Font Size
15px

Kegaduhan yang berasal dari luar ruangan ngejutkan Randika. Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Apakah perusahaan Cendrawasih ini diserang?

Apabila dia ndengarkannya dengan seksama, dia dapat ndengar orang-orang berteriak, benda-benda pecah, dan dentingan logam.

Randika mulai rasa semua masuk akal. Inggrid baru saja diracuni, sekarang terdengar kegaduhan hebat di luar ruangan, ini semua pasti serangan yang sudah terencana.

Randika hanya berharap bahwa ruangan penelitiannya tidak disentuh sama sekali.

Randika hanya bisa berdoa selagi masih nyalurkan tenaga dalamnya ke Inggrid. Selama suara gaduh itu bukan berasal dari arah ruangannya, dia tidak perlu khawatir. Namun ketika dia terus ndengarkan suara-suara tersebut, wajahnya semakin pucat.

Suara gaduh tersebut, yang dicampur oleh teriakan orang-orang dan benda-benda pecah, terdengar dari ruangan sebelahnya yaitu ruangan miliknya.

Wajah Randika semakin muram. Dia bisa ndengar beberapa orang ngatakan, "Hancurkan itu, banting semua alat-alat yang ada dan jangan lupa bakar semua kertas yang ada."

Mati! Semua orang itu nyari mati!

Randika sudah di ambang marah. Tenaga dalamnya mulai bergejolak. Dia ingin mancarkan aura mbunuhnya tetapi erangan Inggrid mbuat dirinya tersadar kembali.

Sekarang adalah waktu krusial untuk lawan dan naklukan racun yang ada di dalam tubuh Inggrid. Sekarang dia miliki 2 pilihan. Pertama, dia bisa lupakan pengobatan Inggrid dan nangkap para penjahat yang berani nyerang ruangan miliknya. Kedua, dia bisa lupakan reka dan neruskan pengobatan ini dan nyawa Inggrid terselamatkan.

Apabila dia milih pilihan pertama, maka pengobatannya selama ini malah mberikan dampak buruk pada tubuh Inggrid. Di saat yang sama pula, ketika dia narik kembali tenaga dalamnya dia juga akan nghadapi tenaga dalam yang bersifat negatif di dalam tubuhnya!

Randika pun sudah mbulatkan tekad. Dia juga tidak ingin kehilangan istrinya yang dia sayangi ini.

Mata Randika tampak bersinar. Dia harus nuntaskan penyaluran tenaga dalamnya ini.

Sambil nghiraukan suara yang berasal dari luar, Randika nenangkan dirinya kembali dan berkonsentrasi kembali untuk fokus ngeluarkan racun yang ada di tubuh Inggrid.

Setelah beberapa saat, tenaga dalam Randika yang tidak teratur kembali njadi tenang. Ia lalu nyebar kembali dalam tubuh Inggrid, maksa racun untuk keluar.

Selama proses ini berlangsung, suara gaduh tersebut tidak kunjung selesai. Malah terdengar suara derapan kaki orang banyak yang datang. Sepertinya tim keamanan perusahaan ini telah datang. Setelah itu terdengar suara orang bentrok dan orang terjatuh. Sepertinya terjadi pertarungan yang sengit.

Setelah beberapa nit, pertarungan itu nampaknya telah selesai. Suara gaduh perlahan tidak terdengar kembali dan suara langkah kaki orang-orang njadi tenang kembali.

Pengobatan Inggrid sudah ncapai tahap akhir, Randika kembali berkonsentrasi. Dia nutup matanya dan ngarahkan tenaga dalamnya. Dengan satu dorongan kuat dari tenaga dalam Randika, Inggrid tidak bisa nahan dirinya untuk muntahkan seteguk darah hitam dari mulutnya.

"Sayangku, kau sudah tidak apa-apa tetapi jangan maksakan diri untuk bergerak terlebih dahulu dan beristirahatlah. Aku akan lihat keadaan di luar." Setelah mastikan Inggrid terlentang tenang di janya, Randika bergegas keluar ruangan dan nuju ruangannya.

Kecepatan lari Randika sangat cepat bahkan bisa dikatakan bahwa dia lebur njadi cahaya.

Di saat dia sampai di luar ruangannya, terdapat beberapa orang keamanan yang tergeletak di lantai dan ngerang kesakitan. Terdapat pecahan kaca di mana-mana. Alat-alat miliknya ada yang sampai berserakan di luar ruangan.

lihat hal ini mbuat Randika murka tetapi dia masih nahan dirinya untuk tidak ledak dan segera nuju ruangannya. lihat isi ruangannya, mbuat dia semakin murka dan tidak bisa nahan dirinya.

Ruangan penelitiannya benar-benar hancur total. ja dan kursi semuanya terbalik, alat-alat miliknya sudah terbanting, semua peralatan kaca seperti tabung sudah njadi pecahan dan kertas-kertas hasil penelitian reka sudah hangus terbakar, semua komputer sudah remuk dan peralatan dis sebelumnya yang dia beli sudah pada berserakan di lantai dan isinya tumpah ke mana-mana.

Orang-orangnya miliki beberapa reaksi tersendiri, ada yang nangis, ada yang ketakutan, ada yang masih bingung dengan apa yang telah terjadi.

Viona juga tidak terkecuali. Dia getar ketakutan sambil luk lututnya. lihat Randika yang datang, dia tidak nahan diri untuk lompat ke pelukannya.

"Hiks Hiks "

"Tenanglah, aku sudah ada di sini." Randika berusaha nenangkan Viona dan ngusap air matanya.

"Apa yang terjadi? Bisakah kau jelaskan detailnya?" Tanya Randika.

Viona yang masih tersedu-sedu ngatakan, "Barusan saja sekumpulan orang mbawa tongkat logam tiba-tiba masuk ke dalam ruangan. reka mulai mbanting, mukul dan mbakar semua yang ada di sini. Tuan Kelvin hendak ncegah reka tetapi gagal dan terluka."

Randika kemudian lihat beberapa ahli parfum dan Kelvin masih tergeletak kesakitan. Dia tanpa sadar minta maaf dalam lubuk hatinya.

"Ketika tim keamanan tiba, kedua pihak mulai bentrok dengan sengit. Tetapi orang-orang itu ada yang mbawa pisau dan nusuk orang-orang kita." Kata Viona sambil bergetar ketakutan.

Randika kemudian luk erat Viona, tetapi dalam hatinya dia berpikir dengan cepat. Penyerangan di ruangan penelitianku dan Inggrid yang keracunan, apakah semua serangan ini ditujukan untuk perusahaan ini ataukah diriku?

Jika semua hal ini ditujukan pada dirinya maka seharusnya Inggrid tidak sampai kena musibah. Musuh hanya akan ngobrak-abrik ruangan miliknya. Apabila musuh sudah ngetahui keberadaan dirinya yang ada di perusahaan Cendrawasih ini, tidak heran reka makai taktik seperti ini.

Untuk sekarang, teka-teki ini masih banyak bolongnya.

"Randika bagaimana ini? reka terlihat seperti preman dan pembunuh." Kata Viona ketakutan. Bagaimana kalau reka kembali ke sini?"

"Viona tenanglah, kau tidak usah mikirkan hal yang aneh-aneh. Istirahatlah, aku berjanji bahwa reka tidak akan berani macam-macam dengan kita lagi." Randika kemudian ngusap rambut Viona untuk nenangkan dirinya. Dia lalu berpikir, Kembali? Jangan harap reka bisa berjalan ke sini kembali setelah aku matahkan kaki reka setelah ini.

"Viona aku minta kamu untuk istirahat dan percayakan hal ini padaku." Randika kemudian ngangkat kepala Viona dan ncium keningnya.

"Baiklah kalau begitu, tolong jagalah dirimu dengan baik." Kata Viona.

"Jangan khawatir, atasanmu yang tampan ini pasti baik-baik saja."

Setelah Viona pergi, Randika ngobati korban-korban luka yang masih tergeletak dengan nyalurkan tenaga dalamnya.

Dia juga lakukan hal ini pada orang-orang yang ada di luar ruangan. Setelah selesai, dia bertanya pada salah satu orang keamanan. "Apakah kau ingat ciri-ciri orang yang nyerang kita?"

"Semua orang yang datang nyerang makai topeng dan dia nyandera salah satu orang kita. Berkat itu reka bisa miliki akses untuk pergi ke lantai ini. Ini adalah serangan yang terencana." Kata salah satu orang keamanan.

"Apakah kamu ingat ciri-ciri khusus seperti tato atau lainnya?"

"Tidak, keadaan sudah kacau saat kami datang. Saat kami datang, teman kami yang disandera itu langsung dibunuh." Katanya sambil nggelengkan kepalanya.

Randika kemudian nanyakan ke orang lain, "Apakah ada di antara kalian yang ingat dengan jelas?"

Semua orang yang di sana juga nggelengkan kepalanya, sepertinya reka juga tidak tahu terlalu secara ndetail.

Masalah ini tergolong rumit. Hati Randika ngepal. Kalau petunjuknya hanya orang yang makai topeng maka hal ini sangat sulit dilacak. skipun kota Cendrawasih tergolong kecil, di dalamnya terdapat banyak sekali kelompok preman ataupun penjahat. Mustahil dirinya dapat riksa reka semua. Bahkan dengan bantuan Shadow pun, hal ini akan mbutuhkan waktu.

"Bagaimana dengan kara?" Tanya Randika. "Perusahaan seperti kita ini pasti miliki kara keamanan di setiap sisinya."

"Sayangnya itu percuma." Kata salah satu petugas keamanan. "reka benar-benar sudah siap. Selain topeng untuk nutupi wajah, reka juga matikan kara keamanan sebelum reka tiba di gedung ini."

Randika kembali ngerutkan dahinya. Sepertinya lawannya kali ini benar-benar siap.

Apakah benar tidak ada jejak yang tertinggal?

Randika nampar dirinya sendiri agar dia bisa lebih fokus.

Dia lalu berdiri dan berjalan nuju lift. Dia mutuskan untuk ncari kebenaran ini di dunia bawah tanah yang ada di kota Cendrawasih. Mungkin dari situ dia akan nemukan jejak dan ncari siapa pelaku sebenarnya.

Di saat dia hendak pergi, seorang petugas keamanan ncegatnya.

Ketika Randika noleh petugas itu ngatakan, "Aku berhasil ncopot salah satu topeng di saat kami bentrok tadi. Aku rasa bahwa mukanya sangat familiar."

Oh?

Seketika itu juga wajah Randika terlihat tertarik, dia segera ndatangi petugas tersebut. "Bagaimana ciri-cirinya?"

"Kalau tidak salah dia miliki julukan sebagai si rubah. Rambutnya rah, hidungnya makai tindikan dan ada bekas luka sayatan di bawah bibirnya."

"Aku sering lihat orang ini di salah satu bar di jalan Macetan bernama Drunken."

Drunken bar di jalan Macetan?

Randika tersenyum.

.....

Malam hari

Seperti malam-malam sebelumnya, kota Cendrawasih kembali diselimuti oleh kegelapan malam. Lampu-lampu nghiasi setiap sisi jalan dan kehidupan malam pun mulai muncul.

Di kota ini pada malam hari, di pojokan jalan yang gelap, terdapat kejahatan di mana dosa berkumpul.

Jalan Macetan, Drunken Bar.

Si rubah dengan rambut rahnya masuk ke dalam bar. Suara musik tal yang keras bisa mbuat telinga orang sakit, tapi dia sudah terbiasa dengan hal ini. Dia pun ikut nari ngikuti alunan lagu.

Para pengunjung lainnya sedang nari-nari di lantai dansa. Ketika si rubah nerobos lantai dansa ini, tangan kanannya remas bokong seorang wanita. Ketika wanita itu noleh, si rubah sudah tidak bisa terlihat.

Dengan dipenuhi sebuah senyuman, Dimas nyambut si rubah yang ndatanginya.

"Hei kawan lama." Kata si rubah ketika lempar sejumlah uang padanya.

Pramusaji kemudian mbawakan dua gelas anggur kepada reka dan ngambil uang tersebut.

"Sepertinya kau berhasil lakukan sebuah pekerjaan besar." Kata Dimas.

"Benar sekali." Si rubah ngajaknya bersulang dan ngambil dua kantong kecil yang ada di ja.

"Ulah apa lagi yang kau lakukan kali ini?"

"Hanya masalah kecil berkaitan dengan pekerjaan kelompokku." Si rubah kembali neguk minumannya.

"Siapa sasaranmu kali ini?"

"Lebih baik tidak kuberitahu biar kau tidak terlibat."

"Hahaha! Bagus, bagus, itu benar." Keduanya lalu tertawa dan ninggalkan ja, si rubah kemudian berjalan sendiri nuju ruangan yang ada di belakang bar.

Setelah masuk dalam ruangan dan nutup pintu rapat-rapat, si rubah ngeluarkan isi kantong kecil tadi dan nghirupnya.

"Ini baru nendang!"

Si rubah kemudian nutup matanya dan rasa bahwa dirinya layang ke atas langit bersama para bidadari.

"Tempat ini selalu miliki barang terbaik." Si rubah muji Dimas. Dia kemudian nutup kembali matanya namun dia rasa ada yang aneh.

Dia lalu mbuka matanya dan ngangkat kepalanya, dia lihat orang asing sudah berada di hadapannya.

Orang ini berdiri sendirian dengan wajah datar yang cukup nakutkan.

SI rubah kemudian ngusap-usap matanya, apakah ini halusinasi? Bukankah sebelumnya dia sudah mastikan ruangan ini aman dan hanya ada dirinya sendiri di dalamnya?

Selagi si rubah kembali ngusap matanya, orang itu bertanya. "Bagaimana? Enak?"

"Lumayan Hei siapa kamu?" Tanpa sadar si rubah njawab pertanyaannya tetapi dia langsung curiga dengan identitas orang ini. Setelah dia lihat lebih jelas, orang ini sedang gang sebuah pisau di tangannya!

"Kalau begitu, aku akan buat harimu lebih enak lagi!" Randika ndekati si rubah dengan senyuman lebar. Tetapi si rubah rasa bahwa aura yang dipancarkan Randika sangat berbahaya.

"Aku akan mbunuhmu duluan" Si rubah kemudian ngambil pisau yang ada di samping tempat duduknya dan nebas ke arah Randika. Suara raungan perangnya terdengar keras sebelum pada akhirnya tidak terdengar lagi.

Tangannya yang ngayunkan pisaunya tiba-tiba tergenggam erat, satu detik kemudian wajah si rubah negang. Suara tulang yang remuk terdengar renyah dan rasa sakit yang luar biasa segera ngikutinya. Raungan perangnya tadi berubah njadi rintihan kesakitan.

Namun, di saat si rubah ingin berteriak untuk lampiaskan rasa sakitnya, kepalanya sudah dibanting pada ja kaca yang ada di ruangan.

Duak!

Untungnya ja kaca itu tidak pecah namun sekarang tubuh si rubah ditindih oleh pria itu dari belakang.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 20: Tenanglah, Aku Sudah Ada di Sini on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

I Devour Deities cover
Similar genre

I Devour Deities

Love Pea ·Harem

Thirtyyearsago,ameteorfellandthedivineruinsappeared!Somedeitiesemergedfromit,feedingonhumans.Sincethatday,humanshavebecomefoodforthedeities,exceptf...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.