Font Size
15px

Setelah itu, Duchess Arlet pun turun kembali ke permukaan karena sudah tidak ada lagi yang bisa dia lakukan ngingat wanita itu sudah berhasil nembakkan panah ke arah para prajuritnya dan mbuat semua para prajuritnya tewas mbeku. Tidak lama kemudian, wanita itu pun juga ikut turun ke permukaan untuk nyusul Duchess Arlet. Setelah sudah tiba di permukaaan, wanita itu nghancurkan busur es yang dia ciptakan hingga berkeping-keping. Kemudian, wanita itu lihat ke arah Duchess Arlet dengan mata yang masih bersinar terang.

"Karena seluruh prajuritmu sudah tewas, sekarang aku bisa fokus untuk lawanmu. Ayo temani aku untuk berolahraga, ’manusia berambut putih’," ucap wanita itu.

Wanita itu kemudian nciptakan sebuah pedang yang terbuat dari es. Kemudian, wanita itu gang pedang itu dengan nggunakan tangan kanannya dan bersiap untuk nyerang Duchess Arlet. Duchess Arlet pun juga ikut bersiap untuk nyerang wanita itu.

"Wanita itu seharusnya bisa mbunuhku dengan mudah dengan nggunakan sihirnya atau dengan manipulasi objek di sekitar tempat ini, tetapi dia malah milih untuk nyerangku hanya dengan nggunakan sebuah pedang yang terbuat dari sihir es. Tadi dia bilang kalau dia mintaku untuk nemaninya berolahraga, sepertinya dia rehkanku. Yah, ini hal yang bagus apabila dia rehkanku, aku akan mbuktikan kalau aku bukanlah orang yang bisa direhkan. Aku akan mbuatnya nyesal karena tidak berusaha nyerangku dengan sihirnya itu ataupun dengan manipulasi objek di sekitar tempat ini. Aku juga akan mbalaskan dendam kematian para prajuritku," pikir Duchess Arlet.

Setelah itu, Duchess Arlet langsung lesat ke arah wanita itu untuk nyerangnya. Disaat yang bersamaan, wanita juga ikut lesat ke arah Duchess Arlet untuk nyerangnya. reka berdua sama-sama berniat untuk nyerang lawan reka masing-masing dengan nggunakan senjata reka. Senjata reka berdua pun saling berbenturan. Kemudian, reka terus saling nyerang dari jarak dekat nggunakan senjata reka masing-masing. Masing-masing dari reka tidak ada yang berhasil nyerang lawan reka karena senjata reka saling beradu. Adu senjata di antara reka pun berlangsung sangat sengit.

Lalu, setelah cukup lama beradu senjata, Duchess Arlet tiba-tiba ningkatkan kekuatannya dan langsung nyerang wanita itu. Tetapi wanita itu langsung nahan serangan Duchess Arlet dengan nggunakan pedangnya. Tetapi karena Duchess Arlet sudah ningkatkan kekuatan pedangnya pada serangan kali ini, wanita itu tidak bisa nahan serangan itu dengan sempurna dan mbuat pedangnya terhempas ke atas. Duchess Arlet lihat sebuah celah saat pedang dari wanita itu terhempas ke atas. Duchess Arlet pun langsung nyerang wanita itu dengan telak.

~San Lucia Art : Freezing Air Slash~

Duchess Arlet pun berhasil nyerang wanita itu dengan telak tepat di perutnya. Wanita itu pun langsung terdorong beberapa ter ke belakang sambil berdiri. Wanita itu hampir nghantam bongkahan es yang ada di belakangnya, tetapi wanita itu bisa nahan dan maksa untuk berhenti sebelum nghantam bongkahan es itu. Setelah berhenti, wanita itu pun gangi perutnya yang mbeku karena terkena serangan dari Duchess Arlet.

"Serangan yang mbekukan udara dan objek apapun yang senjata itu sentuh ya. narik juga," ucap wanita itu.

Wanita itu kemudian remas bagian dari perutnya yang mbeku. Es yang mbeku pada perutnya itu pun mulai retak dan hancur setelah diremas oleh wanita itu. Setelah es yang mbekukan bagian perutnya itu hancur, terlihat tidak ada luka satupun pada bagian perut wanita itu. Duchess Arlet pun terkejut lihat hal itu.

"Sejak tadi, satu pun serangan yang kulesatkan ke arah wanita itu tidak ada satupun yang berdampak kepada wanita itu. Aku tahu kalau wanita itu adalah seorang Naga, makanya aku selalu nggunakan banyak Mana agar bisa lukai wanita itu dalam setiap seranganku. Tetapi kenapa wanita itu tidak terluka sama sekali setelah nerima seranganku ? Apa kulit wanita itu berbeda dengan kulit Naga biasa karena wanita itu adalah seorang pemimpin Naga ?," pikir Duchess Arlet.

Duchess Arlet terlihat bingung ketika mikirkan tentang wanita itu. Sentara itu, wanita itu mulai gang pedangnya kembali dan bersiap untuk nyerang Duchess Arlet.

"Hmmm, kalau tidak salah untuk nggunakan teknik yang sama dengan dia adalah dengan cara seperti ini," ucap wanita itu.

Wanita itu kemudian dengan cepat langsung lesat ke arah Duchess Arlet dan langsung nyerangnya. Duchess Arlet skipun sedang mikirkan tentang wanita itu langsung bereaksi terhadap serangan wanita itu. Duchess Arlet pun langsung nahan serangan wanita itu dengan rapiernya. Kedua senjata reka pun saling beradu. Saat senjata reka sedang beradu, Duchess Arlet terkejut lihat rapiernya yang secara perlahan mulai mbeku.

"Teknik ini...jangan-jangan...," ucap Duchess Arlet.

Setelah Duchess Arlet ngatakan itu, dia langsung ningkatkan kekuatannya dan mbuat pedang dari wanita itu terhempas kembali. Saat pedang dari wanita itu sudah terhempas, Duchess Arlet kembali nyerang wanita itu karena ada celah di pertahanannya.

~San Lucia Art : Icebending Slash~

Duchess Arlet ngarahkan ujung rapiernya ke permukaan tanah yang ada di bawahnya. Kemudian, dia nyeret ujung rapiernya itu di tanah dan setelah itu dia langsung ngarahkan rapiernya itu ke arah wanita itu dan nebasnya. Tetapi tebasan dari rapier itu tidak berhasil ngenai wanita itu. Namun, sesungguhnya teknik yang digunakan oleh Duchess Arlet itu bukan untuk nyerang nggunakan rapiernya, lainkan nyerang dengan sesuatu yang lain. Dan setelah Duchess Arlet ngarahkan tebasannya itu arah wanita itu, tiba-tiba dari bawah tempat Duchess Arlet berpijak, muncul sebuah bongkahan es yang sangat besar dengan ujung yang tajam. Bongkahan es itu langsung nusuk wanita itu tepat di perutnya lalu mbawa wanita itu hingga nghantam bongkahan-bongkahan es yang ada di belakangnya.

*DUMMMMM

Suara benturan pun terdengar akibat wanita itu yang nghantam bongkahan-bongkahan es itu. Tempat wanita itu nghantam bongkahan-bongkahan es itu pun kini sudah dipenuhi oleh debu asap berwarna putih.

Sentara itu, Duchess Arlet terlihat masih gang rapiernya dan lihat ke arah tempat wanita itu nghantam bongkahan es. Terlihat Duchess Arlet sudah lumayan kelelahan karena nafasnya terdengar semakin terengah-engah.

"Haaaahhhh...Haaaahhhh...serangan itu mungkin tidak cukup untuk ngalahkannya, tetapi seharusnya serangan itu bisa lukainya. Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri kalau wanita itu tadi tertusuk oleh bongkahan es itu. Daripada itu, aku tidak nyangka kalau dia bisa nggunakan teknik ’Freezing Air Slash’. Untung aku bisa dengan cepat nyadari hal itu. Jika tidak, mungkin rapierku saat ini sudah mbeku sepenuhnya," ucap Duchess Arlet sambil mperhatikan rapiernya.

Terlihat rapier milik Duchess Arlet telah mbeku sedikit di bagian tengahnya. Setelah mperhatikan rapiernya itu, Duchess Arlet kembali lihat ke arah tempat wanita itu nghantam bongkahan es. Tempat itu masih dipenuhi oleh debu asap, namun di dalam debu asap itu, ada bayangan seseorang yang sedang berjalan untuk keluar dari debu asap itu. Beberapa saat kemudian, orang itu pun keluar dari debu asap dan orang itu adalah wanita yang sebelumnya Duchess Arlet hempaskan. Terlihat wanita itu sama sekali tidak ngalami luka sedikitpun skipun Duchess Arlet telah nghempaskannya ke bongkahan es. Duchess Arlet pun terkejut ketika lihat wanita itu.

"Yang benar saja ?!?! Bukankah wanita itu tadi sudah tertusuk bongkahan es yang aku buat dengan rapierku ?!?! Kenapa tubuhnya tidak terluka sama sekali ?!?! Bahkan tubuhnya masih terlihat baik-baik saja," ucap Duchess Arlet yang terkejut.

Sentara itu, wanita itu terus berjalan untuk ndekati Duchess Arlet.

"Serangan-serangan yang kamu lancarkan benar-benar narik. Kali ini kamu akan nggunakan serangan apa lagi untuk lawanku ?," tanya wanita itu.

Duchess Arlet tidak njawab pertanyaan wanita itu dan langsung bersiap untuk nyerang wanita itu kembali.

~San Lucia Art : Snow Blade Dance Technique~

Kemudian, 10 rapier yang terbuat dari es pun muncul dan layang ngelilingi Duchess Arlet. Setelah itu, Duchess Arlet langsung lesat ke arah wanita itu yang sedang berjalan ndekatinya.

"Begitu ya, jadi kali ini kamu akan nggunakan serangan seperti itu. Kalau begitu, aku akan ladenimu," ucap wanita itu.

Wanita itu lalu gang kembali pedang es yang dibuatnya dengan tangan kanannya. Sentara itu, Duchess Arlet terlihat sudah berada dekat dengan wanita itu. Duchess Arlet pun langsung nyerang wanita itu nggunakan rapier yang dipegangnya. Tetapi wanita itu langsung nahan serangan Duchess Arlet dengan nggunakan pedangnya. Disaat Duchess Arlet gagal untuk nyerang wanita itu dengan nggunakan rapier yang dipegangnya, 10 rapier es yang layang ngelilinginya pun langsung bergerak untuk nyerang wanita itu. Tetapi 10 rapier es itu langsung ditahan oleh 10 pedang es yang tiba-tiba muncul dan layang ngelilingi wanita itu. Duchess Arlet pun terkejut lihat hal itu, sentara wanita itu hanya tersenyum saja lihat Duchess Arlet.

"Saat ini kita berdua sama-sama nggunakan teknik yang sama. Mari kita tentukan teknik siapa yang lebih baik di antara kita berdua," ucap wanita itu.

Setelah itu, Duchess Arlet dan wanita itu saling nyerang dari jarak dekat dengan nggunakan senjata reka masing-masing. Senjata buatan yang layang ngelilingi tubuh reka pun juga saling nyerang satu sama lain. Pertarungan jarak dekat di antara reka ini terjadi selama beberapa nit ke depan.

-

Beberapa nit kemudian.

Pertarungan jarak dekat di antara reka berdua pun terhenti. reka berdua saat ini sedang njaga jarak satu sama lain.

"Hmmm apakah kamu sudah selesai untuk nyerangku ? Aku masih belum cukup untuk berolahraga jadi ayo serang aku lagi dan keluarkan semua teknik dan sihir milikmu," ucap wanita itu.

Wanita itu terlihat tidak ngalami luka sedikitpun di tubuhnya. Di sekeliling wanita itu, masih ada 10 pedang es yang layang ngelilinginya. Sentara itu di sisi Duchess Arlet, terlihat Duchess Arlet telah ngalami cukup banyak luka di tubuhnya. Dilihat dari lukanya itu, kebanyakan luka pada tubuhnya itu berasal dari luka goresan dari benda yang tajam. Rapier-rapier es yang sebelumnya layang ngelilinginya pun sudah tidak ada lagi. Selain itu, Duchess Arlet juga terlihat sudah kelelahan karena nafasnya terdengar semakin terengah-engah.

*Haaaahhhh.....haaaahhhhhh...haaaaahhhhh

Duchess Arlet terengah-engah sambil lihat ke arah wanita itu.

"Serangan apapun yang aku lancarkan kepada wanita itu tidak berdampak apapun kepada wanita itu. Ini benar-benar aneh, apakah seorang pemimpin Naga mang sekuat ini ? Bahkan aku tidak bisa lukainya sedikit pun. Tidak, seharusnya ada beberapa seranganku yang ngenainya dan berdampak pada tubuhnya karena aku lihat langsung serangan itu tepat ngenai dan berdampak pada tubuhnya seperti contohnya saat dia tertusuk oleh bongkahan es yang aku ciptakan tadi. Tetapi kenapa setelah dia tertusuk, tubuhnya nampak baik-baik saja ? Apa dia nggunakan sihir pemulihan yang mulihkan tubuhnya dengan cepat ? Atau sebenarnya yang aku serang sebelumnya itu adalah sebuah clone atau bisa juga itu adalah ilusi yang mbuatku ngira kalau seranganku berdampak padanya ? Ini benar-benar mbingungkan," pikir Duchess Arlet.

Duchess Arlet terus berpikir untuk nemukan solusi agar bisa ngalahkan wanita itu.

"Bagaimana ini ? Jika aku tidak bisa ngalahkan wanita itu, aku tidak akan bisa pulang kembali ke kota San Lucia. Kabur pun pasti juga akan percuma karena wanita itu akan ngejarku atau manipulasi dan di pegunungan ini dan ncegahku untuk kabur. Apa lebih baik aku nyerah saja karena tidak ada satu carapun yang tersisa untuk ngalahkan wanita itu ?," pikir Duchess Arlet.

Saat Duchess Arlet berpikir untuk nyerah, tiba-tiba dia nemukan sebuah solusi yang mungkin bisa digunakan untuk ngalahkan wanita itu.

"Teknik itu...Ya, itu benar. Teknik itu mungkin bisa digunakan untuk ngalahkan wanita itu. skipun teknik itu adalah salah satu teknik terlarang dan berbahaya yang dimiliki oleh keluarga San Lucia, tetapi cuma teknik itu saja satu-satunya solusi yang bisa aku pikirkan saat ini. Daripada milih untuk nyerah, aku lebih milih untuk nggunakan teknik itu. Aku akan ngalahkan wanita itu agar aku bisa kembali ke kota San Lucia untuk bertemu dengan suami dan anak-anakku," pikir Duchess Arlet.

Setelah itu, Duchess Arlet tiba-tiba ngangkat rapiernya ke atas dengan nggunakan kedua tangannya.

"Kelihatannya kamu akan nyerangku kembali dengan teknikmu itu. Itu bagus, ayo seranglah aku," ucap wanita itu ketika lihat Duchess Arlet yang sedang ngangkat rapiernya.

Lalu, ketika Duchess Arlet sedang ngangkat rapiernya ke atas, tiba-tiba salju yang ada di sekitar tempat itu, baik salju yang baru turun ataupun yang sudah ada di permukaan tanah mulai bergerak ke arah Duchess Arlet. Tidak hanya salju saja, bongkahan-bongkahan es yang berada di sekitar tempat itu pun mulai berubah njadi sebuah serbuk kecil dan bergerak ke arah Duchess Arlet. Salju dan serbuk bongkahan es itu pun langsung ngelilingi Duchess Arlet dan nutupi seluruh tubuhnya mulai dari ujung rapiernya yang dia angkat ke atas hingga ke kakinya yang ada di permukaan tanah. Salju dan serbuk bongkahan es itu terus ngelilingi dan nutupi seluruh tubuh Duchess Arlet selama satu nit.

Lalu satu nit kemudian, salju dan serbuk bongkahan es yang nutupi Duchess Arlet tiba-tiba berubah njadi keras. Salju dan serbuk bongkahan es yang ngeras itu mbuat Duchess Arlet seperti sedang berada di dalam sebuah cangkang telur. Lalu tidak lama kemudian, salju dan serbuk bongkahan es yang nutupi Duchess Arlet secara perlahan mulai retak. Sebuah cahaya terang berwarna putih seperti es atau salju terlihat keluar lalui retakan itu. Retakan pada salju dan serbuk bongkahan es yang ngeras itu pun semakin besar sampai akhirnya salju dan serbuk bongkahan es yang ngeras itu pun hancur sepenuhnya. Setelah salju dan serbuk bongkahan es yang ngeras itu sudah hancur, sekitar tempat itu pun langsung disinari oleh sebuah cahaya terang berwarna putih seperti es atau salju. Tidak lama kemudian, cahaya terang itu pun secara perlahan mulai nghilang. Setelah cahaya itu nghilang, terlihat Duchess Arlet yang sedang gang rapier miliknya. Tetapi, Duchess Arlet berpenampilan berbeda dengan yang sebelumnya. Terlihat Duchess Arlet ngenakan sebuah gaun pendek dengan selendang di lehernya. Gaun pendek dan selendang itu berwarna putih seperti layaknya salju atau es. Saat Duchess Arlet ngenakan gaun itu, seluruh tubuhnya terlihat sedang diselimuti oleh aura dari sihir es yang sangat pekat. Selain penampilannya yang berubah, luka pada tubuh Duchess Arlet saat ini pun juga telah hilang. Lalu ada hal ncolok lainnya yang berubah dari Duchess Arlet. Kedua bola mata Duchess Arlet pada awalnya mang berwarna biru muda, tetapi pupil matanya berbentuk biasa seperti orang-orang pada umumnya. Namun kali ini, pupil matanya berubah bentuk njadi sebuah bentuk kristal es yang berwarna putih.

~San Lucia Art Forbidden Technique : Armor of Ice Spirits - Scintillans Glacies~

Sentara itu, wanita itu terus lihat ke arah Duchess Arlet yang penampilannya sudah berubah.

"’Armor of Ice Spirits’ ? Dari sekian banyak teknik dan sihir yang dia gunakan, teknik ini terdengar konyol bagiku," ucap wanita itu.

-Bersambung

You are reading Peace Hunter Chapter 336 : Teknik Terlarang Keluarga San Lucia on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.