Aku, Irene, senior Nadine dan senior Gretta pun langsung terkejut begitu ndengar perkataan Duchess Arlet.
"Deklarasi perang terhadap Holy Kingdom ?!," ucap senior Gretta.
"Iya. Maka dari itu, kita tidak boleh asal nyentuh atau nyerang para Priest gereja Sancta Lux skipun reka telah lakukan sesuatu yang mungkin rugikan kerajaan ini. Kita sebagai pemimpin di kerajaan ini pun juga tidak boleh asal nyentuh, nghukum ataupun nyerang reka skipun reka telah lakukan sesuatu yang rugikan kerajaan ini," ucap Duchess Arlet.
"Jika para Priest itu tahu tentang kemampuan sihir penyembuhan Rid. Bukankah jadi sulit untuk nghentikan reka karena anda yang rupakan salah satu pemimpin di kerajaan ini saja tidak bisa asal nyentuh atau lakukan sesuatu kepada reka," ucap ucap senior Gretta.
"Iya, nghentikan reka akan sulit apabila reka mutuskan untuk nyentuh atau ndekati Rid. Bahkan Yang Mulia Ratu sekalipun juga akan sulit untuk nghentikan reka," ucap Duchess Arlet.
"Jadi apa yang harus kita lakukan jika para Priest ataupun para High Priest itu ngetahui tentang kemampuan sihir penyembuhan Rid ?," tanya senior Gretta.
"Aku nanti akan mbicarakan tentang masalah ini dengan Yang Mulia Ratu. Kami akan ncari solusi terbaik untuk ngatasi masalah ini. Kami tidak akan mbiarkan para High Priest itu ndekati ataupun nyentuh Rid dan di sisi lain kami juga tidak mau berkonflik dengan reka," ucap Duchess Arlet.
"Semoga nanti anda dan Yang Mulia Ratu nemukan solusi terbaik atas masalah ini, nona Duchess," ucap senior Gretta.
"Iya, terima kasih, Gretta. Sekarang, lebih baik kita segera kembali ke dalam gereja Sancta Lux," ucap Duchess Arlet.
"Baik, nona Duchess," ucap senior Gretta.
Aku, Irene dan senior Nadine pun ngangguk setelah ndengar perkataan Duchess Arlet. Setelah itu, kami pun langsung bergegas pergi ke arah pintu yang terhubung dengan bangunan gereja Sancta Lux. Lalu, kami semua pun masuk ke dalam pintu itu.
-
Sentara itu, di suatu ruangan yang ada di dalam gereja Sancta Lux kota San Lucia.
Terlihat komandan Allister tengah duduk di sebuah ranjang yang ada di ruangan itu. Di sampingnya terlihat ada Duke Louis yang sedang duduk di kursi yang ada di samping ranjang itu. Tidak hanya Duke Louis saja, terlihat ada wakil komandan Agneta juga yang saat ini sedang berdiri di samping ranjang tempat komandan Allister berada. Keberadaan komandan Allister di gereja itulah yang mbuat Duke Louis milih untuk datang ke gereja itu terlebih dahulu sebelum kembali ke kediamannya. Sebelumnya Duke Louis ndapatkan kabar kalau komandan Allister terluka cukup parah dan sedang dirawat di gereja Sancta Lux, maka dari itu beliau langsung pergi ke gereja Sancta Lux untuk njenguk komandan Allister.
"Bagaimana kondisi anda saat ini, komandan ?," tanya Duke Louis.
"Kondisi saya sangat baik, tuan Duke. Saya minta maaf karena telah mbuat anda repot-repot untuk njenguk saya," ucap komandan Allister.
"Tidak apa-apa, anda tidak perlu minta maaf. Lagipula anda terluka seperti ini karena telah lindungi wilayah saya dari serangan orang-orang baik itu orang-orang biasa maupun orang-orang yang telah berubah njadi iblis. Saya ngucapkan terima kasih karena anda telah lindungi wilayah saya," ucap Duke Louis.
"Anda tidak perlu berterima kasih, tuan Duke. Lagipula ini mang rupakan pekerjaan saya untuk lindungi wilayah San Lucia," ucap komandan Allister.
Setelah itu, Duke Louis lihat dan mperhatikan lengan kanan komandan Allister yang telah terpotong. Lengan kanan itu terlihat sudah diselimuti oleh perban.
"Komandan, maaf apabila saya nanyakan tentang ini, tetapi bagaimana dengan lengan anda ? Apa masih bisa untuk disembuhkan ?," tanya Duke Louis.
"Saya tidak tahu, tetapi High Priest Julian bilang kalau beliau akan ncari tahu cara untuk nyembuhkan lengan kanan saya yang telah terpotong," ucap komandan Allister.
"Begitu ya. Ngomong-ngomong, setelah lengan anda terpotong, apakah potongan lengan anda itu masih ada ? Atau sudah hilang ataupun hancur ?," tanya Duke Louis.
"Izinkan saya untuk njawabnya, tuan Duke. Potongan lengan kanan milik komandan masih ada, tuan Duke. Ketika saya dan beberapa prajurit lainnya hendak mbawa komandan kesini, salah satu prajurit kami nemukan potongan lengan yang tergeletak di jalan tidak jauh dari lokasi tempat kami nemukan komandan. Dilihat dari potongan lengan itu, potongan lengan itu mirip seperti lengan komandan. Setelah diperiksa, ternyata mang benar kalau potongan lengan itu adalah lengan komandan yang telah terpotong. Kami pun mutuskan untuk mbawa potongan lengan itu juga. Potongan lengan itu kini sedang dibawa oleh High Priest Julian," ucap wakil komandan Agneta.
"Hmmm begitu ya," ucap Duke Louis.
Setelah itu, Duke Louis pun terdiam sambil mikirkan sesuatu.
"Aku dengar lengan tuan Oliver juga terpotong oleh tuan Remy ketika reka saling bertarung satu lawan satu. Dari yang aku dengar lagi, Rid lah yang telah nyembuhkan dan nyambungkan lengan kanan tuan Oliver yang telah terpotong. Rid bisa lakukan itu karena potongan lengan milik tuan Oliver masih ada. Jika potongan lengan itu hilang atau sudah hancur, Rid tidak akan bisa nyembuhkan atau nyambungkan lengan kanan tuan Oliver,"
"Ini sama dengan yang terjadi dengan komandan Allister. Potongan lengan milik komandan Allister masih ada dan tidak hilang ataupun hancur. Seharusnya Rid bisa nyembuhkan atau nyambungkan lengan kanan milik komandan Allister. Aku bisa saja nyuruhnya untuk lakukan itu, tetapi saat ini kita sedang berada di gereja Sancta Lux. Aku tidak bisa nyuruh Rid untuk nggunakan kemampuan sihir penyembuhannya di gereja ini karena ada kemungkinan para Priest atau bahkan High Priest Julian akan dapat ngetahui tentang kemampuan sihir penyembuhan Rid. Jika reka ngetahui tentang itu, Rid akan terus diincar oleh reka. Kehidupannya mulai sekarang akan terancan apabila dia diincar terus oleh reka. Jadi lebih baik aku tidak nyuruh Rid untuk nyembuhkan lengan kanan komandan Allister. Lagipula sepertinya High Priest Julian akan segara dapat nyembuhkan lengan kanan komandan Allister yang terpotong," pikir Duke Louis.
Setelah itu, Duke Louis dan komandan Allister pun lanjutkan obrolan reka. reka ngobrol tentang penyerangan yang terjadi di kota San Lucia. Lalu beberapa nit kemudian, Duke Louis pun ngakhiri obrolan reka.
"Saya sudah cukup lama berada disini, saya harus kembali ke kediaman saya untuk mpersiapkan dan rencanakan hal-hal yang harus saya lakukan setelah insiden penyerangan di wilayah San Lucia. Kalau begitu saya pamit dulu, komandan, wakil komandan. Lalu untuk komandan, semoga lengan kanan anda dapat segera disembuhkan," ucap Duke Louis.
"Terima kasih, tuan Duke," ucap komandan Allister.
"Kalau begitu, sampai bertemu lagi nanti," ucap Duke Louis.
"Iya, tuan Duke," ucap komandan Allister.
Wakil komandan Agneta pun ngangguk kepalanya setelah ndengar perkataan Duke Louis. Setelah itu, Duke Louis pun berjalan ke arah pintu keluar ruangan itu. Ketika Duke Louis sudah berada di depan pintu itu, tiba-tiba pintu itu terbuka sebelum Duke Louis sempat mbukanya. Setelah pintu itu terbuka cukup lebar, terlihat seorang pria paruh baya dari balik pintu itu. Pria itu lah yang mbuka pintu itu. Pria itu ngenakan pakaian yang nyerupai seperti pakaian pendeta. Pakaian itu didominasi oleh warna putih dengan warna emas yang ada di beberapa bagian pada pakaian itu.
"Anda mau kembali ke kediaman anda, tuan Duke ?," tanya pria itu.
"Iya, saya harus segera kembali ke kediaman saya karena saya harus mpersiapkan dan rencanakan hal-hal yang harus saya lakukan untuk wilayah San Lucia yang baru saja diserang," ucap Duke Louis.
"Begitu ya. Sayang sekali karena anda ngunjungi gereja ini hanya sebentar saja, tetapi apa boleh buat karena anda masih miliki banyak pekerjaan. Kalau begitu, hati-hati di jalan, tuan Duke," ucap pria itu.
"Iya, terima kasih, tuan Julian. Kalau begitu saya pamit," ucap Duke Louis.
"Iya," ucap pria itu
Nama pria itu adalah Julian Kucera. Dia rupakan seorang High Priest di gereja Sancta Lux kota San Lucia, yang berarti dia rupakan pemimpin para Priest di gereja itu.
Kemudian, High Priest Julian pun mberikan jalan untuk Duke Louis yang ingin pergi keluar dari ruangan itu. Ketika High Priest Julian sedang mberikan jalan, Duke Louis sempat lihat dan mperhatikan High Priest Julian. Pada tangan kiri High Priest Julian, terlihat kalau High Priest Julian sedang gang sesuatu. Sesuatu itu adalah sebuah potongan lengan kanan.
"Potongan lengan kanan ? Apa itu potongan lengan kanan milik komandan Allister ?," pikir Duke Louis.
Duke Louis terus lihat dan mperhatikan potongan lengan yang ada di tangan kiri High Priest Julian. Tetapi karena Duke Louis mperhatikan potongan lengan itu sambil berjalan, Duke Louis tidak bisa mperhatikan potongan lengan itu dengan lebih lana karena saat ini dia sudah lewati High Priest Julian yang mberikan jalan kepadanya. Ketika Duke Louis sudah lewati High Priest Julian, dia pun terus berjalan tanpa berbalik atau noleh ke arah High Priest Julian yang sudah dilewatinya.
Sentara itu, ketika Duke Louis sudah lewati High Priest Julian, terlihat High Priest Julian tiba-tiba mulai tersenyum.
-Bersambung
Reviews
All reviews (0)