Ekspresi Yosua njadi dingin. "Inggrid, aku tidak senang pembicaraan kita dipotong oleh orang lain."
"Kalau begitu, tunggulah aku selesai berbicara dengan direktur saya." Kata Randika dengan santai.
Apa?
Yosua sudah ledak-ledak di dalam hatinya. Ketika dia masih njadi pimpinan gangster, tidak ada orang yang berani berbicara lancang di depannya. Sekarang dia nguasai kota ini baik bagian terang ataupun gelapnya.
"Baiklah kalau begitu." Karena lawan bicaranya ini pura-pura bodoh, Yosua sudah tidak sungkan lagi. "Inggrid, aku hanya ingin kau tidur bersamaku malam ini dan aku akan nandatangani kontrak ini. Apakah kau sudah ngerti maksudku?"
Wajah Inggrid benar-benar njadi buruk. Calon rekan bisnisnya ini ternyata ngincar tubuhnya.
"Tidak Tidak akan!" Wajah Inggrid benar-benar dingin seperti es.
"Hahaha jangan sok suci seperti itu." Yosua tertawa keras. "Ini adalah satu syarat yang harus kau penuhi untuk ndapatkan tanda tanganku. Jika kau tidak mau, maka kerjasama kita akan batal!"
"Dan jangan pura-pura kau tidak ingin nginginkan kontrak ini." Yosua lihat ambisi Inggrid dari matanya itu. "Tidak peduli sekuat apa perusahaanmu, kau tidak mungkin bisa ngalahkanku. Percayalah, kau tidak ingin lawanku. Banyak cara untuk njatuhkan perusahaan sepertimu."
Perkataan Yosua benar-benar berani, sombong dan penuh percaya diri. Dengan kata lain dia berkata bahwa demi kelangsungan perusahaan Cendrawasih, Inggrid harus nyetujui apa pun yang diinginkan oleh Yosua.
"Aku tidak pernah takut dalam hidupku." Kata Inggrid dengan dingin.
"Jangan anggap reh ancamanku ini." Mata Yosua penuh dengan ancaman. "Bagaimanapun caranya, pada akhirnya kau tetap akan layaniku di tempat tidur."
Wajah Inggrid sudah benar-benar jijik lihat Yosua, dia lalu berdiri dan bersiap ninggalkan tempat terkutuk ini.
Yosua dengan cepat ncegat Inggrid untuk pergi.
"Bahkan di kotaku ini, seekor naga akan tunduk padaku." Nada bicara Yosua penuh dengan kesombongan. "Kau tidak akan pergi ke mana-mana."
"Kebetulan, itulah yang ingin kusampaikan." Pada saat ini, Randika masih tersenyum lebar. Tetapi, matanya dipenuhi dengan api kemarahan. Ketika Yosua noleh ke arah Randika, sebuah pukulan sudah ndarat di wajahnya!
"Ah!" Inggrid terkejut, dia tidak nyangka Randika akan berbuat seperti itu. Sekretaris Yosua juga terkejut bukan main, dia hanya bisa linglung lihatnya. Pukulan Randika dengan mudah matahkan hidung Yosua.
"Kau sudah gila? Berani-beraninya kau lukaiku!" Namun, Randika tidak berhenti di situ saja, dia nampar Yosua dengan keras.
Dasar bajingan, berani-beraninya kau nindas istriku? Kau ngincar tubuh istriku?
Kau akan mati hari ini!
Tangan Randika yang besar itu dengan keras nampar Yosua hingga bekas tangannya ngecap.
"Kau ingin Inggrid tidur layanimu? Mimpi apa kamu?" Randika terus nampar pipi kiri dan kanan Yosua bergantian.
Lalu kaki Randika nendang Yosua dan dia terpental ke tembok! Randika lalu ngangkatnya dan mukulinya lagi.
"Kau pikir akan lolos setelah ini?"
Duak!
"Kau tidak tahu siapa aku ini?"
Duak!
"Aku adalah penguasa sejati kota ini!"
Duak!
Setiap kata yang dilontarkan Yosua akan disambut dengan pukulan ke perut oleh Randika.
"Kau Kau benar-benar ncari mati!" Yosua muntahkan seteguk darah, tetapi ini tidak nghentikan pukulan Randika.
"Sepertinya kau tidak ngerti posisimu sekarang ini." Randika tersenyum. "Aku akan ngajarimu sampai kau ngerti."
Setelah itu, Randika lepas Yosua dan nendangnya di lantai. Yosua hanya bisa ringkuk kesakitan seperti udang.
Setelah beberapa saat, Yosua berdiri dan tatapan matanya penuh dengan kebencian. "Kau tidak tahu siapa aku?"
"Aku tidak peduli kau siapa." Randika mukulnya lagi tepat di hidung. "Mau kamu ular ataupun tikus, kau harus tunduk di depanku."
Yosua kembali terpental dan nabrak tembok. Randika belum puas nghajarnya dan ketika dia nghampiri Yosua, tangannya ditahan oleh Inggrid.
"Jangan! Aku tidak ingin kau terlibat masalahku." Kata Inggrid dengan penuh kekhawatiran. Kata-kata itu mbuat hati Randika tersentuh.
"Siapa suruh nggoda istriku di depan diriku!" Randika natap Yosua. "Aku ingin mbunuhnya."
Setelah berpikir baik-baik, Randika ngeluarkan surat kontrak yang dibawa Inggrid.
"Mau apa kamu?" Tanya Inggrid.
Randika tidak njawab dan nghampiri Yosua yang masih ringkuk kesakitan. "Hari ini kau akan nandatangani kontrak ini."
"Mimpi!" Yosua ludah ke wajah Randika. Dan Randika dengan santai namparnya dengan keras.
"Tanda tangan atau tidak?" Tanya Randika sambil nyeka wajahnya. "Jika kau tidak mau, aku akan namparmu hingga kau mau."
Plak!
lihat Yosua masih tidak mau, Randika layangkan tamparannya lagi.
Plak!
lihat pimpinannya ini dihajar habis-habisan, sekretarisnya hanya bisa terdiam lihatnya. Bosnya ini rintah seluruh kota dan belum pernah nunduk ke siapapun. Dan sekarang keadaannya nyedihkan.
Ketika Randika masih sibuk nampar Yosua, pintu ruangan rapat ini tiba-tiba terbuka dan sekumpulan pengawal berbadan kekar masuk.
"Mati kau bangsat!" Yosua tertawa sambil bersimbah darah. Ketika nanti dia berhasil nangkap orang ini, dia akan nyiksanya sampai mati!
"nurutmu aku takut?" Kata Randika dengan santai.
Randika lalu lempar surat kontrak itu ke udara dan sosoknya sudah nghilang dari depan Yosua. Tiba-tiba, suara rintihan kesakitan para pengawal sudah terdengar.
Randika langsung nerjang ke tengah-tengah para pengawal itu. Bagaikan serigala yang masuk ke kandang ayam, Randika mbantai reka dengan cepat dan mudah. Para pengawal ini tidak bisa ngikuti pergerakan Randika sama sekali.
Ketika para pengawal ini bertahan dari serangan samping, Randika akan nendangnya kuat di dada. Ketika reka berjaga dari serangan depan, Randika akan mutari reka dan mukul bagian belakang kepala reka.
Dalam sekejap, pecahan kaca jendela dan pecahan tembok nuhi ruangan ini.
Ketika para pengawal itu mbalas nyerang, reka justru dibuat layang oleh Randika. Di saat udara, Randika pun masih sempat mberikan 2 pukulan tepat di dadanya.
Sekarang, tinggal 3 orang yang masih berdiri dan ketiganya dengan cepat pingsan di lantai.
Ketika tubuh pengawal terakhir itu jatuh, surat kontrak yang dilempar Randika ke atas itu ndarat dengan tepat di tangannya.
Wajah Inggrid dan sekretaris Yosua benar-benar dipenuhi rasa tidak percaya. Orang ini benar-benar manusia?
Dalam waktu 5 detik, Randika berhasil ngalahkan semua pengawal yang masuk ke dalam ruangan ini.
Betapa kuatnya orang ini!
Yosua, yang lihat hal ini dari bawah, sudah mulai getar ketakutan.
Lawannya benar-benar kuat!
Perbedaan kekuatan keduanya terlalu besar, tidak ada jalan lain selain pasrah. Bisa dikatakan bahwa satu jari Randika sudah cukup untuk mbunuhnya.
"Tanda tangan atau tidak?" Randika bertanya sekali lagi.
lihat Yosua sama sekali tidak respon, Randika namparnya lagi.
"Baiklah, baiklah, aku akan nandatanganinya." Yosua sudah kapok.
Tetapi, Randika kembali namparnya.
"Aku sudah bilang aku akan nandatanganinya!" Mata Yosua sudah dipenuhi rasa ketakutan. Bukankah dia diampuni setelah ngatakan bahwa dia setuju?
"Maaf, aku tidak bisa nahannya." Randika tertawa.
Yosua benar-benar marah atas rasa malu yang besar ini. Tangannya tidak bisa berhenti getar ketika dia nandatangani kontraknya.
"Kalau begitu, mohon kerja samanya Tuan Yosua." Randika lalu ngambil kontrak itu dan tersenyum. "Aku harap pertemuan kita berikutnya tidak seberantakan seperti ini."
Randika lalu nghampiri Inggrid dan berkata dengan santai. "Nih surat kontrakmu."
Reviews
All reviews (0)