"Kau pikir dengan ngeluarkan pistol mbuatku takut?" Kata Randika dengan santai.
Dia pernah mbunuh 1000 orang suruhan mafia Italia yang bersenjatakan lengkap, sekarang dia hanya dihadapkan satu pistol saja, ngelawak atau apa orang ini?
Senapan otomatis, granat, tank, misil udara, bom ranjau pernah dia hadapi semua dan dia sama sekali tidak terluka. Kota-kota hancur, pemukiman terbakar dan orang-orang berteriak histeris, sedangkan Randika hanya berdiri dengan senyum tipisnya ketika berhasil nghadapi semua senjata itu.
Macan lihat pemuda di hadapannya ini dengan perasaan takut. lihat betapa tenangnya pemuda itu, tangannya semakin bergetar.
Selama hidup di dunia bawah tanah di kota Cendrawasih, Macan telah miliki insting tajam yang bisa ndeteksi bahaya. Entah kenapa hari ini ketika dia lihat pemuda ini, dia rasakan bahaya yang amat sangat besar. Dia dengan cepat mbidik dan nembakkan seluruh pelurunya.
Dor! Dor! Dor! Dor!
Serangkaian tembakan ditujukan kepada Randika yang dari tadi hanya langkah lurus ke depan.
Tenaga dalam Randika sudah bersirkulasi secara maksimum. Kecepatan peluru baginya sekarang sama pelannya seperti semut yang rayap.
Dia lalu ngelak ke kanan untuk nghindari peluru pertama, berputar ke kiri untuk nghindari peluru kedua dan nunduk untuk nghindari dua peluru terakhir.
Lalu setelah itu, dia lebur satu dengan bayangan ndekati si Macan sambil sesekali njatuhkan barang yang ada agar si Macan bingung dia ada di mana.
Si Macan yang bingung hanya bisa lihat barang berjatuhan di sekitarnya tanpa bisa lihat sosok Randika. Apakah tembakannya tidak ngenai satu pun?
Tangannya yang gang pistol sudah bergetar hebat, di setiap ada suara jatuh dia akan segera mbidik ke sana dan nembakan satu pelurunya. Namun sosok Randika masih tidak bisa dia lihat saking cepatnya.
Klik! Klik!
Setelah beberapa tembakan tambahan, peluru miliknya sudah habis dan dia pun hendak mbantingnya.
"Sudah habis?" Sosok Randika dengan cepat muncul di hadapannya sambil nahan pistol yang ada di tangan si Macan. reka berdua saling bertatapan mata.
lihat tatapan mata Randika, Macan segera panik dan berusaha narik pistolnya kembali. Tiba-tiba seluruh pistol sudah terpretel dan bagian-bagiannya telah berserakan di lantai.
Lemas dan tidak berdaya, Macan yang rangkak ketakutan di lantai sudah tidak berani natap Randika. lihat kaki Randika yang ndekat dia segera berteriak histeris. "Bagaimana bisa ada orang seperti kau! Kau bukan manusia!"
Macan benar-benar ketakutan dan nganggap nyawanya akan berakhir hari ini. Randika ngatakan, "Sekarang adalah giliranku yang nyerang."
Sebelum kalimat itu selesai, Randika sudah layangkan tendangan dan tubuh si Macan layang jauh dan nabrak dinding.
Duak!
Macan segera berbaring kesakitan setelah nabrak dinding, seteguk darah keluar dari mulutnya. Randika nghampirinya secara perlahan, setiap langkahnya mbuat ngeri si Macan.
"Si siapa kamu?" Si Macan terlihat berusaha njauhi Randika. "Aku rasa kelompok kami tidak pernah nyinggungmu. Kelompok kami pun juga tidak pernah bertemu denganmu. ngapa kau lakukan semua ini?"
Si Macan benar-benar kehabisan akal. Pertama kalinya dia nghadapi lawan bagai dewa kematian ini. Kapan mangnya dia pernah nyinggung orang seperti ini? Dia benar-benar tidak ingat. skipun geng kapak terkenal akan kebengisannya, reka masih nghindari berkontak dengan orang yang berbahaya semacam Randika.
"Kau yakin tidak pernah nyinggung aku?" Randika tersenyum tipis ketika ndengarnya rengek. Dia lalu njambak rambutnya dan berkata dengan tersenyum, "Perlu kuberitahu ulah apa yang telah kau lakukan hari ini?"
Hari ini?
Si Macan aslinya sudah tidak bisa berpikir dengan jernih. Ketakutan ditambah dengan rasa sakit mbuat dirinya tidak bisa berpikir walau dia mau. Hari ini? Apa yang telah dilakukan kelompoknya hari ini?
"Hmm?" Randika ngerutkan dahinya. Randika lalu ngangkat si Macan dan lemparkannya kembali ke tembok. Si Macan lagi-lagi ngerang kesakitan. Apa yang telah diperbuatnya?
"Sudah ingat?" Randika kembali natapnya.
Si Macan ngangkat kepalanya dengan segera dan ngatakan, "Apakah ini tentang Perusahaan Cendrawasih?"
Ketika ngatakan hal ini, tenggorokan si Macan sudah kering.
"Ingatanmu cukup bagus." Randika namparnya pelan. "Sekarang katakan, siapa yang nyuruhmu lakukannya?"
Ketika ndengar hal ini, si Macan berhasil ngetahui asal usul pria ini. Dia tidak nyangka bahwa tindakannya hari ini akan nyebabkan hasil seperti ini. Dia segera berkata dengan nada panik, "Maafkan aku tuan. Maafkan kebodohan hamba ini. Aku seharusnya tidak nerima pekerjaan itu dari perusahaan Mourin. Jika kau lepaskanku, aku berjanji kelompok kami tidak akan nyusahkan tuan maupun perusahaan Cendrawasih ke depannya nanti."
Randika ngerutkan matanya ketika si Macan berbicara. Di saat dia mulai berbicara dari awal hingga akhir, dia nghindari kontak mata dengannya.
Bohong!
Randika tidak bisa dibohongi.
"Terus ngapa kau ngincar salah satu ruangan di lantai 9? Kalian tidak mungkin tiba-tiba muncul di sana secara kebetulan karena kau telah nghancurkan ruangan pribadiku." Kata Randika. "Apakah ini juga suruhan dari perusahaan Mourin?"
Wajah si Macan kembali mutih, dia tidak tahu apa-apa ngenai hal ini. "Tugas kami adalah nghancurkan dan ngobrak-abrik bagian dalam gedung Cendrawasih, tidak ada target spesifik dari klien kami. Aku juga rintahkan anak buahku untuk nghancurkan secara asal."
Kali ini muka si Macan tidak nunjukan tanda-tanda bahwa dia bohong.
Randika nghela napas, "Kau juga yang racuni Inggrid Elina, bos perusahaan Cendrawasih?"
Walau tenggorokannya kering, si Macan tetap berusaha nceritakan segalanya demi nyawanya. "Tidak, kami tidak lakukannya! Tugas kami hanyalah ngobrak-abrik bagian dalam gedung Cendrawasih maka tugas kami sudah dianggap selesai oleh klien. ngenai racun, kami sama sekali tidak tahu."
Randika berdiri dan nyeret tubuh Macan, "Bajingan keras kepala! Karena kau tidak mau nyebut namanya, maka temuilah dirinya di neraka."
Ketika ndengarnya, hati si Macan kembali negang. Ketika dia hendak minta ampun atas nyawanya, sebuah pisau sudah layang dan nancap di kepalanya.
Pimpinan geng kapak mati begitu saja pada malam hari ini. Dengan kematiannya ini, kota Cendrawasih akan ngalami perubahan khususnya di dunia bawah tanah kota ini.
Randika tidak peduli dengan hal ini. Setelah mbereskan seluruh anggota geng kapak, Randika mulai riksa ruangan ini. Seharusnya ada sebuah petunjuk ngenai dalang di balik layar ini.
Ruangan ini tidak begitu besar. Dalam beberapa nit, Randika sudah selesai ngecek semua sudut ruangan. Ketika hal ini berlangsung, Dimas yang tergeletak di tanah masih kebingungan. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang ini. Dia ingin berbicara tetapi takut pihak lain ini akan mbunuhnya. Jika dia nyinggung orang ini, mungkin lebih baik dia bunuh diri untuk nghemat waktu.
Randika masih berusaha ncari-cari petunjuk di ruangan ini dengan seksama. Akhirnya Dimas mberanikan diri untuk manggilnya dan ngatakan, "Kakak tertua."
Randika ngabaikannya.
"Aku rasa tadi si Macan mbuka sebuah pintu berwarna hitam tadi."
Randika langsung noleh ke arah Dimas dan bertanya, "Di mana?"
"Di sana! Di sana!" Dimas nunjuk sebuah rak buku yang ternyata bisa digeser.
Randika kemudian nggesernya dan nemukan pintu rahasia di baliknya.
Randika kemudian berkonsentrasi kembali. Dia mancarkan tenaga dalamnya lalui tangannya dan tiba-tiba pintu itu sudah lebur jadi serbuk!
Dimas yang lihatnya segera ternganga.
Setelah masuki ruangan rahasia tersebut, Randika nyadari bahwa ada ruangan lagi di dalamnya. Terdapat banyak senjata di dalam sini bahkan yang sulit didapat pun di negara ini. Tempat ini adalah gudang senjata milik reka.
Di atas ja, ada berkas-berkas informasi seperti profil tokoh-tokoh besar di kota Cendrawasih dan catatan keuangan geng kapak selama ini.
Di saat Randika ngecek seluruh ruangan, dia nemukan sebuah cincin rah di dalam laci.
ngambil cincin tersebut, Randika riksanya. Cincin rah ini terlihat biasa saja tetapi simbolnya sangat ncolok yaitu anjing berkepala tiga yang lebih dikenal sebagai Kerberos.
Bulan Kegelapan!
Dalam sekejap terlintas nama Bulan Kegelapan di benak Randika. Ketika dia bersamanya dulu, Bulan Kegelapan selalu makai cincin seperti ini. Tidak salah lagi, Bulan Kegelapan miliki keterkaitan dengan geng kapak.
"Ternyata kau belum mati." Pikir Randika. Dia sekarang yakin bahwa Bulan Kegelapan pasti miliki andil dalam kejadian hari ini, tetapi Randika masih ragu apa motif dia sebenarnya. Dia juga bingung ngapa Bulan Kegelapan masih berpura-pura mati dan bersembunyi.
"Bersembunyi dan cuma nunjukan ekormu mang ciri khasmu." Randika kemudian ngambil cincin itu dan keluar dari ruangan rahasia ini. Dia lalu lihat Dimas yang masih duduk di lantai, "Dalam satu jam, polisi akan nyerbu tempat ini."
ngabaikan sosok Dimas, Randika segera lebur dengan kegelapan.
Ketika Dimas ndengar peringatan Randika, dia juga segera pergi.
.....
Randika kemudian ngambil handphonenya dan nelepon Shadow.
"Tuan!"
"Shadow, aku nemukan cincin rah yang biasanya dipakai oleh Bulan Kegelapan di salah satu gedung milik sebuah geng. Aku ingin kau riksa hal ini lebih lanjut."
"Tuan, aku sudah ngetahui hal itu." Kata Shadow. "Selain itu, informasi yang akan kuberikan padamu secara langsung juga berkaitan dengan hal itu. Aku hanya bisa nyampaikan semua ini secara detail ketika sudah sampai di kota Cendrawasih. Kurang dari seminggu lagi saya akan sampai."
Randika ngerutkan dahinya. Dia rasa bahwa ada yang aneh dengan Shadow. Ketika pertama kali dia neleponnya dia masih belum sadar kejanggalan ini, tetapi dia rasa ada yang aneh kali ini.
"Baiklah, setelah kau sampai tolong jelaskan semuanya."
"Baik tuan!"
Setelah nutup teleponnya, wajah Randika juga ikut kembali normal. Dia rasa ada yang aneh dengan Shadow tetapi tidak tahu apa itu.
Dia lalu mutuskan untuk lupakan hal ini dan nunggu kedatangan Shadow.
Reviews
All reviews (0)