Font Size
15px

Di bandara, Randika dan Inggrid dengan cepat masuki pesawat reka. reka duduk bersama, Inggrid di bagian dalam dan Randika di bagian luar.

Inggrid kali ini tidak mbawa siapa-siapa dari perusahaannya. Dia minta sekretarisnya untuk ngurusi beberapa hal di kantor.

Awalnya Inggrid ragu untuk mbawa sekretarisnya itu atau tidak, tapi karena sudah ada Randika, perasaanya jauh lebih ringan.

"Para penumpang yang terhormat, selamat datang di penerbangan Cendrawasih bernomor LC1232 dengan tujuan penerbangan ke kota rak yang akan kita tempuh dalam waktu kurang lebih 1 jam dan 55 nit. Perlu kami sampaikan bahwa dalam penerbangan ini ada beberapa hal yang dilarang antara lain asap rokok, sebelum lepas landas....."

Ketika suara pengumuman pesawat hendak lepas landas ini terdengar, Randika dan Inggrid dengan sigap matuhinya. Para pramugari dengan cekatan riksa seluruh penumpang.

"Kami mohon sabuk pengamannya dipakai dengan benar ya pak." Suara lembut itu terdengar dari samping. Ketika Randika noleh dan ternyata itu adalah pramugari yang super cantik. Randika tidak kuasa nahan dirinya untuk tidak nggodanya.

"Aduh aku tidak bisa masangnya." Kata Randika.

"Akan saya bantu ya pak." Setelah itu pramugari ini njongkok dan mbantu Randika masangkan sabuk pengamannya. Randika dengan tidak berdaya nyerahkan tubuhnya.

Pada saat ini, tentu saja, Randika tidak bisa tidak aji mumpung. Kedua bola matanya tidak bisa lepas dari dada pramugari tersebut.

Selain wajahnya yang cantik, dada perempuan ini cukup besar dan sifat telatennya mbuat Randika makin suka. Belum lagi pakaian kerjanya yang berwarna rah mbuatnya semakin ncolok.

"Ada yang bisa saya bantu lagi pak?" Pramugari ini sedikit malu tetapi tetap berbicara dengan sopan.

"Oh, aku sedikit haus." Jawab Randika.

"Mohon maaf pak, sebentar lagi kereta makannya akan tiba. Mohon ditunggu dulu ya." Kemudian pramugari itu pergi.

Randika masih mperhatikan pantat pramugari itu dari belakang, dia masih ingin nggodanya. Namun, dari samping terdengar suara dingin yang mbuatnya rinding. "Secantik itukah dia?"

"Sangat cantik." Randika tanpa sadar njawab dan terkejut ketika dia tersadar siapa yang sedang nanyainya itu. Ketika dia noleh, tatapan tajam Inggrid sudah mampu mbunuh seseorang.

"Hahaha kau bisa cemburu juga ternyata." Randika tertawa pahit.

"Ngapain aku cemburu?" Inggrid malingkan wajahnya. "Bisa-bisanya kau nggoda perempuan semudah itu?"

"Bisa-bisanya kau nganggapnya seperti itu? Sayang, dia hanya mbantuku masangkan sabuk saja. Dia mastikan kita semua dapat nikmati penerbangan ini semaksimal mungkin, sama seperti yang dikatakan oleh pilot tadi." Randika lalu tersenyum. "Jadi semua itu salah paham saja."

Pada saat ini, tangan Randika sudah berada di pinggang Inggrid dan perlahan mulai naik. Ketika tangannya berada tepat di ujung dadanya, Inggrid dengan cepat nampar tangan Randika.

"Hei maksudmu apa!" Inggrid tersipu malu, reka sekarang di atas pesawat bukan di rumah.

Randika tertawa. "Sayang, aku hanya ingin mbuktikan bahwa aku setia padamu."

"Cepat lepaskan tanganmu itu, banyak orang yang lihat!" Wajah Inggrid sudah rah.

lihat Inggrid yang kelabakan itu, Randika njadi jail. "Kalau begitu, kau tidak cemburu dengan pramugari tadi kan?"

"mangnya siapa yang cemburu?" Inggrid dengan cepat mbantahnya.

Randika berpikir istrinya ini bahkan tetap cantik skipun sedang cemburu.

Pada saat ini, pramugari tadi ndorong kereta makan dan nawarkan beberapa minuman.

"Silahkan dinikmati bapak minumannya." Pramugari itu berbicara dengan nada lembut.

Randika ngambil jus jeruk tersebut dan letakkannya di tatakan gelas.

"Apakah ada yang bisa saya bantu lagi pak?" Tanya pramugari tersebut sambil tersenyum.

"Sebenarnya" Randika duduk semakin tegak dan wajahnya njadi serius. "Pertanyaanku ini sedikit aneh tetapi aku tetap harus nanyakannya walau nyawa njadi taruhannya."

"Silahkan bapak, saya akan njawab semampu saya." Pramugari itu terus tersenyum sepenuh hati.

"Baiklah." Randika lalu mperhatikan dada di pramugari dan bertanya dengan santai. "Aku bingung, apakah dadamu itu beneran D?"

Pramugari itu terbeku di tempat. Dalam sekejap dia tersipu malu. Bisa-bisanya orang ini nanyakan pertanyaan semacam ini? Bukankah pasangannya ada di sampingnya?

Inggrid malu bukan main, dia sudah pura-pura tidur. Dia tidak habis pikir kenapa Randika selalu bertingkah genit ke perempuan cantik mana pun.

"Pak Ini." Pramugari itu benar-benar dilemma. Randika lalu berkata sambil tersenyum. "Kau hanya perlu ngangguk jika itu benar."

Setelah ragu-ragu sedikit, pramugari itu ngangguk pelan.

Randika lalu ngangguk puas. "Sudah kuduga, mataku tidak bisa ditipu."

Pramugari itu benar-benar malu.

"Baiklah, cukup dariku." Randika lalu lihat pramugari itu lari dengan cepat.

Randika lalu minum jus jeruknya dan lihat Inggrid hanya nghadap jendela tanpa mau noleh ke arahnya. "Sayang, apa bagusnya lihat awan-awan itu?"

"Setidaknya ini lebih bagus daripada dada perempuan." Kata Inggrid dengan nada dingin.

Inggrid sedang cemburu, sedangkan Randika terlihat puas. Inilah lika-liku cinta.

"Sayang, kau salah satu hal." Randika lalu ndekatinya dan luk Inggrid dari belakang. "Dada perempuan itu mang sangat bagus, tetapi milikmu adalah nomor satu di hatiku."

Setelah berkata demikian, Randika dengan cepat remas dada Inggrid.

"Hei!" Inggrid langsung nampar tangan Randika.

"Tenanglah, aku harus mbuktikan kata-kataku barusan." Randika tersenyum.

"Kau ini ya!" Inggrid kembali njadi marah, orang tak tahu diri ini tidak pernah berubah.

"Hahaha jangan marah begitu dong." Randika lalu berbisik di telinganya. "Perlukah aku nciummu untuk mbuktikan bahwa aku ncintaimu?"

Inggrid hanya bisa nggeleng-geleng ketika berhadapan dengan Randika.

Randika tertawa dan ngambil minumannya. Pada saat ini, pesawatnya ngalami guncangan dan tanpa disengaja minumannya tumpah ke celananya.

Kali ini Randika benar-benar ceroboh.

"Kau pantas ndapatkannya." Lirik Inggrid.

Tetapi, teriakan Randika pada pramugari itu mbuat Inggrid ingin ngubur kepalanya dalam-dalam. "Pramugari, tolong lapkan celanaku ini!"

..............

"Jangan marah terus dong sayang."

"Tadi itu salahku, jadi jangan cemberut terus ya."

Ketika reka turun dari pesawat, Inggrid ngabaikan Randika dan berjalan tanpa henti. Randika berusaha nyenangkan hati istrinya itu dengan susah payah.

"Aku tidak marah." Inggrid nghela napas. "Itu bukan urusanku jika kau ingin bersraan dengan seorang pramugari."

Kau tidak marah? Terus kenapa kau begitu dingin denganku?

Randika tertawa pahit dalam hatinya.

Keduanya berjalan keluar dari bandara dan manggil taksi.

Karena letak bandara kota rak agak jauh dari pusat kota, akan mbutuhkan waktu setengah jam ke hotel yang sudah dipesan Inggrid.

Randika masih berusaha nangkan hati Inggrid dengan mbawakan kopernya.

Ketika taksi itu tiba, Randika bahkan mbukakan pintu buat Inggrid.

"Silahkan masuk sayang." Kata Randika dengan berkedip.

Inggrid natapnya tajam, siapa mangnya yang ngatakan reka bisa naik taksi berdua?

Inggrid hanya malingkan wajahnya dan masuk. Randika dengan cepat letakan kopernya di bagasi dan masuk.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 96: Lika-liku Cinta on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

I Am the Fated Villain cover
Similar genre

I Am the Fated Villain

Fated Villain ·Harem

ImmediatelyafterGuChanggerealizedhehadtransgressedintoafantasyworld,theworld’sprotagonist,andfortune’schosen,vowedtotakerevengeonhim.Enviedbyall,he...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.