Saat Randika tiba di rumahnya, hanya Ibu Ipah yang ada di sana. Sepertinya Inggrid belum kembali.
"Ibu Ipah bagaimana acara televisi hari ini? Apakah bagus-bagus?" Tanya Randika sambil tersenyum.
"Lho nak Randika sudah pulang. Iya hari ini banyak sinetron bagus nih. Kalau kalian tidak ada di rumah, ibu hanya bisa nonton TV saja." Kata Ibu Ipah sambil tersenyum. "Kenapa kok tidak pulang dengan nona? Apakah semuanya baik-baik saja?"
Waktu sekarang nunjukan pukul 7 malam. Hanya setengah jam saja untuk Randika mbereskan geng kapak dan nemukan petunjuk lainnya. Cara kerja Randika mang efisien.
"Aku tadi keluar duluan karena aku ada perlu bertemu dengan orang. Mungkin Inggrid sebentar lagi pulang." Kata Randika dengan sedikit ragu. Randika masih ingat bahwa ibu-ibu ini bukan orang biasa, siapa tahu pertanyaannya ini adalah jebakan. Apakah dia sudah tahu insiden di perusahaan?
"Baiklah kalau begitu." Ibu Ipah ngangguk.
Ibu Ipah kemudian kembali nonton TV dan Randika pamit ingin istirahat.
Ketika Randika sudah naik ke kamarnya, Ibu Ipah bergumam, "Setidaknya dia seharusnya mbersihkan diri terlebih dahulu. Bau darahnya nyengat."
Jika Randika tahu bahwa bajunya telah mbawa bau darah, mungkin dia sudah mbersihkan diri dan ngganti bajunya dulu sebelum kembali pulang.
Sejujurnya Randika sudah kelelahan jadi dia tidak sempat berpikiran sejauh itu. Dia rasa tiba-tiba badannya njadi dingin, napasnya tidak teratur dan wajahnya pucat.
Hari ini dia sudah nyalurkan tenaga dalamnya ke tubuh Inggrid, dan juga mporak porandakan markas geng kapak sendirian. skipun dia tidak terluka, tenaga dalamnya terus beredar dengan hebat.
Randika rasa bahwa tubuhnya mulai getar dan organ-organ dalamnya mulai lintir bersamaan. Dia rasa bahwa tenaga dalamnya akan ncabik-cabik dirinya.
"Ah!"
Saking sakitnya, dia berguling-guling di lantai kamarnya. Seluruh tubuhnya ngeluarkan keringat dan matanya njadi sangat rah.
"Tidak. Aku tidak bisa mati hari ini!" Randika nahan rasa sakitnya ini dan ngeluarkan jarum akupunturnya. Dia segera ngobati dirinya sendiri.
Tangannya yang gang jarum bergetar hebat dan tidak bisa diam. Dia mbutuhkan konsentrasi penuh dan energi banyak untuk nusukkan jarum di titik-titik tertentu. Setelah selesai, Randika segera nutup matanya dan ngatur pernapasannya. Wajahnya rah dan terlihat bengkak. Seakan-akan kepalanya akan ledak setiap saat.
Setelah beberapa saat, Randika mbuka matanya. Pada saat ini, dia rasa seakan-akan jiwanya ditarik keluar dan dirinya sangat kelelahan.
Ketika dia ncabut jarum-jarum akupunturnya, dia rasa bahwa tubuhnya telah kehilangan banyak tenaga dalamnya. Sisa dari tenaga dalamnya dia gunakan untuk nahan kekuatan misterius yang ada di tubuhnya itu.
Dia sudah lama ngeluarkan seteguk darah hitam dan sekarang dia tenggelam dalam pikirannya. Dia berpikir tentang hidupnya ketika dia sampai di kota Cendrawasih ini. Dia rasa pusing dengan segala hal yang telah terjadi. Sampai saat ini, dia tidak tahu apa yang diinginkan musuh darinya. ngapa Harimau dan Bulan Kegelapan ngkhianati dirinya? Apakah semua kejadian sampai saat ini hanyalah kebetulan?
Terlebih lagi, dia rasa bahwa tubuhnya mulai kelelahan. Dia juga takut bahwa dengan adanya ancaman serangan di masa depan, dia harus segera pulih dari keadaannya sekarang ini. Awalnya dia tidak takut tetapi dia rasa bahwa hal ini tidak bisa lagi ditunda.
Setelah beberapa saat dia telah mutuskan, "Sepertinya aku harus pulang. Aku harus minta bantuan para tetua itu."
Setelah itu, Randika mutuskan untuk mandi. Setelah dia selesai, waktu telah nunjukan pukul 9 malam. Dia ngendalikan kekuatannya ini kurang lebih hampir 2 jam.
Tiba-tiba suara kerucukan muncul dari perutnya. Dia rasa bahwa proses tadi telah nghabiskan energinya dan mbuat dirinya lapar. Sudah waktunya dia nimbun energi lagi.
Ketika dia berada di tangga, dia ngintip dari atas dan nemukan bahwa Ibu Ipah sudah tidak ada dan istrinya sedang duduk di lantai.
lihat pakaian rumah Inggrid, Randika tidak bisa nahan senyuman nakalnya.
Dia masih berada di tangga. Dia ngintip dari atas untuk mperhatikan buah lon istrinya yang terlihat indah dari atas. Sungguh nggoda!
Namun, beberapa detik kemudian si Inggrid berpindah posisi dan Randika tidak ndapatkan pemandangan indahnya lagi. Dia mutuskan untuk turun dan nyapanya.
"Malam istriku yang cantik!" Randika segera nghampirinya dan matanya tidak bisa lepas dari penampilan sexy istrinya. Inggrid sedang makai baju putih tanpa lengan dan celana rumah yang pendek. Dia juga terlihat mbentangkan kakinya yang putih itu di lantai. Pahanya yang putih itu mbuat Randika ingin ngubur mukanya di tengah-tengahnya.
lihat Randika yang ndekat, Inggrid segera duduk dengan benar dan rapatkan kakinya. Hal ini malah mbuat sebuah celah di antara pahanya yang putih itu. Randika sekarang benar-benar ingin mbenamkan mukanya di situ. Penampilan istrinya ini ngingatkan dirinya tentang Viona pada malam hari itu!
Sayangnya pemandangan indah itu segera tertutup oleh selimut wol yang dipakai Inggrid.
Ketika Inggrid ingin berkata sesuatu, dia natap mata Randika yang terlihat sedih itu. Dia lihat tatapan mata Randika mulai naik nuju dadanya dan dia pun segera nutupinya dengan tangannya.
"Dasar lelaki sum!" Inggrid semakin malu ketika lihat senyuman Randika di hadapannya.
Randika segera duduk berdampingan dengan Inggrid sambil ngelus pipinya. "Istriku, kenapa kau malu? Bukankah kita ini suami istri? Hubungan kita sudah diresmikan oleh hukum, jadi sudah sewajarnya bahwa aku sebagai suamimu lirikmu dengan tatapan penuh makna."
lihat dekat wajah Randika, mbuat Inggrid teringat dengan kejadian sebelumnya di kantornya. Lelaki ini telah ncopot behanya dan hampir lihat dirinya telanjang, dia tiba-tiba njadi marah. "Jangan lupa kalau kita itu hanyalah kawin kontrak! Kita akan bercerai dalam tiga bulan!"
Apakah itu benar?" Dengan senyuman nakalnya, dia ndekatkan dirinya ke wajah Inggrid seakan-akan reka akan berciuman. "Apakah kau rela ninggalkanku?"
Inggrid segera malingkan wajahnya dan ngatakan, "Kau hanyalah lelaki bajingan dan tidak tahu diri. Buat apa aku nginginkanmu?"
"Benarkah?"
"Tentu saja!"
"Kalau begitu akan kutunjukan betapa jahatnya suamimu ini."
Ketika ngatakan hal itu, Randika sudah berdiri dan gerakan tangannya seakan-akan siap remas-remas sesuatu.
"Kau. Apa yang hendak kau lakukan?"
"nurutmu apa yang akan kulakukan?" Randika mulai maju perlahan-lahan nuju mangsanya.
"Tidak! Jangan dekati aku!" Inggrid berusaha larikan diri. "Jika kau berani nyentuhku, aku akan berteriak minta tolong!"
"Jika kamu berteriak pun, tidak akan ada yang nolongmu. Kamu mau berteriak 7 hari 7 malam pun tidak akan ada yang datang." Kata Randika sambil tersenyum.
"Tidak! Dasar pria sum, jangan dekat-dekat!" Inggrid kembali berlari dan sekarang dia sudah terpojok, dia tidak bisa lari lagi.
"Hahaha! Mau ke mana kau sekarang sayang?" Kata Randika sambil tertawa jahat. "Akan kutunjukan betapa bengisnya suamimu ini."
Inggrid yang terpojok hanya bisa berteriak satu nama, "Ibu Ipah!"
Ketika ndengar nama itu, Randika langsung njadi panik. Dia terlalu asyik bercanda dengan istrinya ini tetapi kalau Ibu Ipah sampai datang, maka situasi akan gawat. Dia dengan segera nerjang Inggrid dan berusaha nutup mulutnya. Namun tanpa disengaja, Randika tergelincir dan malah ncium Inggrid!
"Hmmm!" Mulut Inggrid benar-benar diblokir oleh mulut Randika. reka hanya saling bertatapan-tatapan tanpa bergerak.
Sepasang suami-istri ini hanya saling natap satu sama lain dengan bibir reka yang saling berciuman.
"Aduh dasar anak muda. reka manggilku hanya karena ingin par, mau jadi apa dunia ini." Ibu Ipah yang datang secepat kilat hanya geleng-geleng kepala ketika lihat reka berdua berciuman.
Setelah beberapa lama, Inggrid segera ndorong Randika. Randika yang masih terpukau dengan kelembutan bibir istrinya masih berharap bisa ncicipinya lagi.
Inggrid rasa ingin nangis sekaligus rasa gila karena lelaki ini. Bagaimana bisa dia nciumnya secara tiba-tiba? Setetes air mata kemudian ngalir.
Randika yang lihat Inggrid yang neteskan air mata itu segera nghampirinya. Dia segera ngusap air mata itu dan ngatakan, "Maafkan aku sayangku. Aku tidak sengaja nciummu. Aku benar-benar tidak miliki niatan seperti itu, lantainya saja yang terlalu licin."
Inggrid hanya berdiri diam dan tidak bereaksi, Randika pun lanjutkan. "Kalau aku bohong, kau boleh mukulku sekali."
Setelah kata-kata ini terlontarkan, Inggrid segera nginjak kaki Randika sekuat tenaga.
"Ah!" Randika segera lompat kesakitan.
"Kau yang nyuruhku lakukannya." Inggrid ngusap air matanya dan pergi dari situ. Dia sedikit rasa lega setelah nginjak kaki Randika.
"Aku tidak pernah nyangka bahwa Ares akan terluka oleh seorang wanita cantik." Kata Randika sambil tersenyum pahit. "Yah setidaknya itu mbuatnya sedikit senang."
lihat sosok istrinya yang pergi, Randika segera teringat tujuannya ingin bertemu istrinya.
"Istriku, aku akan pergi sentara waktu selama beberapa hari."
Inggrid terkejut ketika ndengarnya, dia rasa penasaran. "Ke mana kau akan pergi?"
"Aku akan pulang ke rumahku di gunung untuk bertemu dengan beberapa orang." Randika lalu teringat akan sosok para kakeknya itu dan tanpa sadar tersenyum lembut.
Ketika lihat senyuman ini, Inggrid pun bingung. Sejujurnya, dia tidak bisa nebak jalan pikir orang di hadapannya ini.
"Jangan khawatir, aku akan kembali setelah beberapa hari. Aku hanya takut kau akan kesepian." Kata Randika dengan senyuman lembutnya lagi.
"Huh! Siapa yang khawatir sama kamu! Kalau bisa jangan kembali lagi!" Inggrid pun segera pergi dari hadapan Randika.
Jangan kembali? Bagaimana bisa aku lakukannya? Aku masih mbutuhkan 5 miliar milikmu itu. Terlebih lagi, aku masih belum ingin berpisah dengan istriku yang cantik ini. Bagaimana mungkin aku akan ninggalkanmu?
Mungkin jika Inggrid bisa ndengar isi pikiran Randika, dia sudah nghajarnya.
Reviews
All reviews (0)