Font Size
15px

Masih di sebuah lorong yang ada di White Palace.

Orang-orang yang sebelumnya tertidur karena kekuatan nona Laviena pun satu persatu mulai sadarkan diri. Charles, yang juga berada di lorong itu pun juga mulai sadarkan diri. Charles terlihat bingung ketika dia baru saja terbangun.

"Ada apa ini? Kenapa aku sebelumnya tergeletak di lantai? Apa sebelumnya aku tertidur?," tanya Charles.

Charles tahu kalau sebelumnya dia sedang terbaring di lantai karena setelah dia sudah sadarkan diri, tubuhnya masih terbaring di lantai. Kini dia sedang duduk sambil lihat ke sekelilingnya. Beberapa orang yang ada di lorong itu terlihat masih terbaring di lantai skipun reka sudah sadarkan diri. Sentara sisanya terlihat sedang duduk di lantai. Tidak ada dari reka yang sedang berdiri di lorong itu. reka masih bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi kepada reka karena reka tiba-tiba sadarkan diri dengan kondisi tubuh yang sudah terbaring di lantai.

Setelah lihat ke sekeliling lorong itu, Charles lalu noleh ke samping untuk lihat Chloe dan Caroline. Ketika Charles sudah noleh ke samping, Charles lihat Chloe dan Caroline yang masih terbaring di lantai. ski begitu, reka berdua terlihat sudah sadarkan diri.

"Chloe, Carol, apa kalian juga tertidur sebelumnya?," tanya Charles.

Chloe yang masih terbaring di lantai, secara perlahan mulai bangun. Setelah bangun, kini dia pun duduk di lantai sama seperti Charles.

"Tertidur? Aku tidak tahu. Yang jelas aku rasa kalau aku baru saja terbangun dan tahu-tahu tubuhku sudah terbaring di lantai," ucap Chloe.

"Aku juga rasa sama seperti kakak Chloe," ucap Caroline yang masih terbaring di lantai.

Setelah ndengar perkataan reka berdua, Charles pun terdiam sambil mikirkan sesuatu.

"Ini aneh, sebenarnya apa yang sedang terjadi pada kami? Tidak hanya kami bertiga saja, tetapi semua orang yang ada di lorong ini seperti rasa baru saja tertidur. Dengan tubuh kami yang terbaring di lantai ketika kami baru saja terbangun, itu mbuktikan kalau kami mang telah tertidur. Tetapi apa penyebab kami bisa tertidur?," pikir Charles.

Charles terus mikirkan tentang hal itu. Ketika sedang mikirkan tentang hal itu, tiba-tiba Charles teringat akan sesuatu.

"Aku ingat. Sebelum aku terbangun, aku ndengar suara senandung wanita di lorong ini. Setelah aku ndengar suara senandung itu, aku tidak ingat apa-apa lagi. Yang aku ingat setelah itu adalah aku tiba-tiba terbangun dengan tubuh yang sedang terbaring di lantai,"

"Apa suara senandung itu yang mbuat semua orang di lorong ini tertidur? Jika benar, siapa orang yang telah lakukan itu," pikir Charles.

Setelah Charles mikirkan itu, Charles lalu lihat kembali ke arah Chloe dan Caroline.

"Chloe, Carol, apa kalian ingat kalau sebelumnya ada suara senandung wanita di ruangan ini?," tanya Charles.

Chloe dan Caroline terdiam sesaat setelah ndengar perkataan Charles. Tidak lama kemudian, reka pun mulai berbicara.

"Iya, aku ingat. Ketika itu, semua orang yang ada di lorong ini terlihat bingung dengan suara senandung itu. Setelah itu, aku tidak ingat apa-apa lagi dan tahu-tahu aku terbangun dengan tubuh yang terbaring di lantai," ucap Chloe.

"Aku juga ingat tentang itu dan aku juga rasakan hal yang sama dengan kakak Chloe," ucap Caroline.

"Iya, aku pun juga sama. Sepertinya suara senandung wanita itu yang telah mbuat kita semua tertidur. Tetapi aku masih belum tahu siapa yang lakukan itu dan apa tujuannya," ucap Charles.

Setelah Charles ngatakan itu, tiba-tiba suasana di lorong itu njadi sedikit heboh. Charles, Chloe dan Caroline pun sedikit terkejut dengan perubahan suasana di lorong itu. reka pun ncari tahu apa penyebab perubahan suasana itu. reka lihat kalau semua orang yang ada di ruangan itu sedang lihat ke arah yang sama yaitu ke salah satu ujung lorong. reka bertiga pun juga lihat ke arah yang sama dengan orang-orang itu. Ketika reka lihat ke arah ujung lorong itu, reka lihat Ratu Kayana, Duke Louis, Duchess Arlet dan yang lainnya sedang berjalan untuk ndekati reka. Ternyata reka lah penyebab perubahan suasana di lorong itu.

"Ibunda?," tanya Charles.

Ratu Kayana terus berjalan untuk nghampiri Charles, Chloe dan Caroline. Tidak lama kemudian, Ratu Kayana pun sudah berada di hadapan reka bertiga. Disaat Ratu Kayana berdiri di hadapan Charles, Chloe dan Caroline, orang-orang yang ikut bersama Ratu Kayana seperti Duke Louis, Duchess Arlet dan yang lainnya terlihat sedang nghampiri orang-orang yang reka kenal yang berada di lorong itu.

Setelah Ratu Kayana sudah berada dihadapan reka bertiga, Charles lalu nanyakan sesuatu kepada Ratu Kayana.

"Ibunda, kenapa ibunda datang kesini? Bukannya ibunda sedang ngadakan rapat dengan para Duke, Duchess dan komandan prajurit?," tanya Charles.

"Iya, awalnya kami mang sedang ngadakan rapat. Tetapi kami mutuskan untuk keluar sebentar dan riksa kondisi di sekitar istana ini. Daripada itu, kalian baik-baik saja, kan?," tanya Ratu Kayana.

"Iya, aku baik-baik saja, ibunda," ucap Chloe.

"Aku juga baik-baik saja, ibunda. ski saat ini aku masih berbaring di lantai tetapi ini bukan karena aku tidak baik-baik saja. Aku hanya rasa nyaman seperti ini makanya aku terus berbaring," ucap Caronlie.

Ratu Kayana terlihat tersenyum setelah ndengar perkataan Caroline.

"Aku juga baik-baik saja, Ibunda. Daripada itu, ndengar ibunda yang nanyakan apakah kami baik-baik saja atau tidak, kelihatannya ada sesuatu yang terjadi disini," ucap Charles.

"Tidak ada sesuatu yang terjadi disini, Charles. Aku nanyakan tentang itu karena nurutku wajar bagiku yang rupakan ibu kalian untuk nanyakan apakah kalian baik-baik saja atau tidak," ucap Ratu Kayana.

"Jangan berbohong, ibunda. Aku tahu kalau sebenarnya ada sesuatu yang terjadi disini," ucap Charles.

Ratu Kayana pun terdiam setelah ndengar perkataan Charles.

"Semua orang di lorong ini rasa bingung karena reka tiba-tiba terbangun dengan tubuh yang terbaring di lantai. Aku pun sama, aku juga rasa bingung. Kelihatannya kami semua yang ada di lorong ini telah tertidur karena ulah seseorang. Sebelumnya, aku, Chloe dan Caroline ngingat kalau ada suara senandung wanita yang terdengar di lorong ini. Setelah itu, kami tidak ingat apa-apa lagi dan tahu-tahu kami terbangun dengan tubuh yang terbaring dari lantai,"

"Lalu setelah ndengar ibunda yang nanyakan kalau kami baik-baik saja atau tidak, itu semakin mbuktikan kalau disini mang telah terjadi sesuatu. Ibunda tidak perlu berbohong soal itu, aku tahu kalau mang ada sesuatu yang telah terjadi disini," ucap Charles.

Ratu Kayana masih terdiam setelah ndengar perkataan Charles. Namun tidak lama kemudian, Ratu Kayana pun mulai berbicara kembali.

"mang benar kalau baru saja ada sesuatu yang terjadi disini. Tetapi aku minta maaf, aku tidak bisa mberitahumu lebih lanjut tentang sesuatu yang terjadi ini. Tetapi kamu tidak perlu khawatir, sesuatu yang baru saja terjadi disini bukanlah sesuatu yang berbahaya," ucap Ratu Kayana.

Charles pun terdiam setelah ndengar perkataan Ratu Kayana. Tidak lama kemudian, Charles pun kembali berbicara.

"Baiklah jika ibunda tidak mau mberitahunya. Aku tahu kalau ibunda pastinya punya alasan kenapa tidak mberitahu soal itu," ucap Charles.

"Terima kasih karena sudah ngerti, Charles," ucap Ratu Kayana.

Setelah itu, Charles, Chloe dan Caroline secara perlahan mulai berdiri. Kemudian, reka pun lalu mulai berbincang dengan Ratu Kayana.

-

Sentara itu, di sisi lain dari lorong tempat reka berada saat ini.

Duke Louis dan Duchess Arlet terlihat sedang berbincang dengan komandan Mina dan beberapa prajurit Duke San Lucia ada di lorong itu.

"Tuan Duke, nona Duchess, sebenarnya apa yang telah terjadi? Tiba-tiba aku dan para prajurit terbangun dengan posisi terbaring di lantai," ucap komandan Mina.

"mang ada sesuatu yang telah terjadi. Tetapi aku minta maaf, Mina, aku sudah berjanji dengan Yang Mulia Ratu untuk mberitahunya secara detail," ucap Duke Louis.

"Baiklah jika anda bilang begitu. Tetapi kondisi anda dan nona Duchess baik-baik saja, kan?," tanya komandan Mina.

"Iya, aku baik-baik saja. Kamu bisa lihatnya sendiri," ucap Duke Louis.

"Aku juga baik-baik saja," ucap Duchess Arlet.

"Syukurlah kalau begitu," ucap komandan Mina.

Setelah itu, komandan Mina, Duke Louis, Duchess Arlet dan beberapa prajurit Duke San Lucia pun mulai berbincang. Orang-orang yang ikut bersama dengan Ratu Kayana ke lorong itu pun terlihat juga sedang berbincang dengan orang yang reka kenal di lorong itu. reka berbincang cukup lama di lorong itu.

Lalu, setelah reka selesai berbincang, Ratu Kayana dan yang lainnya pun kembali bergerak untuk lihat situasi yang terjadi di seluruh White Palace. reka semua mulai bergerak untuk riksa seluruh bagian dari White Palace seperti pintu masuk utama ke White Palace, halaman White Palace bahkan hingga ke gerbang masuk wilayah White Palace.

Setiap tempat di White Palace yang reka datangi, terdapat orang-orang yang masih bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi. Kebingungan reka sama dengan yang dialami oleh orang-orang di lorong sebelumnya yaitu reka tiba-tiba terbangun dengan kondisi terbaring di lantai atau tanah. Dengan lihat kondisi reka secara langsung, Ratu Kayana dan yang lainnya pun yakini kalau nona Laviena benar-benar telah mbuat semua orang yang ada di White Palace tertidur dengan kemampuan khusus yang berasal dari rasnya.

"Komandan Holy Knights itu benar-benar kuat. Sesuai perkataannya, dia benar-benar telah mbuat semua orang yang ada di istana ini tertidur," pikir Ratu Kayana.

Setelah ndatangi setiap tempat yang ada di White Palace dan njelaskan situasinya kepada reka yang masih bingung, Ratu Kayana dan yang lainnya lalu kembali ke ruangan tempat reka berdiskusi sebelumnya. Setelah sampai di ruangan itu, terlihat Duchess Hazel dan Duchess Ecrin telah sadarkan diri. lihat Duchess Hazel dan Duchess Ecrin telah sadarkan diri, Ratu Kayana lalu minta kepada semua orang yang ada di ruangan itu untuk duduk.

"Karena nona Hazel dan nona Ecrin telah sadarkan diri, aku minta kalian semua untuk duduk di tempat duduk kalian masing-masing. Kita akan lanjutkan diskusi kita tentang insiden penyerangan yang terjadi di kerajaan ini," ucap Ratu Kayana.

-

Sentara itu, di halaman depan kediaman Duke Louis, tempat Rid berada.

Setelah selesainya pembicaraan antara aku dan Duke Louis lewat kristal komunikasi, aku, Irene dan senior Nadine pun kembali berbincang tentang hal yang kami bahas sebelumnya. Sentara itu, para prajurit Duke San Lucia yang ada di sekitar kami terlihat mulai pergi untuk lakukan tugas yang diberikan oleh Irene.

Awalnya tepat setelah Duke Louis ngakhiri panggilan lewat kristal komunikasi, aku nyadari kalau beberapa prajurit terlihat berada tidak jauh dariku untuk ndengarkan percakapanku dengan Duke Louis dan juga Ratu Kayana. Tetapi setelah itu, Irene langsung rintahkan reka untuk berhenti nguping dan lakukan tugas reka masing-masing. reka pun langsung nuruti perintah Irene dan saat ini reka mulai pergi untuk lakukan tugas reka masing-masing.

"Aku masih tidak nyangka kalau aku ngeluarkan tekanan aura tanpa sadar," ucapku.

"Dari yang aku rasakan, aku sudah rasakan tekanan aura yang kamu keluarkan sebanyak 4 kali. Pertama, saat aku nemanimu ke Desa Aston setelah insiden penyerangan di kampung halamanmu itu. Kedua, di Akademi saat tuan Duke Remy lakukan penyerangan. Ketiga, saat kamu mbunuh High Priest Julian tadi. Keempat, tekanan aura yang baru saja kamu keluarkan di tempat ini," ucap Irene.

"Aku ingat, saat di Desa Aston, tiba-tiba kamu lukku dan mintaku untuk ngubah tekanan udara yang tiba-tiba njadi berat di tempat itu. Jadi saat itu aku sedang ngeluarkan tekanan aura ya," ucapku.

"Iya. Saat itu kamu bilang kalau kamu rasakan kalau tekanan udaranya tidak berubah. Kamu juga tidak lakukan apa-apa terhadap tekanan udara yang berubah itu. Maka dari itu aku berhenti untuk nanyaimu tentang itu. Saat kamu nanyaiku apakah aku ngalami halusinasi atau tidak, aku terpaksa njawab ’iya’ karena aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tetapi sekarang aku yakin kalau mang kamu lah yang telah rubah tekanan udara saat kita berada di desa Aston. Kamu telah rubah tekanan udara secara tidak sadar ketika berada di tempat itu," ucap Irene.

"Begitu ya. Saat itu, pantas saja nona Karina juga nanyaiku apakah aku yang telah ngeluarkan tekanan aura saat disana. Nona Karina juga nyadari kalau mang aku lah yang telah ngeluarkan tekanan aura itu. Tetapi aku sama sekali tidak nyadari kalau aku telah ngeluarkan tekanan aura. Yang aku ingat saat itu aku sedang marah ketika lihat makam para warga Desa Aston yang telah tewas akibat diserang," ucapku.

"Kemarahanmu itu sepertinya rupakan pemicu yang mbuatmu ngeluarkan tekanan aura tanpa sadar. Sama seperti saat kamu mbunuh High Priest Julian, kamu saat itu sedang marah kan?," tanya Irene.

"Iya, aku saat itu sedang marah," ucapku.

"Lalu saat kamu berbicara dengan High Priest Theodor lewat kristal komunikasi, kamu saat itu juga sedang marah kan?," tanya Irene.

"Iya," ucapku.

"Berarti pemicunya mang karena kemarahanmu, Rid," ucap Irene.

Aku pun terdiam sambil terus mikirkan perkataan Irene. Ketika aku sedang terdiam, senior Nadine pun mulai berbicara.

"Dari yang aku tahu, semua perasaan mpengaruhi keluarnya tekanan aura. Jadi bukan kemarahan saja yang micu keluarnya tekanan auramu itu, Rid. Bisa saja perasaan lain yang ada pada dirimu juga akan njadi pemicunya. Cuma saat ini hanya perasaan marahmu saja yang njadi pemicunya,"

"Karena kamu sekarang sudah ngetahui kalau kamu bisa ngeluarkan tekanan aura, kamu harus belajar untuk ngendalikannya, Rid. Tekanan aura yang kamu keluarkan sangatlah dahsyat, akan sangat berbahaya apabila kamu terus ngeluarkan tekanan aura itu tanpa sadar," ucapku.

Aku yang sebelumnya terdiam pun langsung nanggapi perkataan senior Nadine.

"Iya, kamu benar, senior. Aku harus ngendalikan tekanan aura yang aku miliki. Aku tidak mau repotkan atau mbahayakan orang-orang yang ada di sekitarku apabila aku ngeluarkan tekanan aura tanpa sadar lagi. Sebelumnya aku pernah mbaca informasi tentang tekanan aura di salah satu buku milik kakekku, mungkin aku bisa ndapatkan informasi tentang cara ngendalikannya dari buku itu," ucapku.

"Kamu juga bisa belajar ngendalikannya secara langsung dari orang yang bisa ngendalikan tekanan aura. Tidak semua orang bisa ngeluarkan tekanan aura, apalagi ngendalikannya. Di kerajaan ini, yang aku tahu bisa ngeluarkan tekanan aura dan ngendalikannya hanyalah Yang Mulia Ratu. Aku tidak tahu apakah tuan Louis dan nona Arlet bisa ngeluarkan tekanan aura atau tidak karena sampai saat ini aku belum pernah rasakan reka ngeluarkan tekanan aura," ucap senior Nadine.

"Untuk ibunda, ibunda pernah mberitahuku kalau ibunda bisa ngeluarkan Mana dari seluruh tubuhnya. Sepertinya ngeluarkan Mana yang dimaksud oleh ibunda ini sama saja seperti ngeluarkan tekanan aura. Jadi itu berarti ibunda juga sepertinya bisa ngeluarkan tekanan aura skipun aku sendiri juga tidak pernah rasakannya sepertimu, Nadine," ucap Irene.

"Terima kasih atas informasinya, Irene, senior Nadine. Nanti setelah bibi Arlet pulang, aku akan ncoba untuk bertanya kepadanya. Aku juga akan bertanya kepada Yang Mulia Ratu apabila aku bertemu dengan beliau nanti. Aku pastikan kalau aku akan berusaha untuk ngendalikan tekanan aura yang aku miliki," ucapku.

Setelah itu, kami pun selesai berbincang. Kemudian, aku dan senior Nadine lalu mulai mbantu para prajurit Duke San Lucia yang sedang laksanakan tugas reka masing-masing, sentara Irene juga ikut mbantu sambil mberikan tugas dan arahan kepada para prajurit itu. Kami terus lakukan tugas kami masing-masing di halaman depan kediaman Duke Louis sambil nunggu Duke Louis dan Duchess Arlet kembali dari White Palace.

-Bersambung

You are reading Peace Hunter Chapter 470 : Tekanan Aura Yang Tidak Disadari part 2 on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.