Pembunuh itu berlari sekencang mungkin. skipun dia cepat, gerakannya itu terlihat lambat di mata Randika. Terlebih, dia sempat nendang dada pembunuh itu sebelumnya jadi musuhnya itu tidak berada di kondisi puncaknya. Jadi, jika dirinya tidak bisa ngejar si pembunuh itu, nama Ares tidak pantas disandang oleh Randika.
Kedua orang ini berlari bagaikan setan. Si pembunuh manfaatkan sudut-sudut jalan yang gelap nuju ke pusat kota. Karena perumahan Inggrid ini masih tergolong baru, lampu-lampu jalan masih sedikit dan mobil jarang lewat.
Randika ngejar pembunuh itu sekuat tenaga. Ketika pembunuh itu noleh ke belakang, aura mbunuh dari tatapan mata Randika mbuatnya ngeri. Jarak di antara reka sudah dekat.
Pembunuh itu tidak ragu-ragu untuk ngalirkan sisa tenaga dalamnya nuju kakinya dan lesat lebih cepat.
Randika sudah hampir berhasil nangkap pembunuh tersebut, tinggal beberapa detik lagi dia akan berhasil. Namun tiba-tiba, pembunuh itu mbajak sebuah mobil dan lempar keluar orang yang ngendarainya dan langsung nancap gas dengan sekuat tenaga.
Randika ngerutkan dahinya. Apa pun caranya yang kau pakai, kau tidak akan lepas hari ini.
Pembunuh itu tidak miliki pilihan lagi, tenaga dalamnya sudah habis jadi dia terpaksa ncuri mobil. Terlebih, aura mbunuh Randika benar-benar mbuatnya ngeri.
Pembunuh itu segera ncapai kecepatan 120 km/jam. Selagi dia ngebut, dia ngintip dari kaca samping dan lihat tidak ada mobil yang ngejarnya. Dia bernapas lega. Namun, tiba-tiba ada sesosok manusia yang ngejarnya dari belakang dan perlahan ndekatinya.
Bahkan dengan kecepatan seperti ini, orang itu masih bisa ngimbanginya?
Orang itu benar-benar seperti setan!
Pembunuh ini mulai panik. Dia tidak peduli dengan rambu lalu lintas dan nerobos semuanya. Randika masih ngejarnya dengan ketat, dia bahkan nggunakan kecepatan mobil lain untuk beristirahat sejenak.
Dalam sekejap reka sudah ncapai Jalan Macetan dan Randika sudah hampir ngejar mobil tersebut. Namun, tiba-tiba pembunuh itu manfaatkan titik buta setelah dia berbelok dan loncat keluar dari mobil. Mobil tersebut segera nabrak dinding salah satu gedung dengan kecepatan tinggi.
"Ah!"
Para pejalan kaki yang ada di sisi jalan terkejut lihat kecelakaan tersebut. Pembunuh ini manfaatkan kerumunan orang dan lari sekuat tenaga.
lihat tidak aja jejak Randika setelah sampai di suatu gang, dia nghela napas lega. Dia segera gangi dadanya yang terluka dan muntahkan darah seteguk.
"Ares Kau mang luar biasa." Pembunuh ini rasa bahwa targetnya lebihi apa yang dia bayangkan.
"Aku harap kau masih mau bermain denganku." Namun tiba-tiba terdengar suara dari arah atasnya. Dia ndongak dan lihat Randika ada di salah satu atap gedung. Randika nampak santai sambil letakkan tangannya di saku celana.
Pembunuh ini segera nghela napas panjang dan sudah nerima nasibnya bahwa dia sudah tidak bisa kabur. ngeluarkan sebuah pisau, dia natap dingin Randika.
"Ha? Masih mau lawan? Jangan nyesali perbuatanmu ini kelak." Kata Randika.
Ketika itu juga, pembunuh itu lempar sebuah bola kecil ke arah Randika. Seketika itu juga bola itu letus dan asap hitam segera nyebar. Di tengah-tengah asap itu, sebuah kilau pisau keluar.
Pembunuh itu dengan cepat lancarkan serangannya!
Tetapi sayang, bahkan bayangan Randika pun tidak bisa dia sentuh. Di saat dia nusukkan pisaunya keluar dari kepulan asap, Randika sudah gang pergelangan tangannya dan nendangnya dengan keras.
Pembunuh itu terjatuh dan terkapar di tanah dengan mulutnya yang terus ngeluarkan aliran darah. Randika dengan perlahan ndekatinya. Ketika pembunuh itu ndongak, Randika sudah berada di atasnya.
Saat dia hendak ngeluarkan pisaunya lagi, Randika sudah nginjak tangannya dan nendang pisau tersebut. Ketika dia mau berbalik badan dan berdiri, sebuah pukulan sudah layang nuju mukanya dan dia terpental kembali.
"Uhuk!" Pembunuh ini tidak pantang nyerah dan berusaha untuk bangun kembali, tetapi kakinya sudah tidak bertenaga.
"Jadi ini kekuatan Ares? Aku benar-benar rehkan dirimu." Katanya.
"Siapa yang ngirimu?" Tanya Randika.
"Kau kira aku akan ngatakannya?" Pembunuh itu tersenyum. "Mustahil orang seperti kita njual nama penyewa kita."
"Kalau begitu apa boleh buat." Randika masang wajah yang datar.
"Di tangan Ares, tidak ada mulut yang tidak berbicara." Kata Randika.
"Kau ingin nyiksaku? Tulangku lebih keras daripada tinjumu!" Kata pembunuh itu sambil tertawa.
Randika tidak mbalasnya, dia hanya ngepalkan tangan kanannya. Dia langsung layangkan sebuah pukulan ke pergelangan pembunuh itu dan remukkan tulangnya.
Pembunuh itu rasakan rasa sakit yang luar biasa. Hebatnya, dia hanya nggertakan giginya dan tidak ngeluarkan satu suara pun dari mulutnya.
Randika juga sama, setelah pergelangan tangan dia lalu remukkan tulang kaki orang tersebut.
Setelah beberapa saat nahan rasa sakit, pembunuh itu berkata sambil tertawa. "Cuma segini keahlian Ares dari 12 Dewa Olimpus?"
Randika natapnya dengan dingin, "Aku khawatir kau akan mati karena syok setelah ini."
Ketika ndengar hal itu, pembunuh ini langsung berwajah pucat. Dia rasakan firasat buruk. Randika kemudian ngeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya dan ngeluarkan jarum akupunturnya.
Randika lalu berkata dengan nada serius. "Aku harap kau bisa nahan rasa sakit ini Semoga tulang kerasmu mbantumu laluinya."
Setelah itu, Randika nusukkan beberapa jarum ke tubuh pembunuh tersebut. Dalam sekejap, tubuh pembunuh ini rasa sangat panas dan setiap tetes darahnya njadi ndidih.
"Ah!!!"
Pembunuh itu akhirnya berguling-guling kesakitan.
"Siapa yang ngirimu?" Tanya Randika sekali lagi.
lihat pembunuh ini nggertakan giginya dan nolak mberitahunya, Randika ngeluarkan beberapa jarum lagi. Pembunuh ini masih berguling-guling kesakitan, dia rasa tubuhnya sedang direbus. Randika lalu ganginya dan nusukan jarumnya di bagian leher.
Ketika nancap, pembunuh ini langsung ringkuk ke atas mbuat figur jembatan. Dia rasa setiap otot dan seluruh tubuhnya sedang digigit oleh ribuan semut rah. Dia juga rasa bahwa setiap tetes darah di tubuhnya digigit semut dan sesuatu hendak keluar dari mulutnya.
Pembunuh ini mbuka mulutnya lebar-lebar dan matanya terbelalak kemudian dia akhirnya terjatuh ke tanah lagi.
"Siapa yang ngirimmu?"
Randika terus bertanya sambil nancapkan jarumnya lagi.
"Jeratan! Jeratan Neraka!"
Pembunuh ini sudah di ambang batas dan ngeluarkan semua informasi yang dia tahu.
Jeratan Neraka?
Randika terkejut ndengarnya. Dia belum pernah ndengar organisasi tersebut. Apabila organisasi tersebut bisa nyewa pembunuh bayaran, dia pasti miliki nama di dunia bawah tanah.
Randika ngerutkan dahinya dan bertanya, "Organisasi apa itu?"
Pembunuh itu masih kesakitan dan berteriak, "Cabut jarumnya! Cabut!"
Randika kemudian ncabut beberapa jarum dan pembunuh ini segera narik napas bagai sudah keliling dunia.
"Jadi, seperti apa itu Jeratan Neraka?"
Pembunuh itu kemudian natap Randika sambil tersenyum kecil, dengan napas terengah-engah dia ngatakan. "Sayangnya kau tidak akan pernah tahu."
Randika rasakan firasat buruk ketika ndengarnya.
Dia lalu nyalurkan tenaga dalamnya ke tangannya dan riksa leher pembunuh itu. Dengan sentakkannya, pembunuh itu muntahkan gigi palsu.
"Kau sudah terlambat!" Pembunuh itu tertawa keras sambil busa hitam keluar dari mulutnya.
Tertawa terus nerus dan busa itu mulai nutupi seluruh muka pembunuh tersebut. Kemudian dia terkapar di tanah dan tubuhnya njadi kurus kering dan mbusuk di depan Randika. Setelah itu, tubuh ini hanya ninggalkan genangan darah saja!
Randika lalu ngambil gigi palsu yang dimuntahkan sebelumnya dan riksanya, "Racun asam super?"
Hanya dengan setetes saja dari asam tersebut, seekor gajah saja bisa mati dan tubuhnya bisa larut dalam sekejap. Ini adalah racun super. Agar tidak mbocorkan informasi ketika ditangkap, racun seperti ini biasanya diberikan kepada pembunuh bayaran ataupun mata-mata. Ketika reka tertangkap, reka hanya perlu nggigit gigi palsu reka itu dan mati tanpa mberitahu informasi apa pun.
Yang lebih njadi fokus Randika adalah racun seperti ini sering dipakai oleh Bulan Kegelapan. Bulan Kegelapan mberikan racun ini kepada para bawahan Randika jadi dirinya paham benar.
Hanya dalam sekejap saja, pembunuh tersebut sudah njadi genangan darah. Randika ngerutkan dahinya ketika berjalan ninggalkan lokasi. Jeratan Neraka pasti ada hubungannya dengan Bulan Kegelapan.
Apakah Bulan Kegelapan berhasil manipulasi Jeratan Neraka atau Bulan Kegelapan nyewa Jeratan Neraka untuk keperluan pribadinya?
Semua masih teka-teki dan potongan informasinya masih kurang.
Sambil gang gigi palsu tersebut, dia segera nghancurkannya dengan bantuan tenaga dalamnya. Untuk sekarang, dia harus ncari informasi ngenai Jeratan Neraka.
"Bulan Kegelapan di mana dirimu?" Randika bergumam sambil dia berjalan keluar dari gang itu. Dia rasa bahwa Bulan Kegelapan mantau dirinya dari dalam kota Cendrawasih.
Ketika dia hendak pulang, pintu samping gedung yang ada di sebelahnya terbuka!
Gedung itu adalah sebuah bar. Dari dalam sana keluar sesosok wanita yang jalannya compang-camping dan jatuh tepat di pelukan Randika!
Reviews
All reviews (0)