Font Size
15px

"Halo apakah ini kakak Elang? Ini aku Andre. Terakhir kali kita bertemu saat kita minum-minum di bar minggu lalu, apakah kau ingat? Iya jadi begini. Aku butuh bantuan kakak untuk mberi pelajaran pada seseorang tetapi jangan sampai kau mbunuhnya. Oh, jangan khawatir orang ini tidak punya dukungan politik siapa-siapa kok. Dia hanya rekan kerja dari perusahaanku saja. Oke kita sepakat! Aku minta tolong bawa beberapa orang tambahan ya, soalnya aku dengar dia jago berkelahi. Pada saat kau selesai nghajarnya, aku akan mberikan 25 jutanya pada saat itu juga."

Andre kemudian nutup teleponnya. Tatapan matanya masih dipenuhi rasa balas dendam. Randika Lihatlah akan kutunjukkan kau siapa yang berkuasa!

"Ah! Pelan-pelan!" Teriak Andre kepada perawat yang sedang mbersihkan lukanya.

"Tolong jangan bergerak." Kata perawat itu.

Di tempat lain, seorang pemuda di usia 20an nutup teleponnya dan lemparnya ke sofa.

"Kak, ikut aku!"

"Kenapa kau Elang? Kau ingin aku antar ke mana lagi?" Tanya seorang pria botak.

"Hahaha kali ini kita bukan pergi untuk bermain lainkan untuk bekerja. Temanku mintaku untuk nghajar seseorang dan dia akan mberikan 25 juta setelah kita selesai nghajarnya."

"Bah! Mana ada pekerjaan semanis itu."

"Serius aku kak, sudahlah percayakan hal ini padaku. Nanti uangnya kita buat minum-minum sepuasnya!"

"Hidup kakak Elang!"

Sekumpulan preman ini pun segera berangkat nuju perusahaan Cendrawasih.

Tidak butuh waktu lama untuk para preman tersebut sampai di gedung perusahaan terbesar di kota ini. Petugas keamanan terkejut ketika lihat sekumpulan pria bertampang kasar ini datang. Salah satu dari reka segera ncegat reka dan salah satu dari preman itu berkata kepada petugas tersebut, "Aku hanya ingin bertemu dengan salah satu orang dari perusahaan ini, aku akan pergi ketika kami sudah bertemu."

Para petugas keamanan ini tidak bisa ncegah reka masuk tetapi reka juga miliki persiapan sendiri. reka segera mberitahu orang-orang di dalam untuk bersiap-siap nekan tombol alarm apabila terjadi sesuatu.

Setelah reka masuk, salah satu dari reka bertanya kepada perempuan yang ada di lobi.

"Hei, di perusahaan ini adakah yang bernama Randika?" Suara kasar ini ngejutkan perempuan tersebut. Ketika mperhatikan tampang dan pakaian yang dipakai sekumpulan orang ini, dia segera panik.

"Adakah yang bisa saya bantu?" Suaranya sedikit getar.

"Aku tidak butuh bantuanmu, aku hanya ingin bertemu dengan satu orang. Hubungi saja si Randika itu." Kata Elang dengan nada marah.

Setelah Elang mbentak wanita ini, para petugas keamanan sudah bersiaga dari luar dan tampak juga ada yang datang dari atas.

"Aku minta maaf tuan. Jika Anda tidak bisa njelaskan alasan Anda datang ke sini, saya tidak bisa mbantu Anda."

Ketika ndengarnya, Elang njadi marah. Di saat dia hendak mbentak lagi, handphonenya bunyi. Ternyata itu Andre!

"Kau bisa langsung naik ke lantai 9. Kata Andre.

Elang pun natap tajam ke perempuan tersebut dan berjalan nuju lift. Saat petugas keamanan berusaha ncegahnya, reka ndapatkan telepon dari Andre.

"reka ini adalah calon petugas keamanan yang datang untuk lakukan wawancara. Biarkan reka naik nemui saya." Andre njelaskannya dengan nada tenang.

Ketika petugas keamanan itu ndengar perkataan sang manajer personalia, tidak mungkin reka mbantahnya. Elang dkk akhirnya naik lift dan nuju lantai 9.

Saat reka sudah berada di lantai 9, reka langsung disambut Andre.

"Mana orang yang ingin kau hajar?" Tanya Elang. "Aku ingin segera nyelesaikannya dan ngambil uangku."

"Jangan khawatir. Uang itu sudah ada di tanganku." Andre pun segera njelaskan. "Dia ada di lantai ini namanya adalah Randika. Petugas keamanan di lantai ini sudah aku tarik mundur jadi kau bisa ngamuk sepuasnya."

Di saat reka berbincang, Randika keluar dari ruangannya dan lihat kerumunan orang ini. Dia lalu ndekati reka.

"Ah! Itu dia orangnya." Mata Andre segera njadi rah. Karena dia belum ke rumah sakit, luka-lukanya masih belum terawat sepenuhnya skipun klinik perusahaan ini sudah mberikan pertolongan pertama.

"Oh?" Elang dan teman-temannya ndatangi Randika.

Beberapa ahli parfum juga ikut keluar bersama Randika. Ketika reka lihat gerombolan orang ini, reka segera berbalik dan nuju ruangannya kembali. reka masih trauma dengan kejadian sebelumnya.

Randika kini telah dikepung.

"Jadi kamu yang namanya Randika?" Kata Elang sambil riksa Randika dari atas ke bawah.

Randika malah tidak njawab pertanyaan ini, dia lebih fokus kepada Andre yang ada di belakang. Dia lalu tertawa keras. Ketika ndengar tawa ini, Andre entah kenapa rinding.

"Oh sepertinya kau kurang cerdas nghafal muka orang sampai-sampai kau tidak tahu yang mana yang kau cari." Kata Randika dengan santai.

"Berengsek, kau belum njawab pertanyaanku tadi." Elang sudah rasa marah dan nendang Randika, anehnya kakinya dengan cepat terayun kembali.

"Ckckck jadi kalian ke sini cuma cari gara-gara?" Randika nggelengkan kepalanya. "Suasana hatiku sedang tidak bagus, jadi aku aslinya malas layani kalian."

"Bah kau kira kau punya pilihan? Hajar dia!" Elang pun sudah tidak sabar.

TIba-tiba semua orang ngeluarkan pisau reka dan nerjang Randika.

Seketika itu juga Randika berubah njadi sesosok cahaya. Dia nampak ngepalkan tangannya. Bahkan belum sampai 3 langkah, salah satu preman ini sudah ada yang layang. Orang di sebelahnya bahkan sudah ikut layang juga ketika dia noleh ke arah temannya.

Randika nyikut orang yang berada di belakangnya hingga hidungnya patah. Dia nambahkan tamparan keras pada pelipis orang itu hingga dia jatuh pingsan. Kemudian dia ngambil pisau orang itu dan lemparnya ke orang lain. Pisau itu segera nancap di lengannya!

skipun tampaknya Randika telah dikepung, situasi ini bagai serigala yang berada di kandang ayam. Dengan kecepatan dewanya, setiap langkahnya mbuat seseorang layang. Preman-preman ini bahkan tidak bisa nyentuh ujung baju Randika.

Randika kemudian layang tinggi dan nerjang turun. Seketika itu juga, 5 orang langsung terkapar kesakitan.

"Sepertinya orang yang kau panggil kurang tangguh." Randika ngatakan ini kepada Andre yang ada di belakang.

Andre benar-benar ketakutan lihatnya, kakinya sudah lemas dan mulutnya ngering. "Kau. Kau bukan manusia!"

Elang yang terkapar di lantai segera berdiri dan ngatakan, "Jangan bangga dulu kau! Kupanggil kakak tertuaku baru tahu rasa kau!"

"Ah! Berarti pimpinan kalian ya?" Kata Randika. "Kalau begitu sekalian saja kalian kubereskan semua jadi aku tidak perlu repot-repot ncari lagi. Punya nomornya? Mau aku teleponin sekarang? Atau kau bawa telepon sendiri?"

"Bacot saja terus, nanti baru tahu rasa saat kakak sudah ada di sini!" Elang segera mundur dan ngeluarkan handphonenya.

Tak lama kemudian, panggilannya diterima. "Kak! Tolong aku, kami semua telah dihajar oleh seseorang."

Tak lama kemudian, Elang tiba-tiba tertawa ke arah Randika. Para preman yang terkapar di lantai segera ngambil langkah mundur dan berkumpul di sekitar Elang.

"Apakah kakak tertuamu itu kuat?" Tanya Andre.

"Kakak tertua adalah orang paling tangguh yang kukenal!" Kata Elang dengan nada dingin. "Jangan khawatir, kakak tertuaku itu sudah njadi salah satu penguasa kegelapan di kota ini! Tidak ada orang yang bisa berjalan lurus ketika ndengar namanya."

ndengar kepercayaan diri Elang, Andre rasa lega. Dia rasa ndapatkan kembali kepercayaan dirinya dan berkata pada Randika, "Lihat saja sebentar lagi!"

"Jangan berlutut minta ampun ketika kakak tertuaku datang dan nghajarmu sampai sekarat." Elang juga nambahkan. Para preman yang awalnya tampak tidak berdaya, segera bersorak ketika tahu bahwa pimpinan reka itu akan datang.

"Randika, jika kau mberikan Inggrid kepadaku maka aku bisa ncegah hal ini terjadi." Kata Andre.

Randika malah nguap, "Huahm! Aku suka dengan orang-orang lemah seperti kalian, kalian pintar ngelawak. Hei bawakan aku kursi."

Ahli parfum yang ngintip dari ruangan masih berdiri kaku ketika lihat aksi pemukulan tadi. Setelah diajak bicara Randika baru dia tersadar dari keterkejutannya.

Dia langsung mbawakan kursi untuk Randika.

Randika lalu duduk, lihat jam dan berkata dengan santai. "Sepuluh nit. Aku mberikan kalian sepuluh nit untuk nunggu bala bantuan kalian. Jika pimpinanmu itu tidak datang dalam 10 nit, kalian semua akan kubunuh dan mayat kalian akan kubuang di pinggir jalan."

Setelah itu Randika nutup matanya.

Ekspresi Elang sedikit berubah, dia lalu berteriak dengan lantang. "Kita lihat nanti apakah kau masih bisa berbicara seperti itu atau tidak!"

Andre juga nimbrung, "Aku tahu kau cuma pura-pura tenang! Sebentar lagi kita lihat siapa yang akan tertawa!"

Randika tidak peduli dan tetap terdiam.

Setelah 10 nit berlalu, Randika mbuka matanya. "Waktunya telah habis."

lihat Randika yang berdiri, Elang langsung panik. Namun, terdengar suara langkah kaki yang jumlahnya banyak datang dari belakang.

Semua orang dari kelompok Elang telah datang!

Semua orang yang ada di sana langsung bersorak gembira dan berteriak ke arah Randika. "Mati kau bajingan! Semua orang kami telah datang, jangan harap bisa pulang hidup-hidup!"

Randika ngerutkan dahinya. Dari arah lift, turun seorang pria berjas hitam dan makai kacamata hitam. Aura yang dipancarkannya berbeda dengan orang-orang ini.

Randika nghela napas ketika lihatnya. Penampilan orang itu cukup keren, haruskah dia lain kali datang di saat genting dengan makai baju seperti itu?

"Kakak!"

Elang segera nghampiri kakak tertuanya itu. Kemudian orang itu ngatakan, "Ada masalah apalagi kalian ini?"

lihat orang yang baru datang ini mbuat Andre bernapas lega, Randika siap-siap saja kau!

"Kak, kami semua tadi kalah. Elang langsung nunjuk ke arah Randika. "Orang itu yang nghajar kami. Dia juga ngancam akan mbunuh kami dan lempar mayat kami di jalan! Kak, kau harus nghajarnya demi kehormatan kami."

"Hmmm." Orang itu ndengus. Kemudian tatapan matanya nyapu ke arah orang yang nghajar bawahannya. "Dia cuma sampah!"

Kemudian dia nghampiri Randika dan ngatakan, "Tidak ada orang di kota ini yang berani bermacam-macam dengan namanya Dim..."

Namun, suara orang ini semakin kecil. Yang awalnya nada ngancam njadi selembut kicauan burung. Bahkan para bawahannya tidak dapat ndengar perkataan pemimpin reka.

Andre dan Elang kebingungan, apa yang telah terjadi?

Dimas lihat Randika yang tersenyum kepadanya. Dimas tidak percaya apa yang telah dilihatnya. Dia lalu ngusap-usapkan matanya dengan keras. skipun sudah lakukan hal itu, kenyataan tidak berubah.

Ya tuhan orang itu!

"Apa kau ingin lihat wajahku dari dekat?" Mata Randika sudah mancarkan aura mbunuh.

Takdir mang lucu, pria di hadapan Dimas ini adalah pria yang telah nghabisi geng kapak sendirian!

Semua orang, termasuk Andre dan seluruh bawahan Dimas, ngira bahwa Randika akan mati hari ini. Tidak ada orang yang berani lawan kakak tertua ini. reka sudah berdebar-debar nanti adegan keren pemimpin reka tetapi apa yang reka lihat benar-benar di luar dugaan.

reka lihat Dimas berlari ke arah Randika dan berlutut di hadapannya.

"Kakak tertua, akhirnya Dimas berhasil nemuimu!"

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 29: Dia Berlari lalu Berlutut! on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

I Am the Fated Villain cover
Similar genre

I Am the Fated Villain

Fated Villain ·Harem

ImmediatelyafterGuChanggerealizedhehadtransgressedintoafantasyworld,theworld’sprotagonist,andfortune’schosen,vowedtotakerevengeonhim.Enviedbyall,he...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.