Sentara itu, setelah kami pergi dari lorong tempatku sebelumnya nyembuhkan senior Nadine dan senior Gretta, kami pun langsung pergi ke luar gereja Sancta Lux. Tapi hanya aku, Irene, senior Nadine dan senior Gretta saja yang pergi ke luar, sentara Duchess Arlet masih berada di dalam gereja untuk ngobrol dengan orang-orang kota San Lucia yang berada di dalam gereja. Lalu, setelah kami sudah keluar dari gereja Sancta Lux, kami langsung nghampiri Leandra dan Lily yang masih nunggu di depan gereja Sancta Lux.
"Maaf mbuat kalian nunggu lama, Leandra, Lily," ucap Irene.
Leandra dan Lily yang sebelumnya sedang lihat ke arah lain langsung noleh ke arah Irene setelah ndengar suara Irene.
"Nona ?! Ah, tidak apa-apa, nona. Kamu tidak perlu minta maaf. Loh, kenapa ada senior Gretta dan senior Nadine juga ?," tanya Leandra yang terkejut.
Lily pun juga terkejut begitu lihat senior Gretta dan senior Nadine.
"Lama tidak berjumpa, Leandra, Lily," ucap senior Gretta.
"Lama tidak berjumpa, kalian berdua. skipun belum lama ini kita sempat bertemu saat kalian njalani ujian di kediaman tuan Duke," ucap senior Nadine.
"Iya, lama tidak berjumpa, senior Gretta, nona Nadine," ucap Lily.
"Lama tidak berjumpa juga. Ngomong-ngomong, kenapa kalian berdua bisa ada disini ?," tanya Leandra.
"Aku dan Nadine sebelumnya sudah berada di dalam gereja ini. Kami mutuskan untuk pergi ke gereja ini karena kami berdua sebelumnya ngalami cukup banyak luka di tubuh kami akibat bertarung dengan orang-orang yang nyerang kota ini. Tetapi skipun kami sudah berada di dalam gereja ini, kami tidak kunjung disembuhkan karena harus ngantri dan nunggu terlebih dahulu akibat banyaknya orang-orang yang terluka yang datang ke gereja ini,"
"Lalu, disaat kami sedang nunggu di dalam, tiba-tiba tuan Duke Louis dan nona Duchess Arlet datang ke gereja ini. reka berdua kebetulan lihat kami di antara orang-orang yang terluka yang ada di dalam gereja. Setelah itu, reka berdua pun langsung nghampiri kami untuk riksa luka pada tubuh kami. Kemudian, tuan Duke Louis minta kepada para Priest gereja Sancta Lux untuk nyembuhkan kami terlebih dahulu, tetapi para Priest itu tidak bisa lakukannya skipun itu adalah perintah tuan Duke Louis. Tuan Duke Louis pun makluminya dan minta maaf karena telah egois dengan minta untuk nyembuhkan kami berdua terlebih dahulu, padahal orang-orang yang terluka lainnya juga sama pentingnya,"
"Setelah itu, tuan Duke Louis pun pergi ke salah satu ruangan yang ada di ruangan itu, sentara nona Duchess Arlet masih berada bersama kami dengan ditemani oleh beberapa prajurit miliknya. Kemudian, tiba-tiba nona Duchess Arlet mbisikkan sesuatu kepada kami. Beliau bilang kalau beliau mbawa seseorang yang bisa nyembuhkan kami. Tetapi kami harus disembuhkan oleh orang itu secara rahasia dan tidak boleh diketahui oleh siapapun, maka dari itu kami yang sebelumnya berada di ruangan utama gereja, mutuskan untuk pergi ke sebuah lorong yang ada di dalam gereja itu. Lorong itu sangat sepi sekali dan tidak ada orang satupun. Lorong itu sangat pas untuk dijadikan tempat untuk nyembuhkan kami. Setelah itu, nona Duchess Arlet langsung pergi untuk mbawa orang itu. Beberapa nit kemudian, nona Duchess Arlet pun kembali sambil mbawa orang itu. Kami tidak nyangka kalau orang yang dibawa oleh nona Duchess Arlet ternyata adalah Rid. Setelah itu, Rid pun langsung nyembuhkan kami dan luka-luka di tubuh kami pun langsung nghilang sepenuhnya," ucap senior Gretta.
"Oh, jadi itu alasan kenapa kalian berdua ada di gereja ini," ucap Leandra.
"Iya, Leandra," ucap senior Gretta.
Leandra dan Lily pun kemudian ngangguk pertanda ngerti tentang alasan senior Gretta dan senior Nadine berada di gereja itu. Setelah itu, Leandra mulai lihat dan mperhatikan tubuh senior Gretta.
"Hmmm, kalau diperhatikan lebih teliti, seragam dan jubah yang kamu kenakan itu, bukankah itu seragam dan jubah prajurit kerajaan San Fulgen, senior ? Apa itu berarti kamu saat ini rupakan prajurit kerajaan San Fulgen ?," tanya Leandra.
"Iya, aku saat ini rupakan prajurit kerajaan San Fulgen yang berada langsung di bawah komandan komandan tertinggi kerajaan ini yaitu komandan Oliver. Prajurit kerajaan San Fulgen yang berada di bawah komando komandan Oliver umumnya bertugas untuk njaga dan ngawasi seluruh wilayah ibukota San Estella. Tetapi terkadang kami juga diberi tugas untuk mbantu njaga dan ngawasi keempat wilayah seperti San Minerva, San Angela, San Quentine dan San Lucia. Tentu ketika kami diberi tugas untuk mbantu keempat wilayah itu, kami tetap harus nuruti perintah komandan pasukan yang njaga masing-masing wilayah itu skipun pemimpin kami yang seharusnya adalah komandan Oliver," ucap senior Gretta.
"Oh, jadi itu alasan kenapa kamu ada di kota San Lucia, senior ? Kamu ndapatkan tugas untuk njaga dan ngawasi kota San Lucia," ucap Leandra.
"Iya. Aku awalnya diberi tugas untuk njaga dan ngawasi wilayah San Lucia, lebih tepatnya kota San Lucia ini. Tetapi aku tidak nyangka tiba-tiba kota ini diserang oleh banyak orang mulai dari orang-orang biasa maupun orang-orang yang telah berubah njadi iblis. Aku lebih tidak nyangka lagi kalau bukan hanya kota ini saja yang diserang, tetapi seluruh wilayah kerajaan ini pun juga diserang," ucap senior Gretta.
"Iya, akademi pun ikut diserang oleh orang-orang itu. Banyak orang yang tewas dan terluka akibat penyerangan itu," ucap Leandra.
"Di kota ini pun juga banyak orang yang tewas dan terluka. Tetapi aku bersyukur kalian semua tidak apa-apa," ucap senior Gretta.
"Aku juga bersyukur lihat senior Gretta dan nona Nadine sudah tidak apa-apa skipun sebelumnya kalian berdua terluka," ucap Leandra.
Setelah itu, kami pun mutuskan ngobrol untuk nunggu Duke Louis dan Duchess Arlet yang masih berada di dalam gereja.
"Ngomong-ngomong, aku masih tidak nyangka kalau kamu sudah njadi prajurit kerajaan San Fulgen, senior. Sebelumnya, saat kami njalani ujian di kedamaian paman Louis, aku baru ngetahui kalau senior Nadine sudah njadi prajurit Duke San Lucia. Sepertinya hanya kalian berdua saja dari senior yang aku kenal yang pekerjaannya sudah aku ketahui. Sebelumnya kalian yang sudah lulus mang pernah datang ke festival akademi, tetapi aku tidak tahu pekerjaan kalian saat itu karena kalian berpenampilan seperti orang biasa," ucapku.
"Kalau di angkatanku, Alisha dan Sophie juga telah njadi prajurit kerajaan San Fulgen sama sepertiku. Lalu untuk angkatan setelahnya seperti angkatan Florian dan Alia, aku juga tidak tahu reka telah njadi apa karena aku sudah lama tidak bertemu reka. Tetapi untuk di angkatan Florian, aku hanya ngetahui tentang Florian yang sebelumnya ditangkap karena berniat untuk mbunuhmu dengan libatkan Enzo dan banyak orang lainnya. Florian pun dipenjara di penjara San Sabaneta karena ulahnya itu. Tetapi tidak lama setelah itu, terdengar kabar kalau dia diculik ketika terjadi penyerangan di penjara San Sabaneta. Keberadaannya pun saat ini tidak diketahui,"
"Lalu, di angkatan Alia, aku hanya ngetahui Nadine yang telah njadi prajurit Duke San Lucia. Aku sama sekali tidak ngetahui yang lainnya telah njadi apa, bahkan ketua, maksudku Vyn pun juga aku tidak ngetahui dia telah njadi apa karena kami sudah tidak bertemu lagi setelah lulus," ucap senior Gretta.
Setelah ndengar perkataan senior Gretta, aku pun terdiam. Irene, Leandra dan Lily juga terdiam sama sepertiku. Tidak lama kemudian, aku pun mulai berbicara kembali.
"Kamu sepertinya belum ngetahui secara rinci tentang penyerangan ini ya, senior ?," tanyaku.
"Iya, aku belum ndapatkan laporan dari prajurit yang lain tentang penyerangan ini. Apa kamu sudah ngetahuinya, Rid ?," tanya senior Gretta.
"Iya, aku sudah ngetahuinya. Kalau begitu aku akan mberitahumu tentang penyerangan yang terjadi di seluruh kerajaan ini secara rinci, senior. Aku juga akan mberitahumu tentang kondisi putri Alia, senior Florian dan juga senior Vyn karena reka bertiga datang ke akademi saat penyerangan terjadi," ucapku.
Setelah itu, aku pun njelaskan kepada senior Gretta tentang apa yang terjadi di akademi saat penyerangan berlangsung. Aku juga njelaskan kepada senior Gretta tentang senior Vyn, senior Florian dan putri Alia yang terlibat dalam penyerangan itu. Setelah beberapa nit aku njelaskan kepadanya, senior Gretta hanya terdiam saja dengan ekspresi yang terkejut. Tidak lama kemudian, dia pun mulai berbicara kembali.
"Jadi orang yang rencanakan penyerangan ini adalah tuan Duke Remy ?! Beliau rencanakan penyerangan ini untuk mbunuh Yang Mulia Ratu ?! Dan juga, Vyn, Florian dan Alia telah dirubah njadi iblis oleh tuan Duke Remy dan reka bertiga pun ikut nyerang akademi ?!," ucap senior Gretta yang terkejut.
"Iya. Sepertinya alasan senior Vyn dan putri Alia dirubah njadi iblis oleh tuan Duke Remy karena reka berdua berhubungan keluarga dengan tuan Duke Remy. Senior Vyn rupakan keponakan tuan Duke Remy, sentara putri Alia adalah putri dari tuan Duke Remy sendiri. Tidak hanya reka berdua saja, bahkan tuan Duke Remy juga telah rubah istrinya sendiri njadi iblis untuk njalankan rencananya itu," ucapku.
"Benar-benar kelewatan sekali. Aku tidak nyangka kalau tuan Duke Remy telah lakukan hal segila ini. Sepertinya Vyn telah dirubah njadi iblis oleh tuan Duke Remy tepat setelah dia lulus dari akademi, karena itu aku tidak bertemu dengannya sama sekali, bahkan saat Festival Akademi. Benar-benar tidak bisa dimaafkan," ucap senior Gretta yang terlihat marah.
"Apa yang diperbuat oleh tuan Duke Remy mang tidak bisa dimaafkan, namun sekarang senior Gretta tidak perlu khawatir lagi karena tuan Duke Remy telah berhasil dikalahkan dan penyerangan yang terjadi di seluruh wilayah kerajaan ini pun berhasil dihentikan," ucapku.
"Iya," ucap senior Gretta.
"Dan juga, kamu tidak perlu ngkhawatirkan putri Alia, senior Florian ataupun senior Vyn lagi, senior. reka bertiga saat ini sudah terbebas dari kendali tuan Duke Remy yang sebelumnya telah rubah reka njadi iblis. reka bertiga saat ini sudah tenang," ucapku.
"Iya, kamu benar. reka bertiga terutama Vyn saat ini sudah tenang, jadi aku tidak perlu ngkhawatirkan reka lagi," ucap senior Gretta dengan raut wajah yang terlihat sedih.
-
Beberapa nit kemudian, Duke Louis dan Duchess Arlet pun telah keluar dari dalam gereja dan reka berdua pun langsung nghampiri kami.
"Maaf telah mbuat kalian nunggu. Kalau begitu, ayo kita segera naik kembali ke kereta kuda untuk pergi ke kediamanku," ucap Duke Louis.
"Baik, paman Louis," ucapku.
"Baik, ayahanda," ucap Irene.
"Apa kalian mau ikut bersama kami, Gretta, Nadine ?," tanya Duchess Arlet.
"Terima kasih atas tawarannya, nona Duchess. Tetapi saya tidak bisa, saya harus berkumpul dengan prajurit San Fulgen lainnya yang ditugaskan di kota ini," ucap senior Gretta.
"Saya juga tidak bisa, nona Duchess. Saya juga harus berkumpul dengan prajurit Duke San Lucia lainnya," ucap senior Nadine.
"Hmmm baiklah kalau begitu, hati-hati ya apabila kalian mau pergi berkumpul dengan rekan kalian," ucap Duchess Arlet.
"Iya. Anda juga hati-hati, nona Duchess," ucap senior Gretta.
"Hati-hati juga, nona Duchess," ucap senior Nadine.
"Iya. Kalau begitu aku pergi dulu, sampai bertemu lagi, kalian berdua," ucap Duchess Arlet.
Setelah itu, Duchess Arlet pun langsung naiki kereta kuda yang sama dengan yang kami naiki sebelumnya. Aku, Irene, Leandra dan Lily pun juga berniat untuk langsung naiki kereta kuda itu. Tetapi sebelum naiki kereta kuda itu, kami berempat pun berpamitan terlebih dahulu kepada senior Gretta dan senior Nadine. skipun kami nantinya akan bertemu dengan senior Nadine lagi karena senior Nadine juga tinggal di kediaman Duke Louis, tetapi kami tetap berpamitan kepadanya. Setelah berpamitan kepada reka berdua, kami berempat pun langsung naiki kereta kuda yang sama dengan yang dinaiki Duchess Arlet. Setelah kami berempat sudah naik ke kereta kuda itu, Duke Louis pun nyusul untuk naik. Setelah itu, kereta kuda yang kami naiki pun mulai bergerak untuk mbawa kami ke kediaman Duke Louis yaitu Snow Palace
-
Sekitar 10 nit kemudian, tibalah kami di kediaman Duke Louis. Karena jarak antara kediaman Duke Louis dengan gereja Sancta Lux di kota San Lucia tidak terlalu jauh, waktu yang ditempuh pun juga cukup singkat. Kediaman Duke Louis terlihat tidak ngalami kerusakan sedikitpun. Sepertinya para prajurit ataupun pelayan miliknya telah berusaha sekuat tenaga untuk lindungi kediaman itu.
Lalu, setelah kami tiba di kediaman Duke Louis, banyak prajurit dan pelayan yang langsung nyambut kami. Duke Louis dan Duchess Arlet pun lalu keluar dari kereta kuda yang kami naiki. reka berdua lalu nghampiri para prajurit dan pelayan itu.
"Kalian semua, tolong siapkan sebuah kamar kosong yang nantinya akan ditempati oleh Rid. Untuk sentara, Rid akan tinggal di kediaman ini, jadi tolong perlakukan dia dengan baik," ucap Duke Louis.
"Baik, tuan Duke," ucap para prajurit dan para pelayan itu.
"Dan juga, tolong segera siapkan makan malam. Untuk makan malam nanti, sepertinya aku tidak akan makan bersama di ruang makan karena aku akan terus berada di ruangan kerjaku. Ada sesuatu yang harus aku kerjakan jadi aku akan terus berada di ruangan kerjaku. Tolong bantu antarkan makan malamnya ke ruangan kerjaku," ucap Duke Louis.
"Aku juga akan terus berada di ruangan kerjaku karena ada sesuatu yang harus aku kerjakan. Jadi aku juga minta tolong untuk antarkan makan malamnya ke ruangan kerjaku," ucap Duchess Arlet.
"Baik, tuan Duke, nona Duchess," ucap para prajurit dan para pelayan itu.
Setelah itu, Duke Louis dan Duchess Arlet pun langsung bergegas masuk ke kediaman reka. Beberapa prajurit dan pelayan juga terlihat langsung masuk ke kediaman itu untuk ngerjakan tugas yang diberikan oleh Duke Louis dan Duchess Arlet. Sentara, aku, Irene, Leandra dan Lily yang baru saja turun dari kereta kuda yang kami naiki langsung dihampiri oleh beberapa prajurit dan pelayan. Tetapi, kebanyakan dari prajurit dan pelayan itu milih untuk nghampiriku. reka nawarkan untuk mbawa barang-barang milikku yang aku bawa dari asrama akademi. Aku pun nyetujui tawaran reka yang ingin mbawa barang-barangku. Setelah itu, reka pun langsung ngantarku nuju ruangan kamar yang nantinya akan njadi kamarku ketika aku tinggal di kediaman ini.
-
Beberapa nit kemudian, aku pun telah tiba di kamarku. Setelah itu, aku mulai rapihkan barang-barangku dan naruhnya di ruangan itu dengan dibantu oleh beberapa prajurit dan pelayan. Karena aku naruh barang-barang itu dengan dibantu oleh beberapa prajurit dan pelayan, waktu yang dibutuhkan untuk naruh barang-barang itu pun tidak lama. Hanya kurang lebih 20 nit saja.
Lalu, setelah aku selesai naruh barang-barangku, Irene tiba-tiba datang ke kamarku. Irene datang ke kamarku untuk mberitahuku kalau sudah waktunya makan malam. Selain itu, alasan Irene datang ke kamarku juga untuk njemputku. Karena makan malam akan diadakan di ruang makan, Irene berinsiatif untuk njemputku karena dia pikir aku belum tahu lokasi ruang makan di kediaman ini. Lalu, karena Irene sudah datang untuk njemputku, aku dan Irene pun langsung pergi ke ruang makan.
-
Sesampainya di ruang makan, terlihat sudah ada banyak orang di ruangan itu. Orang-orang di ruangan itu terdiri dari anggota keluarga San Lucia, para prajurit serta para pelayan di kediaman ini. Sepertinya keluarga San Lucia tidak mbeda-bedakan antara reka dengan para prajurit dan para pelayan yang njadi bawahan reka. reka bahkan sampai makan bersama dengan para prajurit dan para pelayan ketika waktu makan telah tiba. skipun reka adalah atasan dan bawahan, tetapi ketika waktu makan, posisi reka seperti setara.
Lalu, setelah sampai di ruangan itu, aku pun langsung duduk di kursi yang telah disediakan. Setelah itu, aku lihat dan mperhatikan seluruh ruangan itu. Aku tidak lihat Duke Louis dan Duchess Arlet di ruangan itu. Sepertinya reka masih sibuk dengan pekerjaan reka sehingga reka mutuskan untuk tidak ikut makan bersama. Setelah selesai lihat dan mperhatikan ruangan itu, aku pun langsung makan makanan yang disediakan di ja tempatku berada.
-
Setelah selesai makan malam, aku mutuskan untuk kembali ke kamarku. Irene juga mutuskan untuk kembali ke kamarnya karena dia bilang kalau dia sangat lelah hari ini. Jadi dia ingin segera kembali ke kamarnya dan beristirahat. Namun, sebelum aku mutuskan untuk kembali ke kamarku, aku milih untuk ngantar Irene terlebih dahulu untuk nuju kamarnya.
Lalu, ketika aku sedang ngantar Irene untuk nuju kamarnya, entah kenapa aku kepikiran sesuatu. Aku kepikiran tentang kenapa jalan nuju kamar Irene sama dengan jalan nuju ke kamarku. Lalu, tidak lama kemudian, aku pun telah sampai di depan kamar Irene. Setelah sampai di depan kamar Irene, aku jadi tahu kenapa jalan nuju kamar Irene sama dengan jalan nuju ke kamarku. Itu karena kamar Irene dan kamarku ternyata bersebelahan, sama seperti saat di akademi dimana asrama kami juga bersebelahan.
"Aku tidak nyangka kalau ternyata kamar kita bersebelahan," ucapku.
"Maaf karena belum mberitahumu soal ini, Rid. Ngomong-ngomong, terima kasih karena telah ngantarku, Rid. Kalau begitu, aku masuk ke kamarku dulu. Aku sangat lelah dan ingin segera tidur. Selamat malam, Rid," ucap Irene.
"Iya, selamat malam, Irene," ucapku.
Setelah itu, Irene pun masuk ke dalam kamarnya. Setelah Irene sudah masuk ke dalam kamarnya, aku pun langsung pergi ke kamarku yang berada di sebelah kamar Irene. Aku lalu langsung masuk ke dalam kamarku itu. Sama seperti Irene, aku juga rasa cukup lelah hari ini. Karena itu, aku pun juga mutuskan untuk langsung berbaring di kasur dan milih untuk tidur.
-
Keesokan harinya.
Surat kabar yang berisi tentang penyerangan yang terjadi kemarin pun sudah diterbitkan oleh Diganta. Banyak berita-berita narik yang ngejutkan dan nghebohkan di dalam surat kabar yang baru terbit itu. Tetapi dari banyaknya berita yang ada pada surat kabar itu, ada satu berita yang sangat nghebohkan yang ada pada surat kabar itu. Berita yang sangat nghebohkan itu berhubungan dengan Rid Archie. Di surat kabar itu, diberitakan kalau Rid Archie lah yang telah ngalahkan dan mbunuh dalang utama yang rencanakan penyerangan terhadap seluruh wilayah kerajaan San Fulgen, yaitu Duke Remy. Selain itu, di surat kabar itu juga mberitakan kalau Rid Archie miliki kemampuan sihir penyembuhan yang luar biasa karena dia berhasil nyembuhkan semua orang yang terluka di San Fulgen Akademiya seorang diri.
-Bersambung
Reviews
All reviews (0)