Font Size
15px

High Priest Julian terlihat masih tergeletak di jalan yang berada di depan gerbang depan kediaman Duke Louis setelah ditendang oleh Irene. Para Priest yang sedang bersamanya pun terlihat sangat terkejut setelah lihat High Priest Julian yang baru saja ditendang oleh Irene. Beberapa Priest itu lalu langsung bergegas untuk nghampiri High Priest Julian yang tergeletak.

"Tuan!!," ucap beberapa Priest itu.

Sentara beberapa Priest sisanya hanya lihat High Priest Julian yang tergeletak di tempat reka berdiri sekarang. Setelah lihat ke arah High Priest Julian, beberapa Priest itu lalu berbalik dan noleh ke arah Irene. Beberapa Priest itu lalu ngarahkan tangan reka ke arah Irene. Beberapa dari reka terlihat ada yang nggunakan tongkat sihir dan reka pun juga ngarahkan tongkat sihir reka ke arah Irene.

"Kau!, beraninya kau nyerang seorang High Priest dari gereja Sancta Lux!!. skipun kau adalah seorang putri dari salah satu Duke dari kerajaan ini, tindakanmu tidak bisa dimaafkan. Apa kau tahu apa akibatnya kalau kau sampai mbuat masalah dengan gereja Sancta Lux ? Jika kau mbuat masalah dengan gereja Sancta Lux, sama saja kau mbuat masalah langsung dengan Holy Kingdom yang rupakan pusat dari agama Sancta Lux. Tindakanmu dengan nyerang seorang High Priest yang berasal dari gereja Sancta Lux dapat mbuat kerajaan ini dalam bahaya. Tindakanmu itu bisa dianggap sebagai deklarasi perang terhadap Holy Kingdom. Kau sebagai putri dari salah satu Duke di kerajaan ini harusnya tahu tentang hal itu," ucap salah satu dari Priest yang sedang ngarahkan tongkat sihir miliknya ke arah itu.

"Tentu saja saya tahu tentang hal itu, tetapi apa saya harus diam saja ketika ngetahui kalau saya akan diculik ? Apalagi kalian semua juga telah nyerang orang-orang yang nemani saya. Tindakan yang saya lakukan ini berawal dari tindakan kalian. Tindakan yang saya lakukan ini adalah sebuah tindakan pembelaan diri. Jika kalian tidak nyerang orang-orang yang nemani saya dan juga tidak berniat untuk nculik saya, tentu saja saya tidak akan ngambil tindakan seperti nendang tuan High Priest itu," ucap Irene.

"Semua tindakan yang dilakukan gereja Sancta Lux rupakan tindakan yang benar dan tidak dapat disalahkan. Jadi kau ataupun orang lain tidak bisa nyalahkan kami karena telah nyerang orang-orangmu ataupun berniat untuk nculikmu. Karena itu, tindakan yang kau lakukan sebelumnya tidak dianggap sebagai tindakan pembelaan diri, karena kami sama sekali tidak lakukan tindakan yang salah. Justru, tindakan yang kau lakukan sebelumnya akan dianggap sebagai tindakan penyerangan tanpa alasan. Kau akan dianggap telah nyerang High Priest gereja Sancta Lux tanpa suatu alasan. nyerang seorang High Priest gereja Sancta Lux tanpa suatu alasan bisa dianggap sebagai percobaan pembunuhan. Kau akan ndapatkan hukuman yang berat akibat tindakanmu itu," ucap Priest itu.

Setelah ndengar perkataan Priest itu, ekspresi wajah Irene masih terlihat datar seperti biasa.

"Sepertinya ini akan njadi semakin repotkan," pikir Irene.

"Tujuan kami datang kesini adalah untuk nculikmu tanpa sedikitpun lukaimu. Tetapi karena kau telah nyerang High Priest kami, sepertinya kami harus mberikan sedikit hukuman sebelum nculik dirimu," ucap Priest itu.

Setelah itu, Priest itu bersiap untuk lancarkan sihir dari tongkat sihir yang dipegangnya. Tetapi sebelum serangan sihir itu dilancarkan, tiba-tiba terdengar suara senapan yang ditembakkan.

*DOR

Setelah itu, sebuah peluru tiba-tiba lesat ke arah Priest itu hingga ngenai bagian tengah dada Priest itu. Peluru itu pun nembus bagian tengah dada Priest itu dan mbuat dadanya itu berlubang. Priest itu pun kemudian langsung terjatuh dan terbaring setelah peluru itu lubangi dadanya. Para Priest yang lainnya terlihat sangat terkejut begitu lihat Priest itu. Sentara Irene langsung noleh ke belakang setelah lihat Priest yang terjatuh dan terbaring itu. Ketika Irene sudah noleh ke belakang, Irene lihat senior Nadine yang sedang ngarahkan senapan panjang miliknya ke depan, tepatnya ke para Priest yang ada di depan Irene sebelumnya. Senior Nadine lah yang baru saja nembak Priest itu dengan senapan miliknya.

"Nadine," ucap Irene.

Setelah itu, salah satu Priest yang ada disitu mulai ngatakan sesuatu setelah lihat rekannya baru saja ditembak.

"Oi, berani sekali kau nembak seorang Priest yang berasal dari gereja Sancta Lux. Kau akan ndapatkan hukuman yang berat karena telah lakukan hal ini!," ucap Priest itu.

Setelah ndengar perkataan Priest itu, senior Nadine yang masih ngarahkan senapan miliknya ke arah para Priest itu pun langsung nanggapi perkataan Priest itu.

"Aku sama sekali tidak peduli tentang hal itu. Aku juga tidak peduli skipun kalian berasal dari gereja Sancta Lux. Ketika lihat kalian tiba-tiba nyerang kami dan ingin nculik Irene, mana mungkin aku akan diam saja. Irene adalah sepupuku, aku tidak akan mbiarkan kalian nculiknya," ucap senior Nadine.

Setelah itu, senior Nadine kembali nembakkan senapannya.

*DOR

Senior Nadine kali ini nembak Priest yang sebelumnya berbicara dengan senior Nadine. Senior Nadine nembak Priest itu di dadanya hingga mbuat dadanya itu berlubang. Setelah itu, Priest itu pun terjatuh dan terbaring sama seperti Priest sebelumnya yang senior Nadine tembak.

lihat 2 Priest yang rupakan rekan reka telah tumbang, para Priest yang lainnya pun terlihat sangat terkejut. reka tidak tahu apa yang harus reka lakukan setelahnya. Lalu, ketika para Priest itu sedang bingung, tiba-tiba ada seseorang yang rintah reka.

"Apa yang kalian lakukan ? Cepat serang reka. reka dengan beraninya nyerang kita yang rupakan bagian dari gereja Sancta Lux. Kita harus nyerang reka sebagai hukuman karena telah nyerang kita," ucap orang itu yang rupakan High Priest Julian.

High Priest Julian kini telah berdiri kembali setelah sebelumnya tergeletak akibat ditendang oleh Irene. Luka-luka di tubuhnya akibat ditendang oleh Irene terlihat sudah pulih. Sepertinya beberapa Priest yang sebelumnya nghampirinya ketika tergeletak telah berhasil nyembuhkan lukanya. Lalu, setelah ndengar perkataan High Priest Julian, para Priest itu pun langsung nuruti perkataan High Priest Julian dengan nyerang Irene, senior Nadine dan yang lainnya dengan nggunakan sihir reka. Serangan sihir itu pun dilesatkan ke arah Irene, senior Nadine dan yang lainnya. Tetapi sebelum serangan sihir itu ndekati Irene, senior Nadine dan yang lainnya, sebuah serangan sihir lain tiba-tiba nabrak serangan sihir yang dilesatkan oleh para Priest itu. Serangan sihir itu pun ledak dan hancur sebelum ngenai Irene, senior Nadine dan yang lainnya. Para Priest yang lakukan serangan sihir itu terlihat terkejut begitu lihat ada serangan sihir lain yang nghancurkan serangan sihir reka. Para Priest itu lalu lihat ke seseorang yang berada di belakang Irene. Orang itu adalah seorang Elf wanita yang sedang ngarahkan tongkat sihir miliknya ke arah para Priest itu. Orang itu adalah Leandra.

"Sayang sekali, kali ini aku tidak akan mbiarkan kalian untuk nyerang kami lagi," ucap Leandra.

Setelah Leandra ngatakan itu, seorang wanita Demi-Human Rubah tiba-tiba lesat ke arah para Priest itu dan langsung nyerang para Priest itu dari dekat dengan nggunakan tangannya dan kakinya yang sudah dialiri oleh sihir listrik. Orang yang nyerang para Priest itu adalah Lily.

"Aku tidak peduli kalian berasal dari gereja Sancta Lux atau darimana, tetapi aku tidak akan mbiarkan kalian nculik nona Irene," ucap Lily sambil terus nyerang para Priest itu.

Para Priest itu yang sepertinya hanya mahir di pertarungan jarak jauh dengan nggunakan sihir, terlihat kewalahan ketika nghadapi Lily yang nyerang reka dalam jarak dekat. Beberapa dari reka pun berhasil dikalahkan oleh Lily. Sentara itu, lihat Lily yang sedang nyerang para Priest itu, para prajurit yang saat ini berada di belakang Irene pun mulai bergerak ke arah para Priest itu.

"Ayo semuanya kita serang para Priest itu. Kita tidak boleh diam saja begitu ngetahui kalau reka berniat untuk nculik putri Irene,"

"Iya, itu benar. Kita harus lindungi putri Irene. Tidak peduli mau itu gereja Sancta Lux atau siapapun, kita harus lawan reka yang berniat untuk nculik putri Irene,"

"Kita tidak dibayar oleh gereja Sancta Lux, jadi kita tidak perlu nuruti perkataan reka. Yang mbayar kita itu adalah tuan Duke, jadi kita tidak boleh ngecewakan beliau. Kita tidak boleh mbiarkan putri beliau diculik oleh reka," ucap para prajurit itu.

Setelah itu, para prajurit itu pun mulai nyerang para Priest itu satu persatu. Para Priest yang jumlahnya tidak terlalu banyak itu terlihat kewalahan ketika nghadapi para prajurit itu.

Aksi para prajurit Duke San Lucia yang sedang lawan para Priest yang berasal dari gereja Sancta Lux di depan gerbang kediaman Duke Louis narik perhatian banyak orang. Orang-orang yang berada di sekitar gerbang depan kediaman Duke Louis terlihat sangat terkejut ketika lihat para prajurit Duke San Lucia sedang lawan para Priest gereja Sancta Lux.

"Apa-apaan ini ?! Apa yang sebenarnya terjadi ?!,"

"Kenapa para prajurit tuan Duke Louis nyerang para Priest itu ?,"

"Di antara para prajurit itu, aku lihat ada putri Irene. Apa dia lah yang telah rintahkan para prajurit itu untuk nyerang para Priest itu ?,"

"Kejadian ini pastinya akan njadi berita besar," "Padahal insiden penyerangan yang terjadi di seluruh wilayah kerajaan ini baru terjadi 2 hari yang lalu. Insiden penyerangan itu telah njadi berita besar hingga saat ini. Tetapi kali ini, muncul kejadian yang akan njadi berita besar lainnya," ucap orang-orang itu.

Sentara itu, lihat para Priest yang dibawanya sedang kewalahan ketika nghadapi para prajurit itu, High Priest Julian terlihat hanya diam saja.

"Ini sungguh diluar didugaan. Aku tidak nyangka kalau reka akan nyerang balik seperti ini. Sepertinya aku harus lakukan sesuatu," pikir High Priest Julian.

Setelah itu, High Priest Julian tiba-tiba nghentakkan kaki kanannya ke jalan yang dipijaknya. Hentakan itu sangat kuat hingga mbuat jalan itu njadi retak dan rusak. Setelah nghentakkan kaki kanannya itu, High Priest Julian lalu mulai nggumamkan sesuatu.

~Mud Magic : Mud Golems Army~

Setelah itu, di beberapa titik jalan di tempat reka berada saat ini, tiba-tiba muncul lumpur dari bawah jalan itu. Lumpur yang tiba-tiba muncul itu lalu mbentuk tubuh yang mirip dengan seorang manusia. Lumpur yang tiba-tiba muncul dan mbentuk tubuh yang mirip dengan seorang manusia itu tidak hanya 1 saja, lainkan ada banyak. Mungkin ada sekitar puluhan lumpur yang kini telah mbentuk tubuh yang mirip dengan seorang manusia. Manusia-manusia lumpur itu kini sedang ngelilingi para prajurit dan para Priest yang sedang saling bertarung. Para prajurit dan bahkan para Priest itu terlihat terkejut dengan kemunculan manusia-manusia lumpur itu. Leandra, Lily dan senior Nadine pun juga terkejut lihat kemunculan manusia-manusia lumpur itu.

"Makhluk apa itu ?," tanya Leandra.

"Makhluk itu, kelihatannya adalah Golem buatan yang terbuat dari sihir," ucap senior Nadine.

Sentara itu, setelah munculkan manusia-manusia lumpur itu dengan sihirnya, High Priest Julian lalu mulai rintahkan manusia-manusia lumpur itu.

"Kalian semua, serang reka. Berikan hukuman kepada reka yang telah berani lawan gereja Sancta Lux," ucap High Priest Julian.

Setelah High Priest Julian mberikan perintah itu, manusia-manusia lumpur itu pun mulai bergerak untuk nyerang para prajurit Duke San Lucia, Leandra, Lily, senior Nadine dan juga Irene. Irene yang lihat beberapa manusia-manusia lumpur itu sedang bergerak ke arahnya, lalu mulai gang rapier miliknya yang sebelumnya dia taruh di pinggangnya.

-

Sentara itu di dalam kediaman Duke Louis.

Terlihat beberapa prajurit dan pelayan sedang gang sebuah kristal komunikasi.

"Bagaimana ini ? Tuan Duke dan nona Duchess tidak bisa dihubungi. Kita harus segera mberitahu beliau kalau High Priest dan para Priest gereja Sancta Lux yang ada di kota ini saat ini sedang nyerang kediaman beliau," ucap salah satu pelayan itu.

"Mungkin saat ini prosesi pemakaman di istana kediaman Yang Mulia Ratu telah dimulai. Maka dari itu sepertinya beliau tidak mbawa kristal komunikasi miliknya itu ketika ngikuti prosesi pemakaman itu agar tidak terganggu. Untuk sekarang, lebih baik kita terus berusaha untuk nghubungi beliau. Beliau harus ngetahui tentang hal ini," ucap salah satu prajurit itu.

-

Sentara itu di istana kediaman Ratu Kayana.

Terlihat para prajurit yang hadir di prosesi pemakaman yang digelar di tempat itu sedang ngangkat peti mati para bangsawan yang telah tewas akibat insiden penyerangan yang terjadi sebelumnya. Peti mati itu diangkat lalu dibawa keluar dari istana kediaman Ratu Kayana. Terlihat komandan Oliver, komandan Asier, komandan Ivana, komandan Keira dan komandan Allister sedang berjalan di depan para prajurit yang mbawa peti-peti mati itu. Sentara di belakang para prajurit yang mbawa peti mati itu, terlihat ada Ratu Kayana, Charles, Chloe, Caroline, para Duke dan para Duchess serta orang-orang yang hadir di prosesi pemakaman itu. Peti-peti mati itu saat ini sedang dibawa nuju pemakaman para bangsawan yang letaknya tidak jauh dari istana kediaman Ratu Kayana.

-

Sentara itu, di suatu tempat yang berada di bagian utara kota San Lucia, tempat latihan rahasia milik Rid.

Saat ini, aku sedang berada di perbatasan antara daerah utara dengan daerah tengah yang rupakan bagian dari wilayah yang cukup berbahaya di bagian utara kota San Lucia. Kini, aku sedang berdiri di tengah sekumpulan monster yang jasadnya telah berserakan di sekitarku. Jasad monster-monster yang berserakan di sekitarku itu rupakan jasad monster yang sebelumnya berhasil aku bunuh. Aku kini sedang berdiri di tengah jasad monster-monster itu sambil ncekik seseorang yang tubuhnya saat ini sedang tidak terlihat. Tidak lama kemudian, tubuh orang yang sedang aku cekik itu secara perlahan mulai terlihat. Setelah seluruh tubuh orang itu mulai terlihat, terlihat jelas siapa orang yang sedang aku cekik itu. Orang itu adalah biarawati yang sebelumnya lihatku sedang nyembuhkan senior Gretta dan senior Nadine. Biarawati ini juga sebelumnya ngejarku bersama dengan beberapa orang lainnya.

"Ternyata ada seseorang yang berhasil lolos dari 3 naga es yang sebelumnya aku buat. Sepertinya 3 naga es yang aku buat tidak bisa ngetahui atau nyadari seseorang yang nggunakan ~Stealth Magic~. ~Stealth Magic~ mu kelihatannya benar-benar sangat berguna. Bukankah begitu, nona Priest ?," tanyaku sambil tetap ncekik biarawati itu.

"Ughhhh.....ternyata orang yang kami kejar itu.....mang adalah kamu...., Rid Archie," ucap Elsie.

-Bersambung

You are reading Peace Hunter Chapter 439 : Penyerangan di Kediaman Duke San Lucia on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.