Seperti halnya dengan pengawalnya, Ian natap bengong tongkat kayu yang patah tersebut.
"Kalau kamu masih ingin hidup, cepat serahkan benda itu padaku!" Kata Ian dengan penuh kesombongan. "Jangan pikir kamu bisa keluar dari tempat ini hidup-hidup. Di semua lingkungan ini, tidak ada yang tidak ngetahui reputasiku!"
Indra masih dalam postur bertahan, dia bergumam. "Jika saja kakak seperguruanku tidak larangku untuk nghajar orang dengan sembarangan, aku sudah nghajarmu hingga babak belur."
Randika yang ada di belakang segera maju ketika lihat Indra diancam. "Indra, sudah hajar saja dia."
ndengar kata-kata ini, Indra terkejut dan noleh untuk lihat sosok Randika. Ketika dia lihat sosok yang dikenalnya ini, dia langsung tersenyum lebar. "Kakak seperguruan!"
Pada saat yang sama, suara tongkat kayu dipukul kembali terdengar. Lagi-lagi tongkat kayu tersebut hancur njadi serpihan.
"Bajingan, cepat bunuh dia!" Kata Ian.
Kedua pengawalnya itu segera nerjang maju dan nyerang Ingra.
"Akan kuperlihatkan seluruh kekuatanku!" Indra raung keras. Tubuh besarnya itu sudah bagaikan Godzilla yang marah. Dia dengan cepat nangkap satu pengawal dengan tangannya, dia lalu lemparnya ke tanah sampai dia tidak sadarkan diri.
"Apa yang kamu lakukan? Cepat bangun!" Ian mulai ketakutan.
Indra kembali nyerang. Kali ini tongkat kayu yang dipegang si pengawal itu hancur berantakan ketika dia hantam dengan kepalanya. Pengawal itu terkejut, dia langsung mbuang tongkat itu dan layangkan sebuah pukulan.
Boneka ginseng di pundaknya Indra segera nolong Indra dengan lompat ke wajah lawannya itu, kedua tangannya dengan cepat ncakar matanya. Tindakannya ini mbuatnya kehilangan penglihatannya. Ketika dia berusaha nggenggam si boneka ginseng, benda kecil ini sudah lompat kembali ke pundak Indra.
Ketika orang ini ndapatkan kembali penglihatannya, dia nyadari bahwa tinju Indra hanya berjarak 1 cm dari wajahnya.
Orang-orang yang masih ngantri makan bakso ini terkejut bukan main, orang gemuk ini bisa berkelahi ternyata. Kekuatan fisiknya benar-benar ngerikan, dia ngalahkan 2 orang berbadan besar dengan sangat mudah. Bahkan reka bukan berada di level yang sama dengan pesumo tersebut.
"Yah, senjata makan tuan deh." Kata seseorang sambil makan baksonya. Tontonan gratis seperti ini jarang-jarang terjadi, apalagi dia bisa lihat Ian yang rupakan mantan preman itu nderita.
"Hahaha sepertinya Ian lebih baik pensiun saja, ngapain dia masih sok kuat dan cari gara-gara sama orang lain. Tahu rasa sekarang dia!"
Dalam sekejap, pertarungan sepihak ini telah selesai. Ian yang sudah terjatuh di tanah itu segera kabur dari lokasi dan ninggalkan kedua pengawalnya.
Ketika dia hendak kabur, Randika sudah berdiri di depannya dan berkata dengan nada dingin. "Mau ke mana kamu pak tua?"
Ketika Ian ndengar kata-katanya Randika ini, wajahnya berubah dan natapnya dengan marah. "Jangan nyentuhku, kamu tidak tahu siapa aku?"
Randika tentu saja cuek, dia nampar Ian dengan sangat keras hingga tangannya itu ninggalkan jejak rah di wajahnya.
Indra nghampiri reka dan natap Ian.
DUAK!
KRAK!
DUAK!
Indra tidak mberinya ampun, dia mukul dan nendang Ian. Dia benar-benar kesal karena orang ini telah berani ngincar teman berharganya itu. Ian yang tersungkur di tanah sudah ketakutan sekaligus kesakitan. Dia khawatir nyawanya akan layang hari ini.
Pada saat ini, boneka ginseng loncat ke atas kepala Ian. Dia lompat-lompat dan ncabut sedikit rambutnya sambil terlihat puas. Setelah itu dia kembali ke pundak Indra dan letkan lidahnya ke arah Ian yang ada di tanah.
Tapi nurutnya ini masih kurang. Boneka ginseng itu loncat sekali lagi ke kepalanya dan nggoyang-goyangkan pantatnya di depan kedua mata Ian.
Ian benar-benar marah, dia berusaha nangkapnya tetapi gagal.
Sialan!
Dia berusaha berdiri tetapi langkahnya itu dihentikan oleh Randika. "Jangan pernah nampakkan wajahmu lagi di depanku."
Ian berdiri dengan terhuyung-huyung dan ninggalkan tempat ini.
Ketika Randika tersenyum lihat Ian yang perlahan pergi, boneka ginseng itu loncat ke pundaknya dan tersenyum padanya. Wajahnya yang bulat dan tangannya yang besar nunjukan bahwa dia telah tumbuh selama dia tidak ada. Sepertinya dia ndapatkan nutrisi yang cukup ketika tinggal di atas gunung.
Boneka ginseng itu bermain-main di pundak Randika, mulutnya terlihat dia sedang bersorak-sorak. Randika tertawa ketika lihat tingkah laku boneka ginseng yang lucu ini.
Pada saat ini, Indra natapnya dengan senang. "Kakak seperguruan."
"Kenapa kamu ada di sini? Apakah terjadi sesuatu?" Wajah Randika terlihat cemas.
"Tidak apa-apa, semuanya baik-baik saja di desa. Ketika aku belajar ilmu bela diri di gunung, sepertinya aku tidak sengaja nghapus nomor teleponmu di HPku. Karena aku rindukanmu, aku akhirnya datang dan ingin njengukmu." Kata Indra dengan wajah malu-malu.
Hati Randika sedikit tersentuh, dia lalu bertanya dengan tersenyum. "Bagaimana caranya kamu sampai di sini?"
"Aku sendiri tidak tahu, aku sudah 10 hari berkeliaran di jalan. Akhirnya ada orang yang baik hati mau ngantarkanku ke sini." Kata Indra.
Boneka ginseng itu kembali loncat ke pundak Indra dan duduk di sana. Karena dia tidak tahu apa yang sedang reka bicarakan, dia hanya duduk sambil terlihat bingung.
Randika sendiri geleng-geleng ketika ndengarnya, sayang sekali otak adik seperguruannya ini agak kurang skipun tenaga dalamnya luar biasa.
"Karena kamu sudah ada di sini, jangan buru-buru pulang. Kamu sebaiknya ikut denganku beberapa hari ini." Kata Randika.
Indra ngangguk dan berkata. "Baiklah, aku akan nuruti kakak."
Pada saat ini, ada suara teriakan dari jauh. "Minggir, minggir atau kubunuh kalian!"
Orang-orang yang makan bakso ini pada ketakutan dan mbubarkan diri. Ketika reka lihat ke arah suara tersebut, reka lihat puluhan preman bertampang bengis berjalan nuju tempatnya. Yang berjalan di paling depan adalah sosok Ian yang baru saja dihajar oleh Randika dan Indra. nilai dari penampilan reka, sepertinya reka datang untuk mbalas dendam.
Terlebih lagi, reka mbawa parang dan tongkat logam. Ini sudah pasti pembantaian.
Orang-orang yang makan ini segera mbubarkan diri, begitu pula dengan si pedagang. reka tidak mau njadi korban sampingan dari aksi balas dendam ini.
"Bajingan, Ian benar-benar manggil anak buahnya yang dulu!"
"Banyak sekali, habis sudah pasti kedua orang itu."
"Kasihan sekali reka harus mati di usia yang masih muda, seandainya saja tadi nurut dan mberikannya uang."
Sebagian besar sudah pesimis terhadap Randika dan Indra, namun seseorang dengan lantang berkata. "Orang gemuk itu jago berkelahi, mungkin saja reka berdua bisa selamat!"
"Kamu bodoh atau apa? Ian dkk mbawa senjata tajam dan tongkat logam, mana mungkin reka berdua ini bisa lawan dengan tangan kosong? Riwayat reka sudah tamat!" Jawab temannya.
Kali ini, orang itu terdiam. Alasan para preman ini nakutkan adalah tekadnya yang berani mati dan jumlah reka yang banyak. Oleh karena itu, kebanyakan orang selalu takut dan nghindari orang-orang seperti ini.
Reviews
All reviews (0)