Font Size
15px

"Bagaimana? Apakah sudah nendang?" Randika rapikan pakaiannya dan nginjak punggung si Rubah.

Si Rubah ngeluarkan darah dari kepalanya dan terlihat nyedihkan.

"Siapa kau?" Si Rubah ludahkan seteguk darah dan tersenyum, "Bajingan macam mana yang berani datang ke sini dan ngancamku?"

Randika tersenyum. "Hahaha.. kau sok kuat tapi lihatlah dirimu. Bajingan ini bahkan hanya butuh satu gerakan maka dia bisa mbunuhmu."

Hening. Hanya ada keheningan.

"Baiklah kalau begitu, kalau kau ingin sok kuat dan masih ingin mbuktikan dirimu maka pertanyaan-pertanyaanku bisa kita tunda dulu." Setelah kata-kata Randika ini selesai, badan si Rubah sudah terlempar.

Hanya dengan satu tangan, Randika lempar si Rubah ke arah tembok. Namun sebelum dia nabrak, Randika narik keras lengan si Rubah.

Dengan suara nyaring, tulang bahu si Rubah copot dari sendinya.

"Ah!"

Si Rubah benar-benar kesakitan dan berkucur keringat dingin di seluruh tubuhnya. Suaranya yang sok kuat sudah njadi rintihan sakit yang nyedihkan.

Randika tersenyum dan ngatakan, "Kenapa? Apakah tanganmu baik-baik saja? Sini kubantu."

Si Rubah yang lihat Randika ndekat segera panik. Randika kemudian hanya ngeluarkan jempolnya dan nekan keras pada tulang bahunya.

"Tidak! Hentikan!" Si Rubah rasa telah bertemu dengan sang maut. Lengannya sudah mati rasa dan sendi yang ditekan keras oleh Randika benar-benar mbuatnya kesakitan. Dia berharap bahwa musuhnya ini segera mbunuhnya.

Cara efektif mbuat orang berbicara adalah mbuatnya kesakitan dan ketakutan. Randika tahu bahwa si Rubah ini bukanlah dalang sebenarnya jadi dia perlu informasi.

"Hei jangan khawatir kawan, itu tadi hanya hidangan pembuka. Sebentar lagi aku akan mberikan hidangan utamanya." Pada saat yang sama, tulang jari telunjuk si Rubah telah dipatahkan oleh Randika.

"Tolong hentikan!" Si Rubah ingin pergi dari sini secepatnya. Jeritan minta ampunnya ini benar-benar nyedihkan.

ndengar ini, Randika bertanya kembali. "Lho ada apa? Bukankah ini jauh lebih nendang dari obat-obatanmu?"

Si Rubah nghela napas dalam-dalam. Dari tatapan mata Randika, si Rubah sudah ngerti bahwa penyiksaannya ini belum selesai. Ketika pria ini gang jari tengahnya, si Rubah pun berteriak minta ampun. "Tolong jangan! Aku sudah tidak kuat! Aku akan ngatakan segalanya yang ingin kau dengar." Si Rubah mulai ketakutan akan kehilangan nyawanya.

Masih dalam posisi nginjak dan nindih si Rubah, Randika bertanya. "Apakah kamu yang berulah di perusahaan Cendrawasih tadi siang?"

Si Rubah ngangguk.

"Aku ingin ndengarnya darimu." Randika nancapkan pisau di samping wajah si Rubah.

"Kelompok kami yang lakukannya." Kata si Rubah tergesa-gesa, dia tidak ingin mbuat orang ini marah.

"Siapa yang nyuruhmu lakukannya?"

Si Rubah ragu-ragu untuk ngatakannya, tetapi dia lihat Randika ngambil pisau yang tertancap dan hendak ngayunkannya pada dirinya. "Itu bosku, bosku yang nyuruh kita lakukannya. Kami tidak bisa nolak karena kami adalah bawahannya."

"Siapa nama bosmu?" Tanya Randika. "Jangan mbuatku bertanya lagi padamu!"

"Kakak tertua kami bernama Macan. Kelompok kami adalah geng kapak. Kami telah nguasai 1/5 dari seluruh kota ini. Penyerangan perusahaan Cendrawasih berasal dari perintah kakak tertua kami. Dia rintahkan beberapa dari kami untuk datang ke sana dan nghancurkan segalanya."

Si Rubah ngatakannya hanya dalam satu tarikan napas, dia sekarang terengah-engah. lihat tatapan mata Randika, dia telah nyadari bahwa nyawanya berada di tangan pria ini jadi dia tidak berani berbuat macam-macam maupun berbohong.

"Di mana markasmu?"

"Tidak jauh dari sini, 1 kiloter dari sini. Di sanalah markas kami."

"Bawa aku ke sana." Randika kemudian berdiri sambil ngangkat si Rubah.

"Ah?" Si Rubah mulai takut kembali. Dia tidak ingin bahwa kelompoknya tahu bahwa dia telah mberitahu segalanya pada pria ini.

"Jangan khawatir, hari ini nama geng kapak tidak akan terdengar lagi di kota ini." Kata Randika dengan nada santai.

.....

Tak jauh dari sana, di suatu ruangan terdapat seorang laki-laki berbadan besar dengan kumis yang tebal. Dia tampak seperti perompak.

Di bangunan ini terdapat lebih dari selusin orang-orang elit dari geng kapak dengan pakaian serba hitam reka. Di ruangan lelaki berbadan besar itu, terlihat seorang lelaki sedang terkapar di lantai. Dia natap linglung ke arah bos geng kapak tersebut dengan kepalanya yang ngucurkan darah.

"Bah, siapa yang bilang bahwa geng kapak hanya bisa bermain secara licik dan sembunyi-sembunyi? Kalau bukan karena aku yang mimpin kelompok ini, geng kapak sudah lama tidak ada di kota ini."

Si Macan nghela napas dalam-dalam, "Katakan padaku Dimas, apakah aku naif atau polos? Dunia bawah tanah adalah tempat hina. Aku sebagai pemimpin geng kapak kecewa dengan kinerjamu. Lebih baik kau tidak usah berada di dunia seperti ini dan momong saja anakmu. Itu lebih cocok untuk pria lemah kayak kamu!"

"Hahahaha!"

Para geng kapak ikut tertawa.

"Apakah kau tidak pernah berpikir bahwa aku bisa lahapmu hidup-hidup? Geng kecilmu itu nyedihkan." Macan berdiri dan ngangkat Dimas, "Aku hanya tidak ingin ncoreng namaku dengan nghadapi ikan teri macam kalian. Kau dan gengmu sama-sama nyedihkannya."

"Hahaha!" Dimas pun ikut tertawa. "Apakah benar begitu? Kalau kelompokku lemah ngapa kau ngeroyokku sendirian? Apakah bukan karena kalian takut dengan kita?"

Pria di sampingnya segera nendang Dimas dan si Macan ndekat dan njambak untuk ngangkat kepalanya si Dimas, "Ikan teri macam kamu berani berkata sok di depanku? Lebih baik cepat katakan di mana kau ndapatkan obat-obatanmu? Jika kau ngatakannya maka aku akan mbebaskanmu."

Dimas kembali raung kesakitan tetapi tatapan wajahnya masih terlihat garang. "Jika kalian ingin barangku, maaf aku sudah lupa di mana aku ndapatkannya."

Macan pun ngeluarkan secarik kertas dan nunjukan sebuah alamat kepada Dimas.

lihat alamat yang tertera pada kertas itu, wajah Dimas segera berubah.

"Kita mpunyai hukum sendiri ngenai bagaimana kita njalankan usaha di dunia bawah tanah ini. Kau berani langgarnya?" Kata Dimas dengan nada muram.

"Hahaha peduli setan dengan hal seperti itu." Macan ngerti maksud Dimas dan hanya tertawa.

"Baiklah, aku akan mberitahu di mana aku ndapatkan barang-barangku." Raut wajah Dimas dipenuhi oleh rasa dendam. Dia lalu lihat lekat-lekat ke wajah Macan. Dia bersumpah akan mbalas dendam.

"Kalau begitu cepat katakan."

Setelah mberitahu detail ngenai lokasi barang-barangnya, Dimas ngatakan. "Aku mberitahumu satu hal. Jika kau terus seperti ini, suatu hari nanti geng kapak akan hancur dan kau akan mati."

Ketika ndengarnya, Macan tidak bisa nahan diri untuk tidak tertawa, "mbunuhku? Geng kapak tidak akan pernah hancur di bawah perintahku!"

"Lihat saja nanti!"

Pada saat ini, pintu ruangan ini sudah didobrak oleh Randika. Nampaknya dia makai tubuh seorang bawahan geng kapak untuk ndobrak jatuh pintu tersebut.

Semua orang terkejut dan terdiam ketika lihat tubuh teman reka yang jatuh di depan reka. reka lalu lihat sosok Randika yang masuk ke dalam ruangan.

Suasana canggung ini berlangsung sekitar 5 detik lalu seluruh orang di dalam ruangan kembali tertawa.

Macan pun berkata dengan nada ngancam, "Hei bocah, apakah kau tidak tahu di mana kau sekarang? Kau berada di markas geng kapak dan kau berani berbuat seenakmu sendiri? Nyari mati?"

"Bocah ini pasti sudah gila. Pasti ibunya sudah khawatir karena anak bodohnya ini tidak pulang-pulang!"

"Hei bos, dia datang untuk mati kenapa kita tidak mberikannya saja?"

Semua anggota geng kapak masih tertawa dan ngejek kehadiran Randika.

Dengan senyum tipis, Randika nyeret si Rubah masuk ke dalam ruangan dan lemparnya.

lihat rambut rahnya si Rubah, wajah para anggota geng kapak segera berubah. "Bocah berengsek! Kau tidak akan pulang hidup-hidup hari ini!"

"Bos, biarkan aku yang ngurus bocah bau kencur ini." Setelah ngatakan itu, orang ini nghampiri Randika dan ngatakan, "Aku akan ngajarkannya bahwa dunia itu kejam."

Namun dia tidak akan nyangka bahwa dia berjalan ndekati ajalnya. Dalam sekejap, sosok Randika nghilang dari hadapannya dan muncul kembali di belakangnya. Dengan tenaganya yang kuat, dia mbanting pria tersebut.

Karena saking kuatnya dan montum yang dia dapat darinya, pria itu segera tewas di tempat.

"Banyak bacot." Randika ludah di tubuh pria itu. "Berikutnya."

Kali ini suasana dalam ruangan njadi tegang. Para anggota geng kapak lainnya ngetahui bahwa lawannya kali ini tergolong hebat. Hanya dalam satu detik dia bisa lumpuhkan salah satu anggotanya.

Macan ngedipkan matanya untuk mberikan sinyal kepada salah satu bawahannya. Orang tersebut berdiri dan natap tajam kepada Randika. Dia lalu nerjang maju sambil ngeluarkan pisaunya.

Randika hanya nggeleng-gelengkan kepala. Dia kembali nyatu dengan bayangan. Karena pria ini sudah nerjang maju, dia tidak bisa berhenti ndadak skipun sudah lihat sosok Randika yang nghilang. Ketika dia mulai lambat, Randika sudah berada di belakang pria ini dan ngambil tangannya yang gang pisau dan nusukkannya ke dalam dada pria tersebut.

Randika kemudian lepaskan pria itu dan kembali natap seluruh orang yang ada di dalam ruangan.

"Untuk nghemat waktu, bagaimana kalau kalian semuanya maju bersamaan?" Katanya dengan santai. "Jangan repot-repot minta bantuan, bantuan kalian itu akan bertemu dengan kalian di neraka."

ndengar hal ini, wajah semua orang negang. Bahkan pimpinan reka, si Macan, juga ikut waspada. Lawan reka kali ini sangat kuat.

Setelah tidak ada respon, Randika mutuskan untuk nerjang maju.

"Serang!" lihat Randika yang nuju ke arahnya, Macan segera rintahkan bawahannya yang tersisa untuk mbunuhnya.

Tapi sayang, reka tidak bisa lari dari nasib tragis reka.

Tubuh Randika sudah bagaikan naga. Dia segera liuk-liuk dan njatuhkan orang satu per satu tanpa ngalami luka satu pun.

"Ah!"

.....

Ketika ndengar jeritan itu, salah satu dari reka lihat bahwa temannya telah jatuh ke lantai. Ketika dia kembali ngangkat kepalanya, dia sudah terpental oleh tendangan kaki yang kuat.

Randika yang fokus dengan sekelilingnya, segera nyadari bahwa ada serangan pisau dari arah belakangnya. Dalam sekejap dia lompat dan salto di udara dan sudah berada di belakang pria tersebut. Dia segera nangkap dan lempar pria tersebut ke arah temannya yang lain.

Orang yang dilemparnya itu setidaknya berbobot 80kg dan Randika berhasil ngangkatnya dengan mudah dan lemparnya. Dimas yang lihat hal ini masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat.

Orang itu seperti sedang mbuang sampah. Orang yang terlempar itu nabrak salah satu temannya dan pingsan karena benturan tersebut.

Di bawah kaki Randika, pisau yang tergeletak di tanah diambilnya dengan kaki lalu ditendangnya. Pisau segera lesat ke salah satu orang yang hendak nerjang dirinya dan nembus dada si pria tersebut!

Masih tersisa beberapa orang. Randika masih dalam keadaan tenang dan fokus. Setiap dia bergerak maka satu mayat bertambah.

Ini sudah bagaikan maut yang ngayunkan sabitnya. Setiap tebasan sabit tersebut, satu nyawa akan terpanen.

Dalam beberapa nit, sekeliling Randika sudah kosong dan banyak tubuh yang tergeletak tak bergerak di lantai.

Sebenarnya masih ada beberapa orang yang masih bisa berdiri tetapi setelah lihat temannya yang terluka ataupun terbunuh, reka segera larikan diri. Sedangkan Randika masih terlihat tenang, musuhnya tidak dapat nyentuh ujung bajunya sama sekali.

Ketika Dimas lihat keahlian Randika, dia tidak bisa untuk tidak tersenyum. "Macan, sudah kubilang karma pasti ada. Geng kapak akan habis hari ini juga!"

Randika nyadari bahwa tinggal seorang lagi yaitu bosnya. Dia natap orang tersebut dan ngatakan, "Kau berikutnya."

Macan segera berkeringat dingin ketika ndengarnya. Apakah lawannya ini setan?

Setiap langkah yang diambil Randika, satu langkah mundur bagi Macan. lihat bahwa dirinya sudah terpojok, Macan ngeluarkan pistolnya dari pinggangnya dan ngarahkannya pada Randika.

Randika masih terus langkah maju dengan ekspresi datar.

"Hahaha! Mau sekuat apa pun dirimu, kau tidak akan bisa ngalahkan kecepatan peluru!"

skipun dirinya ditodong oleh pistol, Randika malah tampak tersenyum.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 21: Geng Kapak on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Death Notice cover
Trending now

Death Notice

Gluttonous Monk ·Horror

Heisagiftedandintelligentyoungman.Heisamurdererthatenjoysthebloodshed.He...Readmore Heisagiftedandintelligentyoungman.Heisamurdererthatenjoystheblo...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.