Font Size
15px

Pertempuran antara Hannah dan Randika berakhir dengan kenangan Hannah, Randika terus nerus minta maaf pada adik iparnya ini.

Pada saat ini, Randika tiba-tiba nyadari ada sesosok orang di depan pintu. Dia lalu nyuruh Hannah sambil tersenyum. "Han, tolong belikan aku minuman dingin."

"Baiklah." Hannah dengan cepat nuju kantin di bawah.

Setelah Hannah pergi, Jin masuk ke dalam. Dia awalnya ingin berlutut tetapi Randika ncegahnya.

"Duduklah."

Ketika Jin sudah duduk, Randika bertanya. "Bagaimana situasinya?"

"Serigala mbawa kabar bahwa target telah lama ninggalkan kota, sepertinya reka terbang nuju Jerman." Jawab Jin.

Jerman?

"Apakah ada cara untuk ngejar reka sampai ke Jerman?" Tanya Randika.

"Sayangnya itu mustahil tuan. Jerman tidak berada di wilayah kekuasaan kita, lagipula kita juga masih kekurangan sumber daya untuk ngejarnya." Jawab Jin dengan hormat.

Randika hanya ndengarkan dan tidak berbicara sama sekali.

"Terlebih lagi, Dion nemukan bahwa masih ada sisa-sisa kekuatan keluarga Alfred di Jakarta. Dia sudah nyusun rencana untuk nghabisi reka dalam satu gerakan."

"Jangan biarkan ada yang hidup."

Keluarga Alfred, selama ada satu orang yang masih hidup, Randika akan segera ngirimkan reka ke alam baka.

Setelah Jin keluar, Randika berpikir dengan keras. Sejauh yang dia ingat, Bulan Kegelapan berada di Arika dan sedang bersembunyi. Sedangkan Tom dan Anna larikan diri ke Jerman, sangat mustahil bagi reka berdua untuk nggunakan kekuatan reka yang ada di Jakarta.

Yuna sendiri juga sedang mbangun jaringan intelijensi di kota-kota penting di Indonesia. Sepertinya Randika harus mintanya untuk musatkan seluruh perhatiannya pada kota Cendrawasih, kasus keracunan Tom ini tidak boleh terulang lagi.

Untuk saat ini, dia harus ngandalkan anak buahnya selagi mulihkan diri. Terlebih lagi, kekuatan misterius di dalam tubuhnya itu makin ganas dan tenaga dalamnya terus dihisapnya. Kekuatan Randika bisa-bisa habis!

Hati Randika cukup khawatir, kekuatan misteriusnya ini benar-benar kuat dan liar, dia sama sekali tidak bisa ngendalikannya. Jika ini terus terjadi, tenaga dalamnya akan tersingkirkan dan dia bisa-bisa tertelan olehnya.

Terlebih lagi, dia makai mode Berserknya terlalu banyak dalam sehari. Dia harus nggunakan tenaga dalamnya itu untuk nekan kembali kekuatan misteriusnya yang mbanjiri tubuhnya. Jika tenaga dalam ini hilang, Randika tidak tahu apakah tubuhnya bisa nanggung beban seberat itu,

Sepertinya dia butuh waktu seminggu atau lebih agar tenaga dalamnya bisa pulih seperti dulu.

Tidak lama kemudian, para dokter datang dan ngecek keadaan Randika. reka cukup terkejut ketika lihat sosok Randika yang baik-baik saja. Dia baru saja ngalami operasi besar, dan sekarang dia sudah baik-baik saja?

Setelah pengecekan yang teliti, reka sudah mastikan bahwa Randika baik-baik saja dan sudah lewati tahap krisis. Namun, untuk jaga-jaga, dia dianjurkan untuk nginap lebih lama dan lakukan beberapa periksaan.

Jadi selama sepuluh hari ke depan, Randika tinggal di rumah sakit.

Besok paginya, Randika terbangun dan nyadari bahwa dia sendirian. Inggrid hari ini bekerja dan Hannah perlu ngerjakan sesuatu, jadi hari ini dia sendirian sampai malam nanti.

Namun tiba-tiba, Randika rasakan bahwa ada seseorang bersembunyi di balik pintu. Ketika dia lihat sosoknya, Randika terkejut. Penampilan perempuan ini sangat cantik dan makai dress rah yang ncolok. Ketika kedua bola matanya yang hitam dan bundar itu natap dirinya, matanya langsung berbinar-binar.

"Viona?" Randika benar-benar terkejut. Bagaimana bisa Viona tahu bahwa dia sedang dirawat di rumah sakit? Terlebih lagi, kenapa dia tahu bahwa dirinya berada di kamar ini?

"Hannah yang mberitahuku." Wajah Viona sedikit rah, dia berjalan nuju samping Randika. "Ran, apa kamu baik-baik saja?"

Hannah?

Sepertinya adik iparnya itu khawatir kalau Randika nghabiskan harinya sendirian, dia berinisiatif untuk ngabari Viona. Dan Hannah ngabari Viona kemarin malam saat dia pulang.

Sepertinya tujuan haremnya sebentar lagi akan terwujud.

Randika tersenyum dan lihat wajah khawatir Viona, dia tidak bisa nahan diri untuk berkata. "Apa kamu rehkanku? Aku ini benar-benar kuat! Tidak tertandingi hahaha!"

"Bohong" Viona neteskan air matanya. "Kalau kamu kuat, kenapa kamu bisa sampai terluka seperti ini?"

"Ini cuma kecelakaan." Randika tertawa. lihat bibir rah dan mungil Viona, Randika rasa gejolak tubuhnya mulai ngambil alih dirinya.

Sepertinya tubuhnya rindukan sensasi nikmat dari berhubungan badan, toh akhir-akhir ini dia juga tidak sempat lakukannya dengan Inggrid.

Ketika ndengar tawa itu, wajah Viona masih terlihat khawatir. "Ran, kamu sakit di mananya?"

Randika awalnya ingin berkata bahwa lukanya itu tidak terlalu serius, tetapi dia ndapatkan ide dan ngubah kata-katanya. "Vi, sebenarnya aku masih sangat sakit, kata dokter lukaku ini sangat sulit disembuhkan."

Wajah Randika perlahan terlihat pucat, Viona langsung nggenggam tangan Randika.

"Ran, aku akan selalu njagamu." Kata Viona dengan wajah serius. "Di mana kamu rasa sakit?"

Wajah Randika terlihat kesusahan berbicara. "Vi, sebenarnya posisi lukanya itu sedikit malukan, tetapi rasa sakitnya benar-benar luar biasa."

"Di mana sakitnya?" Wajah Viona sedikit bingung, reaksi imutnya ini mbuat Randika ingin nindihnya.

"Vi, lukaku ada di tempat paling berharga seorang laki-laki." Kata Randika.

"Ah?" Viona terkejut bukan main, bahkan suaranya itu nggema ke luar ruangan.

"Ran, bagaimana kamu bisa ndapatkan luka itu?" Wajah Viona sudah tersipu malu, dia tidak nyangka Randika akan terluka di bagian itu. Bagi seorang pria, tentu ini sebuah masalah yang serius.

Randika nghela napasnya. "Aku benar-benar tidak berdaya waktu itu, aku sama sekali tidak bisa nghindar."

"Apakah kondisimu sudah mbaik?" Ketika ngajukan pertanyaan ini, tanpa sadar dia lihat bagian bawah Randika dengan wajah penasaran.

Randika nggelengkan kepalanya. "Aku tidak bisa rasakan apa-apa di bawahku."

"Apa kata dokter?" Wajah Viona seperti sedang terbakar.

"Kata dokter hanya ada satu cara nyembuhkannya." Kata Randika. "Tetapi tode itu kurang etis."

"Ran, kalau sudah masalah seperti ini, kita tidak perlu mikirkan hal semacam itu. Yang penting kamu sembuh dulu." Jawab Viona.

"Kalau begitu, aku butuh bantuanmu." Wajah Randika terlihat sedikit malu-malu.

"Aku?" Viona terlihat terkejut. "Bagaimana caranya aku bisa mbantu?"

Randika ngangkat kepalanya, dan natapnya. Setelah mastikan lingkungannya oke, dia berkedip. "Vi, kemarilah."

Viona ndekati Randika.

Kemudian dengan lembut Randika berkata. "Vi, satu-satunya cara adalah nstimulasinya dengan tanganmu."

Stimulasi?

Viona terdiam beberapa saat, namun reaksi perempuan satu ini sudah ketebak. "Ran, bagaimana caranya aku nstimulasinya?"

"Tentu saja, kamu gangnya dengan lembut. Nanti aku tunjukan caranya."

Viona ragu-ragu, bagaimanapun juga, ini adalah rumah sakit. lakukan hal sevulgar ini benar-benar malukan skipun untuk nyembuhkan penyakit.

"Vi, aku tahu ini sulit untukmu, tetapi tidak ada cara lain lagi." Randika nghela napasnya, wajahnya terlihat seolah-olah harapannya telah sirna.

Kadang Randika sendiri heran, kenapa dia tidak jadi aktor saja.

"Ran, aku ingin mbantumu, tetapi ini rumah sakit." Kata Viona di telinga Randika.

"Kamu tidak perlu khawatir, orang-orang tidak akan nyadari apa yang kita lakukan ini." Kata Randika dengan nada yakinkan.

Setelah ragu-ragu sesaat, Viona ngangguk.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 399: Aku Butuh Bantuanmu! on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

On the Path to the Great Dao cover
Trending now

On the Path to the Great Dao

Pig Nerd ·Action

【Fromtheauthorof''!】Mygrandfatherisverypeculiar.Everyday,helightsincenseforhimselfandeatscandlesinfrontofhisownancestraltablet.Thevillagersareallte...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.