Font Size
15px

Malam hari.

Ketika Randika kembali ke rumah, dia nyapa Ibu Ipah dan langsung nuju ke toilet yang ada di lantai 2.

Ketika dia mbuka pintu tersebut, dia malah lihat sesosok orang yang sedang duduk ngamati dirinya.

Randika tertegun. Inggrid makai baju putih transparan, celana dan celana dalamnya dia gulung hingga ke kaki. Kaki dan paha yang putih itu nampak indah sekali. Namun sayang, pemandangan 'gua' tertutup oleh kausnya.

Inggrid sendiri juga tertegun. Dia tidak nyangka Randika akan mbuka pintu toilet tersebut.

Dua orang ini saling bertatapan dan masing-masing juga tidak ngatakan apa-apa.

Sesaat kemudian, Inggrid mbuka mulutnya dan terlihat sudah siap berteriak sekuat tenaga. Teriakannya ini pasti akan terdengar hingga ke pelosok rumah.

Randika yang lihat Inggrid hendak berteriak, ngerti bahwa dirinya dalam situasi berbahaya. Apalagi suara langkah kaki Ibu Ipah terdengar dari belakang.

Dalam sekejap, tubuh Randika bagai panah lesat. Sesaat sebelum teriakkannya itu keluar, Randika berhasil nutup mulut Inggrid.

"Ah!"

Saat suara teriakan itu keluar, itu tidak lebih dari suara kicauan burung. Inggrid segera mberikan tatapan matikan ke Randika sambil terus ronta-ronta dan berteriak.

"Sssttt!" Randika nyuruh Inggrid diam.

Namun yang lebih ngejutkan lagi, Inggrid tiba-tiba nutup mata Randika dengan tangannya.

Posisi reka saat ini sangat canggung. Tangan kanan Randika nutup mulut Inggrid dengan rapat, sentara Inggrid sendiri nutupi mata Randika dengan tangannya. Randika sekarang tidak bisa lihat dan Inggrid tidak bisa bersuara.

Mata cantik Inggrid sudah lama terpenuhi oleh api kemarahan, Dasar pria tidak tahu diri! Bisa-bisanya dia aji mumpung ketika aku tidak bisa bergerak bebas?

"Diamlah, Ibu Ipah ada di bawah." Bisik Randika.

"Hum."

Inggrid pura-pura tenang dengan cara nghela napas. Tiba-tiba dia nggigit tangan yang nutupi mulutnya itu!

"Ah!"

Randika langsung kesakitan, dia tidak bisa nahan teriakannya. Dia sampai lupa bahwa Ibu Ipah ada di luar.

Inggrid yang sudah terlepas dari jeratan maut Randika masih natapnya dengan tajam. Randika yang masih kesakitan terkejut lihat bekas gigi yang ada di tangannya itu.

"mangnya kau anjing?" Kata Randika sambil marah.

"Jangan lihat ke sini!" Inggrid mbentaknya sambil nutupi daerah-daerah sensitifnya. "Keluar sekarang juga!"

Randika kemudian lihat Inggrid yang tidak bisa bergerak itu. Kenapa harus keluar, pikirnya.

"Hmm? Kenapa aku harus keluar?" Senyum nakal naik di wajah Randika. "Apakah tidak boleh seorang suami lihat istrinya sedang buang air kecil? Bukankah akhirnya aku akan lihat hal yang lebih malukan lagi?"

"sum!" Inggrid natapnya tajam. "Jika kau tidak keluar, aku akan manggil Ibu Ipah!"

Ekspresi Randika terlihat datar, "Kalau begitu aku akan nutup mulutmu lagi. Lagipula, aku tidak terlalu peduli lagi kalau Ibu Ipah datang kalau itu bisa mbuatmu lebih bergairah."

Ketika ndengar itu, Inggrid segera ngambil botol sabun di sampingnya dan hendak lemparnya. "Keluar dari sini!"

Randika terkejut, "Oke, oke, aku akan keluar! Jangan lempar barang!"

Ketika Randika keluar dari ruangan tersebut, dia tersenyum pahit. Dia bahkan belum ndapatkan giliran buang air kecilnya.

Untungnya, banyak toilet di rumah ini jadi Randika tinggal milih salah satu yang ada.

Inggrid yang masih ada di dalam toilet sudah luap-luap. Dalam pikirannya, Randika si bajingan itu pasti sengaja masuk ke dalam toilet ini. Dia tidak sabar namparnya setelah keluar dari sini.

Ketika dia selesai, Inggrid tidak ingin berurusan dengan Randika lama-lama. Setelah mbentaknya beberapa nit, dia langsung masuk ke kamarnya.

Inggrid telah ngalami hari yang lelahkan di kantor, Randika malah mperburuk harinya dengan bertingkah seperti itu. Dia hanya ingin nenangkan diri di kamar, mandi lalu tidur.

Randika juga kembali ke kamarnya. Ketika dia hendak ngontak Yuna, telinganya ndengar sesuatu!

Seseorang mbobol masuk rumah ini!

Randika tidak mau mancarkan auranya begitu saja, dia mutuskan untuk ngamati situasi karena dia masih belum tahu apa target orang itu.

Jendela yang ada di lorong lantai 2 itu terbuka dan suara langkah kaki terdengar.

Suara langkah kaki itu pelan tetapi Randika miliki indera yang super jadi dia bisa ndengar segalanya.

Dari langkah kakinya itu, terdengar njauh dari kamarnya. Kamar Inggrid pasti njadi targetnya!

Randika segera ngerutkan dahinya dan lesat cepat nuju kamar Inggrid.

Ketika mbuka pintunya, Randika segera riksa seluruh ruangan. Tetapi dia tidak dapat lihat siapa-siapa di sana dan jendela kamar Inggrid masih tertutup.

Lampu kamar mandi masih nyala. Pada saat ini, tiba-tiba lampu kamar mandi mati dan suara pintu terbuka terdengar. Seketika itu juga, sebuah panah lesat hendak masuk dari celah pintu tersebut!

Namun, ketika lampu kamar mandi itu mati, Randika sudah lesat duluan ke arah kamar mandi dan nyelinap masuk di detik yang sama saat pintu itu terbuka. Inggrid, yang hanya berbalut handuk, kaget ketika lihat sosok Randika yang tiba-tiba muncul di hadapannya.

"Kau." Bahkan sebelum Inggrid selesai ngomong, Randika sudah nggotongnya. Panah itu kemudian nancap di dinding.

"Dasar pria sum, lepaskan aku!" Inggrid, yang masih belum sadar akan situasinya, ronta-ronta ketika digotong oleh Randika. Pria ini benar-benar berani ngintipnya saat lagi mandi!

"Diam! Ada seseorang di luar!" Kata Randika dengan suara pelan.

Inggrid sedang mandi jadi dia tidak nyadari apa-apa. Saat dia hendak handukan, tiba-tiba lampunya mati oleh karena itu dia berjalan keluar untuk nyalakannya kembali.

Sekarang, hanya ada cahaya dari luar yang nerangi kamar mandi ini. Randika kembali riksa seluruh ruangan ini. Ternyata, kunci jendela tepat di luar kamar mandi itu telah dirusak. Tidak ada jejak sepatu di jendela tersebut. Musuh pasti hanya manfaatkan celah jendela itu untuk matikan lampu dan nyerang!

Sekarang dia berada di posisi buruk. Dia berada di bawah cahaya bulan sedangkan musuhnya masih bersembunyi di tengah kegelapan.

"Randika aku tidak percaya kau sampai lakukan hal seperti ini. Kau mang pria tidak tahu diri!" Inggrid masih sibuk nutupi tubuhnya, dia tidak percaya sama sekali terhadap kata-kata Randika. "Lepaskan aku!"

lihat Inggrid yang ronta-ronta, dia mutuskan untuk luknya dengan erat dengan wajahnya bersandar di dadanya.

Sebelum ini, Inggrid baru saja selesai mandi dan tubuhnya hanya dililit oleh handuk. Tidak diragukan lagi bahwa aroma yang dipancarkannya sangat harum. Di bawah pelukannya Randika, tubuh montok Inggrid ini terasa empuk. Randika yang masih berpakaian saja tetap bisa rasakan kelembutan Inggrid.

Apalagi Inggrid terus ronta-ronta jadinya handuknya itu semakin lama semakin rosot dan semakin banyak area yang tidak tertutupi.

Randika nghela napas. Inggrid mang wanita luar biasa, dadanya yang besar itu nempel erat di dadanya. Kaki putihnya yang panjang lilit salah satu kakinya dan perutnya yang ramping terasa lembut ketika dia peluk.

Inggrid sudah ingin nangis. Dia rasakan napas Randika yang nggebu-gebu dan ototnya yang kekar itu tetap terasa walaupun dia makai baju. Apakah kesuciannya hari ini akan hilang? Pria ini mang tidak tahu diri!

"Lepaskan aku! Kalau tidak, aku akan mbencimu!" Inggrid semakin keras ronta.

Pada akhirnya Randika tetaplah lelaki sehat. Gerakan ronta Inggrid ini justru mberikan stimulus tersendiri pada dirinya. Dan di situasi negangkan seperti ini, dia tidak bisa ngendalikan 'adiknya' itu.

"Kau!" Inggrid segera mucat. Dia rasakan ada sesuatu yang ngeras di bagian bawahnya.

"Jika kau terus ronta seperti ini, kita akan mati!" Randika pura-pura marah dan masang wajah garangnya agar Inggrid tidak mperparah situasi.

Ketika Inggrid lihat ekspresi Randika yang marah itu, dia ketakutan. Dia tidak berani bergerak lagi.

lihat Inggrid yang sudah tidak lawan dirinya, Randika nghela napas lega. Sekarang konsentrasinya bisa sepenuhnya tertuju pada si penyerang.

Musuh masih belum bergerak kembali. Randika ngintip dari pintu untuk ngamati situasi. Di saat dia lakukannya, ada sesosok bayangan di jendela! Musuh nyadari keberadaan Randika dan langsung masang penutup wajahnya.

"Awas!" Randika kaget. Dia segera luk erat Inggrid dan berguling di lantai. Senjata lempar yang digunakan musuh langsung tertancap di lantai.

Inggrid langsung terbeku. Senjata pembunuh itu tertancap di lantai persis di sampingnya. Randika ngatakan sejujurnya!

Pada saat ini, Randika ngeluarkan keringat dingin. Sepertinya sebuah panah kecil berhasil ngenai bahunya.

"Huahaha!"

Tawa keras dan jahat itu berasal dari pembunuh itu. Senjata yang dia bawa hari ini semua adalah senjata beracun termasuk panah yang nancap di bahu Randika. Riwayat Randika sudah tamat kalau tidak ndapatkan penawarnya.

"Randika! Kau tidak apa-apa?" Tanya Inggrid dengan khawatir. Dia lihat wajah Randika yang dipenuhi keringat dan rasa cemas.

"Tidak apa-apa." Di nada bicara Randika, ada sedikit rasa sakit yang dia tahan.

"Mati kau Ares!" Setelah tawa itu selesai, sejumlah panah beracun kembali ngarah kepada Randika.

"Randika! Tidak!" Inggrid sudah nangis di tahap ini. Bagaimana tidak? Sejumlah panah itu kembali ngenai Randika.

"Hahaha! Dia dijuluki dewa perang tapi dia sama sekali tidak berdaya sekarang. Akan kuakhiri kisah legendamu itu!" Pembunuh ini pun ndekati Randika sambil mbawa pisau.

Inggrid, yang masih dipeluk erat Randika walau sudah pingsan, rasa ketakutan lihat pembunuh itu ndekati reka berdua.

"Randika! Cepat bangun!" Inggrid nggoyang dan nampar Randika tetapi tidak ada reaksi.

Sosok pembunuh itu sudah dekat dan dia mulai ngayunkan pisaunya yang panjang itu nuju kepala Randika!

Tetapi dalam sekejap, Randika mbuka matanya, nampar lantai dengan tangannya dan lesat maju nuju si pembunuh!

Pembunuh ini tidak nyangka bahwa Randika masih bergerak dan dia sudah tidak bisa nghentikan serangannya. Randika yang layang itu segera nendang keras pembunuh itu. Si pembunuh terpental dan gangi dadanya yang seakan-akan telah dipukul oleh palu.

Sambil terengah-engah, dia natap Randika dengan muka tidak percaya dan ngatakan, "Kau. Belum mati?"

"Terkejut?" Tenaga dalam Randika sudah bersirkulasi. Panah yang nancap di tubuhnya tiba-tiba terjatuh hanya karena kontraksi ototnya. Bahkan, tenaga dalamnya Randika sudah lindungi dirinya sejak tadi. Hasilnya, panah itu hanya ngenai permukaan kulitnya saja dan tenaga dalamnya nahan laju racun agar tidak bisa nyebar.

Kau pikir salah satu dari 12 Dewa Olimpus bisa dikalahkan hanya dengan beberapa panah beracun?

"Kalau aku tidak pura-pura mati dan keracunan, bagaimana bisa aku mbuatmu maju?" Kata Randika dengan santai. "Jika kau terlalu jauh dariku, aku takut aku tidak bisa nangkapmu hidup-hidup."

Randika nghela napas dalam-dalam dan laju pesat nuju pembunuh itu. Tidak pakai lama, karena sudah tahu misinya telah gagal, si pembunuh itu tidak ragu-ragu untuk segera kabur dari sana. Namun, Randika sudah ngerti niatan musuh dan mblokir pintu keluar.

Tiba-tiba, si pembunuh itu ngangkat tangannya dan sejumlah panah lesat ke arah Inggrid.

Mau tidak mau si pembunuh lakukan tindakan pengecut ini.

Randika tidak miliki pilihan dan segera berlari nyelamatkan Inggrid. Si pembunuh manfaatkan kesempatan ini untuk kabur.

Ketika Randika berhasil nyelamatkan Inggrid dan ingin ngejarnya, dia natap Inggrid yang masih tergeletak di lantai. Dia masih tidak tahu misi pembunuh itu sebenarnya. Kalau misinya adalah Inggrid, dia takut apabila dia ngejar pembunuh itu akan ada pembunuh lain yang nyerang.

Namun jika dia tidak ngejarnya, Randika akan kehilangan informasi berharga ngenai siapa dalang sebenarnya dari kejadian ini. Dari perkataan pembunuh tadi, dirinya rupakan targetnya jadi pembunuh itu adalah petunjuk penting bagi dirinya. Mungkin dia bisa mberikan informasi banyak tentang musuhnya.

Di tengah-tengah keraguannya, terdengar sebuah suara dari pintu luar. "Jangan khawatir tentang keselamatan nona, lakukan apa yang kau lakukan."

ndengar hal ini mbuat Randika bernapas lega, dia lalu berkata pada Ibu Ipah. "Sisanya aku serahkan padamu!"

Setelah ngatakan itu, Randika segera lompat keluar dari jendela dan njadi serigala yang mburu mangsanya.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 31: Diam! Ada Seseorang di Luar! on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

I Became The Academy Necromancer cover
Similar genre

I Became The Academy Necromancer

172 ·Harem

Scream,Shriek.Wakeupandpourtherestofyourgrudgesontome.ThenI’ll...Readmore Scream,Shriek.Wakeupandpourtherestofyourgrudgesontome.ThenI’llsaveyou.Col...

I Devour Deities cover
Similar genre

I Devour Deities

Love Pea ·Harem

Thirtyyearsago,ameteorfellandthedivineruinsappeared!Somedeitiesemergedfromit,feedingonhumans.Sincethatday,humanshavebecomefoodforthedeities,exceptf...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.