Font Size
15px

Setelah 12 hari, 5 jam, 5 nit dan 20 detik di rumah sakit, Randika akhirnya dibebaskan dari rumah sakit.

Setelah beristirahat lebih dari 10 hari, Randika benar-benar rasa seperti baru. Luka di sekitar area jantungnya sudah nutup, bahkan lukanya pun telah nghilang, tidak terlihat bekasnya sama sekali.

Luka jantungnya ini mang sedikit ngkhawatirkan, tetapi dia jauh lebih khawatir dengan kekuatan misterius di dalam tubuhnya.

Ketika dia berusaha nggunakan tenaga dalamnya, kekuatan misterius di dalam tubuhnya mulai nggila. Ia bukan hanya lahap tenaga dalamnya, ia mberikan beban yang berat pada tubuhnya.

Awalnya kekuatan misteriusnya ini sudah lumayan jinak, namun sekarang ketika dia ngalirkan tenaga dalamnya, kekuatannya itu segera mberontak.

Randika nghela napasnya. Kekuatannya ini benar-benar misterius, dia sendiri tidak tahu kenapa kekuatan itu bisa muncul di tubuhnya. skipun kekuatannya luar biasa, dia rasa percuma jika dia tidak bisa ngendalikannya.

Ikan-ikan yang dia makan di gua itu telah mbuat dirinya berhasil njinakkan sebagian kecil kekuatan misteriusnya, tetapi itu masih belum cukup baginya untuk nguasainya 100%.

Randika berjalan keluar dari gedung rumah sakit dan natap indahnya pagi hari, suasana hatinya sedang bagus.

Tom dan Anna sudah lari ke luar negeri, pasukannya dan Arwah Garuda sudah ngejarnya jadi seharusnya tidak ada ancaman lagi di sekitarnya.

Randika berjalan santai di pinggir jalan. Masa-masa di rumah sakitnya hampir mbuatnya nggila. Dia benar-benar bosan!

skipun Inggrid dan Hannah sering ngunjunginya, dia masih tetap bosan.

Ditambah lagi, perawat yang rawatnya itu sudah tua. Jadi Randika tidak bisa bermain-main dengannya.

Sekarang, ketika dia keluar dari rumah sakit dan nghirup udara segar, dia benar-benar rasa seperti terlahir kembali.

Randika berjalan dengan lapang dada dan nyambut hari dengan senang. Ketika dia berjalan, dia nyadari ada kerumunan di depan.

Apakah ada sesuatu yang narik di depan?

Jika dilihat-lihat, orang-orang sepertinya sedang ngantri bakso yang lagi viral.

Tetapi ketika lihat lautan manusia itu, Randika nghela napas dengan kecewa. Orang-orang mang mudah tergiur ketika lihat keramaian, reka tidak akan berpikiran panjang dan ikut ngantri. Tetapi Randika tidak bisa terlalu maki reka, karena dia sendiri juga tertarik dengan apa yang sedang terjadi.

Bagaimana mungkin dia ngabaikan sesuatu yang enak?

Setelah nghela napasnya sekali lagi, Randika mulai ngantri sambil ncari celah untuk nyalip.

Apa pun yang terjadi, dia harus ncoba bakso ini!

Di tengah-tengah keramaian, beberapa orang nyuarakan kemarahan reka. "Hei, jangan dorong-dorong! Tempat ini kecil, jangan dorong-dorong!"

"Bajingan mana yang barusan ndorongku?" Seorang lelaki berputar dengan wajah yang marah. Orang yang barusan ndorongnya itu mbalas tatapannya sambil ngatakan. "Apa lihat-lihat?"

"Sopan sedikit kalau ngantri, main dorong aja." Jawabnya.

"Bacot! Kalau tidak terima, ngomong!"

"Nantang?"

Ketika reka berdua sedang sibuk bertengkar, orang-orang yang ngantri nyalip dan terus ngantri.

Ketika Randika terus nyalip tanpa tahu malu, Randika terkejut ketika lihat seorang pesumo sedang berdiri tidak jauh dari tempatnya berdiri. Orang-orang masih ngantri sambil lihat pertengkaran pesumo itu dengan seorang pria. reka rasakan firasat buruk.

Di pundak pesumo itu, terlihat sesosok bayi kecil. Tetapi kalau dibilang bayi, ukurannya terlalu kecil, skipun begitu, sosoknya itu sangat nggemaskan.

Randika natap orang gemuk itu dan tidak bisa nahan diri untuk tidak nggelengkan kepalanya. Kenapa dia ada di sini?

Setelah natapnya lekat-lekat, Randika telah mastikan bahwa orang gemuk itu adalah Indra dan boneka ginseng.

Kenapa reka ada di sini? Bukankah reka seharusnya ada di desa?

Ketika Randika terlihat bingung, dia ncuri dengan perkataan orang-orang di depannya.

"Sial sekali orang gemuk itu, dia tidak tahu bahwa orang yang diajaknya bertengkar itu mantan seorang bos preman."

"Tetapi ngapain coba reka berkelahi di sini? Kalau sampai gerobak baksonya kena bagaimana?"

"Orang itu tidak peduli sama sekelilingnya, kalau dia mau, dia bisa mbunuh laki gemuk itu di sini."

"Segitu bajingannya dia?"

"Hahaha keuangannya benar-benar kuat, para polisi sudah tutup mata kalau berurusan dengan dia. Aku juga dengar 10 orang telah dia bunuh dan gantung di jalan tetapi polisi masih belum nangkap tersangkanya."

"Gila, mang uang adalah segalanya ya."

"Tetapi preman mbantai preman lain, bukankah itu juga mbantu para polisi juga? Selama dia tidak resahkan masyarakat ya polisi tetap diam dan ndapatkan setoran bulanannya."

Randika ndengarkan reka, tetapi dia masih tidak ngerti. Dia kemudian bertanya pada orang tersebut. "Ada apa ini ribut-ribut?"

Orang itu noleh dan njawab. "reka ribut karena saling dorong, tetapi sebentar lagi seharusnya selesai kok. Sudah pura-pura tidak lihat saja, nanti malah terseret."

ndengar kata-kata itu, Randika nghela napasnya.

Pada saat ini, bos preman yang bernama Ian itu berkata padanya. "Gara-gara kamu, HPku jatuh dan layarnya retak, kamu harus ganti 15 juta!"

Indra dengan polos berkata padanya. "Aku tidak punya uang."

Boneka ginseng di pundaknya juga ngangguk berulang kali seolah-olah setuju dengan perkataan Indra.

Sepertinya seiring berjalannya waktu, boneka ginseng ini semakin pintar dan semakin nyerupai manusia.

"Tidak punya uang? Apa kamu pikir mperbaiki HP ini tidak butuh uang?" Ian mperlihatkan layar HPnya yang retak. "Apa kamu tahu harga HP ini? Ini handphone keluaran terbaru, harganya tidak kurang dari 15 juta. Sekarang cepat ganti!"

Indra mbalas. "Buat apa aku nggantinya? Kamu sendiri tadi yang ndorongku dari belakang dan njatuhkannya, itu bukan salahku."

"Terlepas dari siapa yang salah, apakah itu bisa mbuat HPku ini nyala seperti dulu?"

"Tidak." Kata Indra setelah berpikir sejenak.

"Kalau begitu, cepat bayar!"

"Aku belikan kamu HP yang baru nanti." Jawab Indra.

"Aku tidak perlu yang baru, aku cuma perlu uangmu sekarang!" Kata Ian dengan wajah marah.

Indra njawab dengan hal yang sama. "Aku tidak punya uang."

Ian ndengus dingin, dia kemudian berkata padanya. "Kalau kamu tidak punya uang, benda itu seharusnya cukup untuk mbayarnya."

"Benda?" Indra natap pahanya yang gemuk itu, dia lalu berkata. "Maaf aku suka wanita, aku tidak akan mberikan bendaku ke pria."

"Bodoh! Benda yang kumaksud itu benda yang ada di pundakmu!" Ian nunjuk ke arah boneka ginseng. Dia mperhatikan boneka ginseng itu dari tadi, sepertinya itu hewan pintar yang langka. Jika dia njualnya, seharusnya bisa nghasilkan uang ratusan juta.

"Kamu ingin temanku ini?" Indra njadi takut, postur tubuhnya berubah njadi bertahan. "Aku tidak mau! Dia adalah temanku yang berharga, aku tidak akan mungkin nyerahkannya padamu!"

"Itu bukan keputusanmu!" Ian manggil beberapa pengawalnya yang ngikuti dirinya tadi. skipun dia sudah keluar dari permainan, miliki 1 atau 2 pengawal adalah hal yang wajar.

Dalam sekejap, salah satu pengawal itu nghantam tongkat kayu yang dipegangnya ke arah Indra

DUAK!

Pengawal itu natap Indra yang sepertinya sedang kebingungan, dia lalu natap tongkatnya yang patah di tangannya.

Apa yang sebenarnya sedang terjadi?

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 403: Indra dan Boneka Ginseng on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

All MILFs are Mine cover
Similar genre

All MILFs are Mine

Night_phantom ·Harem

*Caution* *TABOOCONTENT* *STRONGSEXUALCONTENT* THISCONTENTISVERYHARMFULFORANORMALPERSON'SMIND. __________________________________ LeonisaMILFlover,...

On the Path to the Great Dao cover
Trending now

On the Path to the Great Dao

Pig Nerd ·Action

【Fromtheauthorof''!】Mygrandfatherisverypeculiar.Everyday,helightsincenseforhimselfandeatscandlesinfrontofhisownancestraltablet.Thevillagersareallte...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.