Pisau itu dengan mudah nancap di dahi Riko. Si supir taksi itu njadi panik lihat rekannya itu tergeletak mati di tanah.
Satu detik kemudian, sebuah pisau juga layang ke arah dahinya.
Lima nit kemudian, semua preman itu sudah ditelanjangi Randika dan masih terkapar tidak sadarkan diri di tanah.
Randika, di lain sisi, mbawa sejumlah uang tunai yang banyak kembali ke mobil dan naruhnya di bagian belakang.
"Hahaha kita njadi kaya ndadak." Randika tertawa puas.
Inggrid hanya natapnya tanpa berkata-kata. Kenapa orang ini rampok reka?
.........
Tidak lama kemudian, reka tiba di kota rak dengan bantuan para polisi. Setelah nceritakan segalanya sejenak di kantor polisi, reka diantar ke hotel tempat reka akan nginap.
Hotel lati
"Permisi, aku sudah san kamar sebelumnya." Kata Inggrid pada resepsionis.
Setelah riksa pesanan dari sistem, muka resepsionis sedikit pucat dan ngatakan. "Maafkan aku ibu, tetapi kamar Anda sudah ditempati."
"Apa?"
Inggrid terkejut sentara waktu dan njadi marah. Hotel ini bukannya hotel bintang 5?
"Jadi seperti ini ibu, kami telah riksa nomor pesanan ibu tetapi sistem kami ngalami double booking. Kami benar-benar minta maaf atas ketidaknyamanan Anda." Si manajer mbantu njelaskan keadaan yang dialami Inggrid sambil minta maaf.
"Kalau begitu siapkan dua kamar pengganti." Kata Inggrid dengan nada yang masih marah.
Si manajer tidak bisa nyembunyikan wajah pucatnya. "Begini ibu, yang tersisa hanya 1 kamar untuk beberapa hari kedepan."
Kali ini Inggrid tidak berbicara sama sekali, dia hanya noleh ke Randika.
Randika malingkan wajahnya, pura-pura tidak nyadari tatapan Inggrid.
Ah! Vas bunga itu indah sekali!
"Kalau begitu baiklah." Inggrid nghela napas dalam-dalam.
Randika tersenyum puas di dalam hati. Langit ingin reka resmikan hubungan suami-istri reka. Jangan pernah ragukan rencana yang di atas!
reka berdua dengan cepat pergi ke kamar reka.
Ketika pintu kamar reka terbuka, pemandangan wah nyambut reka. Bisa dikatakan bahwa kamar hotel bintang 5 benar-benar tidak ngecewakan. Lantai yang bersih ngkilap, sin kopi yang canggih, kamar mandi yang luas dan pemandangan kota yang gah dari balik jendela, semua sepadan dengan uang yang dikeluarkan.
Ruangan reka miliki sebuah kasur yang besar dan sofa yang berada di bagian samping.
"Wow! Kasurnya besar sekali!"
Dalam sekejap Randika sudah loncat ke kasur dan karena keempukannya, Randika tidak bisa berhenti lompat-lompat.
"Ayo sayang, sini rebahan di sampingku." Kata Randika sambil nepuk-nepuk kasurnya.
Inggrid tersipu malu untuk sesaat. Ruangannya hanya miliki satu kasur dan dia harus mbaginya dengan pria sum ini?
Kita hanya pura-pura nikah, bagaimana mungkin dirinya akan tidur bersama orang ini?
"Kita tidak akan tidur sekasur." Kata Inggrid pada Randika dengan wajah serius.
"Ayolah, kenapa kau malu-malu gitu coba?" Randika lalu berdiri sambil tersenyum. "Kau dan aku adalah suami istri, bagaimana mungkin kita akan tidur terpisah? Dan bukankah kasur ini sangat besar?"
"Sayang, kau pasti akan kesepian di kasur sebesar ini. Lagipula tidak akan terjadi apa-apa kok kalau kita tidur satu kasur." Randika ngedipkan matanya.
"Aku mau mandi." Inggrid malingkan wajahnya, dia tidak mau berdebat dengan Randika.
Randika tertawa lihatnya. Kau mungkin bisa kabur dari kejaran satpam saat kau masih bersekolah, tapi kau tidak akan bisa lepas dariku! Setelah kau mandi, kau kira aku akan lupakan masalah ini? Sentara ini, aku akan mbiarkanmu bersembunyi di kamar mandi.
Sepuluh nit kemudian, Inggrid keluar dari kamar mandi. Ketika dia hendak ngambil sesuatu di kopernya, Randika sudah tiduran di kasur dengan pose miring dan satu tangannya nopang kepalanya.
Inggrid terkejut dan bertanya pada Randika. "Apa yang sedang kau lakukan?"
"Kemarilah dan tidur bersamaku." Kata Randika sambil nepuk-nepuk kasur yang luas itu.
"Mimpi!" Inggrid berpaling dan kembali nuju kamar mandi.
"Aku tidak akan mbiarkanmu kabur begitu saja!" Tiba-tiba dari belakang Randika nggendong Inggrid dan mbawanya ke kasur.
"Sayang, kamu mau teriak sekeras apa pun tidak akan ada yang ngganggu kita." Bisik Randika di telinganya.
Pria ini mang bajingan, pikir Inggrid. Ketika dia berusaha lepaskan diri, dari kamar sampingnya terdengar suara wanita yang seperti berteriak. Apabila didengarkan dengan baik, teriakan itu seperti desahan orang yang lakukan hubungan badan.
Randika dan Inggrid terkejut dan terdiam. reka hanya saling natap satu sama lain.
Tembok hotel ini ternyata setipis itu? Lagipula perempuan di kamar samping reka ndesah dengan sangat keras, sepertinya dia sudah lama tidak lakukannya.
ndengar suara itu, Inggrid hanya tersipu malu.
Sesaat kemudian, Randika berkata sambil tersenyum. "Sayang, apa kau ingin ndesah nikmat seperti itu?"
"Jangan sekali-kali kau miliki pemikiran seperti itu!" Inggrid tersipu malu dan malingkan wajahnya.
"Sayang, kita tidak punya kegiatan untuk mbunuh waktu. Lagipula kita juga punya kasur besar ini." Randika berusaha mbuka pertahanan Inggrid. "Apakah kau tidak ingin bermanja di pelukan suamimu? Atau kau lebih suka ndengar pasangan sebelah yang sedang bermain itu?"
"Siapa yang nyuruhmu untuk tidur di kasur hari ini?" Inggrid berkata dengan nada dingin. "Hari ini kau akan tidur di sofa. Tidak. Orang sepertimu cocok tidur di lantai!"
"Ah?" Randika terlihat bingung. Kenapa istrinya tiba-tiba njadi galak seperti itu?
"Jadi kau ingin turun dari kasur ini sendiri atau perlu aku nendangmu?" Inggrid berkata demikian dengan wajah yang datar.
"Baiklah kalau kau tidak mau lakukannya." Randika segera berdiri. Namun, tiba-tiba Randika terjatuh dan ngerang kesakitan.
Inggrid yang lihatnya njadi marah besar. "Kau mang lelaki kurang ajar!"
Randika terkejut ketika ndengarnya, bukankah ini saatnya Inggrid berusaha nyelamatkannya?
"Jangan pura-pura seperti itu." Inggrid berkata dengan nada dingin. "Terakhir kali kau pura-pura sakit, kau malah nyerangku sesaat kemudian. Aku tidak akan tertipu kali ini!"
Randika lalu berdiri dengan wajah kecewa, istrinya benar-benar njadi pintar.
"Kalau begitu, kamu tidak mau makan?" Randika sudah ncet telepon dan siap san makan.
"Makanlah duluan, aku masih punya banyak urusan." Inggrid mbuka laptopnya dan riksa kembali pekerjaannya. Setelah beberapa saat, dia nyadari ada sebuah nama di dokunnya.
Yosua
"Ran, kau ingat nama yang disebut sama si supir taksi tadi?" Inggrid noleh ke arah Randika.
"Ha? Yang mana?"
"Orang yang paling berkuasa di kota rak, bukankah dia bilang nama orang itu Yosua?"
Randika terkejut, apakah istrinya tertarik sama orang lain? "Kenapa kau tiba-tiba nanyakannya?"
"Karena orang yang aku temui besok bernama Yosua." Inggrid ngerutkan dahinya.
Inggrid mulai nganalisa keanehan di dalam kontrak kerja kali ini. Surat kontrak ini dibuat oleh perusahaan Yosua dan isinya lebih nguntungkan Inggrid. Pebisnis macam apa yang lakukan kesalahan seperti itu? Terlebih lagi, kenapa dirinya yang harus nandatangani surat kontrak ini secara langsung?
"Hahaha." Randika tertawa dan nghampiri Inggrid. Dia lalu mijat pundak istrinya dan ngatakan. "Sayang, kau tidak perlu takut sama orang macam itu. Kalau dia macam-macam, suamimu ini akan nghajarnya."
"Jangan khawatir, tidak akan ada yang bisa lukaimu." Randika berkata dengan nada tulus.
Tidak disangka, Inggrid natap Randika sambil tersenyum.
lihat senyuman manis Inggrid ini, Randika mbeku dan kemudian bertanya sambil tersenyum. "Kalau begitu, apakah kita akan segera tidur?"
"Kau tidak akan tidur denganku." Inggrid dengan cepat malingkan wajahnya.
Cih, belum luluh juga ternyata!
Randika lalu dengan murung kembali ke kasur. "Padahal aku sudah nantikan malam yang nggairahkan denganmu."
Detik berikutnya, Randika tertendang dari tempat tidur dan terjatuh.
Reviews
All reviews (0)