Font Size
15px

Randika cukup terkejut ketika ndengarnya, berarti dia sudah bisa dipastikan tewas jika tidak miliki kekuatan misterius di dalam tubuhnya?

skipun begitu, Randika sangat mahami betapa ngerikan konsekuensi kekuatan misterius ini untuk tubuhnya. Setiap dia makainya, dia rasakan tubuhnya terbebani. Jika diumpamakan dalam ga, setiap dia nyerang dengan kekuatan 1000, HP miliknya berkurang 800.

Jika dia tidak dapat nemukan cara untuk ngendalikannya, Randika takut bahwa suatu saat nanti, tubuhnya akan ledak dan dikuasai oleh kekuatan misteriusnya.

Elva masih asyik makan pisangnya, sentara Randika terus bertanya. "Tetapi aku tidak nyangka kamu akan begitu khawatir denganku. Sebagai ucapan terima kasih, bagaimana kalau kita check in di hotel? Aku dengan senang hati mberikan kamu waktu terbaik di dalam hidupmu."

"Kamu masih bersikap sum walaupun tubuhmu seperti ini?" Elva terlihat tersenyum tetapi di dalam hatinya amarahnya sudah muncak.

"Tentu saja, apa kamu kira aku tidak bisa lakukannya? Mari kita buktikan, tetapi aku tidak yakin pertarungan kita akan selesai dalam 2 jam saja." Kata Randika dengan nada bangga.

"Oh ya?" Elva mperhatikan Randika dari atas hingga ke bawah. Randika mberikannya sebuah senyuman yang hangat. Tiba-tiba, Elva rasakan tanda bahaya dan berusaha nghindar.

Tetapi, gerakannya ini benar-benar terlalu lambat. Tangan kanan Randika berhasil nangkap pinggang Elva.

Tetapi ketika dia lakukannya, Randika sadar bahwa kecepatannya ini jauh lebih lambat daripada biasanya.

Randika yang teralihkan ini njadi lengah, dia segera ngangkat tangan kirinya untuk ncegah serangan Elva.

Ujung jari Elva berhenti tepat di leher Randika, jika dia bergerak sedikit lagi, dia bisa mbunuh Randika di tempat.

"Masih rasa kuat?" Elva narik kembali tangannya. Wajahnya tanpa ekspresi tetapi darahnya itu sudah ndidih. Biasanya dialah yang njadi korban, tetapi hari ini Randika lah yang njadi mainannya.

Randika terlihat sedih dan lemas. "Pertarungan yang kumaksud bukan pertarungan yang seperti ini."

"Aku tidak peduli dengan maksudmu, kamu cuma pria lemah sekarang." Elva ndengus dingin.

Sialan!

Randika tidak rasa terhina, lagipula yang nghinanya adalah wanita cantik. Mungkin sesekali njadi masokis tidak masalah.

Tetapi lain kali, dia akan robek baju dan celananya, nalinya di atas tempat tidur dan bermain dengan tubuhnya semalaman.

Randika tertawa dalam hati ketika Elva tiba-tiba berkata. "Sejujurnya, kamu nghabisi keluarga Alfred di Jakarta kapan hari bukanlah langkah yang bagus."

Mata Randika berkedip. "Kamu tahu tentang masalah ini?"

"Hum." Elva ndengus dingin. "Arwah Garuda sudah ngawasimu sejak dulu, mustahil aku tidak informasi penting seperti ini."

Randika hanya tertawa, dia tidak njawab sama sekali.

"Apa kamu tahu masalah apa yang kamu bawa?" Elva natap tajam Randika.

"Aku tidak tahu." Kata Randika. Tetapi di dalam hatinya, dia rasa cuek. Kenapa mangnya mbantai satu keluarga? Toh reka yang cari gara-gara duluan.

Elva nghela napasnya. "Masalahnya kamu tidak mbantai semua anggota keluarga Alfred. Tindakanmu itu hanya mbawa masalah yang lebih besar."

Oh!?

Jadi yang dimaksud oleh Elva adalah Tom dan Anna yang masih buron itu?

Randika terlihat sedikit senang. "Jadi kamu diam-diam sudah mbantuku?"

"Hum." Elva tidak njawab, dia hanya njelaskan. "Aku sudah ngatur orang untuk ngikuti Tom dan Anna. Aku akan mberitahumu ketika dia masuki Indonesia lagi."

"Elva, kamu mang wanita cantik yang dermawan." Kata Randika dengan wajah serius.

"Apa?" Elva masih tidak berhenti ngambil buah yang ada di ja. Buah-buah ini dibeli Hannah untuknya, tetapi perempuan satu ini sudah nghabiskan hampir semuanya.

"Aku tahu bahwa kamu ncintaiku." Kata Randika. Elva hanya bisa mbeku di tempat.

Wajah Elva langsung berubah njadi marah dan tatapannya benar-benar tajam. Siapa yang mangnya suka sama kamu? Jangan jadi sentintal seperti it, jijik tahu!"

"Tetapi perhatianmu itu nurutku benar-benar spesial." Kata Randika sambil tersenyum. "Sejujurnya, aku juga sangat nyukaimu dari dulu. Aku suka pantatmu yang keras dan kencang itu, temperanmu juga dingin dan keras bagaikan seorang ratu. Sepertinya, permainan BDSM cocok untuk kita!"

"Kamu ngomong apa?" Elva sudah naik darah, tetapi di dalam hatinya dia sudah panik.

"Kata-kataku sudah jelas. Aku hanya ingin kamu njadi pacarku, kita bisa hidup bahagia bersama." Kata Randika dengan nada yang malu-malu.

"Berani sekali kamu nggodaku!" Elva dengan cepat nyerang Randika, hal ini mbuat Randika sedikit takut.

"Stop, stop! Aku ini masih sakit tahu, jika lukaku tambah parah, kamu harus bertanggung jawab!" Teriak Randika.

"Hum." Elva ngambil kembali tangannya. Kali ini Randika tidak bisa berhenti ngomong. "Terkadang sikap cuekmu ini imut. Bahkan jika kamu ingin nyerangku, aku sarankan kamu makai cambuk sambil neteskan lilin di tubuhku. Sakit tapi enak!"

Elva rasa bahwa dia bisa njadi gila jika terus-terusan berada di sini, dia langsung berkata. "Aku pergi!"

"Titip salamku pada Safira ya! Katakan aku baik-baik saja." Kata Randika.

Setelah Elva pergi, Randika kembali nghela napasnya. Hari ini benar-benar rupakan hari yang sial. Dia tidak nyangka dua perempuan cantik bisa lepas dari genggamannya. Harus aku apakan agar reka ngerti perasaanku?

Pada saat ini, tiba-tiba HP Randika berbunyi.

"Ran, apa kamu hari ini bebas? Aku ada tiket konser nih, ayo pergi sama-sama." Kata Christina di balik telepon.

"Maaf, tapi aku lagi sakit dan dirawat di rumah sakit. Mungkin kamu bisa pergi sama temanmu yang lain?" Hati Randika tersenyum pahit.

Ketika ndengar hal ini, nada Christina langsung njadi panik. "Apa? Kenapa kamu bisa dirawat di rumah sakit? Kamu sakit apa? Apakah kamu baik-baik saja? Cepat katakan rumah sakit mana, aku akan datang njengukmu."

Pertanyaan yang bertubi-tubi ini mbuat telinga Randika sakit, tetapi dia dapat rasakan kekhawatiran Christina dari balik telepon. Sepertinya Christina sudah sangat ncintainya.

"Kondisiku sudah baik-baik saja, seharusnya aku bisa pergi ke konser sama kamu setelah beberapa hari ke depan. Sebentar, sebentar, jangan-jangan konser yang kamu maksud tiba-tiba band rock ya?" Kata Randika sambil tertawa.

"Sudah cepat katakan rumah sakit yang mana." Christina tidak terpengaruh dengan pengalihan topik Randika.

"Apa kamu beneran mau datang?" Randika kehabisan kata-kata.

"Kamu sedang sakit, mana mungkin aku tidak njengukmu!" Kata Christina dengan nada serius, dia lalu nambahkan. "Lagipula, aku pacarmu bukan?"

Pacar?

Hati Randika langsung njadi bersemangat. skipun dia belum lakukan apa-apa pada Christina, hubungan reka sudah pasti lebih dari teman. Dia tidak nyangka bahwa Christina sendiri yang negaskan hubungan reka.

Ketika dia mikirkan Viona, Randika nghela napas. Dia awalnya berpikir akan ndapatkan hati Viona terlebih dahulu, rupanya yang takluk duluan adalah Christina!

"Aku ada di Rumah Sakit Bunda Terkasih, rumah sakitnya ada di bagian timur kota." Randika juga mberitahu kamar nomor berapa dia berada. Setelah itu, Christina nutup teleponnya sambil ngatakan. "Tunggulah aku."

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 401: Pacar Baru! on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.