Font Size
15px

Perempuan ini masang muka seriusnya. Tiba-tiba, dia kembali macu mobilnya. Karena mobilnya ini adalah mobil balap yang telah dia modifikasi, jadi bisa dikatakan bahwa kecepatan mobil ini tidak kalah dari Ferrari.

Randika pun kembali duduk di kursi penumpang, dia nyadari bahwa Ferrari itu tidak terlalu jauh di depan.

"Berpeganglah!" Selesai ngatakan itu, perempuan ini nginjak pedal gas dengan sekuat tenaga. "Lihat saja! Akan kubalas kau!"

Wushhhh!

Mobil ini kembali nunjukan performa aslinya dan jarak di antara dirinya dengan Ferrari tersebut ngecil dengan cepat.

Suara knalpot yang kakan telinga, disusul dengan suara klakson tanpa henti yang ditujukan pada Ferrari tersebut. Dan seketika itu juga, mobil reka berhasil nyusul dan sekarang reka laju berdampingan.

Perempuan ini segera nurunkan kaca jendelanya, begitu pula si pemilik Ferrari. Tidak perlu satu kata pun, mata reka yang mbara sudah saling paham.

Pemilik Ferrari itu adalah pemuda di sekitar usia 20an yang berambut pirang. Dia natap mobil Randika dan mberikan isyarat "kau payah" berupa jempol terbalik kepada mobil Randika.

"Oh?" Perempuan itu ndengus dan lakukan hal yang sama dengan pria muda itu. reka lalu saling natap satu sama lain dan ngangguk. Kemudian, tanpa aba-aba, kedua mobil macu mobil reka hingga batasnya!

Si pemilik Ferrari itu tidak mau ngalah dengan mobil murahan jadi dia tidak sungkan-sungkan macu mobilnya.

Ini adalah duel antar dua mobil balap. Randika yang duduk di kursi penumpang hanya terdiam. Dia ingin ngamati pertandingan ini.

Randika ngakui kemampuan supirnya ini. Di tangan perempuan tersebut, mobilnya bagai naga yang liuk-liuk di jalan. Mobil-mobil di jalan tidak bisa nghalangi lajunya, Ferrari itu pun juga tidak kalah lihai dengannya.

"Kita sebentar lagi masuk di jalan Babatan."

Randika ngingatkan si supir perempuannya ini. Perempuan ini malah noleh ke arah Ferrari yang ada di belakangnya dan macu kembali mobilnya. Ferrari itu juga tidak mau kalah dan nginjak pedal gasnya kuat-kuat.

Jalan Babatan termasuk salah satu jalan tertua di kota Cendrawasih. Oleh karena itu, jalan di sini penuh lubang dan belokan. Tetapi hari ini, jalan tersebut ditakdirkan njadi penentu kenangan atas duel kedua mobil ini.

Di depannya sekarang ada pertigaan. Muncul mobil di sebelah kirinya. Perempuan ini segera ngerutkan dahinya. Jika dia tidak ngerem, maka dia berada dalam bahaya. Karena posisinya sekarang sedang lampu rah jika dia tidak mperlambat kecepatannya, dia takut akan celaka.

Setelah beberapa saat ragu-ragu, dia akhirnya nginjam rem dan nunggu lampu rah. Ferrari di belakangnya malah tidak ngerem sama sekali, dia nyalip mobil Randika dan ngepot dengan tajam. Untungnya dia tidak ngalami kecelakaan sama sekali.

Ketika lihat hal ini, mata si perempuan ini segera mbara dan ngabaikan lampu rah. Dia ngklakson terus nerus, berusaha nghentikan laju mobil dari arah kirinya agar dia bisa berbelok. Dia terjebak!

Si pemilik Ferrari ini tertawa ketika lihat reka dari kaca sampingnya. Dengan santai dia ngacungkan jari tengahnya keluar.

Perempuan ini tidak terima, dia nggertakkan giginya dan macu mobilnya kencang-kencang. Si pemuda itu dengan sengaja nunggu reka sebelum akhirnya laju kencang lagi.

Karena sinnya tidak kalah kuat, mobil Randika berhasil mperkecil jarak. Sekarang reka ada di jalanan lurus yang panjang dan cukup lebar. Di sinilah saatnya reka bisa nyalip!

Namun, ketika reka hendak nyalip, Ferrari tersebut selalu berhasil nghadangnya. Walaupun digocek ke kanan ke kiri, Ferrari ini tidak mbiarkan dirinya disalip.

"Dasar berengsek!" Mobil Randika masih tetap berusaha nyalip dari belakang sambil ngklakson. Si pemilik Ferrari tidak peduli dan mulai rokok.

Mobil reka berdua terus laju dan sebentar lagi akan ada tikungan. Entah kenapa, Ferrari ini mperlambat kecepatannya. Ketika lihat hal ini, mobil Randika segera macu dan nyalip Ferrari di depannya. Perempuan itu langsung tersenyum lebar.

Tapi Randika malah ngerutkan dahinya lihat kejadian ini.

Firasatnya benar. Ketika mobilnya belok, pemuda itu ngepot lalu nyalip kembali Randika. Ketika itu terjadi, dia nabrak mobil Randika dan laju kencang sendirian.

Duak!

Karena tidak mperlambat kecepatan di saat belok, benturan tadi mbuat mobilnya hilang kendali. Untungnya reka berhasil berhenti sebelum nabrak pagar pembatas jalan.

Pemilik Ferrari itu kembali berada di depan, dia tertawa ketika lihat mobil Randika yang lepas kendali itu.

Setelah mberikan reka jari tengahnya, Ferrari itu laju kembali.

"Bajingan!" Perempuan ini terus maki si pemilik Ferrari yang bermain licik dari tadi.

Dia nyalahkan dirinya kenapa tidak bisa nang dari orang selicik itu.

"Biarkan aku yang ngalahkannya." Randika segera turun dan mbuka pintu supir.

"Kau?" Si perempuan ini masih ragu-ragu.

Ketika lihat Ferrari itu semakin jauh, Randika segera masuk dengan paksa dan langsung macu mobilnya.

"Hei hentikan!" Perempuan ini yang dipaksa minggir mulai ketakutan.

"Tenang saja." Randika masang ekspresi tenang dan nada suaranya terdengar mantap.

Bukannya kau daritadi nyetir dengan kecepatan tinggi juga? Kenapa kok sekarang aku yang nyetir dengan kecepatan yang sama malah kau ketakutan?

Randika hendak ngatakan begitu tetapi dia ngurungkan niatnya. Sebaliknya, dia nyuruh perempuan itu duduk di belakang.

Dengan begini, Randika bisa nyetir leluasa dan tidak terganggu dengan lonnya yang besar itu.

"Eh tunggu jangan goyang!" Si perempuan ini masih berusaha ke belakang.

Si perempuan ini kesusahan untuk pindah ke belakang karena saking cepatnya mobil ini. Sedikit saja setirnya belok, maka dia bisa kehilangan keseimbangan. Randika masih harus fokus ngejar ketertinggalan reka jadi dia tidak bisa mperlambat.

"Hei kau barusan pegang apa!" Perempuan itu kembali berteriak, kali ini dadanya telah disentuh oleh Randika.

"Maaf aku tidak sengaja." Kata Randika, tetapi dalam hati dia senang karena telah berhasil manfaatkan kesempatan ini.

"Kau!" Perempuan ini tahu bahwa Randika pasti bohong, tetapi setelah lihat wajah serius Randika saat nyetir dia rasa bahwa tadi hanya ketidak sengajaan.

Sekarang reka telah berhasil nyusul Ferrari itu.

lihat cara nyetir Randika, si perempuan di belakang itu rasa ngeri. Kecepatan tinggi mobilnya terasa berbeda ketika dia yang nyetir dan ketika dia njadi penumpang. Dia sekarang benar-benar ketakutan.

Mobil ini semakin lama semakin cepat, tidak ada tanda-tanda berhenti. Perempuan ini akhirnya hanya bisa berpegangan erat pada kursinya.

Randika di lain sisi malah bersemangat, dia sudah bisa lihat Ferrari yang tidak jauh darinya.

Setelah beberapa saat, setelah nyalip beberapa mobil akhirnya dia berhasil berada di belakang Ferrari tersebut.

Tin! Tin!

Randika ngumumkan kehadirannya kepada lawannya itu.

Tentu saja, Ferrari itu segera macu lagi mobilnya dan disusul oleh Randika.

Sama seperti sebelumnya, sekarang reka berada di jalanan lurus yang panjang. Ferrari itu terus nghalangi Randika agar tidak nyalipnya.

"Duduklah dan pegangan yang kuat."

Di saat itu juga, Randika nggocek Ferrari itu dengan kecepatan tinggi. Setelah beberapa saat, Randika berhasil nipunya dan nyalipnya! Sekarang reka berdampingan satu sama lain.

Ketika si pemilik Ferrari itu nurunkan kacanya, dia lihat bahwa orang yang nyetir sudah berbeda.

Randika tidak peduli dan macu mobilnya sehingga dia ada di posisi depan.

Pemilik Ferrari itu rasa terpukau dengan keahlian ngemudi Randika. Dia berpikir bahwa lawan barunya ini lebih jago daripada sebelumnya.

Randika kemudian mperhatikan laju Ferrari tersebut lewat kaca samping kanannya. Sekarang giliran dia yang nghalangi agar dirinya tidak tersalip. Setiap gocekan Ferrari itu dengan sempurna dihalangi oleh Randika.

Di saat ini, perempuan belakangnya berteriak awas dan pemilik Ferrari itu juga berwajah pucat.

Ketika Randika lihat jalan di depannya, ternyata ini adalah perempatan terkenal di Jalan Babatan. Karena untuk lestarikan gedung-gedung tua yang ada di jalan ini agar orang-orang bisa lihatnya, perintah mbentuk tiga belokan di jalan ini agar seluruh gedung dapat dilihat.

lihat bahwa ada belokan tajam di depannya, Randika mperlambat kecepatannya.

"Ah! Dia akan nyalip!" Pemilik Ferrari itu lihat peluang ini.

Kena kau!

Ketika si Ferrari itu hendak nyalip dan ngepot, Randika mpercepat lajunya dan ngepot dari bagian dalam.

Perempuan yang duduk di belakang itu terkejut. ngepot dengan kecepatan penuh?

Untuk ngepot diperlukan narik rem tangan tetapi Randika sepertinya nggunakan tode lain.

Belokan pertama sudah reka lalui dan sebentar lagi reka akan tiba di belokan lainnya.

Pemilik Ferrari itu rasa marah dan khawatir. Ketika dia ngepot sekali lagi, dia lihat bahwa lawannya juga ngepot. Bedanya adalah kecepatan lawannya itu seakan tidak berkurang malah bertambah!

Apa yang sedang terjadi?

Randika kemudian berada di depan lagi dan ngunci mati si Ferrari itu jadi dia tidak bisa nyalip dirinya.

Perempuan yang duduk di belakang itu tertegun, pria ini jago ngemudi!

"Duduk dengan tenang." Kata Randika.

Pada saat yang sama, Randika ngepot dengan tajam. Belokan ini sangat tajam bagaikan jalur putar balik jadi Randika ngepot hingga mbentuk sudut 90 derajat tanpa ngurangi kecepatannya!

Di belakangnya, pemuda itu tidak bisa mpercayai apa yang dia lihat. Dia tidak sadar bahwa dia masih dalam kecepatan tinggi saat berbelok. Jadi dia segera nginjam rem tapi sudah terlambat. Mobilnya lepas kendali saat dia ngepot dan nabrak pagar pembatas jalan.

Randika kemudian laju pelan dan mperhatikan Ferrari yang nabrak itu.

Perempuan yang duduk di belakang Randika itu sudah terkejut dan terkagum-kagum oleh keahlian nyetir Randika. ngepot seperti itu sudah bagaikan dewa!

Yang mbuatnya bingung adalah penampilan Randika yang terlihat biasa saja itu ternyata miliki kemampuan hebat dalam nyetir. Benar-benar tidak disangka.

Pemilik Ferrari itu turun dari mobilnya dengan kepala yang berdarah. Mobilnya bisa dikatakan sudah remuk. Pemuda itu rasa marah dan malu, bisa-bisanya dia kalah dengan mobil murahan itu. Dia benar-benar tidak habis pikir lawannya bisa ngepot seperti itu bahkan mbentuk sudut 90 derajat.

Ketika dia mperhatikan mobil lawannya itu, jari tengah sudah nyambutnya dan segera nghilang dari pandangannya.

Perempuan itu natap lekat-lekat Randika dan bertanya dengan suara manisnya. "Kenapa selama ini kau tidak ngatakan bahwa kau jago nyetir?"

"Karena." Randika noleh, "Aku adalah penumpang dan kau adalah pemilik mobil ini."

"Apakah itu saja alasannya?"

"Tentu saja tidak." Kata Randika dengan santai, "Berbeda denganmu, ketika aku berkendara aku miliki tujuan dan yang terpenting adalah aku yang nentukan nasib hidupku. Ketika kau yang berkendara, hidupku bergantung padamu jelas aku tadi ketakutan."

Si perempuan itu marah, apakah keahlian nyetirnya seburuk itu?

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 27: Balapan Liar on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.