Font Size
15px

Sentara itu, di istana kediaman Ratu Kayana, White Palace.

Terlihat beberapa kereta kuda mulai berdatangan ke halaman istana kediaman Ratu Kayana. Kereta-kereta kuda yang berdatangan ke halaman istana kediaman Ratu Kayana rupakan kereta kuda milik para bangsawan. Para bangsawan itu datang ke istana kediaman Ratu Kayana untuk nghadiri prosesi pemakaman yang digelar di istana kediaman itu. Prosesi pemakaman yang digelar di istana kediaman Ratu Kayana rupakan prosesi pemakaman untuk para bangsawan yang tewas akibat insiden penyerangan yang terjadi sebelumnya, maka dari itu yang nghadiri prosesi pemakaman itu pun juga hanya para bangsawan saja. Tetapi selain para bangsawan kerajaan San Fulgen, para prajurit kerajaan San Fulgen juga ikut hadir di prosesi pemakaman itu. Terlihat komandan Keira yang rupakan komandan pasukan Silver Peacock dan komandan Allister yang rupakan komandan pasukan Strom Leopard baru saja turun dari kereta kuda yang baru saja berdatangan di halaman istana kediaman Ratu Kayana.

Setelah komandan Keira turun dari kereta kuda yang ditumpanginya, komandan Keira lalu nghampiri komandan Allister yang kebetulan juga baru turun dari kereta kuda yang ditumpanginya. Ketika komandan Keira nghampiri komandan Allister, komandan Allister terlihat ditemani oleh wakil komandannya yaitu wakil komandan Agneta.

"Selamat pagi, tuan Allister dan juga nona Agneta," ucap komandan Keira.

Komandan Allister dan wakil komandan Agneta yang sebelumnya sedang lihat ke arah lain, kemudian langsung noleh ke arah komandan Keira setelah ndengar suaranya.

"Keira ya," ucap komandan Allister.

"Selamat pagi, nona Keira," ucap wakil komandan Agneta.

"Ketika aku mbaca surat kabar yang terbit kemarin, diberitakan kalau lengan kanan anda telah terpotong akibat bertarung dengan orang-orang dari negeri Kaminari yang telah berubah njadi iblis. Tetapi setelah lihat kondisi anda secara langsung, sepertinya lengan anda telah disambung kembali, tuan Allister," ucap komandan Keira.

"Iya, sebelumnya lengan kananku mang telah terpotong, tetapi High Priest Julian yang rupakan High Priest gereja Sancta Lux kota San Lucia telah nyambungkan lenganku kembali," ucap komandan Allister.

"Syukurlah kalau lengan anda sudah disambungkan kembali," ucap komandan Keira.

"Daripada itu, bagaimana dengan kabar wakil komandanmu ? Apa dia masih tidak sadarkan diri sesuai dengan yang diberitakan di surat kabar yang terbit kemarin ?," tanya komandan Allister.

"Iya. Sesuai surat kabar yang terbit kemarin, Beldiq masih tidak sadarkan diri. Padahal luka-luka yang diterimanya sudah disembuhkan, tetapi entah kenapa Beldiq masih belum sadarkan diri juga. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Beldiq. Saat ini dia masih dirawat di gereja Sancta Lux yang ada di kota San Minerva," ucap komandan Keira.

"Begitu ya," ucap komandan Allister.

Setelah komandan Allister dan komandan Keira saling ngobrol, wakil komandan Agneta yang sebelumnya hanya diam kini mulai berbicara.

"Maaf ngganggu pembicaraan kalian, komandan, nona Keira. Tetapi daripada kalian berbicara dengan hanya diam saja disini, lebih baik kalian berbicara sambil berjalan. Saat ini, kita masih berada di halaman istana kediaman Yang Mulia Ratu. Kita harus segera masuk ke dalam kediaman beliau," ucap wakil komandan Agneta.

"Kamu benar juga, nona Agneta. Kalau begitu, mari kita lanjutkan pembicaraan kita sambil berjalan, tuan Allister," ucap komandan Keira.

"Iya, baiklah," ucap komandan Allister.

Setelah itu, komandan Keira, komandan Allister dan wakil komandan Agneta pun mulai berjalan nuju pintu masuk istana kediaman Ratu Kayana.

-

Sentara itu, beberapa nit kemudian.

Beberapa kereta kuda terlihat kembali berdatangan lagi ke halaman istana kediaman Ratu Kayana, 3 dari beberapa kereta kuda itu terlihat familiar. Tidak lama kemudian, beberapa kereta kuda itu pun mulai berhenti. Setelah beberapa kereta kuda itu telah berhenti, orang-orang yang ada di dalam beberapa kereta kuda itu pun mulai keluar. Terlihat Duke Louis, Duchess Arlet dan komandan Mina baru saja keluar dari salah satu kereta kuda yang berhenti itu. Sentara itu, dari kereta kuda yang lainnya terlihat komandan Asier dan wakil komandan Sara yang juga baru saja keluar dari kereta kuda yang ditumpanginya. Lalu, dari kereta kuda yang lainnya lagi, terlihat komandan Ivana dan wakil komandan Roisin yang juga baru saja keluar dari kereta kuda yang ditumpanginya.

Setelah itu, komandan Asier yang baru saja keluar dari kereta kuda yang ditumpanginya, langsung nghampiri Duke Louis dan Duchess Arlet yang dilihatnya setelah keluar dari kereta kuda itu.

"Ayahanda, ibunda dan juga Mina, kebetulan sekali kita bisa sampai di istana kediaman Yang Mulia Ratu secara bersamaan," ucap komandan Asier.

Duke Louis yang sebelumnya telah lihat komandan Asier yang sedang nghampirinya pun langsung nanggapi perkataan komandan Asier.

"Iya, kamu benar, Asier. Sungguh kebetulan sekali," ucap Duke Louis.

"Bagaimana dengan kabar ayahanda dan ibunda hari ini ?," tanya komandan Asier.

"Aku baik-baik saja, sama seperti biasanya," ucap Duke Louis.

"Aku juga baik-baik saja. Kamu ini benar-benar putraku yang perhatian, Asier," ucap Duchess Arlet.

"Syukurlah kalau ayahanda dan ibunda baik-baik saja. Bagaimana denganmu, Mina ?," tanya komandan Asier kepada komandan Mina yang ada di dekat Duke Louis dan Duchess Arlet.

"Aku juga baik-baik saja, komandan Asier. Bagaimana denganmu, komandan ?," tanya komandan Mina.

"Aku juga baik-baik saja, sama seperti kalian. Daripada itu, bisakah kamu berhenti untuk manggilku ’ ’komandan’ ? Sebelumnya aku mang rupakan komandanmu ketika aku masih njadi komandan prajurit ayahandaku dan kamu masih njadi wakil komandanku. Tetapi saat ini, aku sudah njadi komandan prajurit kerajaan San Fulgen, sedangkan kamu juga sudah njadi komandan prajurit ayahandaku. Kita berdua saat ini sama-sama adalah komandan, jadi kamu tidak perlu manggilku ’komandan’ lagi," ucap komandan Asier.

"ski kamu saat ini bukanlah komandanku lagi, aku akan tetap manggil kamu dengan panggilan ’komandan’," ucap komandan Mina.

"Ya sudahlah, terserah kamu saja," ucap komandan Asier.

Sentara itu, wakil komandan Sara yang sebelumnya tidak nemani komandan Asier untuk nemui Duke Louis, Duchess Arlet dan komandan Mina pun kini mutuskan untuk nyusulnya. Setelah komandan Asier selesai berbicara dengan komandan Mina, wakil komandan Sara pun mulai berbicara untuk nyapa Duke Louis, Duchess Arlet dan komandan Mina.

"Selamat pagi, tuan Duke, nona Duchess dan juga nona Mina," ucap wakil komandan Sara.

"Ah Sara ya, selamat pagi juga," ucap Duchess Arlet.

"Selamat pagi, Sara," ucap Duke Louis.

"Selamat pagi juga, nona Sara," ucap komandan Mina.

Sentara itu, komandan Ivana yang sejak tadi sudah keluar dari kereta kuda yang ditumpanginya, terlihat hanya lihat ke arah Duke Louis dan yang lainnya yang sedang ngobrol. Tidak lama kemudian, komandan Ivana yang sebelumnya hanya diam sambil lihat ke arah Duke Louis dan yang lainnya, kini mulai berjalan ke arah Duke Louis dan yang lainnya.

"Roisin, aku ingin pergi untuk nyapa tuan Louis dan yang lainnya terlebih dahulu," ucap komandan Ivana sambil berjalan.

"Kalau begitu aku juga ikut, komandan," ucap wakil komandan Roisin.

"Baiklah jika kamu mau ikut," ucap komandan Ivana.

Setelah itu, komandan Ivana dan wakil komandan Roisin pun berjalan untuk nghampiri Duke Louis dan yang lainnya.

Tidak lama kemudian, komandan Ivana dan wakil komandan Roisin pun sudah berada dekat dengan Duke Louis dan yang lainnya. Setelah itu, komandan Ivana dan wakil komandan Roisin pun mulai nyapa reka semua.

"Selamat pagi, tuan Louis, nona Arlet, Asier, Mina dan juga Sara," ucap komandan Ivana.

"Selamat pagi semuanya," ucap wakil komandan Roisin.

Duke Louis, Duchess Arlet, komandan Mina, komandan Asier dan wakil komandan Sara yang sebelumnya sedang ngobrol, langsung noleh ke arah komandan Ivana dan wakil komandan Roisin setelah ndengar suara reka berdua.

"Ivana dan Roisin ya, selamat pagi," ucap Duke Louis.

"Selamat pagi, Ivana, Roisin," ucap Duchess Arlet.

Setelah reka saling nyapa satu sama lain, reka pun mulai saling ngobrol. Obrolan reka dimulai dari obrolan yang santai hingga ngarah ke obrolan yang serius.

Ketika Duchess Arlet dan yang lainnya sedang ngobrol, komandan Asier tiba-tiba ndekati Duke Louis. Komandan Asier lalu berbicara dengan Duke Louis dengan suara yang pelan.

"Ngomong-ngomong, ayahanda, bagaimana kondisi dan situasi di kediaman kita ? Apakah High Priest Julian atau para Priest dari gereja Sancta Lux yang ada di kota San Lucia masih datang ke kediaman kita untuk ncari Rid ?," tanya komandan Asier.

"High Priest Julian dan para Priest dari gereja Sancta Lux hanya datang ke kediaman kita sekali kemarin, setelah itu reka tidak datang-datang lagi sampai aku dan ibundamu berangkat kesini. Aku sebelumnya sudah rintahkan para prajurit yang berjaga di kediaman kita untuk segera mberitahu kalau High Priest Julian dan para Priest itu datang lagi ke kediaman kita. Tetapi karena reka belum mberitahuku hingga saat ini, sepertinya High Priest Julian dan para Priest itu belum datang kembali ke kediaman kita," ucap Duke Louis.

"Baguslah kalau begitu. Aku masih tidak nyangka kalau Rid sampai diincar oleh gereja Sancta Lux. Yah setelah terkuaknya kemampuan sihir penyembuhan miliknya, itu wajar apabila gereja Sancta Lux ingin ndapatkannya. Lalu bagaimana dengan Rid ? Apa dia rasa tertekan karena diincar oleh gereja Sancta Lux ?," tanya komandan Asier.

"Tidak, Rid tidak tertekan sama sekali ski diincar oleh reka. Bahkan Rid kemarin pergi keluar dari kediaman kita. Hari ini pun dia bilang kalau dia tetap ingin pergi keluar," ucap Duke Louis.

"Rid pergi keluar dari kediaman kita ?! Kenapa ayahanda baru mberitahuku soal ini ?! Kemana dia pergi dan apa alasannya ?!," tanya komandan Asier yang terlihat sedikit terkejut.

"Rid bilang kalau dia pergi ke daerah yang cukup berbahaya yang ada di bagian utara kota San Lucia. Alasan dia pergi ke tempat itu adalah karena dia mau berlatih secara rahasia di tempat itu," ucap Duke Louis.

"Dia pergi ke tempat yang cukup berbahaya itu dan bahkan dia njadikan tempat itu sebagai tempat latihan ? Apa dia akan baik-baik saja ?," tanya komandan Asier.

"Aku yakin kalau dia akan baik-baik saja. Untuk masalah monster atau hewan buas yang ada di tempat itu, aku yakin kalau Rid dapat ngatasi reka. Lalu untuk gereja Sancta Lux atau orang-orang yang ngincarnya, aku sudah mberikan saran kepadanya tentang bagaimana cara untuk ngatasi orang-orang itu. Jadi kamu tidak perlu khawatir, Asier," ucap Duke Louis.

"Baiklah, ayahanda," ucap komandan Asier.

"Ah benar juga. Kemarin, saat Rid baru pulang dari tempat itu untuk berlatih, Rid lihat beberapa orang ncurigakan di sekitar gerbang belakang kediaman kita. Orang-orang itu mungkin adalah orang-orang dari gereja Sancta Lux atau orang-orang dari pihak lain yang tujuannya untuk ngincar Rid. Tetapi bisa juga tujuan reka bukan untuk ngincar Rid, lainkan sesuatu yang lain,"

"Jika tujuan reka adalah ngincar Rid, aku sudah minta Rid untuk berhati-hati terhadap orang ncurigakan itu apabila dia lihat orang-orang itu lagi saat mau pergi ke tempat latihannya. Jadi kamu tidak perlu khawatir berlebihan kepada Rid, Asier," ucap Duke Louis.

"Baik, ayahanda," ucap komandan Asier.

"Ya sudah, kita sudahi saja obrolan kita saat ini. Lebih baik kita segera pergi ke dalam istana kediaman Yang Mulia Ratu. Tidak enak kalau kita sudah sampai di istana kediaman ini tetapi kita malah tidak segera masuk ke dalam," ucap Duke Louis.

"Ayahanda benar," ucap komandan Asier.

"Ayo semuanya kita sudahi dulu obrolannya. Lebih baik kita segera masuk ke dalam istana kediaman Yang Mulia Ratu," ucap Duke Louis kepada yang lainnya.

"Baik," ucap Duchess Arlet dan yang lainnya.

Setelah itu, Duke Louis, Duchess Arlet, komandan Asier dan yang lainnya pun segera bergegas pergi nuju pintu masuk istana kediaman Ratu Kayana.

-

Sentara itu, di gerbang masuk istana kediaman Ratu Kayana.

Terlihat di gerbang masuk itu, ada beberapa kereta kuda yang sedang ngantri untuk masuk ke dalam wilayah istana kediaman Ratu Kayana. Salah satu dari kereta kuda yang sedang ngantri itu adalah kereta kuda yang sedang ditumpangi oleh nona Violetta. Nona Violetta juga diundang untuk hadir ke prosesi pemakaman yang digelar oleh Ratu Kayana. Tetapi saat ini nona Violetta hadir ke prosesi pemakaman itu bukan sebagai salah satu komandan prajurit kerajaan San Fulgen, lainkan sebagai Duchess San Quentine. Karena itu, nona Violetta terlihat ngenakan pakaian bangsawan yang sangat wah, bukan seragam komandan prajuritnya yang biasanya dia kenakan.

Lalu, di dalam kereta kuda yang sedang ditumpanginya itu, nona Violetta terlihat sedang lihat ke luar jendela kereta kuda itu. Ketika nona Violetta sedang lihat ke luar jendela, nona Violetta lihat para Priest gereja Sancta Lux yang sedang berjalan nuju istana kediaman Ratu Kayana. Para Priest itu berjalan dengan dipimpin oleh High Priest Theodor yang ada di depan reka. High Priest Theodor terlihat makai seragam pendetanya seperti biasa. Tetapi kali ini, dia terlihat sedang mbawa sebuah buku dan juga sebuah tongkat. Sentara, para Priest yang ada di belakangnya juga makai seragam Priest reka seperti biasanya. Hanya saja, ada sesuatu yang berbeda dengan seragam reka. Biasanya seragam para Priest gereja Sancta Lux tidak miliki tudung kepala, jadi kepala dan wajah para Priest itu dapat terlihat dengan jelas. Tetapi kali ini, para Priest itu makai seragam yang disertai dengan tudung kepala. Jadi kepala dan wajah para Priest itu tidak dapat terlihat dengan jelas.

Nona Violetta terlihat bingung ketika lihat para Priest yang makai tudung kepala itu.

"Kenapa kali ini para Priest itu makai tudung kepala ? Biasanya reka tidak makainya," pikir nona Violetta.

Kemudian, nona Violetta mperhatikan para Priest itu satu persatu. Tidak lama kemudian, ketika nona Violetta sedang mperhatikan para Priest itu, nona Violetta terlihat sedikit terkejut.

"Aura ini..., aku rasakan aura yang familiar dari beberapa Priest itu," pikir nona Violetta.

-Bersambung

You are reading Peace Hunter Chapter 437 : Halaman White Palace on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Data-Driven Daoist cover
Similar genre

Data-Driven Daoist

CatVI ·Action

Theycalledhimtrash—untilhestartedtreatingtheDaolikeaDataset.Whendemonsslaughterhisnewfamily,computerscientistJohan—nowrebornasYuHan—survivesbypurew...

Grasping the Evil cover
Similar genre

Grasping the Evil

I'm Ink我是墨水 ·Action

Mastersaid,thewomanIheldinmyhands,ImustprotectfortherestofmylifeMastersaid,it’shardtocultivateasaDemon,andonceyouentertheDemonDao,youshouldneverloo...

Marvel-ous Ninjutsu cover
Similar genre

Marvel-ous Ninjutsu

Pewpewcachoo ·Action

IdonotownanythingfromMarvelorNaruto.Ijustenjoybothuniverses. Socontentwarningfirst,thisisafanficofhotsteaminggarbage.Ihopeyouenjoyit.Iwillmostlikel...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.