Font Size
15px

Keesokan harinya, setelah Randika terbangun, dia nyadari bahwa Inggrid sudah tidak ada di atas kasur, sepertinya istrinya itu sudah sarapan di bawah.

Ketika dia hendak berdiri, dia lihat jejak-jejak peperangan tadi malam. Wajahnya benar-benar terlihat bangga, sepertinya dia berhasil mbuktikan keperkasaannya itu. Dia benar-benar rasa bahwa dirinya jantan sekali sampai-sampai kaki tempat tidurnya ini patah karena saking liarnya kemarin.

Dia tidak mpermasalahkan ketika Ibu Ipah datang dan mbersihkan kekacauan reka berdua malam tadi. Randika hanya penasaran ekspresi apa yang dikenakan ibu-ibu itu ketika lihat kamarnya ini.

Pada saat ini, HP Randika bergetar seperti ada yang ninggalkan sebuah pesan. Ketika dia lihatnya, sepertinya itu adalah pesan dari anggota tim intelijensi miliknya.

Isi dari pesannya sangat singkat, dia mberitahu dirinya bahwa Tom dan Anna telah kabur ke Afrika. Di sana, dia telah kehilangan jejak reka karena mang jaringan intelijensi pasukan Ares di sana masih kurang.

Randika mikirkan hal ini untuk beberapa saat, pada akhirnya dia berjalan nuju kamarnya dan ngontak Yuna.

"Aku kira kamu sudah lupa sama aku." Ketika video call itu tersambung, Yuna berbicara dengan nada yang cukup cuek. Dia terlihat seperti seorang pacar yang telah ditinggal oleh lelakinya selama berbulan-bulan.

Tentu saja, Randika tahu ini hanyalah sebuah akting.

"Bagaimana dengan perkembangan Tom dan Anna?" Tanya Randika.

"Aku sudah ngirim orang untuk ngejar reka di Afrika. Jika ada kabar lebih lanjut, aku akan ngabarimu langsung." Jawab Yuna dengan nada serius.

Randika ngangguk. "Terus bagaimana dengan situasi pasukan kita?"

"Pasukan kita berkembang dengan cepat, terlebih lagi kita juga sudah miliki ratusan anggota elit dengan kesetiaan yang absolut." Kata Yuna.

Setelah pengkhianatan Bulan Kegelapan dan Shadow, kesetiaan njadi prioritas utama bagi Randika. Para rekrutan baru di pasukannya ini harus njalani beberapa tes dan pengorbanan, oleh karena itu, kesetiaan reka sudah tidak diragukan lagi.

Terlebih lagi, dengan penambahan jumlah baru ini, Catherine nambahkan beberapa divisi baru dan kekosongan posisi terdahulu semuanya juga sudah terisi. Para talenta baru ini semakin mperkokoh posisi pasukan Ares di Jepang.

Dalam masalah kekuasaan, pasukan Ares sudah nguasai baik hitam maupun putih di Jepang, sekarang tujuan reka adalah Eropa dan Arika Serikat.

Tidak ada lagi yang ragukan nama dari pasukan Ares. Di Asia, ketika orang ndengar nama pasukan Ares, reka semua akan minggir dan ngambil jalan mutar. Tetapi, sekarang karena tujuan reka adalah Arika, reka telah ndapatkan tantangan baru.

Di Arika, ada berbagai macam kekuatan yang nguasai reka. Para kekuatan besar ini miliki bisnis narkorba, penjualan senjata, penyelundupan manusia dll. Dengan suplai uang yang kuat, reka telah ngontrol para politisi dan miliki dukungan yang kuat. ngusik reka berarti ngajak perang seluruh Arika.

Tetapi, ketika berhadapan dengan pasukan Ares, para kekuatan di Arika ini juga mberikan rasa hormat reka. Tidak ada yang ingin berkonflik secara tidak perlu.

Jadi untuk sekarang, kontrol pasukan Ares di Arika masih sangat lemah.

"Bagaimana dengan Bulan Kegelapan?" Tanya Randika. Selain Tom dan Anna, Randika miliki musuh bebuyutan yang repotkan yaitu Bulan Kegelapan.

Bagaimanapun juga, dia pada akhirnya akan mbalaskan dendamnya karena sudah dikhianati.

"Masih tidak ada jejak." Kata Yuna dengan nada dingin. "Bulan Kegelapan benar-benar lciik, dia sangat mahami tode kerja kita. Dia benar-benar nghilang tanpa jejak, kita kesulitan untuk nemukan jejaknya lagi."

ndengar hal ini Randika tidak terkejut karena Shadow pasti telah ngajarkan Bulan Kegelapan bagaimana nghilang tanpa jejak. Perlu diingat, Shadow belajar langsung dari Randika jadi jelas bahwa tode pencarian pasukan Ares sangat dipahami oleh Shadow.

"Baiklah kalau begitu, tetap kejar dan hubungi kalau ada apa-apa."

Setelah matikan video callnya, Randika mijat kepalanya. Jika musuh-musuhnya ini berhadapan langsung dengan dirinya, Randika tidak akan pusing seperti ini. Tetapi ketiga musuhnya ini benar-benar orang yang licik dan keahlian reka adalah nyerang secara ndadak.

skipun Randika sudah siap dan waspada, ini tidak njamin bahwa dia tidak akan termakan jebakan reka lagi.

mikirkan masalah ini, Randika tidak dapat nahan diri untuk tidak mikirkan keberadaan para kakeknya. skipun para kakeknya ini ngatakan kepada dirinya bahwa dia tidak perlu khawatir, tetapi setelah sekian lama, tidak ada kabar dari kakeknya ini. Bagaimana mungkin Randika tidak khawatir?

DItambah lagi, Ivan ngatakan bahwa reruntuhan yang kakeknya datangi itu adalah jebakan, hal ini sudah lama berada di benak Randika.

Pada awalnya, Randika cuek dan percaya bahwa tidak ada bahaya yang bisa ncelakai kakeknya. Tetapi setelah berbulan-bulan tidak ada kabar dan reka belum juga kembali, Randika mulai khawatir.

Setelah mikirkan hal ini, Randika ingin nelepon kakek ketiga dan berusaha ncari jejak reka. Ketika dia nelepon, teleponnya itu langsung mati dan ngatakan bahwa telepon kakeknya berada di luar jangkauan.

Randika dengan cepat nulis sebuah pesan, tetapi jelas tidak ada jawaban sama sekali.

Semakin dia mikirkannya, semakin cemas Randika. Mungkin ada sesuatu yang terjadi pada reka.

Ketika turun ke bawah, Randika lihat sosok Indra, Ibu Ipah dan Inggrid sedang ngobrol bersama.

"Pagi nak Randika." Kata Ibu Ipah dengan senyuman hangat.

"Selamat pagi bu." Balas Randika sambil tersenyum, pada saat yang sama dia nggoda Inggrid. "Sayang, lain kali kalau kamu bangun, bangunin aku juga ya."

Inggrid lototinya, wajahnya sedikit rah. Nanti kalau dia bangunin, bisa-bisa Randika minta lakukannya lagi sebelum sarapan!

Ketika mikirkan tempat tidur reka yang patah, Inggrid rasa itu sedikit lucu. Sepertinya sebelum pulang nanti dia harus mbeli tempat tidur yang baru.

Setelah sarapan, Randika tidak pergi ke perusahaan bersama Inggrid, dia mbawa Indra ke terminal dan bersiap-siap untuk kembali ke desa Jagad!

Indra sedikit bingung, tetapi Randika mintanya untuk ngikuti dirinya jadi dia ngikutinya tanpa protes sama sekali.

Ketika reka sampai, reka dengan cepat berjalan nuju desa. Sesampainya di rumah, masih tidak ada jejak sama sekali dari para kakek.

Berjalan ke gunung, Randika berhenti di depan sebuah gua. Indra berada di belakangnya dan boneka ginseng terlihat duduk tenang di pundaknya. reka berdua natap Randika dengan curiga.

Indra tidak tahu bahwa kakek pertama berada di dalam gua ini. Ketika dia datang, dia hanya bertemu dengan kakek kedua hingga kakek keempat.

"Kakek, ini aku Randika!" Randika nambahkan tenaga dalamnya kepada suaranya dan berteriak sekencang mungkin. Di bawah suara yang keras ini, seharusnya kakek pertamanya yang ngurung diri di dalam gua seharusnya bisa ndengarnya.

"Kek, aku ingin tahu di mana kakek yang lain berada. Aku khawatir dengan reka karena sudah lama tidak ada kabar." Kata Randika.

Suaranya itu dengan keras nggema di dalam gua, tetapi masih tidak ada pergerakan sama sekali di dalam gua.

Apa suaranya kurang keras?

Randika sedikit bingung, tetapi pada saat ini, gua yang tertutup oleh batu-batu itu, sebuah pil lesat keluar dan nuju ke arah Randika.

Randika dengan sigap nangkapnya dan natapnya dengan hati-hati. Pil obat itu berwarna perak dengan berbagai ukiran di luarnya.

Pil apa ini?

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 407: Mencari Para Kakek (1) on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.