ndengar kata-kata itu, boneka ginseng itu hanya natapnya dengan diam.
"Aku tidak minta banyak kok, cuma 5 tetes, iya 5 tetes saja! Bagaimana nurutmu?" Kata Randika sambil tersenyum. lihat boneka ginseng itu tidak njawab, dengan cepat Randika nambahkan. "Maksudku 4 tetes, tidak, 3 tetes! Tiga tetes cukup kok."
Masih tidak ada jawaban, Randika nggertakan giginya. "Baiklah, satu tetes saja satu tetes dan aku akan mberikanmu banyak makanan seperti ini."
Pada saat ini, boneka ginseng terlihat bereaksi, tetapi setelah beberapa saat, dia natap bungkus makanan itu dan malingkan wajahnya. Ia tidak mau natap Randika lagi.
Sialan, jual mahal!
Randika dengan cepat berkata dan mohon sekali lagi. "Ayolah, jangan pelit-pelit begitu. Bukankah aku pernah nyelamatkanmu? Aku cuma minta satu tetes saja kok."
Boneka ginseng itu malingkan wajahnya lagi dan Randika dengan cepat berdiri di hadapannya. "Ayolah, aku benar-benar butuh darahmu agar sembuh. Kalau tidak aku bisa-bisa mati, kamu tidak ingin lihatku seperti itu kan?"
Boneka ginseng ini liriknya dari sudut. Ia lalu ngulurkan tangan putihnya itu dan mbuat ekspresi wajah yang kesakitan. Tiba-tiba, setitik darah berwarna putih keluar dari tangannya.
Randika dengan cepat njadi bergembira, dia langsung ngambilnya dan nelannya.
Ketika darah putih itu masuki tubuhnya, dia dapat rasakan bahwa darah boneka ginseng itu lebur njadi satu dengan tenaga dalamnya dan redakan luka di dalam tubuhnya.
Randika nutup matanya dan mulai nyebarkan tenaga dalamnya. Kekuatan misterius di dalamnya berusaha untuk lawan tetapi dengan adanya bantuan dari darah boneka ginseng, tenaga dalam Randika berhasil ngatasinya dan nekan kekuatan misterius di dalam tubuhnya.
Randika rasa sangat senang karena bisa ngontrol tenaga dalamnya sekali lagi. Setelah beberapa saat, Randika mbuka matanya. Dia benar-benar senang dengan dampak yang diberikan oleh darah dari boneka ginseng ini.
Randika tersenyum lebar dan natap boneka ginseng yang sedang makan keripik kentang itu. Namun, pada saat ini, boneka ginseng itu sudah nghabiskan sebungkus keripik kentang itu dan loncat kembali ke pundak Indra dan ncueki Randika.
Randika hanya bisa garuk-garuk kepala. Awalnya dia ingin minta setetes darah lagi, tetapi boneka ginseng ini benar-benar pelit.
"Nak, apakah kamu lapar?"
Pada saat ini, Ibu Ipah masuki ruang tamu. Sebelumnya dia ndengar suara Randika jadi dia mutuskan untuk keluar. Tetapi ketika dia lihat sosok Randika, Ibu Ipah cukup terkejut lihat Indra dan boneka ginseng di pundaknya.
"Ibu, ini adikku, namanya Indra. Kalau yang ada di pundaknya, Ibu Ipah pernah lihatnya bukan." Kata Randika sambil tersenyum.
"Siang Ibu Ipah." Indra mberikan sebuah sapaan hangat.
"Karena orang ini adalah adik Nak Randika, berarti dia juga keluarga!" Jawab Ibu Ipah sambil tersenyum hangat. Pada akhirnya, dia masih tidak tahu identitas asli Randika dan dia berniat untuk ncari tahu. Selama Randika bisa mbahagiakan nona mudanya, itu sudah cukup bagi Ibu Ipah.
"Nak, apakah kalian berdua lapar? Apa ada makanan yang ingin kalian makan?" Tanya Ibu Ipah.
ndengar hal ini, tatapan mata Indra berbinar-binar yang mbuat Randika sedikit malu.
"Makanlah kalau kamu mau, tidak perlu nunggu ijinku." Randika hanya bisa nghela napas.
"Iya bu, aku lapar." Kata Indra sambil ngangguk.
"Baiklah kalau begitu, tunggulah sebentar ya akan ibu masakkan sesuatu." Ibu Ipah lalu berjalan nuju dapur.
"Ibu, aku sarankan masak nasi yang lebih banyak, adikku ini kuat makan." Kata Randika.
"Baiklah, serahkan semuanya pada ibu!" Ibu Ipah tersenyum.
Tidak lama kemudian, akhirnya makanan telah siap. Pada saat ini, waktu hampir nunjukan pukul lima sore. Tepat sebelum jam makan malam, Inggrid telah kembali.
"Ran, apa kamu sudah diperbolehkan pulang?" lihat sosok Randika, Inggrid tersenyum dan senang.
"Aku tidak peduli dengan kata dokter, aku sudah tidak mau lagi dipisahkan denganmu! Aku benar-benar rindukanmu!" Kata Randika sambil nggoda.
ndengar kata-kata manis ini, Inggrid tersipu malu.
"Nona, kamu datang tepat waktu! Mari kita makan bersama." Ibu Ipah dengan cepat nyiapkan piring untuk Inggrid.
Dengan begitu, keempat orang, termasuk Ibu Ipah, makan bersama dengan lahap. Sebelum makan, Randika mperkenalkan Indra pada Inggrid.
"Dia ini murid dari kakekku, jadi bisa dikatakan bahwa dia adalah adik seperguruanku." Kata Randika pada Inggrid. Indra yang sibuk ngunyah itu sama sekali tidak mperhatikan Randika. Akhirnya setelah dipukul pelan oleh Randika, Indra ngangkat kepalanya dan natap Inggrid. Dia lalu berkata dengan mulut penuh nasi. "Sore kakak ipar."
Kakak ipar?
Randika terkejut sekaligus cukup senang, dia tidak nyangka Indra akan sepeka itu.
Inggrid tersenyum, tetapi samar-samar ada rasa malu di wajahnya.
"Kak, aku ingin ncari pekerjaan kali ini." Kata Indra.
Randika berpikir sebentar dan ngangguk. "Baguslah kalau begitu, dengan ini kamu juga bisa jadi mandiri. Bagaimana kalau bekerja njadi petugas keamanan? Aku yakin kamu cocok."
"Sayang, apakah perusahaanmu itu butuh tenaga lagi? Adikku ini benar-benar cocok, aku yakin tidak akan ada penjahat lagi yang berani macam-macam dengan perusahaanmu!" Kata Randika sambil tertawa.
"mangnya aku bisa ncegahmu untuk tidak lakukannya?" Inggrid terlihat marah sesaat, tetapi dia tidak nolak ide Randika. Bagaimanapun juga, dia adalah istri Randika jadi perusahaannya adalah milik Randika juga.
"Aku hanya khawatir bahwa nyonya Inggrid nolak ideku ini." Randika tersenyum.
Setelah makan malam yang harmonis ini selesai, Ibu Ipah bertanya. "Nak, apakah adikmu ini ada rumah untuk ditinggali?"
"Belum ada, besok aku akan ncarikannya rumah sewa."
Randika awalnya ingin nyarankan Indra untuk tinggal di rumahnya ini tetapi dia langsung mbungkam mulutnya rapat-rapat. Permasalahan utamanya adalah Randika tidak ingin waktu berduanya dengan Inggrid terganggu lebih jauh lagi. Ketika Ibu Ipah dan Hannah tidak ada, Randika harus manfaatkan waktu itu dengan baik dan lakukan hubungan romantis dengan istrinya.
"Kalau begitu serahkan pada ibu, kebetulan ada kenalan ibu yang punya rumah untuk disewakan dekat sini." Kata Ibu Ipah.
"Baiklah kalau begitu, terima kasih ya bu." Randika tersenyum.
Kemudian, Indra berdiri dan ngikuti Ibu Ipah untuk segera ngunjungi rumah sewanya itu.
Ketika kedua orang itu pergi, Randika benar-benar senang. Dengan cepat, dia duduk di samping Inggrid dan luknya. Tangannya mulai bergerak dan mulutnya mulai ngunci mulut Inggrid dengan rapat.
"Ah!"
Inggrid ndesah pelan karena serangan ndadak Randika ini. Setelah beberapa nit, akhirnya Inggrid bisa lepas dari ciuman maut Randika. "Mandi dulu sana."
"Mandi bisa nanti, toh kita akan berkeringat." Kata Randika.
"Tidak mau, kamu sudah seminggu lebih di rumah sakit, bau badanmu kurang enak." Kata Inggrid dengan wajah marah.
"Sudah, tidak usah terlalu mikirkan hal yang terlalu detail." Randika sudah mulai ncopoti baju Inggrid, tidak lupa dia mberikan kecupan hangat di leher.
"Tidak mau!" Inggrid mbalasnya dengan nada dingin sambil malingkan wajahnya.
"Bagaimana kalau sesudah mandi?" Randika masih bermain dengan tubuh Inggrid. Setelah beberapa saat diserang oleh Randika, tubuh Inggrid sudah mulai terangsang.
"Setelah mandi kamu bebas lakukan apa pun." Kata Inggrid dengan malu di telinga Randika.
ndengar kata-kata itu, Randika tersenyum lebar. "Kalau begitu tunggulah aku sebentar, aku sudah mpersiapkan baju yang tepat untuk kita! Aku tidak sabar lihatmu makai baju perawat."
Sejak roleplay bersama Inggrid beberapa kali, Randika mulai nyukai permainan seperti itu. Terlebih lagi, Randika sudah mbeli beberapa lingerine sexy untuk Inggrid.
skipun Inggrid malu-malu, dia tetap makai apa yang diberikan oleh Randika. lihat sosok perempuan dewasa yang angkuh itu patuh terhadap dirinya, ini mbuat Randika makin terangsang dan bersemangat.
"Sudah mandi sana." Kata Inggrid dengan wajah yang rah.
Randika dengan cepat mandi dan keramas, sepertinya malam hari ini ditakdirkan njadi malam yang penuh gairah.
Pada hari di mana dia pulang dari rumah sakit, kasur Randika dan Inggrid harus nerima takdirnya bahwa kedua pasangan ini tidak akan tidur malam hari ini. Setelah beberapa permainan dan foreplay, akhirnya reka masuki babak utama.
"Hei, pelan-pelan sedikit!" Kata Inggrid.
"Sayang, aku benar-benar sudah tidak sabar." Kata Randika sambil ncium Inggrid dan sambil terus nggoyangkan pinggangnya.
"Hari ini aku tidak akan berhenti sebelum 300x!"
Reviews
All reviews (0)