Font Size
15px

"Sayang, kenapa kamu ada di sini?" Randika dengan cepat ngambil kembali tangannya yang ada di dadanya Hannah dan langsung ngalihkan topik. Hannah juga berbalik dan natap Inggrid.

"Kamu terluka begini, mangnya aku bisa diam di rumah?" Inggrid berjalan ke sisi ranjang dan berkata pada Hannah. "Han, kamu pasti capek hari ini, bagaimana kalau kamu istirahat dulu?"

Jantung Hannah masih berdebar kencang, pengalamannya ini belum pernah dia rasakan sebelumnya.

"Baiklah, aku akan beli air minum dulu." Jawab Hannah sambil tersenyum.

Inggrid lalu duduk di samping Randika dan gang tangannya, dia berkata dengan nada yang pelan. "Kamu tidak boleh seperti ini lagi."

lihat kekhawatiran yang dimiliki oleh Inggrid, hati Randika tergerak. Istrinya ini selalu ada untuknya.

Apa yang paling penting di kehidupan ini? Tentu saja pasangan yang berjalan bersama kita baik di saat buruk ataupun baik.

Inggrid berada di peringkat teratas di hati Randika, dialah istri pertamanya ketika dia sampai di Indonesia ini. skipun pertemuan pertama reka tidak masuk akal, akhirnya reka saling ncintai satu sama lain seiring berjalannya waktu.

"Kamu lapar?" Inggrid ngeluarkan sebuah kotak bekal dari dalam tasnya.

"Wah, apakah istriku ini masak untukku? Sepertinya enak nih." Tatapan mata Randika berbinar-binar.

Kemampuan masak Inggrid perlahan terus ningkat, dari tidak enak sekarang sudah njadi enak.

"Ini sup ayam. Perutmu pasti kaget kalau makan makanan berat jadi aku pikir lebih baik kamu makan makanan yang hangat." Jawab Inggrid.

Randika ngendus supnya dan aroma nikmat segera masuki hidungnya. Dia segera ingin ncicipinya, dia langsung ngambil sesendok penuh. Tetapi ketika cairan itu masuk ke tubuhnya, dia langsung muntahkannya.

"Kenapa? Apa tidak enak?" Tanya Inggrid dengan khawatir.

Randika ngusap mulutnya dan berkata sambil tersenyum. "Sayang, apa ada bahan lain yang kamu tambahkan ketika masak?"

"Iya." Inggrid ngangguk. "Aku tambahkan obat-obatan Cina ke dalamnya, kamu habis kehilangan darah jadi aku ncampurkan banyak tanaman herbal yang bagus buat kamu."

Obat-obatan Cina?

Randika agak tertegun, kalau cuma itu saja seharusnya rasanya tidak akan sepahit ini.

"Aku juga nambahkan ginseng, buah-buahan" Setelah nyebutkan semuanya, Inggrid bertanya dengan santai. "Setelah makan sup ini, seharusnya tubuhmu pulih seperti semula!"

Pantas saja pahit! Istrinya ini nambahkan banyak bahan tanpa mikirkan rasa sama sekali!

Sepertinya istrinya ini benar-benar khawatir pada dirinya sampai-sampai otaknya agak sakit.

Randika terlihat depresi, Inggrid nyadari ini dan berkata padanya. "Kalau kamu tidak mau ya tidak apa-apa, aku bisa beliin kamu makanan yang lain di kantin bawah."

"Jangan begitu, kamu sudah susah payah mbuatnya, mana mungkin aku tidak makannya?" Kata Randika dengan nada yang lembut. "Sudah sini, aku habiskan ya?"

Tetapi sejujurnya, tubuh Randika sudah pulih seperti dulu. Asalkan dia istirahat beberapa waktu, tubuhnya akan kembali kuat seperti sebelumnya.

ndengar kata-katanya ini, Inggrid tersenyum lebar seperti anak kecil.

Randika dan Inggrid ngobrol beberapa waktu. Setelah ngetahui suaminya ini baik-baik saja, hati Inggrid benar-benar lega. Ketika Hannah kembali, Inggrid berdiri dan siap-siap untuk pergi.

Setelah Inggrid pergi, Randika natap panci berisikan sup pahit itu. Dia tidak berani makannya lagi, dia nghabiskan setengah panci itu dengan susah payah.

"Kak, apa yang dikatakan oleh kak Inggrid?" Tanya Hannah sambil tersenyum.

"Dia ngatakan kalau kamu harus njagaku dengan baik." Randika juga tersenyum.

Setelah terdiam beberapa saat, Hannah berkata dengan nada yang serius. "Tentu saja."

"Baguslah kalau begitu." Randika ngangguk dan tersenyum. "Nah sekarang, aku kebelet pipis, bantu aku pergi ke kamar mandi."

"Ah?" Hannah benar-benar tercengang, wajahnya dengan cepat njadi rah. Kenapa kakaknya bisa sevulgar ini?

"Kenapa Han? Bukankah kamu bilang kamu akan ngurusku dengan benar?" Kata Randika sambil tersenyum.

"Ini Itu" Hannah hanya bisa tersipu malu. Pada akhirnya, dia mbulatkan tekad dan berkata. "Baiklah, aku akan mbantumu pipis."

Wow, Randika tidak nyangka dia akan setuju!

Randika yang cukup terkejut itu langsung berusaha berdiri dengan bantuan Hannah, kemudian reka berjalan perlahan nuju kamar mandi.

Kamar mandi di rumah sakit ini cukup bagus, cukup besar dan bersih.

Hannah rasa hatinya berkecamuk dengan hebat ketika lihat dudukan toilet itu. Namun pada saat ini, tiba-tiba Randika ngerang kesakitan. ndengar hal ini, Hannah langsung mbuang rasa malunya dan bertekad untuk mbantu Randika hingga selesai.

Ah? Randika tidak bisa mbuka resleting celananya!

Ah?

Apa?

Kepala Hannah natap ke bawah, apakah ini artinya dia harus mbantu kakaknya untuk pipis?

Wajah Hannah tidak bisa berubah njadi lebih rah lagi.

Randika tertawa dalam hati, sepertinya dia sangat puas nggoda adik iparnya ini. Bagaimanapun juga, dia tidak bermaksud sampai sejauh itu. Tetapi nggoda Hannah yang pemalu ini benar-benar nyenangkan.

Tentu saja, dia tidak akan mbiarkan Hannah mbuka celananya. Jika dia sampai tahu bahwa dia pura-pura, bisa-bisa dirinya dibunuh olehnya.

Ketika Randika hendak mbuka mulutnya, Hannah tiba-tiba nggertakkan giginya dan mbulatkan tekadnya. Dia mbalikkan kepalanya dan tangan putihnya itu ngulur nuju resleting celana Randika. Karena tidak lihat, dia harus raba-rabanya sedikit.

Ini Randika ketakutan, tetapi ketika lihat tubuh getar dan wajah rah Hannah, dia rasa ini cukup lucu.

"Han, ke bawah sedikit, nah itu resletingnya." Randika mandunya. "Cepat, sekarang celana dalamnya. Ah! Hati-hati, nanti muncrat ke mana-mana lho."

Randika dengan cekatan mandu tangan Hannah. Untungnya saja, tangan Randika ngambil alih ketika dia hendak pipis.

"Sebentar." Randika tertawa dan Hannah masih malingkan wajahnya. Tidak lama kemudian, suara air ngalir dapat terdengar.

Suaranya persis seperti air mancur.

Tidak lama kemudian, suara air itu nghilang dan Randika makai kembali celananya.

"Sudah selesai." Randika ngguyur toiletnya itu dan tersenyum pada Hannah.

Hannah belum noleh dan wajahnya masih rah. "Kak, kenapa punyamu besar sekali?"

Sepertinya IQ adik iparnya ini benar-benar rosot jauh hari ini.

Tetapi harus diakui bahwa sangat nyenangkan nggoda Hannah.

Tangan Hannah yang berada di bawah itu rupanya sedang gang dua jarinya, Randika masih berusaha nggodanya lagi.

"Han, goyang-goyangkan dikit biar sisanya itu jatuh."

skipun malu, dia nggoyang-goyangkan dua jari Randika itu. Hannah ngira bahwa punya Randika itu besar dan keras. Ketika Randika tidak bisa berhenti tertawa, Hannah noleh dan nyadari kejadian ini.

"Kak, bukannya kamu tidak bisa nggunakan tanganmu?" Wajah Hannah benar-benar bingung, bukannya tadi Randika kesusahan nurunkan resleting celananya? Kenapa dia sekarang gang dua jarinya dan celana Randika sudah rapi?

"Yah begitulah." Randika nahan tawanya sekuat mungkin.

"Kak, apa kakak bohong?" Hannah mulai bisa lihat kebohongan Randika. Setelah dipikir-pikir mang ada yang salah dari awal. Bukankah tadi dia lihat kakak iparnya ini makan supnya dari panci sendiri?

"Tidak, tanganku mang sakit." Tangan Randika terkulai lemas di sampingnya.

"Sini aku bantu biar tidak sakit lagi." Hannah remas kuat tangan Randika, dia seakan-akan ingin lumatkannya njadi debu.

"ARGH!! Sakit!" Randika pura-pura kesakitan, dia mang pantas nerima hukuman ini.

"Kak, lain kali kalau kakak seperti ini lagi, aku sendiri yang akan mbunuhmu!" Hannah berjalan keluar dari kamar mandi dengan wajah marah.

"Han, tunggu! Jangan marah, kakiku masih sakit!"

"Tidak mau tahu!" Jawab Hannah dengan wajah acuh tak acuh.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 398: Besar dan Keras on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Nightwatcher cover
Similar genre

Nightwatcher

Paperboy ·Harem

Inthisworld,thereis:Confucianism;Taoism;Buddhism,Demons,andMagicians.XuQi’an,a...Readmore Inthisworld,thereis:Confucianism;Taoism;Buddhism,Demons,a...

Death Notice cover
Trending now

Death Notice

Gluttonous Monk ·Horror

Heisagiftedandintelligentyoungman.Heisamurdererthatenjoysthebloodshed.He...Readmore Heisagiftedandintelligentyoungman.Heisamurdererthatenjoystheblo...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.