nadine.
"Tidak, itu bukan aku," ucapku.
Aku terus mbantah perkataan senior Nadine, sedangkan senior Nadine terus berkata kalau yang ngeluarkan tekanan aura adalah aku. lihat kami yang sedang berdebat, Irene pun ikut berbicara.
"Berhenti, kalian berdua," ucap Irene.
Setelah ndengar perkataan Irene, kami pun langsung berhenti berbicara.
"Nadine, sesuai yang dikatakan oleh Rid, bukan Rid yang ngeluarkan tekanan aura," ucap Irene.
"Apa? Tetapi aku yaki-," ucap senior Nadine.
Tetapi sebelum senior Nadine nyelesaikan perkataannya, Irene lebih dulu motong perkataan senior Nadine.
"Maksudku, bukan Rid yang secara sadar lah yang ngeluarkan tekanan aura," ucap Irene.
Senior Nadine terlihat sedikit terkejut setelah ndengar perkataan Irene, sentara aku hanya diam sambil mikirkan perkataan Irene.
"Bukan Rid yang secara sadar? Maksudmu mang Rid yang telah ngeluarkan tekanan aura tetapi dia lakukan itu tanpa sadar?," tanya senior Nadine.
"Iya. Tekanan udara yang berat yang kamu sebut sebagai tekanan aura itu, aku sudah beberapa kali rasakannya ketika aku bersama Rid. Jadi aku yakin kalau Rid ngeluarkan tekanan aura itu secara tidak sadar," ucap Irene.
"Jadi begitu ya," ucap senior Nadine.
Setelah itu, senior Nadine pun terdiam sambil mikirkan sesuatu. Setelah Irene berbicara dengan senior Nadine, Irene lalu lihat ke arahku.
"Rid, aku sebelumnya bilang kalau orang-orang yang tergeletak di tempat ini rupakan perbuatanmu. Ya, itu mang perbuatanmu. reka tergeletak setelah terkena tekanan aura yang kamu keluarkan tanpa sadar," ucap Irene.
Aku pun sedikit terkejut setelah ndengar perkataan Irene.
"Aku ngeluarkan tekanan aura tanpa sadar?," tanyaku.
Sentara itu, disaat aku sedang terkejut, tiba-tiba muncul sebuah cahaya terang dari saku pakaianku. Cahaya itu seperti berasal dari kristal komunikasi milikku yang ada di saku pakaianku. Aku pun langsung ngambil kristal komunikasi itu karena aku tahu ada yang mau nghubungi aku. Setelah aku ngambil kristal komunikasi yang ada di saku pakaianku, aku lalu berbicara dengan Irene dan senior Nadine terlebih dahulu sebelum njawab panggilan dari kristal komunikasi milikku.
"Irene, senior Nadine, aku mau njawab panggilan ini dulu. Jadi kita tunda sebentar pembicaraan yang kita lakukan tadi," ucapku.
"Baiklah," ucap Irene.
Sentara senior Nadine hanya ngangguk saja setelah ndengar perkataanku. Setelah itu, aku lalu njawab panggilan pada kristal komunikasiku.
"Halo," ucapku.
Tidak lama setelah aku ngatakan itu, kristal komunikasi itu pun mulai bersuara.
"Halo, Rid. Ini aku," ucap seseorang dari kristal komunikasi itu.
Aku ngenali suara itu. Suara itu rupakan suara Duke Louis.
"Paman Louis? Ada perlu apa nghubungiku?," tanyaku.
"Aku hanya ingin ngetahui kabar disana karena sebelumnya aku ndengar kalau High Priest Julian lakukan penyerangan disana. Sebelumnya aku ndengar kalau kamu telah mbunuh High Priest Julian tetapi setelah itu kita tidak lakukan pembicaraan lagi," ucap Duke Louis.
"Begitu ya. Keadaan disini sekarang baik-baik saja, paman. Sekarang aku sedang bersama dengan Irene dan senior Nadine," ucapku.
Setelah aku ngatakan itu, Irene dan senior Nadine pun ndekatiku. reka berdua ndekatiku karena reka ingin berbicara dengan Duke Louis lewat kristal komunikasi yang aku pegang.
"Aku baik-baik saja, ayahanda. Ayahanda tidak perlu khawatir," ucap Irene.
"Aku juga baik-baik saja, tuan," ucap senior Nadine.
"Syukurlah kalau kalian baik-baik saja. Aku benar-benar khawatir apalagi setelah ndengar High Priest Julian dan para Priest gereja Sancta Lux lakukan penyerangan disana," ucap Duke Louis.
"Ayahanda tidak perlu khawatir lagi. Sekarang keadaan disini sudah baik-baik saja," ucap Irene.
"Syukurlah kalau begitu. Ngomong-ngomong, apa High Priest Julian benar-benar telah tewas? Lalu bagaimana kondisi para Priest yang juga lakukan penyerangan bersama High Priest Julian?," tanya Duke Louis.
"Iya, High Priest Julian telah tewas, ayahanda. Rid yang telah mbunuhnya. Lalu untuk para Priest itu, reka semua sudah dikalahkan. Beberapa dari reka telah tewas lalu sisanya hanya terluka saja. reka yang terluka saat ini sedang kami tahan agar tidak larikan diri," ucap Irene.
"Baguslah kalau reka semua sudah dikalahkan. Itu berarti kondisi disana mang sudah baik-baik saja," ucap Duke Louis.
"Iya, tetapi karena penyerangan yang dilakukan oleh reka, ada beberapa dari prajurit ayahanda yang tewas. Aku minta maaf, ayahanda," ucap Irene.
"Kamu tidak perlu minta maaf, Irene. Lagipula reka tewas bukan karena kesalahanmu, lainkan karena ulah para Priest yang telah lakukan penyerangan itu," ucap Duke Louis.
"Baik, ayahanda," ucap Irene.
"Untuk para prajurit yang telah tewas, tolong rawat jasad reka dengan baik, Irene. reka berhak ndapatkan penghormatan terakhir dan pemakaman yang layak. Ketika pulang nanti, aku akan ikut untuk makamkan reka," ucap Duke Louis.
"Baik, ayahanda," ucap Irene.
"Ya sudah, itu saja yang ingin aku bicarakan dengan kalian. Aku akan ngakhiri panggilan ini,"
"Ah, tunggu sebentar. Yang Mulia Ratu bilang kalau beliau ingin berbicara denganmu, Rid. Aku akan nyerahkan kristal komunikasiku ini kepada beliau," ucap Duke Louis.
"Yang Mulia Ratu ingin berbicara denganku?," pikirku.
Setelah itu, kristal komunikasi itu pun tidak bersuara selama beberapa saat. Tidak lama kemudian, kristal komunikasi itu pun kembali bersuara.
"Halo, Rid," ucap Ratu Kayana.
Aku bisa langsung ngenali suara beliau karena aku sudah sering ndengar suaranya.
"Halo juga, Yang Mulia Ratu. Paman Louis bilang kalau anda ingin berbicara dengan saya, ada apa mangnya, Yang Mulia Ratu?," tanyaku.
"Iya, mang ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu. Aku ingin mastikan, apa kamu sebelumnya telah ndengar percakapan dari pemimpin tertinggi Holy Kingdom?," tanya Ratu Kayana.
"Iya, saya ndengar percakapannya, Yang Mulia Ratu," ucapku.
"Itu berarti kamu telah ndengar kalau pemimpin tertinggi Holy Kingdom telah ngabaikan perbuatanmu yang telah mbunuh High Priest Julian," ucap Ratu Kayana.
"Iya, saya juga telah ndengar tentang itu," ucapku.
"Kamu harus bersyukur karena adanya situasi darurat yang mbuat pemimpin tertinggi Holy Kingdom ngabaikan perbuatanmu yang telah mbunuh seorang High Priest. Jika tidak ada situasi darurat itu, kamu sekarang pasti sudah diburu oleh pemimpin tertinggi Holy Kingdom," ucap Ratu Kayana.
"Saya tidak tahu apakah saya harus bersyukur atau tidak. Tetapi ski tidak ada situasi darurat itu, saya tidak cemas apabila saya diburu oleh pemimpin tertinggi Holy Kingdom. Saya hanya tinggal lawan orang-orang yang ingin mburu saya skipun orang itu adalah salah satu komandan Holy Knights," ucapku.
Ratu Kayana terdiam setelah ndengar perkataanku. Tidak lama kemudian, beliau pun mulai berbicara kembali.
"Aku tidak tahu kamu asal bicara atau tidak, tetapi kamu jangan rehkan komandan Holy Knights. Komandan Holy Knights yang barusan datang ke ruangan ini sangatlah kuat, aku bisa njamin itu. Dia bisa saja mbunuh kami semua dengan mudah, tetapi dia tidak lakukan itu," ucap Ratu Kayana.
Aku pun terdiam setelah ndengar perkataan Ratu Kayana. ski aku hanya terdiam, Ratu Kayana terus lanjutkan perkataannya.
"Jadi kamu harus bersyukur kalau kamu sekarang tidak diincar oleh reka karena pemimpin tertinggi Holy Kingdom telah mutuskan untuk ngabaikan perbuatanmu. ski begitu, bukan berarti kamu bisa seenaknya mbunuh seseorang dari gereja Sancta Lux. Apalagi tadi pemimpin tertinggi Holy Kingdom bilang kalau beliau tidak mpermasalahkan apabila gereja Sancta Lux yang ada di kerajaan ini terus berusaha untuk rekrutmu. Itu berarti ke depannya, gereja Sancta Lux akan terus berusaha rekrutmu entah dengan cara halus atau cara kasar,"
"Kamu harus hati-hati lagi terhadap reka, Rid. Jika reka berusaha rekrutmu secara kasar, kamu tidak boleh seenaknya mbunuh reka lagi," ucap Ratu Kayana.
"Anda tenang saja, Yang Mulia Ratu. Jika reka datang untuk rekrutku secara langsung, saya akan berusaha untuk mperlakukan reka dengan halus. Tetapi jika reka berusaha untuk lakukan sesuatu kepada orang-orang yang berharga bagi saya sebagai umpan untuk rekrutku, jangan harap kalau saya akan mperlakukan reka dengan halus," ucapku.
Setelah ndengar perkataanku, Ratu Kayana pun nghela nafasnya.
"*Haaaaaahhhh, ya ampun kamu ini. Ya sudah terserah kamu saja," ucap Ratu Kayana.
Setelah ngatakan itu, Ratu Kayana kembali lanjutkan perkataannya.
"Itu saja yang ingin aku sampaikan kepadamu. Ah benar juga, satu hal lagi. Kamu sebelumnya ndengar percakapanku dengan komandan Holy Knights itu kan? Aku dan komandan Holy Knights itu sepakat untuk tidak mberitakan tentang tewasnya keduanya High Priest. Disini bisa dibilang aman karena jasad High Priest Theodor sudah diurus oleh komandan Holy Knights itu dan para Priest yang datang kesini. Untuk jasad High Priest Julian yang tewas disana, aku minta kamu dan orang-orang yang ada disana untuk nutupi kabar tentang tewasnya High Priest Julian. Tidak hanya High Priest Julian saja, tetapi tutupi juga kabar para Priest yang telah tewas disana," ucap Ratu Kayana.
"Baik, Yang Mulia Ratu. Saat ini, jasad High Priest Julian dan para Priest yang telah tewas kami letakkan di halaman depan kediaman paman Louis. Karena penyerangan yang dilakukan oleh High Priest Julian dan para Priest di kediaman paman Louis, saat ini ada banyak orang yang sedang berkumpul di gerbang depan kediaman paman Louis. Di antara orang-orang yang berkumpul itu, beberapa di antaranya adalah orang-orang dari Diganta. Kelihatannya reka ingin mbuat berita tentang penyerangan yang terjadi di kediaman paman Louis,"
"Tetapi anda tidak perlu khawatir karena saat ini para prajurit paman Louis sedang berjaga di gerbang depan kediaman untuk ncegah dan nghalau reka yang ingin masuk ke halaman depan kediaman. Kami pastikan kalau reka tidak akan ndapatkan bukti tentang tewasnya High Priest Julian dan para Priest sehingga reka tidak akan bisa mbuat berita itu," ucapku.
"Bagus, terus halau reka agar reka tidak bisa ndekati jasad reka dan ndapatkan bukti," ucap Ratu Kayana.
"Baik, Yang Mulia Ratu," ucapku.
"Ya sudah, itu saja yang ingin aku bicarakan denganmu. Sebenarnya masih banyak hal yang ingin aku bicarakan denganmu tetapi saat ini masih ada sesuatu yang harus aku bicarakan dengan orang-orang yang ada di ruangan ini. Jadi mungkin lain kali aku akan ngajakmu untuk berbicara lagi," ucap Ratu Kayana.
"Baik, Yang Mulia Ratu," ucapku.
"Ya sudah, sampai nanti, Rid," ucap Ratu Kayana.
"Sampai nanti, Yang Mulia Ratu," ucapku.
Setelah itu, kristal komunikasi yang aku pegang pun terdiam sesaat. Tidak lama kemudian, kristal komunikasi itu kembali bersuara. Suara dari kristal komunikasi yang muncul kali ini rupakan suara dari Duke Louis
"Karena Yang Mulia Ratu sudah selesai berbicara denganmu, maka aku akan akhiri komunikasi ini karena aku juga sudah selesai berbicara denganmu,"
"Irene, sebelum aku kembali kesana, untuk sekarang aku serahkan semuanya kepadamu. Koordinasikan dengan para prajurit untuk lakukan hal-hal yang perlu dilakukan setelah selesainya penyerangan yang dilakukan oleh High Priest Julian," ucap Duke Louis.
"Baik, ayahanda," ucap Irene.
"Baiklah, kalau begitu aku akhiri komunikasi ini. Sampai bertemu nanti," ucap Duke Louis.
Setelah Duke Louis ngatakan itu, kristal komunikasi yang aku pegang pun berhenti ngeluarkan cahaya. Itu berarti panggilan yang dilakukan oleh Duke Louis lewat kristal komunikasiku telah selesai.
-
Kembali ke ruangan tempat Ratu Kayana dan yang lainnya berada.
Setelah selesai nghubungi Rid, Duke Louis lalu kembali naruh kristal komunikasi yang dia pakai sebelumnya ke saku pakaiannya. Setelah Duke Louis sudah naruh kristal komunikasi itu, Ratu Kayana pun mulai berbicara.
"Setelah komandan Holy Knights itu pergi, awalnya aku ingin lanjutkan diskusi yang tertunda karena kedatangan reka sebelumnya. Tetapi karena nona Hazel dan nona Ecrin masih belum sadarkan diri, kita tunda dulu diskusinya," ucap Ratu Kayana.
"Baik, Yang Mulia Ratu," ucap semua orang yang ada di ruangan itu.
Setelah itu, Ratu Kayana tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya. Dia kemudian berjalan pergi ke arah pintu keluar ruangan itu yang masih terbuka lebar. Beberapa orang yang ada di ruangan itu terlihat bingung ketika lihat Ratu Kayana yang berjalan nuju pintu keluar.
"Anda mau kemana, Yang Mulia Ratu?," tanya komandan Oliver.
"Aku ingin riksa keadaan orang-orang yang ada istana ini, terutama keadaan anak-anakku. Kalian tidak lupa kan kalau komandan Holy Knights tadi bilang kalau semua orang yang ada di istana ini tengah tertidur karena kekuatannya. Komandan Holy Knights itu juga bilang kalau reka akan tersadar sebentar lagi. Jadi aku ingin riksanya sambil nunggu nona Hazel dan nona Ecrin tersadar," ucap Ratu Kayana.
Awalnya beberapa orang yang ada di ruangan itu tidak nyadari akan hal itu. reka baru sadar setelah Ratu Kayana ngatakan hal itu.
"Benar juga, saya lupa akan hal itu. Saya masih terkejut dengan apa yang terjadi di ruangan ini sebelumnya sampai saya lupa akan hal itu," ucap komandan Oliver.
"Saya juga hampir lupa akan hal itu," ucap komandan Asier.
"Ya ampun, kalian. Ya sudah daripada kalian hanya diam disini saja, lebih baik kalian ikut aku untuk ngecek keadaan reka semua," ucap Ratu Kayana.
"Baik, Yang Mulia Ratu," ucap beberapa orang yang ada di ruangan itu.
Semua orang yang ada di ruangan itu pun kemudian pergi keluar untuk riksa keadaan semua orang yang sebelumnya tertidur. Tetapi tidak semua dari reka yang pergi karena masih ada nona Hazel, nona Ecrin dan suami reka serta nona Karina yang masih nyembuhkan nona Hazel dan nona Ecrin.
-
Sentara itu, di salah satu lorong di White Palace.
Tepat setelah Ratu Kayana dan yang lainnya pergi untuk riksa keadaan orang-orang yang tertidur, orang-orang yang tertidur di lorong itu pun satu persatu mulai tersadar kembali.
-Bersambung
Reviews
All reviews (0)