Font Size
15px

Beberapa nit kemudian, di dalam istana kediaman Ratu Kayana, White Palace.

Di dalam istana itu, ada sebuah aula yang berukuran sangat besar. Di aula itu, sudah berbaris peti mati dalam jumlah banyak. Peti mati itu berisi jasad-jasad para bangsawan yang telah tewas akibat penyerangan yang terjadi di kerajaan San Fulgen. Di antara para bangsawan yang telah berbaring di peti mati itu adalah Raja Albert, Duchess Arnett, Duchess Harriet, Duchess Claret, putri Alia, senior Florian, senior Vyn dan komandan Dayne. Peti mati yang berbaris dalam jumlah banyak itu masih dalam keadaan terbuka, jadi orang-orang yang ada di aula itu masih diizinkan untuk lihat jasad orang-orang yang telah tewas itu.

Saat ini, terlihat sudah ada banyak orang yang berada di dekat peti-peti mati yang berbaris itu untuk lihat jasad orang-orang yang telah tewas yang terbaring di dalamnya. Kebanyakan dari orang-orang itu hanya lihat jasad dari kerabat, saudara atau orang-orang yang reka kenal yang tewas sebagai korban murni atau tewas sebagai orang-orang yang dirubah paksa njadi iblis oleh Duke Remy. Sentara untuk sisanya, hanyalah orang-orang yang penasaran dengan jasad orang yang telah tewas itu.

Di antara orang-orang yang sedang lihat jasad di peti mati itu, terlihat Charles, Chloe dan Caroline yang sedang lihat salah satu dari peti mati itu. Caroline terlihat sedang nangis ketika lihat jasad yang ada di peti mati itu, sentara Charles dan Chloe yang berada di belakang Caroline terlihat sedang ngelus bahu Caroline untuk nenangkannya. Jasad yang sedang dilihat oleh Charles, Chloe dan Caroline adalah jasad Raja Albert yang rupakan ayahanda reka. Jadi wajar kalau Caroline nangis ketika lihat jasad ayahandanya. Charles dan Chloe pun juga terlihat ngeluarkan air mata ketika lihat jasad ayahanda reka.

"Ayahanda.....," ucap Caroline sambil nangis.

"Kamu harus tabah, Carol. Kamu harus ngikhlaskan kepergian ayahanda kita," ucap Charles.

Sentara itu, Ratu Kayana yang berada di depan barisan peti-peti mati itu, terlihat sedang lihat ke arah Charles, Chloe dan Caroline yang berada tidak jauh darinya. Ratu Kayana lihat reka bertiga dengan raut wajah yang terlihat sedih. Tidak lama kemudian, Ratu Kayana pun mulai berjalan untuk nghampiri reka. Setelah berada dekat dengan reka, Ratu Kayana langsung ngelus kepala reka satu persatu.

"Kalian bertiga yang tabah ya. Aku tahu kalau ini berat untuk kalian bertiga," ucap Ratu Kayana.

Setelah ndengar perkataan Ratu Kayana, Charles dan Chloe pun langsung noleh untuk natap Ratu Kayana yang ada di belakang reka.

"Ibunda.....," ucap Charles dan Chloe.

Terlihat Charles dan Chloe masih neteskan air mata di kedua mata reka. Setelah Charles dan Chloe sudah noleh ke arah Ratu Kayana, Caroline yang sebelumnya sedang lihat ke arah jasad Raja Albert, kini juga ikut noleh ke arah Ratu Kayana. Setelah Caroline sudah noleh dan natap Ratu Kayana, Caroline pun tiba-tiba langsung luk Ratu Kayana.

"Ibunda!!!," ucap Caroline sambil luk Ratu Kayana.

Caroline luk Ratu Kayana dengan erat sambil nangis. Ratu Kayana pun juga luk Caroline dengan cukup erat. Sentara itu, Charles dan Chloe yang sedang lihat Ratu Kayana dan Caroline saling berpelukan, kini mulai ikut luk reka berdua. reka berempat pun kini saling berpelukan. reka berempat yang saling berpelukan itu narik perhatian seluruh orang yang ada di aula itu. Orang-orang yang ada di aula itu terlihat bersedih dan nangis ketika lihat Ratu Kayana, Charles, Chloe dan Caroline yang sedang berpelukan.

Tidak lama kemudian, Ratu Kayana, Charles, Chloe dan Caroline pun mulai lepaskan pelukan reka masing-masing. Setelah itu, Ratu Kayana mulai ngusap air mata yang masih netes dari kedua mata Caroline.

"Jangan nangis lagi ya, Carol. Kamu harus kuat dan tabah. Tetapi jika kamu masih ingin nangis, aku tidak akan nghentikanmu. Jika kamu masih ingin nangis, nangislah sepuasnya sekarang," ucap Ratu Kayana.

"Baik, ibunda. Sebisa mungkin, aku akan ncoba untuk tidak nangis lagi. Jika aku terus nangis, ayahanda mungkin tidak akan bisa pergi dengan tenang," ucap Caroline.

"Iya, itu benar. Jadi sebisa mungkin, kamu jangan nangis lagi ya. Kalian berdua juga, Charles, Chloe," ucap Ratu Kayana.

"Baik, ibunda," ucap Charles dan Chloe.

Setelah itu, Ratu Kayana mulai lihat ke sekelilingnya. Ketika Ratu Kayana sedang lihat ke sekelilingnya, Ratu Kayana lihat Duke Louis, Duchess Arlet dan komandan Mina yang sedang berdiri di salah satu sisi aula itu. reka bertiga sedang berdiri sambil lihat ke arah Ratu Kayana. Setelah Ratu Kayana lihat ke arah Duke Louis dan yang lainnya, Ratu Kayana lalu ngatakan sesuatu kepada Charles, Chloe, dan Caroline.

"Tuan Louis dan nona Arlet sudah datang ya. Sepertinya Duke dan Duchess yang lain juga sudah mulai berdatangan. Kalau begitu, aku pergi dulu ya, Charles, Chloe, Caroline. Aku harus nemui dan nyapa reka. Jika kalian mau tetap disini untuk lihat jasad ayahanda kalian, silahkan saja. Aku tidak akan larang kalian," ucap Ratu Kayana.

"Baik, ibunda," ucap Charles, Chloe dan Caroline.

Setelah itu, Ratu Kayana langsung bergegas nghampiri Duke Louis, Duchess Arlet dan komandan Mina. lihat Ratu Kayana yang sedang nghampiri reka, Duke Louis, Duchess Arlet dan komandan Mina pun langsung mberi hormat kepada Ratu Kayana.

"Selamat pagi, Yang Mulia Ratu," ucap Duke Louis dan Duchess Arlet.

"Iya, selamat pagi juga, tuan Louis, nona Arlet. Ngomong-ngomong, apa kalian baru saja sampai ?," tanya Ratu Kayana.

"Benar, Yang Mulia Ratu. Kami baru saja sampai beberapa nit yang lalu. Kami juga baru saja sampai di aula ini sekitar 2-3 nit yang lalu. Kami awalnya berniat untuk langsung nemui anda, tetapi ketika lihat anda yang sedang berpelukan dengan anak-anak anda, kami mutuskan untuk nunggu disini," ucap Duke Louis.

"Begitu ya. Aku minta maaf karena telah mbuat kalian nunggu," ucap Ratu Kayana.

"Anda tidak perlu minta maaf, Yang Mulia Ratu. Lagipula kami hanya nunggu sebentar saja," ucap Duke Louis.

"Itu benar, Yang Mulia Ratu," ucap Duchess Arlet.

"Baiklah jika kalian bilang begitu," ucap Ratu Kayana.

Setelah Ratu Kayana ngatakan itu, Duke Louis kembali ngatakan sesuatu.

"Yang Mulia Ratu, mungkin kami sebelumnya sudah ngucapkan hal ini, tetapi izinkan kami untuk ngucapkannya lagi. Kami turut berduka cita atas ninggalnya Yang Mulia Raja Albert, Yang Mulia Ratu. Kami turut bersedih ketika lihat anda yang sebelumnya tengah nghibur anak-anak anda yang sedang berduka atas ninggalnya ayahanda reka," ucap Duke Louis.

"Iya, terima kasih, tuan Louis," ucap Ratu Kayana.

-

Sentara itu, di lorong istana kediaman Ratu Kayana yang nghubungkan pintu masuk dengan ruangan-ruangan yang ada di istana kediaman itu.

Di lorong yang dekat pintu masuk, terlihat nona Violetta yang baru saja masuki istana kediaman Ratu Kayana. Nona Violetta kini sedang nyusuri lorong itu untuk nuju aula tempat Ratu Kayana berada. Ketika nona Violetta serang nyusuri lorong itu, nona Violetta lihat komandan Asier dan komandan Ivana yang berada tidak jauh di depannya. Tidak terlihat ada wakil komandan Sara dan wakil komandan Roisin di dekat reka. Namun, skipun reka tidak ditemani oleh wakil komandan reka masing-masing, reka saat ini sedang ditemani oleh seseorang yang sangat familiar. Orang itu adalah nona Karina. Kelihatannya nona Karina juga diundang untuk nghadiri prosesi pemakaman para bangsawan yang telah tewas. Saat ini, reka bertiga sedang mbicarakan sesuatu di lorong itu.

Nona Violetta yang sedang lihat ke arah reka bertiga pun mutuskan untuk nghampiri reka bertiga. Ketika nona Violetta sedang berjalan untuk nghampiri reka, komandan Asier yang sedang berbicara dengan komandan Ivana dan nona Karina secara tidak sengaja noleh ke arah nona Violetta.

"Violetta ?," ucap komandan Asier ketika lihat nona Violetta.

Komandan Asier terlihat bingung karena dia baru kali ini lihat penampilan nona Violetta yang seperti ini. ndengar komandan Asier tiba-tiba nyebut nama nona Violetta, komandan Ivana dan nona Karina pun juga ikut noleh ke arah nona Violetta. Setelah komandan Ivana dan nona Karina lihat ke arah nona Violetta, reka terlihat terkejut dan takjub.

"Violetta ?," ucap nona Karina yang terkejut.

Tidak lama kemudian, nona Violetta pun kini sudah berada di hadapan nona Karina, komandan Asier dan komandan Ivana. Setelah itu, nona Violetta pun langsung nanggapi perkataan nona Karina sebelumnya.

"Iya, ini aku, nona Karina," ucap nona Violetta.

"Penampilanmu benar-benar terlihat berbeda daripada sebelumnya. Mungkin karena kamu sebelumnya biasanya hanya ngenakan seragam komandan prajurit milikmu saja atau pakaian biasa ketika kamu sedang tidak bertugas, makanya ketika kamu makai pakaian bangsawan khususnya pakaian Duchess, penampilanmu langsung terlihat berbeda. Aku benar-benar takjub," ucap nona Karina.

"ski nona Karina muji penampilanku ini, justru aku malah rasa tidak nyaman dengan penampilanku ini. Aku lebih nyaman berpenampilan seperti biasa," ucap nona Violetta.

"Tahan saja, lagipula kamu berpenampilan seperti itu hanya untuk sentara saja. Tetapi, jika kamu mau terus berpenampilan seperti itu juga tidak apa-apa, kamu terlihat lebih cantik dibanding yang biasanya," ucap nona Karina.

"Terima kasih atas pujiannya, nona. Tetapi aku akan kembali berpenampilan seperti biasa nantinya karena aku tidak mau ncolok," ucap nona Violetta.

"Ya sudah, terserah kamu saja," ucap nona Karina.

"Ah ngomong-ngomong, aku lupa untuk nyapa kalian terlebih dahulu. Selamat pagi, nona Karina, nona Ivana dan Asier," ucap nona Violetta.

"Selamat pagi juga," ucap nona Karina.

"Selamat pagi, Violetta," ucap komandan Asier.

"Selamat pagi juga, nona Duchess," ucap komandan Ivana.

"Berhenti untuk manggilku dengan sebutan itu, nona Ivana," ucap nona Violetta.

"Maaf, maaf, habisnya aku tidak nyangka kalau penampilanmu akan berubah drastis seperti ini, Violetta. Sebelumnya, ketika kita bertemu di kediaman Duke San Quentine, penampilanmu masih terlihat seperti biasanya. Saat ini penampilanmu benar-benar seperti seorang Duchess," ucap komandan Ivana.

"Yah, skipun aku hanya njadi Duchess sentara, aku tetap harus berpenampilan yang baik apalagi ketika nghadiri acara yang digelar oleh Yang Mulia Ratu," ucap nona Violetta.

"Aku masih tidak nyangka kalau kamu dilantik njadi seorang Duchess oleh Yang Mulia Ratu, Violetta," ucap komandan Asier.

"Aku sendiri juga tidak nyangkanya ketika Yang Mulia Ratu nunjukku njadi seorang Duchess. Tetapi untungnya aku hanya ditunjuk njadi Duchess sentara sampai Duke dan Duchess San Quentine yang baru dilantik oleh Yang Mulia Ratu. Setelah itu, aku akan kembali njadi komandan prajurit yang njaga akademi, seperti sebelumnya," ucap nona Violetta.

"Hmm begitu ya. Yah, semoga kamu dapat njalankan tugasmu sebagai Duchess sentara dengan baik," ucap komandan Asier.

"Terima kasih, Asier. Ah, aku harus segera pergi ke tempat Yang Mulia Ratu berada untuk nemui dan nyapa beliau. Karena itu, aku minta maaf apabila aku hanya sebentar saja nemani kalian bicara," ucap nona Violetta.

"Tidak apa-apa, Violetta. Ya sudah, kamu sekarang pergi saja untuk nemui Yang Mulia Ratu," ucap nona Karina.

"Baik, nona. Kalau begitu, aku pergi dulu, nona Karina, nona Ivana, Asier," ucap nona Violetta.

"Iya," ucap nona Karina.

"Silahkan, Violetta," ucap nona Ivana.

Setelah itu, nona Violetta pun langsung bergegas pergi nuju aula tempat Ratu Kayana berada. Tidak lama kemudian, nona Violetta pun sampai di aula itu. Setelah nona Violetta sampai di aula itu, kehadirannya di aula itu narik perhatian banyak orang. Hampir semua orang yang ada di aula itu saat ini sedang lihat ke arah nona Violetta. Kebanyakan dari reka adalah orang-orang yang sebelumnya belum pernah lihat nona Violetta dalam penampilan seperti itu. reka bertanya-tanya siapa orang yang sedang dilihat oleh reka. Tetapi, begitu reka ngetahui kalau orang yang sedang dilihat oleh reka itu adalah nona Violetta, barulah reka terkejut. Itu karena penampilan nona Violetta benar-benar berbeda dan mbuat reka tidak nyadari kalau orang yang sedang dilihat oleh reka adalah nona Violetta.

Lalu, ketika nona Violetta sudah sampai di aula itu, nona Violetta pun langsung nghampiri Ratu Kayana, Duke Louis dan Duchess Arlet yang sedang berbicara.

"Selamat pagi, Yang Mulia Ratu, tuan Louis dan juga nona Arlet," ucap nona Violetta.

"Selamat pagi, Violetta. Penampilanmu saat ini benar-benar berbeda, aku sampai terkejut ketika lihatmu," ucap Duchess Arlet.

"Itu benar, penampilanmu benar-benar berbeda. Kamu terlihat lebih cantik," ucap Ratu Kayana.

"Terima kasih, Yang Mulia Ratu, nona Arlet," ucap nona Violetta.

"Violetta, aku turut berduka atas ninggalnya nona Arnett dan juga Alia," ucap Duke Louis.

"Aku juga turut berduka, Violetta. Kamu yang tabah ya," ucap Duchess Arlet.

"Aku juga turut berduka, Violetta," ucap Ratu Kayana.

"Terima kasih, tuan Louis, nona Arlet, Yang Mulia Ratu. Lalu untuk Yang Mulia Ratu, saya juga turut berduka atas ninggalnya Yang Mulia Raja Albert," ucap nona Violetta.

"Terima kasih, Violetta," ucap Ratu Kayana.

Setelah itu, reka berempat pun mulai saling berbicara.

-

20 nit kemudian.

Aula itu terlihat sudah dipenuhi oleh lebih banyak orang daripada yang sebelumnya. Duke Dylan dan Duke Neil beserta Duchess reka masing-masing terlihat sudah berada di aula itu. Komandan Asier, komandan Keira, komandan Ivana dan komandan Allister terlihat juga sudah berada di aula itu. Selain komandan Keira, wakil komandan reka juga sudah ada di aula itu. Nona Karina pun juga sudah berada di aula itu. reka semua saat ini sedang lihati jasad dari orang yang reka kenal yang terbaring di dalam peti mati itu. Nona Violetta pun juga saat ini sedang lihati jasad dari orang yang dia kenal, yaitu Duchess Arnett yang rupakan ibundanya dan putri Alia yang rupakan adiknya.

"Ibunda...., Alia....," pikir nona Violetta.

Nona Violetta lihati jasad reka berdua dengan ekspresi wajah yang terlihat sedih. Bahkan nona Violetta terlihat hampir ngeluarkan air mata. Tetapi nona Violetta berusaha keras untuk nahannya, karena apabila nona Violetta ngeluarkan air mata ketika sedang lihat jasad Duchess Arnett dan putri Alia, orang-orang di aula itu akan ngetahui kalau nona Violetta miliki hubungan dengan reka berdua. Nona Violetta saat ini masih rahasiakan kalau dia rupakan bagian dari anggota keluarga San Quentine. Hanya beberapa orang di kerajaan ini saja yang tahu soal itu.

Sentara itu, Ratu Kayana kini juga sedang lihat ke arah salah satu peti mati yang ada di aula itu. Peti mati yang sedang Ratu Kayana lihat rupakan peti mati Raja Albert. Ratu Kayana kini sedang lihat jasad Raja Albert yang ada di peti mati itu. Ratu Kayana tidak lihat peti mati itu sendiri, ada juga Charles, Chloe, Caroline dan juga komandan Oliver yang ada di dekatnya. Lalu, ketika Ratu Kayana sedang lihat jasad Raja Albert, seorang prajurit tiba-tiba nghampiri Ratu Kayana. Prajurit itu lalu ngatakan sesuatu kepada Ratu Kayana.

"Saya ingin mberikan laporan, Yang Mulia Ratu. High Priest Theodor dan para Priest gereja Sancta Lux ibukota San Estella telah tiba. reka saat ini sedang berada di pintu masuk kediaman anda," ucap prajurit itu.

"Begitu ya. Baiklah, terima kasih atas laporannya," ucap Ratu Kayana.

"Sama-sama, Yang Mulia Ratu. Kalau begitu saya izin kembali ke pos saya," ucap prajurit itu.

"Iya," ucap Ratu Kayana.

Setelah itu, prajurit itu pun pergi ke tempat dia bertugas sebelumnya. Setelah prajurit itu pergi, Ratu Kayana lalu ngatakan sesuatu kepada komandan Oliver.

"Tuan Oliver, segera perintahkan para prajurit untuk datang ke aula ini. Perintahkan reka untuk nutup peti-peti mati yang ada di aula ini karena prosesi pemakamannya akan segera dimulai," ucap Ratu Kayana.

-

Sentara itu, di gerbang depan kediaman Duke Louis.

Terlihat High Priest Julian dan beberapa Priest gereja Sancta Lux kota San Lucia datang lagi ke kediaman Duke Louis. reka saat ini sedang nunggu di gerbang depan kediaman itu. Tidak lama kemudian, pintu gerbang depan itu pun terbuka dan seseorang keluar dari gerbang depan kediaman itu. Orang itu adalah Irene. Tidak hanya Irene saja, terlihat Leandra, Lily, senior Nadine dan juga beberapa prajurit yang nemaninya.

"Ada keperluan apa anda datang kemari, tuan High Priest ?," tanya Irene.

"Saya ingin nemui Rid Archie, putri Irene. Dia ada di dalam kediaman ini kan ?," tanya High Priest Julian sambil tersenyum.

Irene tidak bereaksi apa-apa setelah ndengar perkataan High Priest Julian. Ekspresi wajahnya masih terlihat datar seperti biasanya.

"Saya yakin kalau ayahanda saya kemarin sudah mberitahu kepada anda kalau Rid Archie tidak ada di kediaman ini. Ayah saya juga ngizinkan anda untuk riksa kediaman ini tetapi anda tidak mau. ski begitu, anda percaya dengan perkataan ayahanda saya dan milih untuk pergi. Tetapi kenapa sekarang anda datang lagi kemari ? Seperti yang ayahanda saya beritahu kepada anda sebelumnya, Rid Archie tidak ada di kediaman ini. Untuk mbuktikannya, seperti yang dilakukan oleh ayahanda saya, saya ngizinkan anda untuk riksa kediaman ini," ucap Irene.

"Alasan saya datang kemari karena saya yakin kalau Rid Archie mang ada di kediaman ini, putri Irene. Saya nolak untuk riksa kediaman ini karena sepertinya akan buang-buang waktu saja. Kalian berani ngizinkan saya untuk riksa kediaman ini karena mungkin kalian telah nyembunyikan Rid Archie terlebih dahulu di ruangan tersembunyi di kediaman ini atau di tempat lain. Jika benar begitu, tidak peduli seberapa lama kami ncarinya di kediaman ini, kami tidak akan pernah nemukannya. Karena itu, saya bilang kalau riksa kediaman ini akan buang-buang waktu saja," ucap High Priest Julian.

"Anda tidak bisa nemukan Rid Archie di kediaman ini bukan karena kami telah nyembunyikannya, tetapi karena Rid Archie mang tidak tinggal di kediaman ini," ucap Irene.

"Anda pikir saya akan mpercayainya begitu saja ? Saat ini, hubungan anda dengan Rid Archie sangat dekat karena anda saat ini sedang berpacaran dengan Rid Archie. Karena Rid Archie saat ini tidak miliki tempat tinggal akibat kampung halamannya yang telah hancur, Rid Archie pasti akan tinggal di kediaman ini karena kediaman ini rupakan kediaman pacarnya. Jadi Rid Archie pasti ada di dalam kediaman ini, jika dia tidak ada maka kalian telah nyembunyikannya. Sekarang, izinkan saya untuk nemui Rid Archie, putri Irene," ucap High Priest Julian.

"Saya sudah berkali-kali bilang kalau Rid Archie tidak ada di kediaman ini," ucap Irene.

"Jika anda masih bersikeras untuk berbohong. Sepertinya saya harus nggunakan cara lain untuk bisa nemui Rid Archie. Saya akan mbuat dirinya keluar dengan sendirinya. Kalian semua, kita mulai rencananya," ucap High Priest Julian.

"Baik, tuan," ucap beberapa Priest yang nemani High Priest Julian.

Setelah itu, beberapa Priest itu tiba-tiba ngarahkan tangannya ke depan, tepatnya ke Irene dan orang-orang yang nemaninya. Para Priest itu lalu lancarkan serangan sihir ke arah orang-orang yang nemani Irene. Serangan sihir itu pun ngenai orang-orang yang nemani Irene. Ketika ngenai orang-orang itu, serangan itu nimbulkan ledakan yang cukup besar.

*DUAR *DUAR *DUAR

Orang-orang yang terkena serangan sihir itu pun terluka dan terhempas. Leandra, Lily dan senior Nadine berhasil nghindari serangan itu tetapi reka tetap terhempas karena reka terkena ledakan yang muncul dari serangan sihir itu.

Sentara itu, ketika orang-orang yang nemani Irene sedang diserang oleh beberapa Priest itu. High Priest Julian tiba-tiba langsung lesat ke arah Irene.

"Begitu saya ngetahui kalau tuan Duke, nona Duchess dan komandan prajurit yang ada di kediaman ini telah pergi, saya pikir ini adalah kesempatan yang besar untuk nculik anda. Jika kami nculik anda yang rupakan pacar Rid Archie saat ini, Rid Archie pasti akan datang sendirinya untuk nemui kami," ucap High Priest Julian sambil lesat ke arah Irene.

Setelah itu, High Priest Julian pun kini sudah berada di dekat Irene. Kemudian, High Priest Julian terlihat mulai lancarkan sebuah sihir ke arah Irene.. Tetapi sebelum High Priest Julian lancarkan sihirnya itu, Irene dengan cepat langsung nendang High Priest Julian tepat di perutnya.

~Mana Strike~

Irene nendang High Priest Julian dengan nggunakan kakinya yang diselimuti oleh Mana. High Priest Julian pun langsung muntahkan sejumlah darah dari mulutnya setelah ditendang oleh Irene. Setelah itu, High Priest Julian pun terhempas cukup jauh ke belakang. Setelah terhempas cukup jauh, High Priest Julian pun terjatuh dan nghantam jalanan yang ada di depan gerbang depan kediaman Duke Louis. Beberapa Priest yang masih terus nyerang orang-orang yang nemani Irene terlihat sangat terkejut ketika lihat High Priest Julian terhempas setelah ditendang oleh Irene.

Sentara itu, setelah nendang High Priest Julian, Irene lalu nurunkan kakinya kembali setelah digunakan untuk nendang High Priest Julian.

"Jadi tujuan anda datang kemari adalah untuk nculik saya ya. Saya tahu kalau anda rupakan High Priest gereja Sancta Lux yang rupakan agama terbesar di Benua Utara ini. Tetapi, ski anda adalah seorang High Priest dari gereja Sancta Lux, apa anda pikir saya hanya akan diam saja begitu ngetahui kalau anda berniat untuk nculik saya ?," tanya Irene.

-Bersambung

You are reading Peace Hunter Chapter 438 : Peti Mati Para Bangsawan on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Sword God Reborn cover
Similar genre

Sword God Reborn

InkQuillWrites ·Action

Reincarnationistiresome.Thistime,IwillsurelyattaintheUltimateoftheSwordandfindeternalrest.“SwordGodReborn”Throughcountlessreincarnations,Ilivedagai...

On the Path to the Great Dao cover
Similar genre

On the Path to the Great Dao

Pig Nerd ·Action

【Fromtheauthorof''!】Mygrandfatherisverypeculiar.Everyday,helightsincenseforhimselfandeatscandlesinfrontofhisownancestraltablet.Thevillagersareallte...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.