Font Size
15px

"Sekarang aku minta kalian berbaris!"

Para preman itu dengan cepat matuhi Randika sambil nggigil kedinginan.

"Lari keliling 3x dari sini hingga ke ujung jalan." Kata Randika, "Siapapun yang tidak berlari ataupun berusaha kabur, aku akan nggantung telanjang kalian di pintu bar ini selama 3 hari."

"Ketika kalian berlari jangan lupa untuk berteriak 'aku telanjang dan aku bangga' setiap 10 detik."

"PAHAM?" Teriak Randika.

"Paham." Nyali para preman sudah nciut begitu pula 'adik' reka yang kedinginan.

"Sana cepat lari!"

Dengan begitu, semua preman ini berlarian dalam barisan reka sambil berteriak. "Aku telanjang dan aku bangga!"

Saat reka ncapai kerumunan orang yang ada di sisi jalan, semua pejalan kaki itu miliki reaksi sendiri-sendiri. Ada yang terkejut, tertawa, bahkan ada yang mfoto reka.

"Aku telanjang dan aku bangga!" Para preman ini sudah ingin ngubur diri reka. Namun ketika reka noleh ke belakang dan lihat tatapan tajam Randika, bisa-bisa reka dikubur beneran.

"Aku telanjang dan aku bangga!" Teriakan reka semakin keras.

Ketika reka sudah ncapai ujung jalan, teriakan reka sudah tidak terdengar oleh Randika.

Randika lalu naruh Elva di tanah dan mulai rogoh-rogoh kantong celana para preman itu.

"Kau ncari apa?" Elva makin ndapatkan kesadarannya walaupun masih lemas. Dia lihat tindakan jahil Randika kepada para preman itu. Dia benar-benar tidak bisa mahami jalan pikir Randika.

"Nyari uang." Randika bahkan tidak repot-repot noleh. Dia riksa semua dompet dan ngambil seluruh uangnya.

"Ha? Uang buat apa?" Elva nampak bingung. Apakah Randika kekurangan uang?

Randika noleh ke Elva dan tersenyum. "Bagaimana caranya aku mbuka kamar kalau tidak pakai uang?"

Ketika ndengarnya Elva rasa malu dan marah. Bisa-bisanya bajingan ini masih berpikiran sum.

Ketika Randika hendak berdiri dan berjalan nuju Elva lagi, dia nyadari bahwa ada sebuah kotak di salah satu kantong celana. Ternyata itu kondom.

Seketika itu juga, mata Randika bersinar dan segera ngambilnya. Ketika Elva lihatnya, dia malingkan wajahnya dengan jijik.

"Hahaha walaupun ukurannya agak kecil, kurasa 24 ronde buat kita cukup bukan?" Randika tertawa dan masukkan kondom itu ke kantongnya dan nggendong kembali Elva.

"Malam masih panjang, ayo kita buka kamar dan bersenang-senang!"

Randika nggendong Elva dengan gembira dan nghilang.

"Dua kotak kondom untuk satu malam? Kau yakin tidak akan loyo?" Tanya Elva dengan muka bingung. skipun dia tidak ingin bersetubuh dengan pria ini, dia benar-benar tidak bisa apa-apa dan hanya bisa pasrah. Jadi dia hanya bisa nggertak dan berharap bahwa pria ini tidak akan benar-benar lakukannya.

"Jangan khawatir, staminaku itu luar biasa dan kalau hanya segitu bukan masalah bagiku. Apakah kau rasa kurang sayangku?" Randika tertawa keras. "Kau akan ncintaiku setelah 10 ronde nanti."

lihat gertakkannya tidak berhasil, Elva njadi marah. "Kalau kau berani nyentuhku, kupatahkan alat kelaminmu nanti!"

Randika tersenyum, "Hmm? Bagaimana kau akan matahkannya? Dengan mulut kecilmu itu? Atau dengan jepitan mulut bawahmu?"

Elva semakin jijik ketika ndengar lelucon sum Randika terutama saat dia mbahas mulut bawah tersebut. Oleh sebab itu dia benci semua pria.

"Jangan khawatir, alat milikku ini sangat keras kalau sudah tegang." Lanjut Randika.

lihat kesuciannya terancam, Elva tidak miliki pilihan lain selain larikan diri dari orang ini. Jadi dia mulai ronta-ronta.

"Maaf tapi kau harus diam dulu." Randika mulai was-was, apakah pengaruh obat para preman itu akan hilang?

Randika lalu segera mpercepat langkahnya sambil terus nggendong Elva dengan kedua tangannya.

Di tengah larinya itu, Elva yang ronta-ronta itu lorot dari pegangannya dan dia pun mbetulkannya. Ketika itu juga, tangannya secara tidak sengaja remas dada Elva. Randika rasakan kelembutan bakpao di tangannya.

"Luar biasa!" Randika tidak bisa berkata apa-apa sambil terus mandangi dada milik Elva. Dia tidak bisa nahan diri untuk tidak nelan ludahnya. "Aku semakin tertarik denganmu!"

Sambil terus berlari, dia lihat bahwa hotel sudah tidak jauh dari tempatnya. Elva rasa bahwa tubuhnya semakin panas ketika dia dipegang-pegang oleh Randika. Dia mulai luk leher Randika, seakan-akan dia ingin Randika mainkan tubuhnya lebih kuat lagi.

"Gawat." Randika tersenyum pahit. Dirinya bukanlah orang sum yang suka markan hubungan intimnya di depan publik.

"Badanku panas" Elva bergumam dan tangannya semakin ncengkram erat leher Randika. Sepertinya dia sudah miliki tenaganya kembali tetapi pikirannya tidak dapat berpikir jernih akibat rangsangan Randika.

Karena nggenggam erat leher Randika, bibir Elva berada di dadanya. Dia mulai ncium dan njilati Randika.

"Sialan, foreplaymu boleh juga!" Randika sudah tidak sabar dan nafsu mulai nguasainya. Elva kemudian ncium Randika.

Kedua bibir reka bertemu, dan Randika segera ledak. Randika berhenti berlari dan luk erat Elva sambil mainkan lidah.

Pada saat yang sama, orang-orang di jalan lihat takjub pada reka. Bisa-bisanya reka berciuman sepanas itu di tempat terbuka.

Orang-orang di Indonesia cukup cuek terhadap pelanggaran norma asalkan tidak rugikan reka tetapi lakukan ciuman ekstrim seperti itu di tengah jalan? Pasangan itu cukup nekad.

Elva lalu rangkulkan kakinya di pinggang Randika dan Randika gangi bokong indahnya itu. reka lalu berhenti di dinding sebuah toko sambil terus berciuman. Dari awal hingga akhir, lidah reka tidak pernah berhenti dan begitu pula tangan Randika.

Seorang penatua lewati reka berdua dan lihat aksi gila pasangan muda tersebut. Dia langsung nggelengkan kepalanya. "Mau jadi apa negara ini ckckck."

Randika tidak peduli dengan tatapan sinis semua orang. Dia rasa bahwa dirinya semakin tegang.

Namun dia rasa tatapan tajam seseorang di belakangnya dan noleh. Elva yang masih horny segera minta kembali bibir Randika dan nciumnya lagi.

"Sayang mari kita tuntaskan ini." Randika tersenyum dan mulai nyentuh bagian mulut bawah Elva. Namun, tiba-tiba Elva pingsan.

Seketika itu juga mobil polisi nghampiri reka berdua.

"Hei kau! Keluarkan KTP-mu!" Sebuah suara yang tidak asing terdengar dari balik punggungnya.

Randika noleh dan terkejut. Ada apa hari ini? Kenapa semua cewek rasanya nginginkan dirinya hari ini?

Polisi cantik kenalannya yaitu Deviana juga terkejut. Orang ini bukannya pria yang ada di restoran kapan hari?

ngesampingkan keterkejutannya, Deviana kembali fokus. "Tunjukkan KTP-mu, aku ndapatkan laporan bahwa ada sepasang kekasih yang nggunakan obat-obatan dan bersraan di tempat umum."

Randika lalu nyandarkan Elva di dinding. Seketika itu juga, 3 orang polisi lainnya yang masih berada di dalam mobil lihat bahwa Elva sepertinya tidak sadarkan diri. Satu per satu dari reka keluar dari mobil.

"Hei bukankah kita teman?" Randika tersenyum dan raih tangan kanannya Deviana. "Aku ingat bahwa aroma yang kau pancarkan sangat harum. Bolehkah aku nciumnya lagi?"

lihat candaan Randika yang terdengar vulgar itu, Deviana rasa dirinya dipermalukan dan segera ngeluarkan borgol miliknya. "Aku tidak ngenalmu dan aku nduga kau miliki obat-obatan terlarang. Ikut aku ke kantor!"

"Dev, apakah orang ini tersangkanya?" Seorang polisi laki-laki segera nghampiri reka.

"Berani sekali kau langgar hukum? Kalian berdua tangkap dia."

Randika natap tajam ke arah ketiga polisi tersebut dan nyadari tatapan sum reka terhadap Elva.

Randika nghela napas. Dengan santai dia ngatakan, "Kalian ini gila atau apa? Apakah salah satu dari kalian lihat aku mbawa ataupun makai benda tersebut? Jelas-jelas aku sedang nggendong pacarku yang ngantuk ini ke rumahnya."

"Pembohong!" Deviana natap tajam Randika. "Laporan yang ada ngatakan kalian sedang berbuat hal-hal tidak senonoh di tengah jalan dan kalau aku lihat perempuan itu sekarang, jelas-jelas dia berada di bawah pengaruh obat. Selama kau bisa mbuktikan hal ini di kantor, aku baru akan percaya kata-katamu."

"Buat apa kau njelaskan pada sampah masyarakat itu?" Kata temannya Deviana itu. Kedua polisi lainnya segera nghampiri Randika.

Salah satu dari reka hendak nyentuh Elva tapi pergelangan tangannya tiba-tiba dicengkram erat.

Orang itu terkejut dan Randika berkata dengan nada dingin. "Jika kau berani nyentuhnya dengan tangan hinamu itu, akan kupotong habis tanganmu itu!"

Polisi itu rinding ketika natap tatapan tajam Randika. Dia lalu segera nghilangkan perasaan takut itu. Dia adalah penegak hukum yang sedang bekerja, buat apa dia takut dengan ancaman bocah ingusan seperti Randika?

"Kau nghalangi tugas dari seorang polisi. Apakah kau tahu akibatnya?" Polisi itu segera narik kembali tangannya tetapi tidak bisa. Oleh karena itu, dia ngancam Randika.

Randika lalu lepaskan sekaligus ndorongnya hingga polisi itu jatuh.

Deviana langsung negurnya. "Randika! Apa yang kau lakukan!"

"Wah ibu polwan akhirnya ingat namaku. Bukankah itu nandakan bahwa kita teman?" Kata Randika sambil tertawa.

Deviana tidak bisa berkata apa-apa. "Berdasarkan hukum yang berlaku di negara ini, kami berhak mbawa kembali orang yang diyakini langgar hukum ke kantor polisi untuk mberikan keterangan. Jadi apabila kami tidak miliki bukti, maka kami tidak sembarangan nuduh orang. Karena kau telah ndorong salah satu dari kami jadi kami harus mbawamu bersama kami. Ketika kita tiba di kantor, barulah kita bisa nentukan apakah kau bersalah atau tidak."

"mangnya apa yang perlu kusampaikan?" Randika hanya natap Deviana.

Deviana ingin njelaskan tapi dia tahu bahwa percuma berdebat dengan orang ini berdasarkan pengalamannya di restoran jadi dia tahu harus milih kata-katanya dengan baik.

"ngenai siapa perempuan itu, apa hubungan di antara kalian dan apa yang hendak kau lakukan terhadap perempuan itu." Napas Deviana tampak sedikit terburu-buru.

"Sayang sekali." Randika nggelengkan kepalanya. "Aku tidak bisa beritahu namanya dan tadi kan sudah aku bilang bahwa dia itu pacarku. Aku mau mbawanya pulang ke rumah dan karena rumahnya itu terlalu jauh, aku bermaksud bermalam di hotel depan sana."

Randika lalu lirik Deviana dengan tatapan sum dan ngatakan, "Apakah kau juga ingin mbuka kamar denganku?"

Deviana benar-benar marah tetapi ketiga polisi yang ndengarnya jauh lebih marah. Salah satu polisi yang bernama Rohim berteriak. "Aku tidak bisa ndengar ocehanmu lebih lama lagi. Aku curiga bahwa perempuan ini telah diberi obat-obatan terlarang. Jadi kau harus ikut dengan kami ke kantor untuk interogasi!"

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 34: Malam Masih Panjang on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

I Became The Academy Necromancer cover
Similar genre

I Became The Academy Necromancer

172 ·Harem

Scream,Shriek.Wakeupandpourtherestofyourgrudgesontome.ThenI’ll...Readmore Scream,Shriek.Wakeupandpourtherestofyourgrudgesontome.ThenI’llsaveyou.Col...

I Devour Deities cover
Similar genre

I Devour Deities

Love Pea ·Harem

Thirtyyearsago,ameteorfellandthedivineruinsappeared!Somedeitiesemergedfromit,feedingonhumans.Sincethatday,humanshavebecomefoodforthedeities,exceptf...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.