Font Size
15px

Setelah nutup teleponnya dengan Christina, Randika berbaring dengan hati yang gembira. Sekarang dia mikirkan rencana haremnya.

Inggrid adalah istri pertamanya, cinta reka sudah terbukti. Safira sudah jelas ncintai dirinya sebagai lelaki. Namun, masalahnya ada pada Viona, Christina, Hannah, dan tentu saja Elva. skipun Elva tidak terlalu nunjukan kasih sayangnya, Randika percaya bahwa dari lubuk hatinya, Elva nyimpan rasa pada dirinya. Tinggal masalah waktu saja nghancurkan temboknya.

skipun haremnya ini terdengar sedikit, tetapi semuanya adalah perempuan cantik kelas atas dengan sifat dan sikap yang berbeda-beda. Randika mulai berandai-andai, bukankah nakjubkan kalau dia bangun sambil luk semua perempuan ini sekaligus?

Berhubungan badan ramai-ramai, sepertinya dia harus wujudkan impiannya ini!

Kurang dari 20 nit, pintu ruangannya kembali terbuka. Pasien sebelah Randika lihat perempuan cantik yang terpelajar makai stoking hitam, sepatu hak dan kacamata.

Ah cantik sekali! Dia berharap bahwa akan ada orang secantik dia yang ngunjungi dirinya!

Pasien ini terus natap Christina, tetapi dia lihat bahwa Christina berjalan nuju tempat Randika.

Dia lagi?! Sialan!

Pasien sebelahnya Randika ini benar-benar bingung. Satu per satu wanita cantik ngunjungi pasien sebelahnya ini. Dan sekarang, wanita cantik ala guru dosen ini ngunjunginya. Kecantikannya mbuat dirinya ingin dimarahi dan diinjak oleh sepatu haknya itu.

Lelaki ini ngutuk Randika di dalam hatinya. Dia sendiri sudah jomblo 25 tahun, dan dia bahkan belum pernah nggandeng tangan cewek sebelumnya, hidup benar-benar tidak adil.

Tentu saja, ini semua terjadi di benaknya. Lelaki ini hanya bisa lihat Christina berjalan nuju tempat tidur Randika.

Ketika lihat sosok Christina, Randika tersenyum hangat. Dia langsung mpersilahkan Christina untuk duduk.

"Kamu sakit apa? Kamu baik-baik saja kan sekarang?"

"Tintin, kamu tidak usah khawatir." Randika tersenyum. Namun, dia tiba-tiba terpikir kejadiannya dengan Viona, dia berpikir ingin ncobanya sekali lagi.

"Apanya yang tidak perlu khawatir? Kamu terbaring di rumah sakit begini, apakah sakitmu itu parah? Cepat tunjukan mana yang sakit." Christina yang sekarang benar-benar cemas.

Antusias Christina ini mbuat Randika ngangguk puas, sepertinya Christina sudah tersihir oleh ketampanannya.

"Tintin, tempatnya agak malukan." Kata Randika.

"Aku tidak peduli, cepat tunjukan ke aku." Hati Christina masih pada Randika, dia benar-benar peduli dengan pacarnya ini. skipun dia bersikap dingin pada Randika, setelah sekian lama berhubungan dan berkali-kali diselamatkan oleh Randika, pria ini miliki tempat yang spesial di hatinya.

skipun Randika sum, suka bercanda, suka berbohong padanya, seiring berjalannya waktu, dia makin nyukai Randika. Terlebih lagi, julukannya sebagai ratu es di sekolahnya ini mbuat sosok Christina terlihat dingin dan acuh tak acuh. Hanya Randika lah yang berhasil lelehkan hatinya.

"Apa kamu beneran mau tahu?" Randika ngedipkan matanya.

"Tentu saja!"

"Kalau begitu, kemarilah." Randika pura-pura terlihat malu dan ragu-ragu. Ketika Christina ndekat, Randika nunjuk sambil ngatakan. "Lukaku ada di sana."

Di sana?

Christina tidak ngerti kata-kata barusan. Tetapi ketika dia lihat Randika nunjuk selangkangannya, dia langsung ngerti maksudnya.

"Kok bisa itu terluka?" Christina mulai curiga, orang normal tidak mungkin terluka di tempat seperti itu.

"Hmm susah untuk dijelaskan." Randika nggelengkan kepalanya, wajahnya nunjukan dia sedikit malu nceritakannya.

"Sebenarnya, dokter ngatakan bahwa ada cara untuk ngobatinya. Dia ngatakan bahwa nstimulusnya akan mbuat keadaanku mbaik." Randika ngeluarkan triknya lagi!

"nstimulus?" Christina sedikit bingung.

"Benar, kamu bisa nstimulusnya untukku. Mungkin dengan itu aku bisa segera sembuh." Ketika Randika ngatakan hal ini, wajah Christina sedikit rah.

Tidak seperti Viona, dia langsung mahami arti dari kata-kata Randika ini.

Ketika mikirkannya, Christina duduk tepat di samping Randika. "Apakah aku harus lakukannya sekarang?"

Ketika ndengar jawaban itu, Randika cukup terkejut bahwa Christina langsung setuju. Randika dengan senang hati langsung berdiri dan berkata. "Kalau begitu, lebih baik kita lakukannya di kamar mandi."

Christina curiga dengan wajah Randika yang sehat-sehat saja itu, bahkan dia terlihat bersemangat. "Apa kamu beneran sakit?"

"Tentu saja, kamu nanti bisa lihatnya sendiri." Jawab Randika.

Ketika ndengar hal itu, Christina nghela napasnya. mang dia hanya bisa mastikannya di tempat yang sepi.

"Lebih cepat lebih baik, aku tidak ingin orang-orang curiga." Kata Randika.

Christina belum berkata apa-apa tetapi dia sudah ditarik oleh Randika ke kamar mandi. Ketika mau mbuka pintu kamar mandinya, tiba-tiba seorang perawat negurnya.

"Mau ke mana kamu?" Perawat itu ngerutkan dahinya. "Cepat tiduran lagi. Aku sebentar lagi akan mberimu obat untuk diminum jadi jangan ke mana-mana. Lagipula, bukankah dokter juga ngatakanmu jangan terlalu bergerak dulu? Nanti luka di area jantungmu itu bisa terbuka lagi, kami tidak mau bertanggung jawab ketika itu terjadi."

Jantung?

Ketika ndengar hal ini, rasa curiga Christina benar-benar terbukti. Dalam sekejap dia natap Randika.

Dia mbohongi dirinya!

Sialan, perawat ini nghancurkan rencanaku!

Wajah Randika nunjukan rasa depresi yang berat. Ketika dia natap si perawat, dia ditatap balik dan diseret. "Sudah jangan lawan, cepat tidur lagi."

Benar-benar kejam, tetapi Randika tidak bisa lawan.

"Tolong patuhi kata-kata dokter, penyakitmu itu juga bukan penyakit sepele karena libatkan jantung. Kami tidak ingin kamu ngalami apa-apa."

Ketika perawat itu pergi, mata jernih Christina natap Randika lekat-lekat. Dia ncopot kacamatanya dan berkata dengan nada datar. "Bukankah katamu lukamu itu di bagian selangkangan?"

"Tentu saja! Sepertinya kamu salah mahami kata-kata perawat itu tadi." Randiak pura-pura terlihat tidak bersalah.

"Oh?" Wajah Christina terlihat tersenyum. "Sejujurnya aku ingin mbantumu cepat sembuh tetapi perawat tadi nyuruhmu untuk tidur dan minum obatmu, jadi aku tidak perlu lagi mbantumu."

"Jangan! Itu saja tidak cukup untuk nyembuhkanku, kamu harus mbantuku atau aku akan terus di rumah sakit!" Randika njadi panik. Christina tadi telah setuju untuk mbantunya, dia tidak akan lepaskan kesempatan ini.

"Tetapi perawat itu ngatakan penyakitmu itu di jantung, jadi aku tidak bisa apa-apa." Nada Christina ninggi dan tatapan tajam mbuat Randika sedikit rinding.

Christina tidak percaya bahwa dirinya hampir ketipu, dia nghela napas yang panjang.

"Karena kamu sudah baik-baik saja, aku tidak perlu lagi di sini. Aku harus pergi ke konser." Christina tersenyum dan berniat untuk pergi.

"Tintin! Jangan tinggalkan aku!" Randika rasa sedih.

Namun, Christina berbalik dan berjalan nghampirinya. Dia lalu berbisik di telinganya. "Ketika kamu sudah sehat dan keluar dari rumah sakit, kamu harus nemaniku ke konser dan aku akan rawatmu di rumahku."

Setelah itu, dia ncium bibir Randika dan pergi begitu saja.

Randika natap punggung Christina yang njauh, hatinya benar-benar panas. Dia benar-benar ingin segera keluar dari rumah sakit, godaan ini benar-benar terlalu besar!

Dia belum pernah lakukannya dengan seorang guru, sepertinya roleplay sangat cocok untuk reka berdua.

Ketika mikirkan hal-hal indah yang akan reka lakukan, Randika njadi bersemangat!

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 402: Trik yang Sama, Hasil yang Sama on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Top-tier Unruly Master cover
Trending now

Top-tier Unruly Master

Be Qin Sanchi ·Other

WhenDingFanopenedhiseyesagain,everythingbeforehimhadchanged.ACultivatorrebornonEarth,hefoundhimselfinthedespisedbodyofadisgracedheir.Fistsstrikinga...

Tycoon War God cover
Trending now

Tycoon War God

Once Young ·Other

Inhispreviouslife,LinMuwasthetopassassinonEarth.HeaccidentallytraversedtotheEternalImmortalRealm,where,overthespanofeighthundredyears,hecultivatedf...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.