Font Size
15px

Karena kamarnya ini berbagi dengan pasien lain, reka mutuskan untuk lakukannya di bawah selimut. Setelah mastikan tidak ada yang lihatnya, Viona ngulurkan tangannya ke bawah selimut.

Randika tersenyum lebar. lihat wajah malu Viona yang sekarang, dia tidak bisa mbayangkan bagaimana betapa rahnya wajahnya nanti ketika dia nindihnya di atas tempat tidur.

Dibandingkan dengan istrinya, sifat Viona ini benar-benar polos dan pemalu.

Tangan Viona mulai nyentuh paha Randika dan mulai beranjak ke bagian selangkangan.

Untuk mbantu Viona, Randika sudah duduk dengan tegak dan nutupi sisinya dengan bantal. Dengan ini orang-orang tidak dapat lihat apa yang reka lakukan.

Hati Viona benar-benar bergetar, wajahnya sudah serah tomat. Di selangkangan Randika, ada semacam sosis yang panas. Dia langsung teringat dengan adegan terakhir di rumahnya.

"Vi" Randika manggilnya agar dia dapat mulainya. Dengan tekad yang bulat, tangan Viona mulai bergerak. Benda itu makin panas dan makin mbesar.

skipun Randika masih makai celananya, dia dapat rasakan sensasi dari tangan Viona. Sensasi aneh ini mbuatnya lebih terangsang daripada tidak makai celana. skipun dia ingin Viona gangnya secara langsung, bisa gawat kalau dia nodai selimut rumah sakit.

Jantung Viona berdebar kencang, sepertinya dia rasa bahwa dirinya telah dilihat oleh pasien sebelah.

Ketakutan ini dan keinginan mbantu Randika bercampur aduk di dalam hatinya dan mbuat jantungnya berdebar kencang.

Benar-benar negangkan.

Tetapi tanpa diduganya, dia mulai nikmatinya.

Beberapa kali ncoba, Viona belum pernah nyentuh milik Randika.

Dan sekarang dia nyentuhnya di tempat umum!

Randika sudah tidak tahan lagi, dia ingin Viona lebih cepat lagi nggosoknya. Tetapi tiba-tiba, seorang dokter dan beberapa perawat masuk dan mbuka tirai reka.

"Pasien Randika."

Perawat itu berkata pada si dokter dan mberikannya dokun terkait. Hal ini langsung mbuat takut Viona dan langsung narik tangannya dengan cepat.

SIALAN!!

Randika benar-benar kehabisan kata-kata. Lagi-lagi dia diganggu di saat paling krusial. Namun ketika lihat dokter dan para perawat itu, dia tidak punya hak untuk marah.

reka hanya lakukan pekerjaan reka.

Tetapi berhenti di tengah-tengah seperti ini mbuat hati Randika tidak nyaman. Selangkangannya itu terasa sesak dan panas.

Dan Viona yang berwajah rah itu segera berdiri dan mberikan tempat agar si dokter dapat riksa Randika.

"Tidak apa-apa, kamu bisa duduk. Aku hanya datang untuk lihat keadaannya." Kata si dokter sambil tersenyum.

Viona bahkan tidak berani lihat wajah si dokter, dia benar-benar malu hampir kepergok seperti ini. Jika mikirkan hal yang barusan terjadi, itu benar-benar malukan baginya.

Beberapa perawat minggir dan berdiri di sisi ranjang, sedangkan si dokter riksa denyut jantung Randika dan lakukan beberapa tes sederhana lainnya. Setelah ngetahui bahwa semuanya normal, dia minta Randika untuk ngangkat bajunya.

Di samping, Viona natap dengan curiga. Buat apa mbuka bajunya? Bukankah yang sakit ada di selangkangan?

Randika mbuka bajunya dan si dokter riksa luka pisau di daerah sekitar jantungnya, rupanya lukanya itu sudah nutup sempurna. Mungkin 2-3 hari lagi dia bisa sembuh total.

"Aku sudah njadi dokter berpuluh-puluh tahun, aku tidak pernah nemukan pasien sekuat dan sesehat kamu." Dokter itu muji. "Jantungmu baru saja tertusuk pisau dan kamu sudah sembuh sekarang. Aku tidak tahu keajaiban apa ini, ini benar-benar lampaui dunia dis."

Dokter itu terlihat kagum dengan Randika, dia mulai nceritakan apa yang boleh dan tidak boleh Randika lakukan beberapa hari ke depan. Ketika ndengar hal ini, Viona makin bingung.

Tunggu, tunggu, jantung? Bukankah yang terluka itu selangkangannya?

Viona benar-benar bingung.

"Bagaimana rasanya tubuhmu? Apakah jantungmu ndadak suka berdebar-debar?" Tanya si dokter.

"Tidak ada kendala sama sekali. Aku rasa sehat!" Jawab Randika.

Perawat di samping langsung ncatat perkataan reka. Setelah beberapa pertanyaan, si dokter ngatakan. "Dua hari lagi, aku akan riksa kembali luka operasimu itu. Jika tidak ada masalah, kamu bisa pulang."

"Terima kasih." Kata Randika sambil tersenyum.

Di samping, Viona akhirnya mberanikan diri untuk bertanya. "Dokter, apakah lukanya baik-baik saja?"

"Tentu saja, bahkan jantungnya itu jauh lebih kuat daripada orang normal!" Jawab si dokter dengan bersemangat.

"Jadi Randika ini terluka di jantungnya?" Ketika nanyakan hal ini, mata Viona tertuju pada apa yang ada di balik selimut. Sepertinya dia sudah mahami apa yang sebenarnya telah terjadi. Sedangkan Randika, dia hanya tersenyum ke arahnya.

"Benar, tetapi jantungnya ini sudah tidak apa-apa, dia sudah sehat seperti semula." Si dokter njawab dengan sabar pertanyaan Viona. Setelah tidak ada pertanyaan lagi, si dokter kembali berkeliling lagi bersama para perawatnya.

Sekarang, suasana keduanya ini njadi canggung. Randika duduk di kasurnya sedangkan Viona masih berdiri dalam keadaan diam.

Dalam beberapa saat, keduanya hanya terdiam.

"Ran" Akhirnya Viona lah yang berbicara duluan.

Dengan cepat, Randika nyelanya. "Vi, barusan bagian bawahku itu benar-benar sakit!"

"Ran" Tatapan Viona makin tajam.

"Vi, aku tidak bohong! Kamu harus percaya aku!"

"Ran" Tatapan Viona setajam silet.

"Vi, ini cuma salah paham."

"Ran! Kamu bohong lagi sama aku!" Teriak Viona.

"Mananya yang bohong? Bagian bawahku ini benar-benar lemas, aku butuh bantuanmu agar bisa nyembuhkannya!"

"Ran!" Viona tersipu malu, dia lalu berjalan nuju pintu keluar dengan wajah acuh tak acuh.

"Viona!" Randika yang tak berdaya ini hanya bisa lihat punggung Viona nghilang.

....

Setelah Viona pergi, Randika masih berhati gembira. skipun dia baru saja bertengkar dengan Viona, ini rupakan pengalaman baru.

Tetapi tidak lama setelah itu, pintu ruangannya kembali terbuka. Kali ini, perempuan berbaju serba hitam yang muncul. Penampilannya acuh tak acuh dan mbawa sensasi dingin.

"Aku tidak nyangka kamu selemah itu."

Elva duduk di sampingnya. Dia natap Randika yang makai baju pasien rumah sakit ini dan mperlihatkan tatapan yang penuh ironi. "Aku tidak nyangka pisau kecil itu bisa nyakitimu."

Mata Randika terbelalak. Perempuan ini cari gara-gara atau ingin berkunjung?

"skipun aku terluka seperti ini, aku tidak keberatan kamu bermain dengan adikku yang sehat ini."

Bermain dengan adik?

Elva terlihat bingung beberapa saat, tetapi akhirnya dia nyadari kata-kata Randika barusan. Dia terlihat marah dan natap tajam Randika.

Tetapi Randika adalah orang yang berkulit tebal, dia tidak peduli dengan tatapannya itu.

"Aku datang ke sini karena disuruh oleh Safira untuk lihat kabarmu. Karena kamu masih bernapas, sepertinya kamu baik-baik saja." Kata Elva dengan dingin. Dia lalu lihat pisang yang ada di samping kasur Randika, dia ngambilnya dan mulai makannya.

Randika cukup terkejut, kata-kata Elva ini terdengar sama sekali tidak peduli dengannya.

"Bukankah kata-katamu itu terlalu berlebihan? Aku cuma tertusuk pisau sedikit, ini bukan hal yang parah." Kata Randika dengan wajah muram.

"Pisau tertancap di dada, 2 cm dari jantung. Pembuluh darah tidak karuan, otot dan saraf rusak parah. Tulang dan seluruh tubuhnya nunjukan tanda-tanda lumpuh." Kata Elva dengan wajah dingin. "Aku masih heran kenapa kamu tidak mati saja."

Lukanya ini benar-benar serius?

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 400: Lagi-lagi Diganggu on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.