Font Size
15px

Ian datang setelah manggil mantan anak buahnya itu. lihat bahwa Randika dan Indra masih ada di sini, dia dengan cepat ngangkat tangannya yang kesakitan itu dan mbentak. "Itu dia orangnya!"

Dalam sekejap, 20 orang sudah ngepung reka.

"Kamu telah lukaiku dan harga diriku, sekarang aku tidak akan mbiarkan kalian pergi hidup-hidup." Kata Ian dengan arogan. "Hari ini aku akan nari di atas mayat kalian, sekarang cepat pilih, mau mati dipenggal atau mati perlahan?"

Randika ngedipkan matanya dan tersenyum. "Sejujurnya, seharusnya kami yang bertanya seperti itu pada kalian."

"Hah? Masih sok kuat?" Wajah Ian terlihat jijik. "Orang-orangku ini adalah preman-preman terbaik di kota ini, mana mungkin reka kalah hanya karena dua orang?"

"Lihat saja nanti." Kata Indra dengan penuh percaya diri.

Randika mberi isyarat pada Indra agar dia tidak ikut campur, dia lalu natap Ian sambil tersenyum. "Kalau begitu, apakah kalian bisa tidak main keroyok?"

Salah satu dari preman itu tertawa, dia berjalan maju sambil mbawa parangnya. "narik, aku sendiri yang akan mbunuh kalian."

Setelah itu, dia natap Randika dan Indra bagaikan reka adalah tikus yang terperangkap.

skipun dia tahu bahwa kedua pengawal Ian tadi sudah dihajar reka, dengan adanya parang di tangannya, mana mungkin dia bisa kalah?

Para preman ini pernah berhutang budi pada Ian, jadi reka tidak segan-segan mbunuh orang apabila diminta oleh Ian.

Randika natap lawannya dan dengan santai rogoh saku celananya. Ketika orang-orang nahan napas lihat tindakan Randika ini, rupanya Randika ngeluarkan sebuah jari tengah dari saku celananya.

"Gila, masih berani seperti itu dia!"

Bukan hanya preman itu saja yang terkejut, orang-orang yang lihat reka dari jauh terkejut lihat aksi nantang dari Randika itu. Sepertinya dia benar-benar cari mati.

Preman itu nyeringai. "Awalnya aku hanya ingin motong kakimu dan lepaskanmu, tetapi kamu berani sekali nghinaku, kamu akan mati duluan!"

Dengan parang di tangannya, dia nerjang maju dan nyerang Randika.

Randika ngeluarkan koin yang diam-diam dia ambil dari saku celananya. Di bawah tatapan orang-orang, dia nembakkan koin itu dengan jempolnya ke arah lawannya.

skipun dia ngalirkan tenaga dalamnya tidak terlalu banyak, seharusnya itu sudah cukup.

Koin itu lesat dengan kecepatan tinggi, lawannya ini benar-benar tidak nduga serangan Randika ini. Koin itu dengan sukses nembus dan bersarang di tenggorokannya. Ketika orang itu nerjang maju, dia rasa ada sesuatu yang nyengat di tenggorokannya. Setelah itu, dia rasa dunia njadi hitam dan badannya njadi lemas. Terlebih lagi, dia sama sekali tidak bisa bersuara sedikitpun.

Apa yang sebenarnya telah terjadi?

Semua orang benar-benar bengong, reka tidak tahu apa yang telah terjadi. Kenapa orang itu tiba-tiba terjatuh ke tanah?

Semua orang saling mandang, reka tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Para preman ini juga sama, hasil pertarungan ini benar-benar ngejutkan bagi reka.

Preman itu tengah sekarat sambil gangi tenggorokannya dan terbatuk-batuk, hanya butuh hitungan detik hingga akhirnya dia mati.

"Bedebah!"

Seorang preman yang tidak terima segera nerjang ke arah Randika, tetapi Randika nanggapi ini dengan tenang. Dia kembali nembakkan koin di tangannya yang sudah dialiri tenaga dalamnya, kali ini koin nancap di dahi.

Kali ini, serangan koin ini bagaikan palu yang nyerang tulang. Orang tersebut bahkan tidak sempat lihat kilasan-kilasan balik kenangannya, dia sudah tergeletak dan mati di tempat.

Hasil yang sama!

Orang-orang bertepuk tangan, kekuatan Randika benar-benar ngerikan. Sekarang reka justru kasihan dengan Ian dan anak buahnya.

Serangan koin Randika ini benar-benar cepat, mustahil untuk dihindari.

Randika tersenyum sedikit, dia natap semua preman yang ngepungnya itu.

Beberapa preman itu saling mandang, akhirnya reka nyerang Randika bersama-sama. Randika masih mpunyai koin yang banyak, dia mbunuh reka satu per satu dengan santai.

"Bodoh, serang dia bersama-sama!"

Pada awalnya, Ian rasa ketakutan ketika lihat dua anak buahnya itu mati di tempat. Satu-satunya cara adalah nyerangnya secepat mungkin dan ngalahkannya dengan jumlah!

Pada saat yang sama, hampir semua orang yang tersisa nerjang ke arah Randika. Dengan bersenjatakan koin di tangannya, Randika lumpuhkan reka satu per satu.

"ARGH!!"

Para preman ini jatuh satu per satu berkat serangan Randika yang tak kasat mata itu.

Orang-orang yang nonton pada kebingungan semua. Seharusnya yang tergeletak sekarang adalah Randika, kenapa para preman itu yang justru terkapar?

Apa yang sebenarnya sedang terjadi?

Boneka ginseng di pundak Indra bertepuk tangan dengan gembira, ia terlihat senang.

Begitu banyak orang telah dikalahkan oleh Randika tanpa bergerak sama sekali, penampakan ini benar-benar ngejutkan.

lihat sosok Randika yang berdiri tegak, semua penonton benar-benar bingung harus bereaksi seperti apa.

Benar-benar luar biasa!

Randika natap Ian dengan samar, dia sudah lumpuhkan semua anak buahnya, sekarang tinggal Ian yang rupakan kepalanya.

Suara Ian terdengar getar. "Aku tidak akan lupakan kejadian ini!"

Setelah berkata demikian, Ian berlari sekuat tenaga. Namun, belum jauh dia berlari, kakinya telah diserang oleh sebuah koin.

Ketika koin itu ngenai kakinya, dia langsung ngerang kesakitan. Rasa sakit itu serasa hampir mbunuhnya.

Randika sudah tidak peduli lagi, dia mbawa Indra dan boneka ginseng keluar dari tempat ini. Tujuan reka adalah rumah Randika.

...

Sesampainya di rumah, rupanya Inggrid dan Hannah masih belum pulang. Randika lalu mpersilahkan Indra untuk duduk di sofa.

"Indra, bagaimana dengan para kakek?" Tanya Randika.

Sejujurnya, Randika tidak terlalu khawatir dengan keempat kakeknya ngingat reka adalah para ahli yang tiada tanding. Tetapi, Randika benar-benar ingin segera bertemu dengan reka karena dia mbutuhkan kakek ketiganya untuk ngembangkan sebuah obat agar dia bisa ngendalikan kekuatannya.

"reka belum pulang." Indra nggelengkan kepalanya. "Masih belum ada kabar dari guru, aku selama ini tinggal sendirian di gunung."

Desa Jaga adalah desa yang dimiliki oleh keempat kakeknya itu, jika reka pergi, tentu saja desa itu njadi kosong. Karena tempatnya yang cukup terpencil, jarang ada orang yang mau tinggal di desa kakeknya itu.

ndengar jawaban Indra, Randika sedikit sedih. Dia benar-benar butuh bantuan dari kakeknya itu.

Pada saat ini, boneka ginseng yang selama ini duduk di atas pundak Indra segera lompat turun dan manjat ke ja. Di atas ja, ada cemilan milik Hannah sebelumnya.

Boneka ginseng itu ncium baunya dan ngangkatnya tinggi, tatapan matanya terlihat berbinar-binar. Ia kemudian mbuka bungkusnya dan makan keripik kentangnya.

Randika natap boneka ginseng makan dengan lahap, tiba-tiba suasana hatinya kembali nyala. Benar, skipun kakeknya tidak ada di sini, bukankah ada boneka ginseng?

"Hei"

Boneka ginseng itu sedang asyik makan keripik kentangnya, ia terlihat sedang mberi skor pada makanan unik ini. Namun, tiba-tiba ia ndengar suara di belakangnya dan noleh. Ia benar-benar kaget ketika lihat wajah tersenyum Randika yang sudah dekat dengannya.

Ini pasti konspirasi, senyuman wajah itu pasti nandakan sesuatu!

Boneka ginseng ini terlihat waspada dengan Randika, ia rasa ada sesuatu yang salah dengan temannya ini.

"Apakah enak?" Randika mbantunya mbuka satu bungkusan lagi. "Jika kamu suka, aku masih punya banyak lagi seperti ini."

Randika tidak peduli apakah boneka ginseng itu dapat mahami kata-katanya atau tidak, yang penting adalah nangkan hatinya terlebih dahulu.

Boneka ginseng itu ngambil satu keripik yang ada di dalam bungkusnya dan makannya, wajahnya langsung tersenyum dan dia terlihat puas dengan makanannya.

Randika lalu berkata dengan cepat. "Aku akhir-akhir ini kurang sehat, aku butuh obat yang manjur untuk penyakitku. Hei, apakah kamu bisa mberikanku beberapa tetes darahmu?"

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 405: Memenangkan Hati Sebelum Meminta on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.