Sosok perempuan ini langsung jatuh di pelukan Randika. Dia langsung berusaha nopang perempuan ini yang kelihatannya mabuk berat karena kaki perempuan itu terlihat lemas.
Setelah rasakan beberapa detik dada perempuan itu yang nempel di perutnya, Randika segera berusaha mbangunkannya. "Hei, hei, bangunlah!"
Perempuan itu ndongak dengan sekuat tenaga dan seketika itu juga Randika terkejut lihat wajahnya.
"Elva?"
"Ah?"
Randika terkejut lihat 'temannya' ini. Elva makai baju sexy bukan seragam biasanya jadi awalnya dia tidak nyadari ketika dia jatuh di pelukannya. Yang mbuatnya heran, salah satu pentolan dunia bela diri seperti Elva ngapa bisa tampak lemah seperti ini?
Elva sendiri rasa familiar dengan muka yang berusaha mbantunya berdiri ini.
Sebelum ini, Elva ngalami hari yang buruk dalam pekerjaannya jadi dia datang ke bar untuk mabuk-mabukkan. Tanpa diduga, Elva njadi sorotan beberapa preman di sana. Elva jelas tidak takut dengan reka dan berusaha cuek. Tetapi minumannya yang dia minum ternyata telah diberi obat! Ketika obatnya mulai bekerja, para preman itu nghampirinya.
Di bawah pengaruh obat ini, kekuatan Elva njadi kurang dari 10%. Dia pun berusaha ncari pintu keluar sambil berhadapan dengan para preman tersebut. Yang nerjangnya lumayan banyak dan musik keras serta pencahayaan yang remang mbuat dunia di sekitarnya seakan-akan berputar. Setelah berhasil nghajar 2 orang, dia lihat celah dan langsung lari nuju luar gedung. Namun pada akhirnya dia tidak bisa lawan pengaruh obat tersebut dan kehilangan tenaganya saat berjalan di luar.
Ternyata, orang yang dia tabrak itu kebetulan adalah Randika.
lihat Elva yang aduhai ini, pikiran Randika mulai ke mana-mana. Dia segera nyeret Elva ke tempat aman sambil berpikiran kotor.
Hmmm. Lumayan juga dia! Figur Elva sangat bagus terutama pinggangnya yang ramping yang sedang dia pegang. Pinggangnya terasa halus dan empuk.
Tangan Randika tidak bisa tidak ncuri kesempatan di saat seperti ini, dia remas dada Elva dan terkejut. "Wah bukannya dulu ini kecil? Ternyata boleh juga punyamu!"
Tangan Randika yang remas itu tidak bisa nggenggam seluruh dada Elva.
Elva yang pandangannya kabur rasa bahwa dia telah dipegang-pegang oleh orang yang mbantunya. Dia tidak nahan rasa amarahnya dan berusaha ngembalikkan pandangannya. Setelah berusaha keras ternyata dia mulai sadar bahwa orang itu adalah Randika.
"Kau! Lepaskan aku!" Kata Elva dengan pelan. Randika masih remas-remas dadanya jadi desahan Elva ini gara-gara teknik dewanya atau pengaruh obat siapa yang tahu?
"Kalau aku lepasmu, yakin bisa berdiri? Kau akan terjatuh ke tanah." Kata Randika sambil tersenyum. "Yakin ingin aku lepasmu?"
ndengar ini Elva berusaha njejakkan kakinya di tanah dan nyadari bahwa dia sudah tidak bertenaga. Jika bukan karena bantuan Randika, dia pasti sudah tergeletak di tanah.
"Kalau begitu, cepatlah pergi dari sini." Kata Elva dengan susah payah.
Randika kembali berjalan lagi. Elva tahu bahwa sekarang waktu adalah kuncinya. skipun dia sudah lemas, dia masih bisa rasakan tangan Randika yang nakal itu. "Tolong berhenti nyentuhnya."
Randika tidak terlalu peduli dengannya dan berkata sambil tersenyum. "Aku tidak tahu bahwa kau miliki tubuh yang bagus apalagi dadamu ini. Aku suka perempuan sepertimu, apakah lebih baik kita njadi Teman Tapi sra (TTM)?"
Kemudian tangan Randika kembali remas Elva.
"Berani-beraninya kau lakukan ini!" Elva rasa dirinya marah tetapi suaranya begitu pelan jadi ancamannya itu tidak nakutkan sama sekali.
"Jangan malu seperti itu. Baiklah aku tidak nyentuhmu lagi." Kata Randika sambil tersenyum nakal. "Aku sebenarnya suka dengan perempuan yang lebih tua. Tidak peduli aku yang di atas ataupun di bawah, aku bisa njamin kepuasanmu. Jika kau tidak puas maka kau boleh tidak manggilku lagi. Jadi bagaimana? Apakah kita TTM?"
Elva kehabisan napas. "Aku tidak sudi berteman denganmu, jika aku sudah pulih akan kupotong tanganmu itu!"
Perempuan ini keras kepala juga, sudah jelas dia tidak bisa apa-apa tanpa bantuanku ini malah dia ngancam motong tanganku!
"Ulangi lagi tolong, aku tidak ndengarmu." Randika kemudian nempelkan mukanya ke Elva. "Kau suka denganku? Jadi kau mau ngatakan bahwa kau mau njadi TTM denganku bukan?"
Hati Elva ngepal, dia benar-benar mbenci pria ini tetapi dia yang sekarang tidak bisa apa-apa.
Pada saat ini, sekumpulan preman keluar dengan terburu-buru dari pintu samping bar. reka segera lihat bahwa mangsanya sedang dituntun oleh seorang pria.
"Kak di depan! Jangan biarkan wanita itu kabur!"
"Hei kau! Berhenti sekarang juga!"
Para preman itu segera ngepung reka berdua. "Hei kau, wanita itu adalah teman kami."
Randika ngecek situasi sambil terus nuntun Elva. Dia terlihat enggan nyerahkan Elva.
"Kukatakan sekali lagi, tinggalkan wanita itu atau kupatahkan kakimu!"
Randika pura-pura takut, "Tunggu, tunggu, aku hanya nemukan perempuan ini di tanah tadi."
"Aku tidak peduli dengan nasib burukmu ini, karena kau berusaha nyembunyikan wanita kami maka hari ini kau akan mati!"
Preman itu segera ncabut pisaunya dan ngarahkannya kepada Randika.
Randika yang masih sandiwara ini berkata dengan suara pelan kepada Elva. "Bagaimana? Kau masih mau njadi temanku?"
Elva natapnya dan tidak njawab apa-apa. Bajingan ini manfaatkan situasi ini untuk rasnya?
"Karena aku baik hati, aku akan mberikanmu 3 detik untuk pergi dari sini atau nyawamu benar-benar akan layang!" lihat Randika yang masih tidak lari, preman ini sudah tidak sabar dan ngancamnya sekali lagi.
"Ah!" Randika terlihat buru-buru dan letakkan Elva di tanah. "Maafkan aku kawan, aku hanya tidak tega lihat perempuan cantik ini tergeletak tadi. Karena dia adalah wanitamu, ambilah kembali."
Setelah ngatakan itu, Randika berbalik dan hendak pergi.
Elva tertegun. Bisa-bisanya pria itu ninggalkan dirinya.
"Kau nyebut dirimu pria?" Teriak Elva dengan sekuat tenaganya.
Randika yang masih mbelakangi Elva tersenyum.
Berbalik, Randika berkata pada Elva. "Jadi kau sepakat?"
"Apa yang kita sepakati?" Elva terlihat bingung.
Randika pura-pura terlihat malu dan ngatakan, "Aku suka dengan perempuan yang lebih tua, jadi aku ingin njadi TTM denganmu."
Elva benar-benar kehabisan kata-kata dan para preman itu lebih terkejut lagi. Pria ini masih sehat?
"Cepat pergi atau kubunuh kau!" Preman itu ngancam kembali.
Randika masih tidak ndapatkan jawaban dari Elva jadi dia hanya berdiri diam. lihat Elva tidak njawab, dia segera berbalik dan berniat untuk pergi.
"Oke Aku setuju." Kata Elva dengan suara pelan.
Randika langsung tersenyum lebar. "Bagus! Aku tahu bahwa kau pasti setuju denganku."
Lalu sambil disaksikan oleh para preman itu, Randika berjalan kembali ke Elva, ngambilnya, dan berjalan ninggalkan lokasi.
Kau pikir kami pajangan? Para preman ini baru pertama kali lihat pria yang benar-benar ingin mati.
"Berhenti kau bajingan!" Para preman itu segera ngepung Randika dan ngatakan, "Aku tidak peduli kau ini bodoh atau tidak, segera berikan wanita itu padaku atau kami akan mbunuhmu!"
Randika tampak bingung, "Kalian tadi tidak dengar?"
"Dengar apa?"
"Perempuan ini setuju berteman denganku." Randika kemudian natap reka dengan tatapan dingin. "Jadi perempuan ini adalah milikku."
"Mati saja kau!" Para preman sudah kehabisan kesabaran. reka nerjang maju hendak mbunuh Randika.
Namun Randika masih terlihat tenang dan tidak lepaskan Elva sama sekali. Dia hanya tertawa pahit ketika lihat para preman itu nerjang maju.
Dengan ngandalkan satu sisi tubuh saja, Randika mukul dan nendang reka hingga terpental. Elva kemudian dia lempar ke atas sesaat sedangkan Randika manfaatkan mon ini untuk nghajar reka. Di saat Elva kembali jatuh, Randika nangkapnya dan nggendongnya dengan kedua tangannya.
Sekarang Elva berada di pelukan Randika dan Randika mintanya untuk berpengan erat di lehernya. Randika lalu nangkap nangkap salah satu pisau dan mundur selangkah.
Pisau yang digenggamnya segera dia lempar dan nancap di salah satu preman. Orang tersebut langsung terkapar di tanah.
Kemudian Randika ngayunkan Elva dan mbuat kakinya layang. Kaki indahnya itu ngenai wajah salah satu preman dan akhirnya terpental.
Randika lalu ngangkat kakinya dan nendang musuh yang ada di depannya.
Dalam sekejap, seluruh preman itu terkapar sedangkan Randika masih nikmati pelukan Elva.
Randika lalu ngerutkan dahinya. Tidak jauh dari tempat dia berdiri, salah satu preman berniat kabur. Tiba-tiba Randika ngambil salah satu pisau yang ada di tanah dan lemparnya dengan kuat. Gagang pisaunya itu ngenai kepala orang yang hendak kabur itu.
"Jika salah satu dari kalian berani kabur dariku, jangan salahkan aku apabila pisau yang kulempar berikutnya nancap di kepala kalian." Teriak Randika. Seluruh preman yang terkapar ini getar ketakutan. Orang yang reka hadapi bukan orang biasa dan reka tidak bisa apa-apa. Bisa-bisanya reka bertemu orang seperti ini?
Elva yang masih berada di pelukan Randika masih dalam posisi setengah sadar. Yang dia tahu hanyalah Randika telah nyelamatkannya.
"Sekarang aku akan mberikan kalian tiga detik." Teriak Randika. "Dalam hitungan ketiga, aku akan minta kalian semua berdiri!"
"Satu!"
Para preman ini takut terhadap Randika dan dengan cepat reka berdiri.
"Dua!"
Randika lalu berkata dengan nada ngancam, "Jika kalian tidak berdiri di hitungan ketiga, akan kupatahkan kaki kalian."
Para preman yang masih ragu-ragu untuk nuruti perintah Randika langsung berdiri tanpa banyak bicara.
"Bagus!" Randika ngangguk puas. "Sekarang kalian semua lepaskan baju dan celana kalian!"
"Ah?" Para preman ini tampak seperti orang bodoh. Lepas baju dan celana? Apa reka tidak salah dengar?
"Jangan mbuatku ngatakannya lagi! Cepat lepas!" Tatapan mata Randika kembali mancarkan aura mbunuhnya.
lihat tatapan mata ini, para preman ini ketakutan dan mulai lepas baju dan celana reka.
Tidak lama kemudian, para preman ini berdiri hanya dengan celana dalam reka.
Elva segera malingkan wajahnya, tidak mau lihat pemandangan buruk ini.
"Lepaskan sisanya." Kata Randika dengan santai.
"Ah?" Kali ini para preman ini ragu-ragu. Bertelanjang di tengah jalan? Di mana reka akan naruh harga diri reka setelah ini?
Di saat reka ragu-ragu, Randika ngambil salah satu pisau di tanah dengan kakinya dan nendangnya. Pisau itu lesat di antara para preman ini dan tertancap di tembok hingga gagangnya saja yang tersisa.
Apa-apaan barusan!?
Semua preman ini terkejut dan mulai lepas celana dalam reka satu per satu.
Dalam sekejap para preman yang ditakuti masyarakat sedang berdiri telanjang di tengah jalan.
Randika ngangguk puas dan ngatakan, "Sekarang, aku ingin kalian berdiri di samping."
Reviews
All reviews (0)