Karena boneka ginseng ini sudah nghilang tanpa jejak, Randika tidak miliki pilihan lain selain pulang ke rumah.
Setelah sesampainya di rumah, Inggrid ternyata belum pulang dan cuma ada Hannah dan Ibu Ipah.
"Wah nak Randika sudah balik." Seperti biasa, Ibu Ipah nyapanya dengan senyuman yang hangat.
"Hahaha aku pulang." Randika tersenyum lebar.
Hannah sedang nonton TV bersama Ibu Ipah. Ketika dia lihat Randika sudah pulang, dia noleh sambil tersenyum. "Kak"
Hmmm?
Suara Hannah terdengar aneh tidak seperti biasanya, Randika rasakan firasat buruk dihatinya. Biasanya suara adik iparnya itu terdengar semangat dan tegas, akan tetapi sekarang terdengar lembut dan las. Randika ncium bau-bau masalah yang repotkan.
Randika langsung bergegas njawab. "Maaf aku perlu ke toilet, perutku sakit!"
"Kak, jangan kabur!" Hannah dengan cepat raih tangan Randika.
Sialan, gadis ini ternyata ada maunya! Aku harus segera kabur darinya.
Di saat Randika berlari naiki tangga, Hannah berhasil nyusulnya.
"Kak, kenapa kau berusaha nghindariku hari ini?" Tatapan mata Hannah terlihat seperti kucing yang las. "Apakah kau sudah tidak senang bersamaku?"
Randika dengan cepat njawab. "Ha? Aku hanya sedang sakit perut! Aku ingin ke toilet dan beristirahat di kamarku."
"Apa ada yang sedang kau sembunyikan?" Kata Hannah sambil tersenyum.
"Sudah kita hentikan saja basa-basinya. Kau pasti minta sesuatu bukan? Sana pergi, aku tidak punya waktu luang." Tanya Randika.
"Hehe kakak tahu saja." Hannah langsung tersenyum lebar. Dan dalam sekejap dia rangkul kedua tangan Randika dan masukkannya ke celah dadanya.
"Kak dengarkan aku dulu! Ayolah kak!" Hannah tahu bahwa lakukan hal ini akan mbuat kakak iparnya luluh.
Tahan imanmu Randika! Tahan!
Kita harus bertahan dari kenikmatan duniawi ini! Sebagai kakak ipar kita harus nunjukan martabat kita!
"Percuma kamu bersifat manja seperti itu, kalau kakak berkata tidak ya tidak!" Randika berkata seperti itu skipun dia nikmatinya.
Hannah tersenyum dan ngatakan. "Kenapa kakak nolakku terus? Apakah kakak mbenciku?"
"Dari dulu aku mbencimu!"
"Kau!" Hannah lepas kendali dan lepas tangan Randika. "Akan kubilang pada kak Inggrid kalau kau rabaku!"
Sialan, adik iparnya ini mang licik.
"Baiklah, baiklah, aku akan ndengarkanmu." Kata Randika dengan wajah malas.
"Kak, aku punya permintaan." Hannah tersenyum lebar.
"Aku akan ndengarmu dulu baru mutuskan." Kata Randika.
"Begini, kemarin kan kak Randika nunjukan kita kemampuan renang yang luar biasa. Sebentar lagi akan ada kompetisi antar sekolah dan kita ingin agar kak Randika njadi pelatih kita. Bagaimana kak? Mau ya?"
"Tidak mungkin." Dengan cepat Randika nolak, lagipula kemampuannya ini mustahil untuk diajarkan. Masa dia akan ngajarkan tentang kultivasi dan tenaga dalam pada para perenang yang masih muda ini?
Lagipula, waktu adalah hal paling penting baginya, dia tidak akan mbuangnya dengan ngajarkan beberapa bocah bagaimana caranya berenang cepat.
"Kak, kenapa kakak tidak mikirkannya dulu?" Hannah terdengar sedih. "Sebagai informasi, biasanya banyak perempuan cantik yang ikut berlatih juga. reka semua makai bikini reka, apakah kakak tidak tertarik?"
Hati dan jiwa Randika tercampur aduk. Apa yang dikatakan Hannah ada benarnya, banyak perempuan cantik di universitasnya itu. Tetapi itu saja tidak akan cukup mbuatnya goyah.
"Tidak akan." Randika nolak sekali lagi. "Aku ini kakak iparmu tahu, aku sudah punya Inggrid!"
"Kak ayolah." Hannah mulai mohon, suaranya semakin terdengar manja. "Jangan cuma gara-gara Jimmy kakak njadi malas ngajar reka."
"Han apakah reka mbalas dendam padamu?" Randika mulai cemas.
Hannah tersenyum dan ngatakan. "Tidak terjadi apa-apa setelah itu. Semua berjalan seperti biasa kok."
"Kalau begitu kakak mau ya ngajari kami." Hannah masih berusaha terus.
Randika natapnya sambil nampar dahinya. "Tidak akan."
lihat Hannah yang masih rewel, Randika dengan cepat mberi penjelasan. "Han, kemampuanku itu tidak bisa diajarkan sembarangan. Tidak mungkin bisa ngajari reka kemampuanku itu."
"mangnya kemampuan apa itu?" Tanya Hannah penasaran.
"Bisa dikatakan itu kemampuan alami milikku. Sudahlah percaya aku, reka tidak akan mungkin bisa sepertiku."
"Ayolah kak, jangan pakai alasan payah seperti itu. Dengan bantuan kakak, aku yakin sekolahku bisa nang mudah." Kata Hannah sambil tersenyum.
"Percuma kau terus mohon, aku tidak akan lakukannya." Randika nggelengkan kepalanya.
"Kalau begitu aku akan bilang ke kak Inggrid kalau kakak rabaku!"
"Han dia tidak akan percaya." Randika nghela napas, dia tidak nyangka Hannah masih nggunakan taktik licik itu.
"Kak kalau kau mbantu sekolahku, aku akan..." Hannah tampak ragu dan nggigit bibirnya.
"Apa?" Randika penasaran.
"Aku akan mbiarkanmu rabaku secara gratis!" Hannah ngeluarkan semua keberaniannya.
"Kau masih muda dan belum berkembang sepenuhnya. skipun punyamu besar, aku tidak tertarik dengan tubuh anak ingusan." Kata Randika dengan tegas.
Setelah ndengarnya, Hannah langsung pergi dengan muka marah.
Randika tidak peduli. Lagipula sikap Hannah yang seperti itu akan reda dengan sendirinya setelah beberapa hari.
Tidak lama kemudian Inggrid pulang. lihat ekspresi capek Inggrid, hati Randika terasa sakit.
"Sayang, kemarilah. Biarkan suamimu ini nghilangkan rasa capekmu itu dengan pijatannya." Randika tersenyum dan mbawa Inggrid ke kamarnya dan mijatnya sambil duduk sambil nyalurkan tenaga dalamnya.
Setelah beberapa waktu, Inggrid rasa rasa lelahnya mulai hilang.
"Apakah hari ini banyak kerjaan di kantor?" Randika mbuka perbincangan.
Inggrid njawab. "Akhir-akhir ini banyak yang terjadi di kantor. Ditambah lagi aku besok sudah harus pergi."
Sebelumnya, Inggrid ngatakan bahwa kunjungan bisnis ini cukup penting jadi dirinya sendiri harus mastikan semuanya aman dan terkendali.
Randika lalu berpikir bahwa besok dia tidak ada kerjaan jadi dia dengan santai ngatakan. "Sayang, aku besok tidak ada pekerjaan ndesak, biarkan aku ikut bersamamu."
"Kau mau ikut?" Inggrid terkejut.
"Hahaha kenapa kau ragukanku seperti itu? Banyak hal yang hanya bisa dilakukan oleh suamimu ini lho." Randika lalu pura-pura marah. "Aku juga tahu bahwa kau pasti sedih apabila tidak lihat bokong suamimu ini sehari saja."
Ketika ndengarnya Inggrid tersipu malu. Randika benar-benar tidak berubah.
"Baiklah kalau begitu." Inggrid ngangguk. "Tetapi bagaimana dengan Hannah?"
"Biarkan aku mberitahunya bahwa aku juga akan ikut." Randika ngol di hatinya, adik iparnya itu pasti masih cemberut dengannya.
........
Hari berikutnya Randika berangkat bersama Inggrid.
Sebelum berangkat, Randika sudah berpenampilan rapi dengan makai jas berwarna hitam dan rambut yang tersisir rapi. Setelah sepagian dioli oleh Inggrid, sekarang Randika terlihat tampan.
Tetapi tepat sebelum dia berangkat, tatapan Hannah pada Randika benar-benar tajam. Bahkan adik iparnya itu tidak berkata apa-apa pada dirinya!
ngingat sifat adik iparnya itu, sepertinya perempuan satu itu sudah mikirkan rencana balas dendam buat dirinya ketika dia pulang nanti.
Reviews
All reviews (0)