Karena tujuan Randika adalah tujuan akhir, dia adalah penumpang terakhir yang turun dari bus. Setelah nurunkan Randika, bus njadi kosong.
Pada saat dia keluar, Randika segera ngendurkan otot-ototnya sambil lihat matahari yang mulai turun. Hari sudah mulai sore.
"Aku tidak tahu apakah para kakek itu rindu padaku." Kata Randika dengan tersenyum.
Keempat kakek yang mbesarkannya adalah sesuatu yang disebutnya sebagai keluarga. Sejauh dia ngingat, dia tidak pernah miliki ingatan tentang orang tuanya. Sampai dengan umur 15, dia tinggal bersama para kakeknya itu.
Desa yang dia kenal, gunung yang dia daki setiap hari, sebentar lagi dia akan lihat itu semua. Randika kembali regangkan tangannya dan ingin berteriak keras-keras.
"Permisi, kau nghalangi jalanku." Sebuah suara muncul dari belakangnya.
Randika noleh dan nemukan bahwa dia nghalangi seorang bocah yang sedang bersepeda. Dia minta maaf dan nyingkir dari tengah jalan.
Burung-burung berkicau hendak pulang ke sarang reka.
Di saat Randika berjalan, dia nemui seorang pria tua sedang naik traktor miliknya. Dia lalu minta numpang ke pria tua yang sedang rokok itu. Suara traktor sangatlah keras jadi sedikit ngganggu Randika.
"Jarang anak muda yang betah naik sin tua ini." Kata pria itu sambil terus rokok. "Para pemuda di desa tidak tahu betapa bergunanya traktor ini. Sudah 10 tahun traktor ini berkendara dan masih saja hanya aku yang bisa ngendalikannya."
Sepertinya Randika salah numpang. Pria tua ini ternyata cukup cerewet dan suara traktornya sangat ngganggu.
"Kamu baru kembali dari kota?" Tanya pria tua itu dengan gigi kuningnya.
Randika ngangguk. "Iya, aku bermaksud untuk nemui kakekku yang ada di kaki gunung."
"Cucu yang baik hati." Pria tua itu ngangguk. "Sudah jarang ada pemuda sepertimu. Anakku sendiri saja baru pulang tahun baru nanti."
"Hahaha! Anakmu mungkin terlalu sibuk ncari uang." Kata Randika sambil tersenyum.
Pak tua itu kembali ngeluarkan rokok dan ngatakan, "Apa pekerjaanmu di kota?"
"Aku seorang manajer restoran." Kata Randika.
"Wah hebat sekali, hebat sekali." Kata pria itu itu sambil tertawa. "Seorang manajer berarti sudah tinggi jabatannya, kalau tidak salah Erwin dari desa kami juga sudah njadi manajer. Sekarang katanya dia sering mberikan uang ke orang tuanya. Kalian semua mang hebat."
Setelah beberapa lama berbincang, hari sudah semakin gelap. Randika kemudian ngangkat kepalanya dan lihat langit, gunung, alam yang dia kenal. Di bawah kaki gunung itu ada sebuah desa yang tidak asing baginya.
"Terima kasih pak, saya turun di sini saja." Kata Randika sambil loncat turun.
"Baiklah nak, jaga dirimu baik-baik." Pria tua itu tertawa dan pergi dengan traktornya.
Desa Jagad!
Desa kecil yang diapit oleh tiga gunung, Randika masih bertanya-tanya kenapa kakeknya ini mbangun desa di tempat ini. Salah satu kakeknya hanya njelaskan bahwa tempat desanya berdiri adalah tanah yang terberkati.
Randika segera berlari ke arah desa tersebut. Saat dia sudah dekat, terdengar suara batuk yang paling dia kenal.
Kakek anakmu telah kembali!
Ketika dia bergegas nuju pintu, Randika dihentikan oleh sebuah suara. "Aku tahu kalau kamu sudah bukan anak kecil lagi, tapi bisa-bisanya kamu pulang semalam ini?"
Randika kaget karena kakek-kakeknya itu seakan sudah tahu bahwa dialah yang di balik pintu. Randika segera mbuka pintunya dan lihat tiga orang tua sedang duduk di tengah ruangan yang terang.
Duduk di sebelah kiri adalah kakek keempat yang makai jubah putih dengan janggutnya yang layang di dadanya. Dengan wajahnya yang terlihat seperti anak-anak itu, keriputnya hampir tidak terlihat.
Duduk di sebelah kanan adalah kakek ketiga yang makai baju serba hijau. Karena dia ahli dalam ilmu pengobatan, bau yang dipancarkan kakeknya ini sangat pekat dengan tanaman obat. Kakeknya ini juga miliki janggut yang panjang bagai seorang pertapa.
Kakek yang duduk di tengah, kakek kedua makai jubah biru. Kakek ini nghela napas dengan kuat dengan wajahnya yang terlihat serius. Namun ketika Randika masuk, kakek ini tidak bisa nahan senyumnya.
"Kakek, aku kembali."
"Dasar bocah berengsek! Kukira kau sudah lupa sama rumahmu, ternyata kau ingat juga dengan kami." Suara kakek ketiga dengan cepat nyambutnya. "Aku masih ingat bagaimana kau rusak tanaman obatku."
"Jangan begitu dong kek. Aku masih kecil dan tidak tahu apa-apa, bukankah kau juga miliki banyak lahan tanaman obat lainnya?"
"Lho bocah kita sudah berani lawan. Yang kau hancurkan itu harta karunku tahu!" Tatapan mata kakek ketiga semakin serius.
"Sudah, sudah, kemarilah. Biarkan kakek lukmu dulu." Kata kakek keempat dengan gembira.
Randika maju dan luk kakek keempatnya itu.
"Haha! Sesuai dugaanku, kau semakin tampan setiap harinya. Apakah kau sudah berhasil mikat hati perempuan cantik?" Kata kakek keempat dengan bangga. "Tapi kau tidak boleh lupa dengan Safira. Terakhir kali aku lihat, dia juga njadi perempuan yang nawan."
Wajah Randika rah. Dia lupa bahwa kakek keempatnya ini orang yang genit.
Pada saat ini, sebuah garpu layang tepat di depan wajahnya. Randika ngelaknya dan noleh ke arah kakek kedua sambil ngambil garpu yang layang itu.
"Tidak ada kata lari dalam bela diri." Kakek kedua tersenyum kecil. "Bukankah aku sudah ngajarkanmu itu? Apakah kau sudah lemah?"
Randika kemudian letakkan garpu itu dan ngatakan, "Kakek pertama ada di mana?"
"Dia masih ngurung dirinya." Kata kakek ketiga. "Tunggulah beberapa hari lagi."
Randika ngangguk. Dari antara semua kakeknya, kakek pertama adalah yang paling misterius. Sejak dia masih kecil saja, dia sudah jarang lihatnya. Dia sering ngurung dirinya dan Randika masih tidak tahu ngapa dia lakukannya.
"Omong-omong kenapa kalian tahu bahwa aku akan pulang?" Randika masih bingung.
Kakek keempat kemudian nghampiri Randika dan mukul pelan kepalanya, "Apakah kau sudah lupa dengan kemampuan kami?"
Randika tersenyum, "Tentu saja tidak. Aku sangat ingat ajaran kalian yang seperti neraka itu, tidak ada manusia yang seharusnya bisa selamat dari latihan semacam itu. Tapi berkat itu juga aku bisa bertahan hidup sampai hari ini. Tetapi kek, aku berharap kasih sayang kau berikan sama seperti orang tua lainnya."
"Ha? Bagaimana bisa kau bandingkan kami dengan orang tua lemah di kota? Kau benar-benar anak tidak tahu terima kasih."
"Maafkan aku kek, jangan marah." Kata Randika sambil tertawa. "Aku tahu kok kalian sangat nyayangiku dan Safira."
Kakek kedua tertawa, "Kalau begitu, cepat katakan kenapa kau pulang? Apakah kau perlu salah satu keahlian kakekmu ini?"
Ketika ndengarnya, mata Randika segera bersinar. Dia mulai nghentikan basa-basinya dan nuju topik utama.
Sambil makan, Randika ngatakan, "Kakek ketiga, akhir-akhir ini badanku sering di luar kendaliku. Apakah ada yang salah denganku? Bisakah kau mbantuku?"
Kakek ketiga ngelus janggutnya, "Kau kira aku dokter?"
"Bagaimana mungkin aku mbandingkanmu dengan dokter?" Muka Randika pura-pura marah. "Seorang dokter tidak bisa dibandingkan dengan Dewa Pengobatan sepertimu kek. Siapa mangnya yang rehkanmu? Sini akan kuhajar dia."
lihat sandiwara Randika, kakek ketiga tersenyum, "Hahaha! Dasar bocah munafik."
"Sini ulurkan tanganmu. Kakak keempat tolong bantu aku"
letakkan mangkuk makannya, Randika segera njulurkan tangannya.
Kakek ketiga dan keempat mulai riksa Randika. Mulai dari denyut nadi, keadaan fisik hingga luka-luka yang ada di tubuhnya. Ketika ngukur denyut nadinya, kakek ketiga kaget.
Setelah beberapa saat, kakek ketiga berdiri. Dia ngambil kotak kayu dan mbukanya. Di sana ada beberapa ukiran.
Ini adalah papan Pa Kua. Papan ini digunakan untuk ngukur energi kehidupan dan kejahatan di kehidupan seseorang.
Setelah letakkan papan ini di ja, kakek ketiga nutup matanya dan muncul sebuah arah.
"Xun Gua!" Kakek ketiga benar-benar tertegun dengan hasilnya.
"Apa artinya kek?" Kata Randika dengan cemas.
Kakek ketiga tidak berbicara, hanya ngelus janggutnya.
Kakek kedua segera nghampirinya dan ngatakan, "Nak, beristirahatlah dan tunggu panggilan kami."
"Oh." lihat muka serius para kakeknya itu, Randika jelas rasa gusar.
Ketika Randika sudah nghilang, kakek ketiga ngatakan, "Hasil dari heksagram ini tidak dapat aku ngerti. Heksagram utama ngarah pada Suifeng Xun yang berarti ikuti angin. Seorang pria bertindak berdasarkan tujuan hidupnya. Tetapi perubahannya adalah Shang Jiu yaitu Sembilan Teratas. Ketika Xun berada di bawah tempat tidur, dia akan kehilangan kekayaan dan senjatanya. Dia murni dan ganas. Seperti yang dikatakan gajah, Xun yang berada di bawah tempat tidurnya adalah orang miskin dan kehilangan segalanya."
"Jadi yang kau katakan adalah bocah kita itu dalam bahaya berdasarkan ramalanmu? Sepertinya dia sedang dalam pengawasan banyak orang. Ini benar-benar gawat." Kata kakek keempat, "Jika kita mbiarkannya, Randika akan benar-benar mati."
"Apakah seserius itu?" Tanya kakek kedua.
"Apakah kita bisa mbuat ramalan ini berubah?" Kata kakek keempat.
Kakek ketiga nggeleng. "Aku rasa tidak. skipun takdir bisa berubah-ubah, ramalan milik anak kita ini tidak bisa berubah. Aku tidak tahu cara ngubahnya."
"Kakak ketiga, carilah cara lain!" Kakek kedua terlihat cemas.
Kakek ketiga ngerutkan dahinya dan ngelus janggutnya. "Ini susah, kita hanya bisa mbuat persiapan bagi Randika apabila situasi njadi diluar kendali."
Kakek keempat nghela napas, "Sepertinya di luar sana banyak orang yang ingin ncelakai anak kita. Tadi aku lihat banyak sekali luka di tubuhnya."
"Apakah kita perlu nanyakan hal ini kepada kakek pertama?" Kata Kakek kedua.
"Itu tidak perlu." Kakek ketiga nambahkan, "skipun ramalan ini agak kabur hasilnya, dengan campur tangan kita mungkin kita bisa ngubahnya skipun sulit."
"Sepertinya aku harus ngeluarkan pil obat harta karunku juga." Tambah kakek ketiga.
"Aku tidak nyangka bahwa harta karunku yang tersimpan selama puluhan tahun itu malah bocah itu yang akan makainya."
....
Hari kedua
Randika yang baru bangun segera keluar dari kamarnya dan nyambut matahari pagi.
Ketiga kakeknya sudah ada di ruangan tengah.
Randika segera nghampirinya setelah regangkan ototnya sebentar.
"Begini, kemarin hasil ramalan hidupmu sangatlah buruk. Berhati-hatilah di masa depan. Jangan percaya siapapun, ingat itu!" Kata kakek ketiga.
Tentu Randika sangat percaya dengan ramalan kakeknya ini. Karena kakeknya sudah bertitah seperti itu, jelas dia akan nurutinya.
"Kemarilah." Kata kakek ketiga sambil mbuka kotak kayu yang berisikan peralatan dis dan jarum akupuntur.
"Buat apa ini?" Tanya Randika
"Untuk ngobatimu." Kakek ketiga ngerutkan dahinya. "Kalau aku tidak bisa lihat luka-lukamu, bagaimana mungkin aku bisa nyembuhkanmu?"
Randika tertawa dan dengan cepat lepas bajunya.
Teknik akupuntur kakek ketiga benar-benar enak, tidak ada rasa sakit yang terasa.
"Kamu ini juga dalam kondisi aneh. Luka-lukamu ini tidak bisa kusembuhkan secara total. Aku hanya bisa nggunakan teknikku ini untuk nghambatnya."
Randika sebenarnya tidak ndengar omongan kakeknya. Dia tersesat di perasaan nyaman ini, anggota badannya yang sebelumnya terasa sakit sekarang terasa nyaman.
Setelah beberapa lama, kakek ketiga ngeluarkan jarum-jarum tersebut. "Selain luka-lukamu itu, aku nemukan bahwa ada kekuatan misterius di dalam tubuhmu. Sepertinya kau mbiarkan dia berada di tubuhmu terus-nerus dengan nggunakan sebuah obat, itu tidak baik bagi dirimu."
Kakek bisa lihatnya?
Dia tahu bahwa yang dimaksud kakeknya adalah ramuan X. Tetapi untuk ncegah kekuatannya itu mberontak, dia mbutuhkan ramuan X jadi dia tidak terlalu mpunyai pilihan.
"Ambil ini."
Kakek keempat kemudian nyerahkan sebuah kotak kecil padanya. "Ingatlah ini, kalau kondisi nyawamu tidak terancam, jangan pernah mbuka kotak ini!"
Randika ngangguk.
Kakek kedua di samping juga nambahkan. "Randika, semua ilmu bertarung milikku sudah aku turunkan padamu. Berlatihlah lebih banyak lagi dan jangan sampai kau karatan."
"Baik kek!" Kata Randika.
Reviews
All reviews (0)