Font Size
15px

Seketika itu juga, Rohim dan kedua polisi lainnya segera ngelilingi Randika. Randika hanya berdiri diam, sedangkan Deviana sudah telat untuk mperingati para rekannya.

Kedua polisi itu, satu dari kanan satu dari kiri, nerjang ke arah Randika. Tapi reka hanya bertemu dengan udara kosong. Randika tiba-tiba muncul di belakang salah satu dari reka dan telah ngambil borgol miliknya.

Dia lalu mborgol salah satu tangan dari polisi tersebut. Randika lalu ncengkram tangan tersebut kuat-kuat.

lihat hal itu, polisi satunya, yang masih bisa bergerak bebas, nerjang kembali ke arah Randika. Seketika itu juga, Randika dan polisi yang terborgol itu berputar sekali bagaikan reka sedang nari. Randika lalu mborgol tangan polisi satunya yang masih bebas tersebut.

Dalam sekejap, kedua polisi itu saling terborgol satu sama lain. Salah satu dari reka tidak bisa bergerak dengan bebas karena tangannya berada di belakang punggungnya.

Lalu reka didorong oleh Randika dan terjatuh bersama, Randika lalu berkata dengan tersenyum. "Dengan semua latihan yang kalian terima, apakah susah nangkap orang yang kalian sebut sampah masyarakat ini?"

"Kau!" Deviana marah ketika ndengarnya. Namun, dia masih miliki pemikiran yang tenang, dia segera ngambil kunci untuk lepaskan kedua rekannya itu.

Di lain sisi, Rohim sudah tidak bisa nahan amarahnya. Dia natap tajam ke Randika sambil ngatakan, "lawan dan nyakiti polisi, kau dalam masalah besar bocah!"

"Aku tidak mpunyai pembelaan apa-apa untukmu yang miliki mata sum itu." Kata Randika sambil nggelengkan kepalanya.

"Kau tahu bahwa aku hanya berjarak satu nomor saja dan seluruh kepolisian kota ini akan mburumu?" Balasnya.

Randika tidak peduli dan berkata dengan nada tenang, "Aku tidak peduli, karena aku tidak bersalah. Tapi jika kau ingin nuduhku sebagai teroris, maka akan kutunjukkan bagaimana teroris sebenarnya bertindak."

Begitu Randika selesai berbicara, dia ngeluarkan sesuatu yang berhasil mbuat semua orang di sana ketakutan sekaligus terkejut. Randika ngeluarkan sebuah pistol yang telah diambilnya sebelumnya dari kedua polisi sebelumnya, wajahnya masih terlihat tenang sambil mbidiknya ke arah Rohim.

Deviana dan kedua polisi lainnya rasa bahwa situasi njadi gawat. Tetapi, Randika tiba-tiba lemparkan pistol tersebut ke tanah sambil ngatakan, "Lain kali jangan nuduh sembarangan dan repotkan orang lain. Jika kalian nangkap, pastikan mbawa surat penangkapan ataupun bukti yang kuat."

Setelah ngatakan semua itu, Randika sudah malas untuk berurusan dengan reka lagi. Ketika dia hendak nggendong Elva lagi, Rohim rasa dirinya terhina dan ngeluarkan pistol miliknya dan mbidik punggung Randika!

"Kau akan ikut dengan kami!" Kata Rohim dengan muka serius.

"Pak Rohim!" Deviana terkejut. skipun dia mbenci Randika, Randika tidak terbukti bersalah. Tetapi sekarang salah satu rekannya mbidik orang awam, ini tidak ncerminkan perilaku dari penegak hukum.

"Pak Rohim tolong letakkan pistol bapak! Kita tidak berkerja dengan cara seperti ini!" Teriak Deviana.

"Kau diam saja dan tidak perlu khawatir!" Rohim sudah tidak punya kesabaran. Selama dia bekerja puluhan tahun, dia belum rasa terhina seperti sekarang. Dia ingin mberi pelajaran kepada Randika bahwa martabat polisi bukanlah sebuah permainan.

Muka Randika terlihat malas. Dia sudah tidak ingin ncari gara-gara tetapi pihak lain ingin neruskan masalah ini. Apakah reka belum pernah nyaksikan amarah seorang dewa?

Randika perlahan mbalikkan badannya dan berkata dengan pelan, "Kalau aku tidak mau?"

"Tidak mau?" Rohim tertawa. "Aku rintahkanmu untuk ikut kita sekarang! Jangan anggap reh kami para penegak hukum!" Rohim terus mbidik Randika dengan pistolnya. "Lagipula, kau lari pun tidak akan lebih cepat daripada peluruku ini."

Randika tertawa ndengarnya. Anjing tetaplah anjing, reka hanya bisa nggonggong.

Ares telah ditantang!

"Kau yakin dengan perkataanmu?" Randika natapnya dengan reh. "Kau yakin bisa nakutiku hanya dengan sebuah pistol? Jangan pernah lupa bahwa anjing hanya bisa nggonggong."

Rohim rasa firasat buruk tetapi pistol di tangannya mbuat dirinya tidak cemas terhadap apa pun.

Deviana dan kedua polisi lainnya sudah rasa ketakutan. ngapa situasinya berkembang seperti ini?

Randika nggelengkan kepalanya. "Kalau begitu tembak saja, kita lihat seberapa cepat pelurumu itu!"

"Pak Rohim jangan!" Teriak Deviana.

Rohim rasa muak dengan muka rehkan Randika. Dia rasa ingin mbunuh bajingan tengik ini.

"Kenapa? Tidak punya keberanian untuk nembaknya kah?" Kata Randika sambil nyeringai. "mang benar kalau anjing nggonggong dia hanya sok kuat tetapi aslinya dia ketakutan."

"Mati kau!" Rohim sudah tidak kuat lagi. Dia akan mbunuh pria ini!

Tetapi, sebelum suara pelatuk terdengar, dia rasa hembusan angin kuat dan detik berikutnya dia narik pelatuknya dan nembak.

Klik!

Deviana terkejut tetapi Rohim lebih terkejut lagi terhadap kejadian yang nimpanya.

Tidak ada peluru yang keluar!

"ncari pelurumu?" Randika cah keheningan dan seketika itu juga dia njatuhkan peluru yang ada di tangannya.

Rohim benar-benar terkejut dan tidak sempat noleh ke arah Randika. Bagaimana bisa pistolnya tidak ada peluru? Dia jelas-jelas ingat bahwa pistolnya ada isinya.

Deviana dan kedua polisi lainnya terkejut ketika lihat peluru yang dijatuhkan oleh Randika. reka kebingungan, bagaimana bisa orang ngeluarkan peluru dari pistol dalam sekejap? Yang ngejutkannya lagi adalah pistolnya masih dipegang oleh Pak Rohim.

Detik berikutnya, Randika sudah berada di depan Rohim yang kebingungan dan ngangkat orang tersebut dengan tangannya.

Deviana dan kedua polisi lainnya masih belum bertindak. Randika mbuka paksa mulut Rohim dengan tangan kirinya dan tangan kanannya gang sebuah peluru dan hendak nyuruhnya nelannya!

Ketika dewa perang dunia bawah tanah ini marah, seribu mayat pun tidak akan berhasil nghilangkan amarahnya!

Kata-kata itu tidak dilebih-lebihkan. Ketika dia di luar negeri, ketika orang ndengar nama Ares maka orang-orang akan nghindari dirinya.

Tetapi sekarang, di Indonesia tempat kelahirannya, nama Ares tidak ditakuti bahkan ada yang berani nantangnya!

Bukan berarti Ares yang sedang bersembunyi adalah Ares yang tidak berdaya, dia hanya sedang lindungi dirinya dengan tidak berbuat apa-apa.

Deviana dan kedua polisi lainnya natap tajam Randika. Randika telah masukkan peluru itu ke dalam mulut rekan reka dan maksanya untuk nelannya dengan nutup jalur udaranya!

Benar, Rohim dipaksa untuk nelan sebuah peluru!

Kedua polisi itu benar-benar ketakutan dan kaki reka getar. lihat wajah marah Randika, reka berdua semakin rinding. Apakah dia masih manusia?

Deviana langsung berteriak kepada Randika. "Randika hentikan! Dia bisa mati!"

Randika tidak berhenti. Jika dia sebelumnya tidak diberi kesempatan maka dia tidak akan mberikan kesempatan untuk lawannya. Jika dia tidak nghormatiku, jangan harap dapat penghormatan dariku. Apalagi, pria ini hendak mbunuhnya tadi.

Rohim natap mata Randika dan terus ronta-ronta. Dia benar-benar ketakutan sekarang. Ketika dia berusaha mati-matian nutup mulutnya, Randika ncekik lehernya dan dia terpaksa mbuka mulutnya. Sekarang jalur pernapasannya ditutup dan dia dipaksa nelannya.

Sekarang, dia sudah nelan 2 buah peluru dan dia rasa tidak bisa bernapas dengan benar. lihat pada tangan Randika, masih ada sekitar 5 peluru lagi. Rasa putus asa dan tidak berdaya terpampang jelas di mukanya!

Bisa-bisanya situasinya njadi seperti ini.

Pria di hadapannya ini benar-benar setan. Rohim sudah neteskan air mata sambil minta ampun tapi muka Randika tidak berubah sedikit pun. Rohim segera noleh ke arah rekan-rekannya dan minta tolong sambil nangis.

Jika dia nelan peluru itu sekali lagi ataupun peluru yang sudah ditelannya tidak segera dikeluarkan maka dia akan mati!

Deviana benar-benar cemas dengan situasi ini, dia segera nghampiri Randika untuk nghentikan semua ini.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 35: Ares yang Bersembunyi Bukan Berarti Dia Tidak Be on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.