Font Size
15px

"Kakak tertua, aku akhirnya bisa nemukanmu!"

Seluruh orang yang lihatnya terdiam. Para bawahan yang dibawa Dimas malah lihat adegan ini dengan mulut ternganga. Bukankah reka datang untuk nghajar orang?

Muka Elang sudah seperti orang bodoh. Apa-apaan ini? Kakak tertuanya berlutut di depan orang asing? Bahkan rasanya kakak tertua itu muja pemuda itu. Apakah ini mimpi?

Ekspresi Andre lebih bodoh lagi. Seharusnya situasi tidak berjalan seperti ini. Bukankah harusnya Randika yang berlutut dengan wajahnya yang babak belur? Kenapa bisa salah satu pimpinan dunia bawah tanah malah yang berlutut di hadapan Randika?

Randika sendiri juga kaget. Orang ini ternyata punya akal juga, pikirnya.

Randika kembali duduk di kursinya dan lihat Dimas, "Aku tidak ingat pernah mbantumu, buat apa kau ncariku?"

Muka Dimas penuh dengan rasa hormat, "Kalau bukan karena bantuan kakak tertua, Dimas ini sudah tidak bernyawa sejak hari itu. skipun kakak waktu itu hanya lakukan 'pembersihan', justru aku tidak pernah lupakan aksi kakak tersebut."

Adegan malam itu benar-benar lekat erat di pikiran Dimas. Malam itu Randika mbantai geng kapak seorang diri. Tidak pernah ada dalam sejarah dunia bawah tanah yang ngatakan bahwa sebuah geng, apalagi sebesar geng kapak, hancur dalam semalam.

Geng kapak sudah dipastikan hancur ketika Randika ndobrak pintu reka. Yang mbuat Dimas benar-benar kagum adalah saat pimpinan geng kapak itu ngeluarkan pistolnya.

Bahkan peluru saja bisa dihindari! Bagaimana mungkin Randika itu seorang manusia?

Setelah malam itu, Dimas manfaatkan kekosongan kekuasaan dari geng kapak untuk njadi salah satu geng terkuat di kota ini. Hanya butuh satu malam dan tatanan dunia bawah tanah di kota Cendrawasih berubah. Ini semua berkat bantuan Randika.

Berkat satu pertemuannya dengan Randika itu, hidup Dimas berubah drastis. Kalau bukan karena Randika, dia pasti akan mati dibunuh oleh geng kapak. Jadi dia sangat nghormati Randika.

Namun, hanya masalah waktu saja sebelum gengnya ini berpapasan dengan Randika. Jadi sebisa mungkin sejak saat dia berpisah dengan Randika, Dimas berusaha ncari dirinya untuk ndapatkan hatinya agar gengnya tidak bernasib sama dengan geng kapak.

"Hei kalian! Kenapa kalian masih berdiri?" Dimas segera berbalik dan mbentak ke seluruh bawahannya. "Bukankah kakak tertuaku adalah kakak tertua kalian? Berlutut sekarang juga!"

Semua preman-preman ini masih bingung. reka saling natap satu sama lain, tidak yakin harus lakukan apa.

"Jika kalian tidak mau berlutut, kupatahkan kaki kalian satu per satu!" Bentak Dimas.

Kali ini semua preman itu nuruti perkataan Dimas dan berlutut serentak. Bisa dikatakan hampir semua orang di lantai 9 ini berlutut ke arah Randika.

Yang masih belum berlutut adalah Andre dan Elang. reka masih tidak dapat mpercayai apa yang reka lihat. Ekspresi Andre sudah mulai berubah njadi ketakutan. Perkembangan situasi yang seperti ini benar-benar di luar dugaannya. ngenai apakah dia masih bisa bertahan di perusahaan Cendrawasih juga patut dipertanyakan.

Glek!

Andre nelan ludahnya dan terlihat nyesali perbuatannya. Bisa-bisanya dia nyinggung Randika.

skipun sudah mbentak reka, Dimas masih lihat ada 2 orang yang belum berlutut. Ekspresinya segera njadi marah. Elang yang lihat ekspresi Dimas itu segera berlutut, sekarang hanya Andre yang masih berdiri.

Karena aku bukan bagian dari kalian, buat apa aku berlutut?

skipun ketakutan, Andre masih belum goyah lalu Dimas terlihat mbentaknya. "Kau tuli? Bukankah aku sudah nyuruh semuanya yang ada di sini berlutut? Aku tidak ngurus siapa dirimu tetapi ketika aku nyuruh semuanya berlutut, berlututlah atau kau akan kuhajar!"

Duak!

Saking lemasnya kakinya, Andre tidak bisa nahan tubuhnya dan berlutut. Wajahnya sudah dipenuhi oleh keringat, dia tidak tahu apa yang akan terjadi berikutnya.

"Hormat pada kakak tertua!" Teriak Dimas sambil nyembah.

"Hormat pada kakak tertua!" Para preman itu segera ngikuti gerakan Dimas.

Para ahli parfum yang ngintip dari dalam ruangan ikut terkejut lihat adegan ini. Orang dari dunia bawah tanah sampai nyembahnya? Siapa Randika sebenarnya?

Seorang petugas keamanan yang ada di lantai ini nelan ludahnya dan laporkan apa yang dia lihat. "Keadaan di lantai 9 aman, tidak ada yang perlu dikhawatirkan."

Hmmm lumayan, pikir Randika. Dia lalu lihat Dimas sekali lagi. Orang ini berhasil nghemat waktunya dan tidak ada salahnya nerima hormat reka.

"Baiklah, baiklah." Randika ngibaskan tangannya dan ngatakan, "Kalian semua berdirilah."

Semua orang lalu berdiri dan Randika segera nunjuk Elang dan Andre, "Kalian nyembahku sebagai kakak tertua kalian tapi di sana ada dua orang yang nganggapku musuh. Jika kalian tidak bisa satu suara maka bisa kusimpulkan kalian tidak tulus nghormatiku."

Seketika itu juga, Dimas segera nghampiri reka berdua dan ngatakan. "Dasar bajingan! Kalian berani musuhi kakak tertuaku? Siap mati kalian?"

Beberapa preman juga ngepung Elang dan Andre.

Hidupku sudah di ujung tanduk!

Seluruh tubuh Andre sudah basah oleh keringat. Di saat-saat negangkan ini, dia masih sempat lihat Randika dan lihat senyuman kecilnya.

Elang juga takut. Bukankah reka adalah saudara? Kenapa reka dengan cepat mbuang dirinya, terlebih kenapa Dimas sangat nghormati orang itu? Dia berpikir bahwa hari ini adalah hari terakhirnya.

Dua orang segera nahan Andre dan Elang. "Selama ini kau belajar apa ha?"

Dimas pun mukul perut Elang dan dia pun terkapar di lantai. Elang segera berdiri dan mbungkuk sambil minta ampun.

"Kakak tertua maafkan adikmu yang bodoh ini! Aku telah berbuat salah!" Saat mbungkuk pun dia masih nerima pukulan.

"Kau sudah dewasa dan masih saja berpikiran layaknya bocah gara-gara tergiur oleh uang." Kata Randika pada Elang. Kata-katanya ini nusuk hati dan mbuat wajah Elang njadi rah.

"Kakak tertua, adik mang salah. Orang ini ngatakan bahwa dia ingin nghajar salah satu rekan kerjanya dan njanjikan aku uang 25 juta setelahnya. Kakak, ini salahku karena tergiur dengan uang! Aku layak dihukum! Aku layak dihukum!" Sambil berkata seperti itu, dia nampar dirinya sebanyak 7x.

Dimas ludahinya, "Cih! Nanti aku akan ngurusmu saat pulang nanti." Setelah itu, Dimas kembali nendangnya.

Kali ini darah ngalir dari sudut mulut Elang.

"Kak ini juga rupakan kesalahanku karena tidak bisa ngatur anak buahku sendiri." Dimas minta maaf ke Randika. Tetapi kalimat berikutnya mbuat Elang ketakutan, "Kalau kakak berkenan, kau bisa lakukan apa saja padanya nanti akan kami urus mayatnya."

Ketika ndengar ini, wajah Elang sangat pucat.

Randika ngibaskan tangannya. "Aku tidak ngerti bagaimana caranya kau ngurus berandalan di kelompokmu. Dia anak buahmu jadi hukumlah sesuai hukummu."

Ketika ndengar ini, Elang bernapas lega.

"Terima kasih kak!" Dimas segera mbungkuk.

"Terima kasih kakak tertua!" Elang juga segera mbungkuk.

Sekarang tatapan mata Randika jatuh pada Andre. Wajah Andre sudah putih sambil dipenuhi oleh keringat, matanya dipenuhi rasa takut dan hidungnya sudah berair. Kakinya bahkan tidak bisa berhenti bergetar.

"Bagaimana Tuan Andre? Masih mau catku dari sini?" Tanya Randika.

"Tidak, aku tidak akan berani." Andre segera nggelengkan kepalanya dengan cepat. "Bahkan kau bisa catku sekarang juga."

"Ha? Bagaimana mungkin? Bukankah manajer personalianya Anda?"

Di samping Randika, Dimas terlihat marah dengan cara Andre njawab. "Berani tidak nghormati kakak tertua? Kubunuh kau!"

Dimas layangkan pukulan ke perut Andre. Andre pun terkapar di lantai kesakitan.

"Berdiri!" Kata Dimas dengan nada dingin.

lihat Andre yang tidak segera berdiri, dua orang preman nopang dan gangi tubuh Andre.

"Bedebah, kubunuh kau hari ini demi kehormatan kakak tertua!" Dimas kembali mukulnya dan Andre sudah ringkik kesakitan.

Karena Andre bukan anak buahnya, Dimas tidak segan-segan mukulinya dengan keras. Selama dia tidak mbunuh orang ini seharusnya tidak ada masalah. Kalau pun orang ini terbaring di rumah sakit bukankah itu lebih bagus daripada dibunuh Randika?

"Maafkan aku Randika! Aku salah! Aku seharusnya tidak ngusik dirimu ataupun wanitamu. Aku orang bodoh yang tidak sadar akan posisinya! Aku seharusnya tidak ngirim orang untuk ncelakaimu!" Andre benar-benar nangis dengan semua kejadian buruk hari ini.

Randika tampak nutup matanya, seakan-akan tidak peduli dengan omongannya.

Andre sudah rasa tubuhnya remuk. lihat Randika yang nutup matanya, hatinya segera ngepal.

"Bajingan, kau kira kau itu anjing?" Dimas segera riksa sepatunya. Di tengah-tengah penyiksaannya, Andre ternyata ngompol.

"Tuan Randika tolong lepaskan aku. Aku hanya orang kecil dan tidak punya malu. Umurku masih muda dan aku tidak ingin mati." Andre sudah berurai air mata dan ingusnya sudah netes-netes. "Aku berjanji tidak akan ngejar Inggrid lagi tuan, aku tidak akan nyentuh wanitamu lagi. Aku tidak akan ngusik kehidupanmu lagi. Tolong lepaskan aku tuan."

Pada saat ini, Randika berkata dengan suara pelan. "Apa hubunganku dengan Inggrid?"

Andre terkejut dan segera ngatakan, "Suami istri! Kalian berdua adalah pasangan suami istri!"

"Ulangi lagi?" Kata Randika sambil ngerutkan dahinya.

lihat ekspresi Randika, Andre segera rubah kata-katanya. "Kalian berdua adalah atasan dan bawahan. Inggrid adalah bos, sedangkan Anda adalah karyawan perusahaan ini."

"Terus?" Randika masih ngerutkan dahinya.

Andre sudah ingin nangis, dia sudah tidak tahan dengan situasi ini.

"Aku tidak tahu hubungan Anda dengan Inggrid yang sebenarnya. Aku hanya orang asing lainnya."

"Itu benar, kau tidak tahu apa-apa tentang hubungan kami." Randika kembali nutup matanya. "Aku tidak ingin lihatmu di sekitar Inggrid lagi."

"Anda tidak perlu khawatir, aku akan ngundurkan diri saat ini juga." Andre segera ingin pergi dari sini. Tetapi, lagi-lagi ekspresi Randika kembali masam.

"mangnya aku nyuruhmu untuk berhenti?" Kata Randika. "Kalau-kalau perusahaan ini ngalami kekacauan, kau tahu sendiri hukuman apa yang nantimu."

Aku tidak diperbolehkan keluar dari pekerjaan ini dan masih harus bertemu dengan setan ini?

Andre ingin nangis tetapi dia tidak bisa lawan perkataan Randika dan ngiyakan.

"Dan kejadian apa yang terjadi hari ini?" Tanya Randika.

"Tuan Randika tidak perlu khawatir, hari ini damai seperti biasanya." Balas Andre.

"Terus kenapa kau terluka?"

Andre segera mbalas, "Aku terjatuh dari tangga karena terpeleset!"

Ketika Dimas lihat bahwa Randika sudah puas, dia nyuruh 2 bawahannya yang gangi Andre untuk lepasnya. "Pergi dari sini, berani ngganggu kakak tertua lagi kubunuh kau!"

Andre segera mbungkuk terima kasih dan lari nuju lift.

Setelah itu, Dimas lihat Randika yang berbalik nuju ruangannya.

"Kak? Mau ke mana kau?" Teriak Dimas.

"Aku ada urusan, sebaiknya kau juga pergi." Balas Randika.

"Ah?" Dimas masih bingung dengan tanggapan Randika.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 30: Hormat pada Kakak Tertua! on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.