Sepanjang perjalanan reka, Randika hanya natap Inggrid berwajah dingin itu.
"Sudahlah sayang, sampai kapan kau akan mbohongi dirimu seperti itu? Aku tahu hatimu itu milikku seorang." Kata Randika sambil tersenyum.
ndengar hal itu, si supir taksi ngatakan. "Suamimu benar-benar orang yang perhatian ya."
Di saat Inggrid belum sempat berkata apa-apa, Randika dengan cepat ngatakan. "Hahaha kau benar. Kita mungkin terlihat tidak akur di luar tetapi di dalam kamar kami sangat akur."
Bajingan, siapa yang mangnya ingin akur sama kamu!
Inggrid hanya nggigit bibir bawahnya dengan kuat, dia tahu tidak bisa nang dengan Randika kalau adu mulut. Dia hanya ngabaikannya dan ngeluarkan buku kecil dari balik jasnya dan mulai mpelajari detail kontraknya.
"Kalian bukan orang sini ya?" Si supir taksi mulai mbuka percakapan.
"Benar pak, kau punya mata yang bagus." Jawab Randika.
"Hahaha setelah bertahun-tahun nyupir kau akan bertemu dengan seluruh macam orang. Kadang aku sampai bingung." Si supir mulai nceritakan pengalamannya. "Dan seharusnya kalian datang ke kota besar ini untuk berbisnis. Aku bisa lihatnya dari betapa seriusnya istrimu itu."
"Hahaha dia mang sedikit gila kerja." Randika njawab sambil tertawa. Namun, tiba-tiba pahanya terasa sakit dan ternyata Inggrid sedang ncubitnya!
Randika hampir berteriak kesakitan dan Inggrid lakukan penyiksaan ini tanpa malingkan wajahnya.
Randika lalu berpikir, apakah istrinya ini akan secemburu dan nakutkan seperti ini ketika reka beneran nikah? Randika sadar bahwa reka hanya nikah sentara, tetapi tidak nutup kemungkinan bahwa Inggrid tidak ingin ninggalkan dirinya.
"Jangan berisik." Kata Inggrid dengan pelan sambil terus belajar.
mangnya gila kerja itu salah?
Randika tertawa pahit lihatnya.
Si supir taksi tertawa ketika lihat keduanya bertengkar dari kaca. "Hahaha kadang nyenangkan hatinya adalah kunci keberhasilan rumah tangga. Kalian masih muda pasti bisa ngatasinya."
Sudah sepuluh nit sejak taksi reka berangkat dari bandara. Namun, belum ada pemandangan kota di jendela reka. Malah, sepertinya reka justru pergi ke tempat terpencil.
Hal ini mbuat Randika rasa curiga dan bertanya. "Pak, seberapa jauh lagi hotel kami?"
"Hahaha kita masih cukup jauh." Kata si supir dengan nada nenangkan. "Maaf aku lupa mberitahu, kemarin jalan langsung nuju kota dari bandara rusak berat dan sekarang sedang diperbaiki. Jadi aku harus ngambil rute alternatif untuk bisa ke pusat kota. Tenanglah, aku akan mbawa kalian ke hotel dengan selamat."
ndengar penjelasan itu, Randika tidak berkontar apa-apa.
"Ah pak, di kota rak ini apakah ada tempat yang perlu dihindari?" Randika tiba-tiba bertanya.
"Tentu saja ada, semua kota rasanya miliki tempat semacam itu."
"Oya? Bisa tolong kasih beritahu saya?"
"Hahaha, pak tua ini tidak tahu detailnya tetapi aku bisa ngatakan padamu siapa yang paling berkuasa di kota ini. Bisa dikatakan dia seperti pemilik kota ini baik buruk ataupun bagusnya. Hampir semua orang akan mberinya wajah ketika bertemu dengannya."
"Siapa orang itu?" Randika bertanya dengan nada santai tetapi posisi duduknya sedikit maju ke depan, dia perlu tahu ancaman seperti apa yang ada di kota asing ini.
"Yosua atau lebih tepatnya Tuan Yosua."
ndengar nama tersebut, Inggrid njadi terlihat bingung. Dari mana dia pernah ndengar nama itu?
Randika lalu bertanya dengan santai. "Pak, kenapa kau argonya tidak jalan?"
"Ah! Sialan benar juga!" Si supir terlihat panik. "Maaf, taksi ini sudah tua dan sering rusak. Untuk biayanya nanti tidak akan kulebih-lebihkan, aku sudah sering ngantar orang ke hotel kalian jadi harganya nanti adalah harga pasaran."
"Baiklah." Randika lalu bersandar kembali.
Taksi reka terus laju cepat, tetapi pemandangan sekitar tidak berubah sama sekali. Justru Randika rasa tempat reka semakin terpencil, Randika lalu bertanya. "Pak, nama gengmu apa?"
Si supir terkejut bukan main, dia lalu noleh sambil tersenyum.
"Aku bukan anggota geng, aku hanya seorang supir. Aku akan mbawa kalian ke orang-orang geng sebenarnya barulah aku bisa ndapatkan uangku." Kata si supir sambil tersenyum. Dan pada saat ini, taksi reka tiba di suatu bangunan terlantar.
"Selamat nikmati." Si supir turun dan bersembunyi.
Randika hanya bisa tertawa pahit, dugaannya benar bahwa taksi ini bekerja sama dengan para gangster.
Ketika Inggrid tiba-tiba nyadari keanehan ini, dia terlihat panik. Randika lalu nenangkan Inggrid dengan nggenggam tangannya. "Jangan khawatir, aku ada di sini."
Saat ini, sudah banyak orang yang ngepung taksi reka.
Randika ngerutkan matanya dan berkata pada Inggrid. "Apa pun yang terjadi, tetaplah di mobil."
Randika lalu keluar dan nampilkan muka garangnya.
Sesaat dia keluar, Randika lihat si supir berada di barisan paling belakang.
"Kak, ini dia si sapi gemuk itu." Wajah si supir yang ramah tadi berubah njadi bengis dan kejam. "Dan perempuan yang masih duduk di dalam itu benar-benar cantik."
Orang yang diajaknya berbicara adalah Riko yang terlihat seperti pemimpin dari para gangster ini. Setelah ndengar cerita si supir, dia natap mangsanya yang lezat itu.
"Ada perempuan di taksi itu? Bawa dia ke sini." Kata Riko ke salah satu bawahannya.
Orang itu dengan cepat maju dan nghampiri taksi tersebut. Namun, dia dengan cepat dibuat terpental oleh tendangan Randika.
Preman ini tidak nyangka Randika akan miliki kekuatan semacam itu dan dia segera berdiri dengan cepat.
lihat bawahannya yang terkapar itu, Riko mulai natap Randika.
"Karena kalian berani bertindak serendah seperti ini, jangan salahkan aku jika bertindak kasar. Jangan pernah rehkan seekor singa yang terpojok."
"Hahaha jangan serius begitu." Si supir natapnya sambil tertawa. "Hanya istrimu saja yang akan hidup layani kita."
Sudah cukup bicaranya." Riko ngambil tongkat logam yang ada di sampingnya.
"Apakah tidak ada cara yang lebih bersahabat?" Randika nggelengkan kepalanya.
"Tidak ada." Riko ndengus dingin.
"Sayangnya, kalian semua akan mati." Kata Randika.
"Hahaha." Semua orang tertawa, lalu Riko ngatakan. "Kau benar-benar narik. Kita lihat seberapa banyak kau masih bisa berbicara setelah kugantung kau di tiang itu."
Randika lalu tersenyum padanya. "Kalian yakin ingn lawanku?"
Riko dengan santainya nyuruh Randika lihat sekelilingnya. "Tidakkah kau lihat betapa banyaknya kita?"
"Jumlah bukanlah segalanya." Randika tersenyum. "Sudah, kita hentikan basa-basinya. Cepat maju semua ke sini dan kuhajar kalian."
reka semua yang ndengar Randika benar-benar nganggap mangsanya kali ini sudah gila.
"Cukup aku seorang untuk nghajar kalian semua." Randika mbuang senyumnya dan dalam sekejap dia berubah njadi gumpalan asap!
Dalam sekejap, Randika sudah berada di tengah-tengah reka dan berhasil nendang satu orang dengan keras. Orang tersebut terpental jauh dan nabrak teman-temannya. Pada saat yang sama, Randika sudah nghindari serangan para preman yang ndatanginya dan layangkan pukulannya ke dada orang tersebut.
Kemudian Randika ngambil tongkat logam yang jatuh dari lawannya itu dan mulai nghajar reka satu per satu. Tidak ada yang bisa dilakukan oleh para preman tersebut.
Setiap ayunan Randika berhasil mbuat pingsan satu orang. Hal terakhir yang reka ingat adalah wajah Randika yang terlihat kejam itu sama sekali tidak berkedip.
Randika lalu nggunakan tubuh salah satu dari para preman sebagai tang sambil nyerang. Setelah itu, dia ngangkat dan lempar tubuh tersebut ke arah kerumunan.
"Ah!" Orang itu layang dengan cepat dan nabrak temannya.
Riko, yang berada di belakang, natap ngeri pada Randika. Saat ini dia sedang dilindungi 4 orang terbaiknya dan dirinya sudah tidak bisa nerima penghinaan ini.
"Maju! Jangan biarkan dia berbuat semaunya." Riko benar-benar marah ketika lihat para bawahannya dengan cepat berjatuhan.
Sambil mbawa tongkat logamnya, dia ndekati Randika bersama-sama dengan bawahan terbaiknya.
Saat lihat Riko sudah ndekat, Randika tersenyum lebar.
Riko nerjang Randika dengan darah yang ndidih. Namun, ketika tongkatnya nebas turun, sosok Randika sudah nghilang dari matanya.
"Ah!"
Malah bawahannya yang ada di sampingnya nghilang dan ternyata sudah terkapar sejauh 5 langkah di belakang.
Apa yang sedang terjadi?
Riko mulai ragu dengan keadaannya. Saat dia rasa ada tepukan di pundaknya, dia tidak berani noleh sama sekali. Namun, lagi-lagi ada teriakan dari arah sampingnya!
Riko tidak tahu harus nyerang ke arah mana, dia mbenci perasaan tidak berdaya seperti ini. Di sekitarnya, suara teriakan kesakitan bawahannya itu tidak berhenti dan tidak butuh waktu lama tinggal dia sendirian.
"Jangan noleh, aku ada di belakangmu." Kata Randika dengan suara pelan.
Ketika Riko noleh, dia disambut dengan senyuman Randika yang nakutkan itu. "Bagaimana? Masih berani bilang aku banyak omong?"
lihat semua bawahannya terkapar di tanah, Riko tidak bisa nahan ketakutannya.
"Kalau aku jadi kamu aku tidak akan bergerak kalau kau masih sayang dengan nyawamu." Randika berteriak ke arah supir yang mbawanya ke sini. Si supir berusaha kabur diam-diam, sekarang dia tidak berani langkah satu kaki pun.
"Apa yang kau inginkan?" Riko sudah tahu bahwa hidupnya sudah tamat. mang benar perkataan Randika tadi, jangan pernah rehkan singa yang terpojok!
"Simpel. Aku mberi kalian 2 pilihan." Kata Randika sambil tersenyum. "Pertama kalian akan mberikan uang kalian semua. Kedua aku akan ngambil uang kalian semua setelah kubunuh kamu."
"Kau!" Riko benar-benar marah, sekarang dialah yang dirampok!
"Seekor semut tidak punya hak berbicara di depan seekor singa." Di bawah kaki Randika tergeletak sebuah pisau. Pisau tersebut tiba-tiba layang dan terlempar ke arah kepala Riko!
Reviews
All reviews (0)