Setelah bersiap-siap dan berpamitan, Randika akhirnya kembali nuju kota Cendrawasih.
Sekarang sudah masuki hari ketiga sejak Randika ninggalkan istrinya. Kondisi tubuhnya sudah mbaik berkat bantuan kakek ketiga. Setidaknya dalam satu bulan ini tidak akan ada masalah besar pada tubuhnya dan terlebih dia bisa nggunakan tenaga dalamnya seperti sedia kala.
Saat akhirnya dia sampai di terminal bus kota Cendrawasih, waktu masih nunjukan pukul 3 siang. Dia mutuskan untuk pergi ke perusahaan Cendrawasih. Namun karena dia malas berjalan, dia akhirnya mutuskan untuk manggil taksi.
Tidak lama kemudian, sebuah taksi datang dan dia naikinya. "Tolong ke perusahaan Cendrawasih."
Karena terminal ini berada di ujung kota dan perusahaannya berada di tengah kota, bahkan dengan taksi pun akan mbutuhkan waktu setengah jam.
"Baiklah."
Ketika Randika sudah masuk, si pengendara taksi langsung macu mobilnya. Dalam sekejap, taksi tersebut sudah masuki kecepatan tinggi.
Randika yang tidak tahu apa-apa hampir saja terjatuh dari tempat duduknya.
"Hei, bisakah pelan sedikit?" Randika yang masih kaget ini ingin marahi si supir tetapi ketika lihat wajah si supir, dia lebih kaget lagi. Ternyata yang ngendarai taksi ini seorang perempuan, cantik pula.
Perempuan ini sangat cantik dan terlihat polos. Apabila dilihat dari mukanya, sepertinya dia masih anak kuliahan. Apabila dia mbandingkan dengan perempuan yang ada di desanya, perempuan ini sudah bisa dianggap perempuan tercantik!
Mata bundarnya yang besar, hidung yang mancung, bibir yang kecil itu tidak bisa lepas dari pandangan Randika. Terlebih, lekukan badan perempuan ini sungguh bagus skipun pakaiannya nutupinya. Tidak ada yang bisa nipu mata Randika!
Glek Randika nelan air liurnya.
Loli [1] dengan dada besar, loli dengan dada besar!
Perempuan ini dengan santainya noleh dan ngatakan, "Biasanya kecepatanku segini sih."
"Uhuk!" Randika pura-pura batuk agar aksi ngintipnya tadi tidak ketahuan, dia tidak mau terlihat sum di depannya. "Baiklah kalau begitu."
Setelah ngatakan itu, ada senyuman kecil yang naik di bibir perempuan itu. "Kalau begitu berpeganglah."
Suaranya terdengar manis. Randika semakin nyukai perempuan ini. Namun, perempuan ini segera macu gasnya lebih kuat dari sebelumnya. Taksi ini lesat dengan cepat!
Untungnya, Randika kali ini sudah siap dan tidak terbang dari tempat duduknya.
Taksi ini laju dengan kencang, Randika lihat pemandangan kota yang dilaluinya. Tapi sebenarnya, pemandangan yang dia lihat lebih hebat lagi. Pantulan dada loli ini luar biasa!
Sambil terus liriknya, lama-lama Randika mutar kepalanya. Dada itu terus bergerak tanpa henti, siapa sangka dirinya akan ndapatkan supir taksi secantik ini.
Kalau dipikir-pikir, apakah dadanya ini ngalahkan Viona?
Randika kembali natap tajam kepada dada tersebut. Dia lalu lihat panjang dadanya itu ngalahkan jurang dan mungkin jika remasnya tangannya tidak akan cukup.
Ya tuhan perempuan ini lebih besar dari Viona!
Randika yakin bahwa ini adalah dada terbesar yang pernah dia lihat selama hidupnya. Yang lebih ngejutkannya lagi, perempuan ini masih muda.
Perempuan ini jelas nyadari tatapan Randika yang berada di kursi belakang. Selagi nunggu lampu rah, dia noleh ke arah Randika dan bertanya, "Kamu yakin mau ke perusahaan Cendrawasih?"
"Maksudmu?" Randika kaget tiba-tiba diajak bicara.
Wajahnya langsung dia alihkan, dia berharap perempuan itu tidak nyadarinya.
"Maksudku sepertinya kau ingin lepaskan nafsumu itu." Katanya. "Aku sering mbawa orang-orang ke tempat pelacuran, jadi jujur saja aku tahu tempat seperti itu tanpa perlu berpikir."
Randika kaget ketika ndengarnya, dia pikir aku punya uang lakukan hal itu?
Lagipula dia rasa dirinya juga tampan dan berkharisma, buat apa dia nyewa pelacur?
Randika ingin mbantah perkataan perempuan itu dengan keras. Apa kau pikir aku ini bapak-bapak sum?
Ketika dia lihat reaksi Randika, dia sepertinya ngerti bahwa ini hanyalah salah paham. Tapi dia mutuskan untuk nggodanya lebih lanjut, "Jangan malu, tempat pelacuran kota ini aman kok. Apakah kau datang ke kota ini untuk ncari gadis muda?"
Randika ncucurkan keringat dingin. ngapa supirnya ini tiba-tiba seakan-akan njadi germo dalam sekejap?
Penampilan lolinya dan sikapnya sungguh sangat berbeda.
"Sejujurnya saja, kalau kau ke pusat kota malah gadis-gadis di sana kurang bagus. reka kurus-kurus dan hidupnya kurang nyenangkan. Rugi kalau kau ke sana." Perempuan ini terus-terusan berbicara ngenai tempat pelacuran.
"Yah skipun di pusat kota dikatakan sebagai tempat pelacuran paling murah tapi banyak mata yang ngintai. Polisi sering berpatroli dan apabila kau bernasib sial, kau bisa-bisa dibawa ke kantor polisi." Dia pun noleh ke arah Randika. "Untuk keamanan kendaraanku dan keamananmu, aku bisa mbawamu ke tempat pelacuran terbagus secara cuma-cuma."
"Tempat yang paling bagus adalah jalan Semanggi. Jalan ini mang terkenal sebagai tempat pelacuran terbagus. Gadis-gadis di sana masih muda dan pelayanannya dikenal bagus. Jika kau mau mbayar lebih, kau bahkan bisa ndapatkan pelayanan ekstra. reka juga nyediakan kostum seperti pramugari, polisi, seragam SMA dll. Seharusnya reka miliki semuanya."
Randika benar-benar tidak habis pikir. Bisa-bisanya gadis secantik ini berbicara ngenai pelacuran dengan mudah. Apakah dia sehari-harinya hidup di tengah-tengah reka?
"Lagipula di jalan Semanggi juga banyak preman yang berkuasa. Jika tidak ada surat penangkapan ataupun penggeledahan, polisi tidak akan nyerbu tempat ini. Bisa dikatakan jalan Semanggi adalah tempat paling aman. Selama kau punya uang, kau akan hidup bagai raja di sana." Ketika selesai ngatakan ini, dia noleh untuk lihat wajah Randika yang kebingungan. Dia tersenyum lebar dan nepuk pundak Randika.
Perempuan itu nambahkan, "Jangan malu, laki itu punya banyak kebutuhan dan aku tahu itu. Tidak perlu sungkan."
Randika benar-benar bingung harus berkata apa. Dia tidak habis pikir bahwa Ares si Dewa Perang ini disamakan dengan pria-pria sum.
"Kalau kau ingin yang lebih nggairahkan lagi, kau harus ke bagian barat kota. Di sana reka lebih lengkap lagi dan lebih ke arah hal-hal eksotis, gadis-gadis dari luar negeri berada di sana. Kalau kau ingin ncoba hal baru dengan para bule, aku sarankan kita ke sana."
Perempuan ini tidak kunjung berhenti berbicara. Randika yakin bahwa dirinya sudah dicap orang sum yang sedang bernafsu.
"Ah iya, minggu lalu aku dengar kalau reka kedatangan cewek-cewek dari Rusia yang sangat berpengalaman. Keahlian reka di ranjang akan mbuatmu berada di surga katanya." Dia njelaskan ini bagai sedang njual celana.
lihat Randika yang tidak ada responnya dari tadi, perempuan ini pun bertanya. "Hei kenapa kau tidak bicara? Gadis macam apa yang kau suka?"
Dia lalu mbisiki Randika, "Jangan-jangan kau suka yang jauh lebih muda lagi?"
"Ya tuhan! Bisa-bisanya kau abnormal seperti itu? Biarkan aku berpikir sebentar. Seharusnya ada orang yang nyediakan jasa gadis di bawah umur seperti itu."
"Stop! Aku bukan pria sum!" Randika sudah tidak sabar lagi. Perempuan ini kalau dibiarkan semakin njadi-jadi.
"Tidak sum?" Perempuan itu segera noleh ke Randika, "Kalau begitu ngapain dari tadi lirik tubuhku?"
Randika tidak bisa mbantahnya. Salah siapa punya dada sebesar itu!
Randika hanya bisa diam dan masang wajah senyum terpaksa. Dia lalu lihat bahwa reka sudah tiba di pusat kota dan jalanan sudah mulai diisi banyak mobil.
Randika ngerutkan dahinya. Untuk ukuran kecepatan di jalan ini, taksi ini terlalu cepat. Bukankah harusnya dia lankan kecepatannya? Tapi dia rasa ada yang aneh juga dengan taksi ini, walaupun taksi ini terasa cepat tetapi suara sinnya terdengar halus beda dengan taksi-taksi lainnya ketika ngebut.
Randika kemudian berusaha ngintip kecepatan taksi ini. Dia benar-benar kaget ketika lihatnya dan masang sabuk pengamannya kencang-kencang. 120 km/jam!
Perempuan ini sudah gila! Bisa-bisanya dia macu mobilnya secepat ini di jalan penuh mobil.
"Sudah jangan khawatir, aku akan mbawamu ke tujuanmu dengan aman. Duduk saja." Suara perempuan ini masih manis seperti sebelumnya. Dengan wajah tenang, dia kembali macu mobilnya dan kecepatan mobilnya bertambah!
"Aku mpercayaimu!"
Sekarang baru teka-tekinya terjawab. Sepertinya ini bukan mobil taksi biasa, ini pasti mobil balap yang dimodifikasi. skipun kecepatannya lebih dari 120, suara sinnya tidak terlalu kencang.
Laju mobil ini semakin kencang. Di jalan sudah semakin banyak mobil berkendara. Randika hanya bisa percaya dengan kemampuan ngemudi perempuan ini. Kalau diumpamakan, mobil ini bagai kuda liar yang sedang ngamuk!
"Hei, bisakah kau pelan sedikit?" Randika masih berpegangan pada kursinya.
"Ha? Kenapa harus aku lakukan itu?" Perempuan itu terlihat bingung. "Tadi kamu juga bilang aku boleh ngendarai ini dengan cepat."
"Ini sudah di dalam kota. Kau bisa celaka bila berkendara seperti secepat ini!" Teriak Randika.
"Jangan khawatir, kau adalah penumpangku yang berharga jadi aku akan ngantarmu dengan selamat sampai tujuan." skipun dia terdengar perhatian, kecepatan mobilnya tidak berkurang.
Tin!!
Di saat mobilnya ini ingin nyalip, dari arah sebaliknya ada mobil yang laju kencang juga. Randika sudah siap apabila terjadi sesuatu.
Ckitt!
Mobil taksi ini segera kembali ke jalurnya dan laju lagi dengan kencang.
Belum sampai 1 nit setelah perempuan itu ngatakan bahwa dia akan ngantar dirinya dengan selamat, Randika sudah dibuat jantungan. Perempuan ini malah terlihat bersemangat, di saat ini suara Randika terdengar panik. "Lampu rah!"
Namun, si perempuan ini tidak berhenti sama sekali. Malah dia nerobosnya tanpa lihat keadaan. Mobil-mobil yang sedang laju segera nginjak rem reka.
"Hahaha!" Selamat dari lampu rah yang pertama, adrenalin semakin ngalir deras di tubuh perempuan ini. Ketika dia lihat ada lampu rah lagi, dia macunya terus tanpa ada niatan berhenti.
nunduk di kursi penumpang, Randika benar-benar ketakutan. Dia lebih milih mbunuh 1000 orang daripada harus duduk di mobil ini. Hidupnya benar-benar dalam bahaya dan dia malah mpercayakan hidupnya kepada seorang gadis muda.
Walaupun wajah perempuan ini terlihat polos dan cantik, tetapi caranya ngemudi sudah bagaikan orang gila.
lihat perempuan tersebut yang bersemangat, Randika bertanya. "Hei apakah kau sudah punya surat ijin ngemudi?"
Perempuan itu noleh dan terlihat bingung lalu kembali fokus ke jalan. Randika segera panik dan ngatakan, "Jangan-jangan kau."
Ketika dia noleh, Randika sudah lihat kenyataan ngejutkan dari mata perempuan itu. Hidupnya benar-benar dalam bahaya.
"Aku tidak punya surat seperti itu. Sebuah surat tidak akan nghalangiku untuk macu mobilku."
Randika segera nghela napas, "Kalau begitu, ini bukan taksi?"
"Bukan, ini mobil pribadiku." Seketika itu juga, mobil ini ngepot dengan kecepatan tinggi.
Randika kembali gang sabuk pengamannya dengan erat. Kalau bukan taksi, ngapain kau ngambilku sebagai penumpang?
Randika sudah pasrah. Hidupnya sekarang ada di tangan orang lain jadi dia hanya bisa berdoa bahwa dia tidak ngalami kecelakaan.
Selagi dia macu mobilnya, perempuan itu noleh ke Randika dan bertanya. "Apakah kau takut?"
'Ya tuhan, kalau kau bukan perempuan sudak kumaki pasti dari tadi. Bagaimana aku tidak takut? Caramu ngemudi bagai orang kesurupan.' Inilah cerminan wajah Randika sekarang.
"Jangan khawatir, aku belum pernah nabrak kok selama ini."
"Hei hati-hati!" Sebelum dia selesai bicara, Randika sudah nerjang ke setir mobil. Taksi ini hampir nabrak sebuah mobil wah yaitu Ferrari.
Karena rem ndadak ini, Randika hampir terlempar keluar dari mobil dan si perempuan cantik ini untungnya tidak ngalami luka apa pun. Hanya saja kaca samping kiri mobil ini pecah.
Lokasi reka sekarang ini adalah persimpangan. Sebelumnya, lampu lalu lintas reka berdua masih hijau jadi mobil reka laju kencang. Tiba-tiba Ferrari tersebut berusaha nerobos jadi benturan pasti tidak terelakkan. Untungnya, Randika masih sempat ngerem dan nghentikan laju mobilnya. Kalau tidak, bisa-bisa kedua mobil ini akan hancur lebur!
Apabila seperti itu, kelangsungan hidup dari kedua mobil bisa dipastikan nihil.
Setelah mobilnya berhenti total, tatapan wajah Randika njadi serius. Kalau bukan gara-gara Ferrari ini, dia tidak akan rasakan rasa sakit ini.
Perempuan ini juga ikut marah, "Berengsek sekali dia! Lihat pembalasanku!"
Kemudian tidak disangka-sangka, perempuan ini malah nantang balapan si Ferrari tersebut!
[1] Istilah yang sering digunakan oleh para otaku Jepang terhadap remaja yang njelang atau belum ngalami pubertas
Reviews
All reviews (0)