Kota Cendrawasih, terminal bus
Terminal bus kota Cendrawasih hanya ada 1, jadi di sini selalu ramai. Bus antar kota njadi salah satu alternatif kendaraan para warga ketika reka ingin berpergian.
Sebentar lagi, bus yang nuju ke Desa Jagad akan tiba. Desa Jagad adalah destinasi terjauh yang bisa diantarkan oleh terminal ini. Tempat tersebut sangat terpencil dan terkenal masih belum maju. Tempat inilah yang njadi tujuan Randika.
Sambil nunggu bus datang, Randika sempat berpikir bahwa dia sudah lama sekali ninggalkan tempat dia dibesarkan tersebut. Saat dia rasa sudah bisa hidup mandiri, dia mulai berkelana sendirian dan keluar dari negeri ini dan ndapatkan julukannya sekarang yaitu sang Dewa Perang Ares. Kenangan-kenangan masa lalu segera nghampirinya.
Ketika dia naik ke dalam bus, dia tidak ingin berada di belakang dan di dekat jendela. Dia hanya ingin ncari tempat duduk yang sepi karena suasana hatinya sedang tidak ingin berinteraksi dengan orang. Dia juga rasa lelah sejak dia datang di kota Cendrawasih. Dia kewalahan terhadap serangkaian peristiwa yang nimpanya dalam waktu berdekatan itu.
Setelah satu jam berkendara, akhirnya dia tidak bisa lihat lagi kota Cendrawasih. Karena desa Jagad ini dipenuhi oleh pegunungan, maka pemandangan kota berubah njadi pemandangan alam.
Randika mulai rasa ngantuk di dalam bus. Pada saat dia jamkan matanya, dua orang perempuan di samping kanan belakangnya sedang berbincang-bincang dan suaranya cukup keras. "Hei, tempat ini penuh dengan hutan. Apakah nurutmu ada orang jahat yang akan keluar dari balik sana?"
"Ah kamu itu ya! Bisa-bisanya berpikiran negatif seperti itu?" Temannya nambahi, "Berpikirlah yang positif-positif saja, toh ini juga bukan pertama kalinya kita pergi dengan bus ini."
"Bahkan kalau ada orang jahat yang muncul, kalian tidak perlu takut." Di saat ini, seorang lelaki muda nghampiri kedua perempuan ini dan ikut nimbrung dalam percakapan reka. Wajah lelaki ini terlihat biasa-biasa saja.
"Kok bisa begitu?" Tanya Dewi kepada lelaki itu. Beberapa perempuan lainnya juga ikut tertarik dengan percakapan ini.
"Karena aku ada di sini!" Lelaki itu tersenyum dan ngatakan, "Aku adalah pegang sabuk hitam di karate. Kalau cuma penjahat saja bisa kupukul dia sampai mati dalam 10 detik."
"Oya?" Dewi terdengar ragu dengan pengakuan lelaki ini. Perempuan yang ndengarnya pun juga ikut ragu ketika mperhatikan tubuh lelaki ini yang biasa-biasa saja.
"Hmm? Sini kutunjukkan."
Setelah berkata demikian, pria itu berdiri di tengah-tengah jalan dan nunjukan otot bisepnya. Otot bisepnya yang sekepal tangan itu dipadu dengan dada yang bidang.
Ketika lihat perubahan ini, para perempuan mulai teriak kagum. Si Dewi pun juga tidak ketinggalan, dia kagum dengan otot yang dimiliki pria tersebut.
Randika sudah malas ndengarkan reka lagi. Dia kemudian noleh ke samping kirinya dan berusaha tidur.
Sosok Randika yang mutar badannya itu telah dilihat oleh lelaki ini. Dia rasa bahwa lelaki yang sedang berusaha tidur itu terlihat nyedihkan. "Kalian lihat pria yang sedang tidur itu? Aku bisa nghabisi 10 orang semacam itu hanya dalam satu gerakan."
Ketika semua yang ada di sana lihat Randika, reka tidak bisa nahan diri untuk tidak tertawa.
Randika bahkan tidak ingin nggubrisnya dan masih berusaha untuk tidur.
"Hei, hei, bagaimana kamu latih ototmu hingga sebesar ini?" Seorang perempuan nghampiri pria itu dan ingin nyentuhnya.
"Tentu saja dengan latihan dan makan makanan yang sehat." Pria ini kemudian berpose lagi. "Kalau kau lihat ototku ini, kau bisa rasakan bahwa otot ini terbentuk secara alami."
"Apakah kita bisa mperkecil perut kita dengan cepat?" Tanya perempuan yang lain.
"Tentu saja!" Pria itu noleh ke perempuan tersebut. "Selama tode kalian benar maka ngecilkan perut hanyalah masalah gampang. Kalau kalian mau, aku akan mbantu kalian ndapatkannya hanya dalam waktu 10 hari!"
Perempuan-perempuan yang lain segera berteriak riang. "Wah! Bagaimana caranya? Ajarkan kami dong tolong!"
"Kalau begitu, aku minta nomor kalian dulu. Ketika kita kembali ke kota Cendrawasih, aku akan ngajarkan kalian secara privat."
"Baiklah kalau begitu."
Semua perempuan di sana setuju.
Randika dalam hati benar-benar tidak bisa berkata apa-apa. Caranya rayu cewek benar-benar hina nurutnya. Apakah lelaki itu perlu segitunya? Kalau dia sabar seperti dirinya maka cewek akan datang sendirinya dan ngajaknya nikah suatu saat nanti seperti dirinya ini.
Bus berkendara dengan kecepatan yang lumayan pelan karena jalannya yang nanjak. Pemandangan alam di luar jendela semakin lebat. Dalam beberapa jam lagi, kota Kebon Raya akan terlihat.
Kota Kebon Raya terkenal akan alamnya yang sangat rindang dan tempat ini sering njadi tujuan wisata orang-orang. Tempat yang Randika tuju adalah salah satu desa terpencil yang ikut bagian dari kota ini. Saking terpencilnya, jarang orang ngetahui keberadaan desa ini karena letaknya yang ada di bawah kaki gunung.
Sekumpulan anak muda itu masih berbincang-bincang. Pada saat ini, bus ini berhenti untuk ngisi ulang bahan bakar dan ndapatkan 5 penumpang baru. Setelah semua selesai, reka kembali laju.
"Kalian tahu gak, ketika aku berlomba dulu dan njadi juara 1 nasional, aku hanya mbutuhkan 3 gerakan dan lawanku terpental jauh dari ring." Lelaki itu terus-terusan mbual.
Randika masih terus nutup matanya. Pria ini benar-benar tidak tahu kapan harus berhenti.
Namun nyatanya para perempuan ndengarnya dengan antusias. Perjalanan antar kota ini mbosankan, jadi ndengarkan cerita ataupun bercakap-cakap adalah salah satu hiburan.
Untuk ncapai destinasi terakhirnya yaitu desa Jagad, bus harus lewati jalanan gunung. Oleh karena itu, jalan yang dilaluinya sangatlah sepi. Di saat itu juga, terdengar sebuah teriakan dari dalam bus, "Jangan bergerak! Keluarkan semua uang kalian!"
Penumpang baru yang berjumlah 5 orang sebelumnya ngeluarkan pistol. Satu orang dengan cepat nuju kursi supir dan sisanya nodong ke arah penumpang.
Ckit!!!
Suara rem bus terdengar keras dan bus perlahan berhenti. Suasana di dalam bus juga njadi hening.
"Kalian semua turuti kata-kata kami dan tidak akan ada yang terluka. Sekarang keluarkan semua barang berharga dan uang kalian!" 3 orang bertugas untuk ngumpulkan barang jarahan dan 1 orang ngawasi keadaan dari belakang.
Semua orang tampak nundukkan kepala dan Dewi getar ketakutan, "Bagaimana mungkin bus kita didatangi perampok."
Teman-teman perempuan Dewi juga ketakutan semua, ini pertama kalinya reka ngalami hal seperti ini.
Seorang perampok ndatangi Randika dan orang yang duduk di samping Randika segera ngeluarkan dompet dan handphonenya.
"Bisakah aku minta KTP dan SIM milikku?" Tanya penumpang itu.
"Baiklah." Perampok itu kemudian ngambil dompetnya dan lihat kartu ATM. Di saat yang sama, dia bertanya. "Berapa nomor pinnya?"
"Ah!" Penumpang ini tidak nyangka akan ditanyai.
"Kau tuli atau apa? Aku tanya sekali lagi, berapa nomor pinnya atau kutembak kau sekarang!" Perampok iki mulai geram.
"123412" Kata penumpang itu sambil getar.
"Anak pintar." Setelah itu dia lemparkan dompetnya kembali.
"Hei sekarang giliranmu! Jangan pura-pura tidur." Perampok itu ndorong Randika.
Randika yang baru bangun masih setengah sadar, "Hmm? Ada apa?"
"Keluarkan barang berhargamu." Kata perampok itu sambil nodongkan pistolnya.
Randika pura-pura ketakutan. Dia mulai raba-raba kantongnya dan setelah beberapa saat dia hanya ngeluarkan sebuah tiket. Setelah nyadari keadaannya, Randika hanya noleh ke arah si perampok dan ngatakan, "Aku sudah nghabiskan seluruh uangku untuk mbeli tiket ini, aku sudah tidak punya apa-apa lagi."
Si perampok kemudian ngambil tiket itu dan riksanya, "Desa Jagad? Ternyata bocah desa ini manglah miskin." Teman-teman perampoknya ikut tertawa.
Randika sendiri ingin tertawa sekaligus nangis. Reputasi desa Jagad sebagai desa miskin ternyata sudah nyebar.
lihat bahwa percuma terus-terusan malak si bocah desa itu, si perampok segera nuju penumpang yang lain.
Kali ini, si perampok ndatangi sekumpulan perempuan. "Keluarkan barang berharga kalian!"
Semua perempuan itu ketakutan dan nuruti perampok ini.
"Hei, bukannya kau ngatakan bahwa kau sabuk hitam di karate?" Tanya seorang perempuan kepada lelaki yang sebelumnya mbual terus.
Lelaki itu rasa jantungnya berhenti berdetak. Musuh mbawa pistol dan dia hanya tangan kosong. Terlebih lagi, reka berlima dan dia sendirian. Bagaimana bisa dia njatuhkan reka semua hanya dengan tangan kosong?
"Apa yang barusan kau bilang?" Si perampok samar-samar ndengar percakapan reka dan mulai ngokang senjatanya.
Lelaki ini segera ketakutan. Tolong todong orang lain saja bukan aku.
Namun pada saat itu juga, seorang perempuan berdiri dan ngatakan. "Dia ini adalah pegang sabuk hitam karate dan juga juara tingkat nasional!"
Mati aku!
Lelaki itu segera njadi pucat. Matanya tampak berair dan mulutnya tampak ngering.
"Oh?" Si perampok segera noleh ke arah lelaki itu dan para perempuan juga mberikan tatapan penuh makna.
"Juara nasional?" Kata perampok itu sambil tersenyum. "Kalau begitu berdirilah!"
Lelaki itu sudah tidak ingin njaga citranya dan berusaha nyelamatkan dirinya dengan ngatakan, "Haha bohong itu, aku berbohong kepada para perempuan itu. Aku hanya bocah yang mbawakan air."
Sesaat setelah kata-kata itu keluar, Dewi dan teman-temannya rasa kecewa dan bodoh karena sudah mpercayai kata-kata orang itu.
Bisa-bisanya dia bohong?
"Ha? mangnya aku peduli?" Si perampok nodong kepala lelaki itu dan ngatakan, "Aku ingin kau berdiri sekarang juga."
Lelaki itu tidak punya pilihan dan berdiri sambil ngangkat tangannya.
"Kalian tadi ngomong kalau orang ini adalah pegang sabuk hitam karate? Aku tidak pernah lihat sabuk hitam nari jadi aku harap kau bisa nghiburku."
Lelaki itu rasa bingung. Si perampok segera nambahkan, "Kenapa? Kau ingin mayatmu nari-nari di lantai? Cepatlah nari atau kutembak kau!"
"Baiklah, baiklah aku akan nari."
Lelaki itu segera nari. Karena tidak pernah nari sebelumnya, gerakannya sangat kaku bagai katak yang lompat.
"Bah! rusak mata saja." Si perampok nendang lelaki itu dan lemparnya kembali ke tempat duduknya. Para perempuan berteriak lihat kekerasan ini.
"Jika kau tidak segera ngeluarkan uang kalian, akan kutambahkan satu lubang di kepalamu." Kata si perampok.
Lelaki itu segera ngeluarkan isi kantongnya dengan cepat. "Ini semua yang kupunya."
Si perampok lihat sekumpulan uang itu dan tersenyum, "Wah ternyata kau orang kaya."
Uang yang diberikan lelaki itu lebih dari 5 juta, jumlah yang lebihi harapan para perampok ini.
Pada saat ini, salah satu perampok lainnya datang. Dia bukan ingin nghajar lelaki ini tetapi matanya tertuju pada para perempuan. Tatapan matanya dipenuhi oleh nafsu.
"Kak, lihatlah para perempuan ini. reka cantik-cantik dan muda-muda." Matanya tertuju pada Dewi. "Kita sudah lama tidak ncicipi hidangan seperti ini dan jumlah reka juga ada 5, bagaimana kalau seorang ngambil satu dan bersenang-senang?"
Si perampok itu kemudian lihat wajah-wajah para perempuan itu dan ngangguk.
Dia kemudian noleh ke temannya yang nyandera si supir. Dia kemudian berteriak kepadanya, "Hei, kita akan mbawa kelima perempuan ini juga. Malam ini akan nyenangkan!"
"Tidak!" Dewi segera diseret paksa oleh salah satu perampok. Dewi segera ronta-ronta sambil nangis, dia tahu bahwa kalau dia sampai dibawa oleh reka maka dia tidak akan bisa kembali lihat keluarganya.
Semua lelaki di bus cuma terdiam. reka aslinya ingin nghentikan ini tetapi para perampok ini miliki pistol jadi reka tidak bisa berbuat macam-macam.
Ketiga perampok lainnya segera narik keempat perempuan sisanya. reka juga ronta-ronta sambil mohon ampun, karena reka perempuan reka tidak bisa lawan tarikan para perampok ini.
Namun pada saat ini, sebuah suara muncul. "Baiklah, kalau kalian hanya ngambil uang dan barang berharga orang-orang aku akan tetap diam. Tetapi sampai ingin nculik orang khususnya perempuan, aku sudah tidak bisa tinggal diam lihat kalian para sampah masyarakat ini bertindak semaunya."
Para perampok segera berhenti dan lihat sosok Randika yang berdiri. Randika natap tajam setiap perampok tersebut. Para perampok ini lihat sesama reka dan tertawa. Bocah miskin dari desa berani berulah?
Dalam sekejap reka rasa bahwa bocah itu sudah gila.
"Hei bocah miskin, jangan ikut campur. Bisa apa kau mangnya?" Kata salah satu orang. "Aku penasaran apa yang mangnya kau bisa lakukan? Jika kau ingin sok njadi jagoan, aku akan dengan senang hati mbunuhmu."
"Omong kosong." Kata Randika sambil nggelengkan kepalanya. "Aku bisa nghabisi kalian semua dalam sekejap."
Setelah ndengar perkataan Randika, para perampok ini segera nodongkan pistolnya ke arah Randika. Semua yang ada di sana segera tiarap.
Namun tiba-tiba, sosok Randika sudah nghilang dan tiba di hadapan salah satu perampok. Dia segera nggenggam erat pergelangan tangannya. Ketika dia remasnya, orang tersebut segera berteriak kesakitan dan njatuhkan senjatanya. Randika segera ngamankan pistol tersebut.
Berhasil rebut satu pistol, Randika segera ngokangnya dan mbidik ke arah perampok yang berada di sebelah kursi supir. Dia lalu nembaknya.
Klik! Klik!
Randika kaget, ternyata selama ini pistol ini tidak ada pelurunya. Pistol palsukah?
Namun di saat ini, salah satu perampok mbidik Randika dan nembakkan pistolnya. Satu peluru tengah ngarah ke Randika!
Dengan kecepatannya yang luar biasa, Randika segera ngelak dan lempar pistol palsunya itu. Teralihkan perhatiannya, Randika segera berubah njadi bayangan dan lesat ke arah perampok itu. Tangan kanannya miliki montum kecepatan sehingga sekali pukul saja sudah berhasil mbuat perampok itu pingsan.
Keempat perampok lainnya hanya bisa lihat sosok Randika berada di atas tubuh kawan reka yang pingsan dan sedang mbidik reka dengan pistol asli.
"Dari lima orang, seharusnya satu adalah pistol yang asli." Kata Randika dengan santai.
Salah satu perampok rasa panik dan nyandera salah satu orang, berusaha nutupi laju tembakkan Randika. Namun dalam sekejap Randika berhasil nembak pergelangan tangannya.
"Ah!"
Ringkikan kesakitan terdengar dan ketiga perampok lainnya tidak berani bertindak macam-macam.
Randika segera nghampiri reka semua dan mukul reka hingga pingsan.
"Ikat reka dan serahkan reka ke pihak berwenang." Setelah mastikan semua aman, Randika mutuskan untuk kembali tidur.
Semua orang yang ada di dalam bus tercengang. Dewi lihat Randika dengan mata yang terkagum-kagum. Bagaimana mungkin orang biasa sepertinya bisa begitu kuat dan berani? Dia rasa malu karena sudah ngejeknya sebelumnya. Orang ini telah lumpuhkan para penjahat dengan tangan kosongnya. Bisa dipastikan kalau dia nginginkannya, dia bisa mbunuh reka kapan saja.
Para perempuan lainnya juga mandang Randika dengan tatapan penuh syukur. Kalau bukan karena Randika, mungkin reka sudah tidak akan pernah lihat keluarga reka lagi.
skipun reka sempat ngejek Randika sebelumnya, Randika masih mau nyelamatkan reka. Sungguh dermawan sekali.
Tatapan mata Dewi benar-benar tidak bisa lepas dari Randika. Dia tidak bisa nahan dirinya untuk bertanya, "Terima kasih atas pertolonganmu. Bolehkah aku tahu siapa namamu?"
"Tidak perlu berterima kasih padaku." Randika masih nutup matanya. "Namaku Agus."
Reviews
All reviews (0)