Font Size
15px

"Akhirnya sampai." Kata Randika sambil nghela napas.

"Hei jangan pergi dulu, kau masih belum ngajarkanku cara nyetirmu." Kata perempuan itu dengan mata yang las. Dia lalu nangkap tangan Randika yang hendak pergi dan mbenamkannya di antara dadanya. "Aku mohon! Ajari aku dong!"

Randika rasa berada di surga. Keempukannya benar-benar kelas atas, perempuan ini benar-benar tahu cara manfaatkan tubuhnya.

"Maaf tidak bisa." Kata Randika sambil berusaha lepaskan tangannya. "Maaf aku buru-buru, tolong lepaskan tanganku."

"Tidak mau! Akan kulepas kalau kau setuju untuk ngajariku." Rengek si perempuan.

Randika kemudian tersenyum. Dia kemudian ndekati perempuan itu dan wajah reka berdekatan. Perempuan ini tidak nghindar ataupun malu.

"Apakah kau benar-benar mau belajar?" Tanya Randika.

"Iya!" Perempuan cantik ini segera ngangguk-anggukkan kepalanya.

"Tapi pelayanan apa yang kau tawarkan sebagai gantinya?" Tanya Randika.

Maksudnya?" Perempuan ini pura-pura tidak tahu maksud Randika.

"Kalau begitu lupakan saja." Randika segera narik tangannya dengan paksa.

"Kumohon jangan pergi. Aku bisa mbawamu ke tempat bagus." Kata perempuan itu.

Randika tidak mpedulikannya. Dia segera nutup pintu mobil dan berjalan nuju gedung Cendrawasih.

"Hei, setidaknya berikan nomor teleponmu." Kata perempuan itu sambil njulurkan kepalanya dari jendela.

"Jika kita ditakdirkan bersama, maka kita akan bertemu lagi suatu hari nanti." Kata Randika sambil lambaikan tangannya.

Tentu saja dia bercanda. Dia sudah kapok berkendara dengan perempuan satu itu. Jika kau ingin cari mati, jangan ajak-ajak aku!

"Hmmm." Perempuan itu nggigit bibirnya, baginya minta nomor itu sudah jarang sekali.

Akhirnya Randika sampai di gedung Cendrawasih. Perempuan yang bertugas di lobi kaget ketika lihat sosok Randika. Dia tidak tahu harus berbuat apa terhadap lelaki tersebut. Lelaki itu dikabarkan sebagai suami dari pimpinan perusahaan yaitu Inggrid Elina, tetapi pimpinannya itu tidak pernah ngatakan apa-apa padanya. Jadi dia ragu untuk mperbolehkan masuk Randika atau tidak. Akhirnya dia mutuskan untuk mperbolehkannya karena waktu itu Randika sempat berjalan masuk berdua dengan Inggrid.

Pada saat Randika ingin ke lantai atas, sekerumunan orang sedang berkumpul di lobi. Randika rasa bingung, ada apakah kali ini?

"Permisi, permisi." Randika mulai nerobos masuk kerumunan dan sudah berada di depan. Ketika dia lihat pemandangan itu, dia rasa murka.

Dia baru pergi tiga hari dan sudah ada laki-laki yang berani ngejar istrinya? Apalagi nampaknya pria itu sedang lamar istrinya, apakah dia sudah bosan hidup?

Randika milih untuk diam dulu dan mperhatikan situasi terlebih dahulu.

"Inggrid, aku tahu bahwa aku tidak pantas ndapatkanmu." Seorang pria nampak sedang berlutut dengan satu kaki, mbawa seikat bunga dan gang tangan Inggrid.

Jelas bahwa dia sedang lamar istrinya!

Bajingan kecil ini tidak tahu bahwa dia berusaha ncuri istri dari salah satu orang terkuat di dunia. Dia ingin mbunuhnya sekarang juga. Tatapan mata Randika semakin dingin.

"Hei bukankah kau tadi ngatakan bahwa Bu Inggrid akan nolaknya?" Dua orang di samping Randika sedang berdiskusi dengan suara pelan.

"Iyalah, bagaimana mungkin Bu Inggrid nerimanya. Perusahaan ini miliknya dan kelas reka juga berbeda." Balasnya.

"Dan juga aku dengar bahwa Bu Inggrid itu sudah nikah!"

"Apa? Aku kok tidak tahu?" Temannya ini tidak percaya, wanita tercantik di kota ini sudah nikah?

"Hei pelan-pelan kalau ngomong. Aku juga baru tahu akhir-akhir ini. Para ahli parfum di lantai 9 yang kasih tahu aku. Kapan hari ada lelaki yang manggil Bu Inggrid sebagai istrinya dan Bu Inggrid tidak nyangkalnya! Tetapi kata orang-orang, kalau dilihat dari cara reka bicara reka bukan seperti suami istri. Jadi, ini semua masih misteri."

Randika mulai nimbrung, "Hei, kalian tahu siapa lelaki yang ngejar Bu Inggrid itu?"

Ketika Randika nyela pembicaraan reka, reka dengan antusias njawab. "Orang itu adalah manajer personalia kita. Dia sudah berada di perusahaan ini sejak lama jadi dia tahu perusahaan ini hingga seluk beluknya."

Pada saat ini, Andre natap mata Inggrid dan ngatakan, "Inggrid, aku sudah ncintaimu sejak awal kita bertemu. Aku ninggalkan perusahaan lamaku hanya demi bisa bersamamu."

Inggrid benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Banyak orang yang berkerumun dan lihat reka jadi dia tidak tahu harus bagaimana nolaknya dengan benar.

"Inggrid, kau adalah wanita tercantik yang pernah aku temui. Kau mungkin masih belum ngerti cintaku ini, tapi aku yakin hatiku ini terbentuk untuk ncintaimu!"

Randika berpikir bahwa kata-kata pria ini terlalu berlebihan dan njijikan.

Inggrid tersipu malu. Dia juga nyadari bahwa ada banyak orang yang sedang ngamati reka berdua, jika hal ini tidak diselesaikan baik-baik dia takut ini akan mbawa masalah besar nantinya.

Terlebih dengan jabatan sebagai manajer personalia, Andre mbawahi banyak orang. Jika Inggrid lukai hatinya, dia takut akan terjadi krisis internal.

"Inggrid, beri aku kesempatan. Aku akan mbahagiakanmu." Andre sekarang nyodorkan bunganya.

Inggrid kau adalah milikku!

Andre berpikir dalam hatinya bahwa jika dia ditolak, dia akan mbuat perusahaan ini ngalami hari-hari yang susah. Dia sudah rancang hari ini dengan baik, dia sudah ndapatkan dukungan dari berbagai departen-departen penting jadi apabila Inggrid nolaknya, dia akan njatuhkan perusahaan ini!

Pada saat ini, muncul sebuah suara. "Wah bunga-bunga ini cantik sekali."

ndengar suara yang muncul tiba-tiba ini, Inggrid sedikit lega karena dia rasa ada yang hendak mbantu dirinya. Saat dia noleh ternyata pria itu yang malah datang.

Randika keluar dari kerumunan dan njadi objek pandangan seluruh orang di sana. Dia segera ngambil bunga tersebut dari tangan Andre sambil ngatakan, "Hmmm harum sekali. Dengan begini toiletku akan harum sepanjang hari. Terima kasih atas sumbanganmu, dengan begini aku tidak perlu mbeli pengharum ruangan."

Pfffttt!

Para penonton tidak dapat nahan tawa reka ketika lihat hal ini. reka tidak nyangka bahwa pria yang datang ini ternyata akan ngejek Andre sedemikian rupa.

Inggrid juga ingin tertawa tapi dia berhasil nahan diri. Sekarang dia lebih khawatir terhadap Randika yang biasanya lakukan hal berlebihan. Dia hendak mperingati Randika tetapi Randika noleh kepadanya dan ngatakan, "Permisi Bu Inggrid, ada hal penting yang ingin kusampaikan."

Setelah berkata seperti itu, Randika noleh kanan-kiri sambil lirik Andre sebelum akhirnya ngatakan, "Di sini kelihatannya ramai sekali, percakapan kita nanti terdengar. Bagaimana kalau kita lanjutkannya di kantorku saja? Ataukah aku yang ndatangi kantormu?"

Inggrid tahu bahwa Randika ingin nyelamatkan dirinya dari situasi ini jadi dia hanya ngangguk dan pergi nuju kantornya.

Ini mungkin cara terhalus untuk nyelesaikan situasi ini.

Andre, yang masih berlutut dengan satu kaki, tidak bisa tidak rasa heran. Dia lalu berdiri dan natap marah Randika. "Dari departen mana kau?"

Randika noleh dan natap Andre. Setelah beberapa saat dia ngatakan. "Kau sendiri dari departen mana?"

"Aku adalah manajer personalia perusahaan ini!" Kata Andre dengan berteriak.

"Oh manajer personalia toh." Randika ngangguk lalu tersenyum dan njulurkan tangannya. "Aku dari departen orang gila, salam kenal."

Beberapa orang langsung tertawa teredam, reka heran kenapa pria ini begitu lucu.

"Kau!" Andre hampir kehilangan kesabarannya dan segera nunjuk-nunjuk Randika. "Kau tidak lihat bahwa aku sedang nyatakan cinta?"

"Maaf aku tidak lihatnya." Kata Randika sambil tersenyum. "Aku benar-benar buru-buru tadi. Aku perlu berbicara dengan Bu Inggrid secepat mungkin jadi aku hanya lihat sosok beliau sedang berdiri sendirian. Lalu aku lihat bunga itu, kukira kau adalah tukang pengirim bunga jadi kuambil saja. Maafkan kesalah pahamanku sebelumnya. Ini bungamu kukembalikan padamu kalau kau masih mau."

Orang-orang di sekitar sedikit takjub pada Randika. skipun dia sudah tahu jabatan Andre yang sebenarnya, Randika masih tidak mberikannya wajah.

Andre sudah tidak tahan lagi. Andre segera mbanting bunga yang dikembalikan oleh Randika.

Randika pura-pura kaget dan ngatakan, "Tuan Andre, aku tahu bahwa Anda marah tetapi jangan lampiaskan ke bunga itu. Aku tahu bahwa cintamu ditolak tapi tolong hargai orang yang telah susah payah nanam bunga itu."

lihat Randika, Andre semakin murka. Dia lalu noleh ke beberapa bawahannya untuk mbantu dirinya kalau terjadi apa-apa.

"Tindakanmu ini sudah berlebihan tuan. Apakah seorang manajer personalia tidak bisa nahan emosinya?" Kata Randika.

"Cukup." Andre sudah rasa dirinya mau ledak. "Enyahlah! Aku ada urusan dengan Inggrid."

Ternyata manajer personalia ini berhasil nahan amarahnya dan hendak nuju kantor istrinya.

Randika mulai bingung. Dia segera nemukan sebuah ide. Randika segera mfokuskan tenaga dalamnya ke jarinya dan nembakkannya ke sabuk yang dipakai Andre. Tenaga dalamnya segera nyebar dan nghancurkan sabuknya itu.

"Tuan, celana Anda lorot!" Teriak Randika.

Andre noleh dan benar katanya, celananya lorot hingga ke lantai dan celana dalam rahnya terlihat dengan jelas.

"Hahahaha!"

Suara tawa muncul dari belakang. Andre sudah kehilangan kesabarannya. Dia segera makai kembali celananya dan natap tajam kepada Randika. Dia lalu bergegas ke lift sambil nahan celananya yang lorot, cara jalannya lucu sekali seperti penguin.

Andre rasa malu 7 turunan. Sebelum pria itu datang, semuanya berjalan dengan baik. Bahkan jika Inggrid nolaknya, dia akan disaksikan oleh semua orang di perusahaan ini dan dia bisa manfaatkan hal itu untuk nciptakan kekacauan. Mungkin rencananya semua itu telah hancur hanya gara-gara campur tangan pria itu.

Andre kemudian nggertakan giginya sambil bersumpah dengan dirinya sendiri. "Dengan segala kekuatan yang kumiliki, aku akan mastikan kamu nerima ganjarannya!"

Inggrid berada di ruangan kantornya. Dia ndengar suara ketukan pintu dan mpersilahkan masuk.

Yang masuk adalah Andre dengan celananya yang sudah dia betulkan.

"Inggrid, kau tahu aku suka denganmu. Jika kamu tidak miliki perasaan yang sama denganku, tidak perlu kabur dengan cara rendahan seperti itu." Sejak dia masuk ke dalam ruangan, Andre tidak mbiarkan Inggrid berbicara.

Ketika ndengarnya Inggrid sedikit kebingungan, terus dia akhirnya nyadari bahwa Randika sepertinya telah lakukan sesuatu terhadap Andre.

"Aku tidak tahu apa yang telah Randika lakukan terhadapmu." Inggrid ngatakannya dengan wajah dingin.

Ketika lihat Inggrid masih tidak mau berkontar, Andre nghela napas dan bertanya, "Kalau begitu, boleh aku tahu dari departen mana orang itu?"

"Dia adalah ahli parfum khusus milikku. Ada apa mangnya?" Tanya Inggrid.

Andre mbalas, "Barusan dia mbuatku malu di depan publik, jika kau tidak mbelaku dan nghukumnya maka aku akan berhenti dari perusahaan ini!"

"Asalkan kau tahu, aku lah yang rekrut pekerja-pekerja di sini jadi aku juga bisa ngajak reka keluar denganku juga!"

Inggrid nanggapinya dengan tenang, "Jangan terlalu berlebihan, aku akan manggil orang itu ke sini."

"Tidak perlu ncariku, aku sudah di sini." Randika masuk ke dalam ruangan dengan santai.

lihat wajah senyum Randika, Andre sudah ingin mukulnya. Dia lalu hanya nggertakan giginya dan berusaha tenang demi ambisinya.

"Bu Inggrid kenapa Anda manggilku ke sini? Kau tahu kalau aku sibuk bukan?" Randika lalu nguap. "Aku sekarang benar-benar sibuk dengan pengembangan produk baru kita, hal ini juga cukup mbuatku kelelahan dan kekurangan tidur."

Inggrid ngerutkan dahinya ketika ndengarnya. Sibuk? Bukannya kau ngerjakan parfum milik Peter dalam beberapa nit saja? Dan bukankah kau barusan kembali setelah pergi beberapa hari?

"Tolong perhatikan orang ini dengan seksama Inggrid. Dia tidak miliki sopan santun." Andre noleh ke Inggrid. "Bagaimana mungkin dia bisa njaga citra perusahaan Cendrawasih ini? Kalau dia tidak keluar maka akulah yang akan keluar!"

"Biarkan aku yang berbicara terlebih dahulu." Inggrid berusaha nengahi reka berdua dan bertanya kepada Randika. "Randika, apakah kau mbuat malu Andre di bawah tadi?"

Randika tertawa, "mbuat malu? Bagaimana mungkin aku lakukan itu? Aku tadi sudah berkenalan secara baik dengan saudara Andre di bawah tadi, tetapi beliau mperlakukanku dengan buruk. Sekarang dia ngatakan bahwa aku seakan-akan lakukan hal jahat padanya, Anda benar-benar sadis."

Randika nunjukan wajah suram. "Ibu Inggrid, aku harap Anda juga tidak bias terhadap hal ini."

Inggrid segera ngerutkan dahinya. Dia berpikir, Kenapa kau lakukan ini? Tidakkah kau lihat aku sedang ndamaikan kalian?

"Randika! Jelaskan apa yang telah kau lakukan di bawah tadi!" Teriak Inggrid.

"Aku tidak ngapa-ngapain." lihat bahwa Inggrid marah, Randika pura-pura kaget. "Sungguhan aku tidak berbuat apa-apa, jika kau tidak percaya kau bisa nanyakannya pada para karyawan yang berada di lantai bawah."

"Bisa jelaskan apa yang terjadi?" Inggrid nyerah bertanya pada Randika dan beralih ke Andre.

Andre kemudian nghela napas dalam-dalam dan ngatakan. "Dia mbuat celanaku lorot."

"Hei tuduhan apa itu! Aku tidak nyentuhmu sama sekali." Balas Randika. "Aku sama sekali tidak berada di sekitarmu sebelumnya, apakah kau punya bukti bahwa aku lakukannya?"

Inggrid kemudian natap Randika dengan dingin, dia lihat bahwa muka Randika tidak nunjukan penyesalan dan ngatakan. "Randika, minta maaflah kepada Andre."

Minta maaf? Randika tersenyum pahit. Ares harus minta maaf kepada manusia fana? Bahkan jika dia yang salah buat apa minta maaf? Lagipula bukannya Andre berniat ncuri istrinya darinya, buat apa dia harus minta maaf ke pencuri seperti itu?

Randika miliki ide, dia ndekati Inggrid dan ngangkat dagunya lalu ngatakan. "Ibu Inggrid yang cantik, apakah kau ingin mbuatku minta maaf dari lubuk hatiku?"

ndengar kata-kata Randika, Inggrid takut bahwa hubungan reka berdua akan ketahuan oleh Andre. Tetapi setelah natap tajam Randika, suaminya ini lepaskan tangannya dan Inggrid pun kembali bernapas lega.

"mbuatku minta maaf tidak gratis." Randika tersenyum nakal setelah ngatakan itu dan narik Inggrid ke pelukannya dan ncium dirinya!

Apa!?

Andre yang lihatnya hanya bisa tertegun dan Randika terlihat mainkan lidahnya. Inggrid berusaha mati-matian ndorongnya.

Tetapi kekuatan manusia tidak berdaya di hadapan Ares. Setelah 10 detik, Randika lepas Inggrid dan tertawa. "Masih harum seperti biasanya."

"Kau! Dasar bajingan!" Andre rasa murka. Dia ndekati Randika dan ngangkat kerah bajunya.

"Cari gara-gara kamu?" Randika segera mbalas tindakan Andre dengan ndorongnya pelan.

"Randika!" Inggrid segera nampar janya untuk nghentikan reka berdua.

"Inggrid cepat pecat dia!" Andre sudah tidak tahan lagi, adegan ciuman itu juga nambah rasa malu pada dirinya.

Inggrid juga benar-benar marah. Randika kali ini bertindak keterlaluan, jika bukan karena ada Andre di sini dia mungkin sudah nampar Randika.

lihat ekspresi marah Inggrid, Andre rasa bahwa pria ini sudah tamat. Inggrid siap-siaplah njadi milikku!

Ketika Inggrid kembali ingin marahinya, Randika terbatuk dua kali dan nundukkan kepalanya sambil berkata dengan pelan. "Hmmm kontrak kita masih berlaku."

Inggrid yang ndengarnya segera terdiam. Bajingan ini malah ngancam dirinya dengan nyebut kontrak. Dia benar-benar lelaki nyebalkan!

"Ha? Kontrak apa?" Andre samar-samar juga bisa ndengarnya.

Itu adalah rahasiaku dan pemilik perusahaan ini yaitu Ibu Inggrid Elina. Kau yang orang asing tidak berhak tahu." Randika kemudian kembali tersenyum. Dia lalu mbisik di telinga Inggrid, "Kontrak kita masih belum selesai, kau adalah wanitaku!"

Pernyataan Randika sangat tegas!

Wajah Inggrid njadi putih dan Andre hanya bisa lihat reka berdua berbisik. Hubungan reka sebenarnya adalah?

Tidak! Tidak mungkin! Andre nggeleng-gelengkan kepalanya, tidak mungkin itu terjadi. Dia sudah mastikan bahwa Inggrid masih lajang, hal ini tidak mungkin salah.

lihat bahwa Inggrid tidak berkontar apa-apa, Randika kemudian ngatakan. "Sepertinya pemimpin kita telah nyelesaikan masalah ini dengan keputusan yang bijak. Tuan Andre maafkan aku karena telah lihat celana Anda lorot."

"Kau!" Andre sudah hendak ledak. Sepertinya dia harus nyelidiki kembali hubungan kedua orang tersebut. Setidaknya dia sudah berhasil maksa pria bernama Randika ini minta maaf, ini mbuatnya tersenyum.

"Kalau semuanya sudah selesai, saya pamit duluan. Pengembangan parfum baru ini tidak bisa saya tinggalkan sesuka hati." Kata Randika dengan muka serius.

Kemudian Randika keluar dengan santainya.

"Inggrid" Karena sudah hanya ada reka berdua, Andre manggil Inggrid dengan nada yang lebih santai. Dia hendak bertanya tetapi dicegah Inggrid.

"Masalah sudah selesai dan aku harap kau bisa kembali kerja dengan giat."

ndengar perintah Inggrid, Andre tidak bisa lawannya sama sekali. Dia juga tahu bahwa kalau dia bertanya sekalipun, dia tidak akan ndapatkan apa pun.

Setelah keluar ruangan, Andre malah disambut dengan pria terberengsek yang pernah dia temui.

"Berhenti!"

Namun, Randika seperti pura-pura tidak ndengarnya dan terus berjalan. Andre segera nyusulnya dan nepuk pundaknya, "Aku bilang berhenti!"

Kali ini Randika noleh dan lihat ternyata Andre lah yang nepuk pundaknya. Lalu dia berkata dengan tersenyum, "Ternyata Tuan Andre, aku minta maaf karena tidak ndengarmu. Aku tadi ngira bahwa itu suara lalat lewat ternyata itu suara Anda."

Andre sedikit marah ndengarnya tetapi dia berhasil ngendalikan emosinya. "Apa hubunganmu dengan Inggrid Elina?"

"Hubunganku?" Kata Randika dengan nada ragu.

"Iya hubunganmu dengan Inggrid." Andre natap tajam pada Randika. "Apakah itu hubungan suami istri?"

"Hubunganku dengan Inggrid adalah urusanku bukan urusanmu." Kata Randika dengan muka tegas. "Kau lebih baik ngurus dirimu sendiri sebelum ngusik hidup orang lain."

lihat Randika yang berusaha kabur, Andre kembali ncegatnya.

"Kau harus njelaskannya dengan jelas kepadaku."

Andre natapnya dengan tajam. "Jika kau tidak njelaskannya padaku, aku akan keluar dari perusahaan ini!"

Secercah cahaya dingin lintas di mata Randika, kemudian dia berkata sambil tersenyum. "Apakah kau benar-benar ingin tahu?"

"Tentu."

"Sini akan aku beritahu."

Andre ndekatkan telinganya dan rasa senang. Namun tiba-tiba, Randika layangkan sebuah pukulan ke hidungnya.

"Persetan denganmu! Jika kau berani nyusahkan ataupun ngejar perempuanku lagi, bukan hanya hidungmu saja yang patah!" Kata Randika sambil nendangnya. Andre tidak bisa nahan tendangan Randika karena dia sibuk rintih kesakitan gara-gara hidungnya yang patah. Andre lalu tergeletak di lantai.

Andre kebingungan, dia adalah manajer personalia di perusahaan ini sekarang malah dia dihajar oleh karyawannya.

"Kau ingin tahu hubunganku dengan Inggrid bukan? Camkan ini baik-baik, dia adalah wanitaku! Dia adalah istriku!" Randika kembali nendang Andre yang sudah tersungkur di lantai.

Tentu saja Randika sangat ngurangi tenaganya, kalau tidak mungkin hanya sepatu Andre saja yang tersisa.

"Kau mau tahu apa lagi? Sini akan kujelaskan semuanya." Randika kemudian ngangkat tubuh Andre dan layangkan satu pukulan ke perutnya.

"Camkan ini baik-baik, jika kau berani nyentuh atau ngejar wanitaku lagi, aku akan motong alat kelaminmu yang kecil itu." Kata Randika sambil nampar Andre.

Sadis!

Setelah 'berolahraga' sedikit, Randika nghela napas.

"Aku harap kau paham setelah kejadian ini." Randika kemudian ndudukkan Andre di sebuah kursi yang ada di lorong. "Ingatlah jangan pernah ngejar Inggrid lagi. Jika aku ngetahui kau masih berusaha, awas saja. Untuk sekarang, lebih baik kau ke rumah sakit untuk ngurus lukamu."

Andre rasa seluruh tubuhnya kesakitan. Ketika sosok Randika sudah nghilang, tatapan matanya dipenuhi oleh rasa dendam.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 28: Berani-beraninya Kau Mengejar Istriku? Kuhajar K on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

All MILFs are Mine cover
Similar genre

All MILFs are Mine

Night_phantom ·Harem

*Caution* *TABOOCONTENT* *STRONGSEXUALCONTENT* THISCONTENTISVERYHARMFULFORANORMALPERSON'SMIND. __________________________________ LeonisaMILFlover,...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.