Font Size
15px

Hari kedua.

Inggrid mbawa Randika ke tempat perjanjiannya dengan Yosua.

Di dalam taksi, Inggrid terlihat segar. Sepertinya kemarin dia tidur dengan nyenyak. Sedangkan Randika terlihat buruk dan nyedihkan, bahkan di bawah matanya ada kantong mata. Itulah bukti nyata kekerasan istrinya semalam.

lihat wajah Randika yang seperti itu, Inggrid tidak bisa nahan tawanya.

"Bisa-bisanya kau tertawa." Randika berkata dengan dingin. "Kalau wajah tampan suamimu ini rusak, nanti cinta kita tidak abadi lho."

"Oh" Inggrid noleh padanya. "Jika kau nuruti kata-kataku kemarin, kau tidak akan kesakitan seperti ini."

"Terlebih, kau mampu nghajar beberapa orang sekaligus tetapi kau tidak bisa bertahan dariku. Bukankah itu lucu?" Inggrid tertawa kecil ketika ngingat kejadian di kamar kemarin.

Randika mau marah tapi tidak bisa. Seorang jenteln tidak akan pernah nyakiti seorang wanita, itulah prinsip yang dia pegang.

Taksi reka laju dengan cepat, tidak lama kemudian reka berdua tiba di suatu perusahaan besar.

Setelah reka ndatangi resepsionis, ada seseorang yang mandu reka untuk naik ke dalam lift.

Setelah itu reka berdua dibawa ke ruangan rapat.

"Mohon nunggu kedatangan Tuan Yosua di sini. Beliau sedang ada rapat." Kata pemandu tersebut.

"Baiklah." Jawab Inggrid.

Pemandu tersebut segera ninggalkan reka berdua sendirian di ruangan tersebut.

Inggrid sudah bersiap-siap dengan ngeluarkan fotocopy powerpoint, nyambungkan laptopnya dengan proyektor dan berlatih njelaskan kembali. lihat serangkaian persiapan ini, bisa dilihat bahwa Inggrid sudah terbiasa rapat seperti ini.

"Kau terbiasa njelaskan sendiri tentang bisnismu?" Randika duduk sambil mandang istrinya itu.

"Iya, sebagai direktur aku harus ngerti bisnis apa yang kujalani dan kutawarkan. Jadi aku sering nyempatkan diri untuk mpresentasikan bisnis milikku ini."

Randika tersenyum. "Kalau begitu, sebuah kehormatan bagiku lihat kemampuan direktur Inggrid."

Inggrid mandangnya dengan dingin.

Waktu terus berlalu, sekarang sudah setengah jam sejak reka masuk di ruangan ini.

"Kenapa reka lama sekali?" Randika ngerutkan dahinya. Bagaimana mungkin reka mbuat rekan bisnis nunggu reka begitu lama?

"Bersabarlah. Perusahaan ini sangat besar, jadi wajar jika reka rapat begitu lama. Pasti banyak yang perlu reka bahas jadi sabar saja, semuanya akan sepadan pada akhirnya."

lihat ekspresi Inggrid yang sabar itu mbuat Randika tanpa sabar gang tangan kecilnya itu. "Kalau begitu aku akan ndengarkan nasihat istriku."

Setengah jam kembali berlalu, reka sudah nunggu satu jam. Randika sudah benar-benar bosan nunggu, dia hampir tertidur. Kemarin malam dia tidak bisa tidur dengan nyenyak, sofa yang ditidurinya kurang panjang baginya.

Namun, pintu ruangan rapat ini tiba-tiba terbuka dan suara keras yang nggelegar mbuat kaget Randika. "Maafkan aku Inggrid, aku benar-benar sibuk tadi.

Randika yang setengah sadar itu benar-benar terkejut, dia sudah hampir reflek nghajar orang tersebut tetapi dia sadar itu adalah klien bisnis istrinya.

"Aku juga baru nunggu sebentar, Pak Yosua benar-benar lebih-lebihkan." Inggrid lalu berdiri dan bersalaman dengan Yosua.

"Jangan seperti itu." Yosua tersenyum padanya dan ncium tangan Inggrid. "Sudah lama aku nantikan pertemuan kita ini. Terus apa ada yang bisa saya bantu?"

Sekretaris Yosua lalu maju dan berbisik padanya.

"Pertemuan ini akan mbahas kontrak kerja sama kita dengan perusahaannya."

"Baiklah, mang lebih baik hal seperti ini didiskusikan secara langsung." Yosua tertawa dan natap Inggrid. "Kau pasti lelah karena jauh-jauh datang kemari."

"Tidak kok, saya bersemangat bisa bertemu dengan bapak." Inggrid juga mbalas senyumnya dan ingin narik tangannya. Tetapi, tangannya itu masih ditahan oleh Yosua.

"Oh" Yosua rasakan kelembutan yang tidak biasa dari tangan Inggrid. "mang julukan bunga tercantik dari kota Cendrawasih bukanlah isapan jempol belaka."

lepaskan tangan Inggrid, Yosua duduk di seberang Inggrid. Pada saat ini, matanya tertuju pada Randika.

"Oh? Sekretarismu sepertinya sudah bangun dari tidurnya." Yosua lalu tertawa.

Randika natapnya dalam-dalam. skipun Yosua makai jas berwarna hitam, perutnya itu nyembul keluar dan kalung emas nggantung di lehernya. Cincin emas yang dipakainya pun lebih dari 3, benar-benar bukan terlihat seperti pebisnis. Orang nomor 1 di kota ini justru terlihat seperti pemimpin gangster.

"Kalau begitu, mari kita mulai." lihat semua orang sudah duduk, Inggrid ingin mulai presentasinya. Namun, sebuah tangan nutupi proyektor.

"Ah, kenapa Anda buru-buru? Kita masih punya banyak waktu hari ini untuk mbicarakan bisnis." Yosua ngibaskan tangannya. "Justru aku lebih tertarik ndengar tentang dirimu. Reputasi Inggrid Elina sebagai direktur sekaligus bunga kebanggan kota Cendrawasih sudah nyebar hingga ke pelosok negeri."

"Anda terlalu berlebihan." Inggrid tersenyum walaupun dalam hatinya dia ngutuk orang ini.

Tatapan mata Randika terlihat dingin, dalam hatinya dia sudah siap nghajar orang ini. Berani-beraninya dia nggoda istrinya di depannya? Apakah orang ini segitunya ingin mati?

"Ah, kau miliki kecantikan yang patut dibanggakan." Yosua nambahkan. "Aku dengar banyak pria yang ngejar hatimu justru tenggelam dari air matanya karena tidak kuat nahan rasa patah hati reka."

"Pak Yosua itu semua hanya rumor belaka. Banyak perempuan muda yang lebih nawan dariku." Kata Inggrid sambil tersenyum. "Bagaimana kalau kita mbicarakan bisnis kita? Saya akan njelaskan bagaimana strategi dan tujuan perusahaanku untuk 10 tahun ke depan."

"Ah, Ibu Inggrid tidak usah terlalu antusias begitu." Yosua ncegat Inggrid sekali lagi. "Aku tidak bisa mutuskan keputusan penting seperti ini dalam sehari. Lagipula, aku juga sudah ngerti reputasi perusahaan Cendrawasih di negeri ini sangatlah luar biasa."

"Kalau begitu, kita akan mbahas masalah kontrak kerja sama kita." Inggrid langsung nembak.

"Hahaha sudah kubilang jangan terlalu antusias begitu." Perut Yosua bergetar karena tawanya itu. "Kita punya waktu seharian untuk mbahas hal tersebut."

Setelah itu, Yosua lihat jam tangannya dan ngatakan. "Bagaimana kalau kita makan siang dulu? Aku tahu bahwa kamu belum makan, biarkan aku ntraktirmu makan siang baru setelah itu kita mbahas bisnis."

"Tetapi banyak hal yang harus kita bahas dalam kontrak kerja sama ini. Aku harap kita dapat mbahasnya secepat mungkin agar kita bisa nandatanganinya segera mungkin." Inggrid dengan sopan nolak ajakan Yosua. "Pak Yosua, nurut saya lebih baik kita mbahas bisnis kita lebih dulu. Setelah kontrak kita tertanda tangani barulah kita bisa mbahas hal lain."

"Hahaha." Yosua tertawa keras, Inggrid tidak tahu apa yang dia tertawakan.

"Maaf, apakah ada yang salah dari omongan saya?" Inggrid terlihat bingung.

"Baiklah, kita akan mbahas kontrak kita." Yosua bersandar di kursinya, dia terlihat santai.

"Kalau begitu, karena Pak Yosua tidak ragukan kemampuan perusahaan milik saya, saya akan mbahas bagaimana kita akan bekerja sama." Inggrid mbuka powerpoint miliknya. "Berdasarkan isi kontrak yang diajukan perusahaan Anda, ini adalah poin-poin yang perlu kita perhatikan. Yang pertama adalah ...... "

Randika ndengarkannya dengan seksama. Namun, dia sekaligus mperhatikan ekspresi Yosua dengan mata dingin.

Mau dilihat bagaimanapun juga, kontrak ini lebih nguntungkan perusahaan Cendrawasih. Bagaimana mungkin perusahaan besar seperti ini akan bekerja sama dengan perusahaan lain dengan keuntungan yang kecil seperti itu?

Jelas bahwa keuntungan yang diinginkan oleh Yosua tidak tertulis di kontrak.

"Demikian pembahasan yang perlu kusampaikan. Jika tidak ada masalah dengannya, kita bisa nandatangani kontraknya sekarang." Kata Inggrid sambil tersenyum.

"Setelah kudengarkan baik-baik, nurutku ada yang kurang dari kontrak tersebut." Kata Yosua.

Inggrid terkejut dan bertanya. "Apakah ini ngenai keuntungan yang diterima? Saya sudah mbahasnya tadi."

"Hahaha." Yosua tersenyum lagi dan mberi isyarat untuk nampilkannya lagi.

Inggrid dengan cepat nuju laptopnya dan ingin nampilkan lagi ngenai keuntungan yang didapat. Tetapi, tangan Yosua tiba-tiba raih tangan Inggrid.

Inggrid terkejut bukan main, tetapi, sebuah tangan tampak gangi tangan Yosua dengan erat.

Ketika Yosua noleh, ternyata Randika lah yang ncengkeram tangannya.

"Inggrid, sepertinya dia bukan sekretarismu lainkan pengawalmu?" Kata Yosua sambil natap jijik Randika.

"Saya khawatir tangan Tuan Yosua akan nyakiti tangan direktur saya." Kata Randika sambil tersenyum.

Ketika Randika lepaskan genggamannya, Yosua langsung narik tangannya. Inggrid yang lihat hal ini berdoa dalam hati bahwa jangan sampai peluang bisnisnya hancur gara-gara Randika.

"Kalau begitu, apakah ada pertanyaan lain? Bagian mana dari kontrak ini yang ingin Anda bahas?" Tanya Inggrid sekali lagi.

"Tidak ada." Kata Yosua sambil ndengus dingin. "Selama kau nambahkan satu syarat di kontrak kita maka semuanya akan baik-baik saja. Bagaimana kalau isinya adalah kau akan nemaniku makan malam setiap hari?"

"Syarat itu" Inggrid kehabisan kata-kata untuk sesaat. Tetapi, pada saat ini Randika berkata dengan santai. "Tuan Yosua, Ibu Inggrid akhir-akhir ini sedang tidak enak badan. Beliau tidak bisa pergi nemani Anda, kami mohon maaf atas ketidaknyamanan ini."

"Siapa yang nyuruhmu berbicara?" Suara Yosua terdengar kasar dan tatapan matanya njadi tajam. Orang itu hanya seorang pengawal, bagaimana mungkin dia punya hak untuk berbicara dengannya.

"Maaf jangan terlalu dibawa hati Pak Yosua. Dia mang sedikit kasar." Inggrid dengan cepat nengahi. "Selain syarat tersebut, apakah ada hal lain yang perlu kita bahas dalam kontrak kita?"

"Tidak ada." Yosua ndengus dingin dan bersandar di kursinya. "Sejujurnya, aku hanya miliki satu syarat yang harus dipenuhi. Bahwa kau harus nemaniku seharian ini dan aku akan nandatangani kontrak ini."

Inggrid ngerutkan dahinya. "Pak Yosua, sebaiknya kita mbedakan urusan pribadi dengan urusan bisnis."

"Tentu saja ini adalah syarat bisnis. Aku adalah pebisnis sejak kecil, tentu saja bahwa aku paham sekali tentang bisnis."

"Bagaimana?" Yosua negakkan tubuhnya. "Selama kau nemaniku seharian ini, aku akan tanda tangan kontrak ini. Jumlah itu seharusnya cukup besar untuk perusahaanmu bukan?"

Inggrid njadi sedikit marah. Dia pikir dia siapa?

"Ibu Inggrid, syarat yang diajukan Tuan Yosua sangat simpel. Sebaiknya Anda nyetujuinya." Kata Randika tiba-tiba.

"??" Inggrid terkejut ketika ndengar perkataan Randika. Bajingan ini malah mperburuk situasinya.

"Bukankah Anda akan nemaninya satu hari saja? Kita belum pernah berkeliling kota ini, jadi aku yakin kita akan lihat pemandangan yang bagus bersama Tuan Yosua." Kata Randika sambil tersenyum.

Muka Inggrid njadi pucat pasi.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 99: Temanilah Aku Sehari on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

I Am the Fated Villain cover
Similar genre

I Am the Fated Villain

Fated Villain ·Harem

ImmediatelyafterGuChanggerealizedhehadtransgressedintoafantasyworld,theworld’sprotagonist,andfortune’schosen,vowedtotakerevengeonhim.Enviedbyall,he...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.