Font Size
15px

Ketika reka berdua berhasil keluar dari restoran itu dengan selamat, Randika dan Viona segera kembali ke perusahaan Cendrawasih. reka lalu berpisah karena Randika ingin bertemu dengan Inggrid terlebih dahulu.

Ketika sampai di ruangan pribadi Inggrid, Randika lihat bahwa istrinya sedang duduk terdiam sambil mijat kepalanya.

lihat hal ini mbuat hati Randika sedikit sakit dan segera nghampirinya.

Inggrid rasa dirinya tidak enak badan jadi pandangannya sedikit kabur. Dia rasa bahwa ada orang yang ndekati dirinya dan ketika dia ngangkat kepalanya ternyata itu adalah Randika.

"Ada apa denganmu? Apakah istriku ini sedang tidak enak badan?"

Suara Randika terdengar tulus dan penuh perhatian.

Ketika ndengarnya, Inggrid hanya tersenyum dan nganggukan kepalanya. "Mungkin aku terlalu lelah. Kau tidak perlu khawatir."

Randika kemudian nempelkan tangannya pada dahi Inggrid. "Sayangku, tidak apa-apa kalau kau rasa capek dan butuh istirahat. Sini, suamimu akan ngecek dirimu terlebih dahulu."

Ketika lihat tangan Randika yang besar itu ndekati dirinya, Inggrid tidak nolaknya. Kemudian Randika ngatakan, "Apakah kau sudah pergi ke dokter?"

Inggrid tidak dapat ndengar perkataan Randika. Tetapi terdapat sedikit keraguan di mata Inggrid.

"Hei jangan khawatir, suamimu ini sangat ahli dalam dunia perobatan." Randika yang nyadari keraguan istrinya ini segera ngecek suhu badan dan denyut nadi istrinya. Sekilas, tidak ada hal aneh yang nampak.

Namun apabila Randika lihat lebih seksama, wajah Inggrid ini sangat pucat bagai tulang. Bibirnya yang cantik itu nampak kering dan terkelupas, kelopak matanya juga nampak ingin nutup terus seakan-akan dia sudah kehabisan tenaga.

Hati Randika ngepal. Ini bukan gejala orang sakit tetapi gejala seperti orang telah diracuni.

Dia sempat mpelajari dunia perobatan lalui ajaran kakeknya dan ngerti beberapa ilmu dasarnya. lihat Inggrid, dia yakin bahwa ini adalah gejala orang yang telah diracuni.

"Hei, apakah ada rasa tidak nyaman di tubuhmu?" Tanya Randika dengan nada cemas. "Ataukah ada rasa sakit yang muncul di suatu bagian tubuhmu?"

Inggrid ngira-ngira dan berkata dengan suara pelan, "Ada rasa sakit sedikit di dadaku."

"Kapan hal ini terjadi?" Mata Randika benar-benar terbelalak.

"Hmmm aku lupa Pagi hari aku tidak rasakan apa-apa." Suara Inggrid benar-benar sudah lemah.

Baiklah, pagi hari ini dia rasa baik-baik saja, jadi mungkin siang hari tadi?

"Tadi siang kau makan apa?" Tanya Randika lebih lanjut.

"Sekretarisku mbawakanku makanan dari luar." Inggrid rasa bahwa pertanyaan Randika mulai lenceng dan bertanya dengan suara pelan, "mangnya ada apa?"

Randika hanya bisa nggertakan giginya dan tersenyum pahit. "Dengarlah aku dan jangan panik. Kau telah diracuni dan nurutku makan siangmu tadi adalah penyebabnya."

"Bagaimana ini bisa terjadi? Sekretarisku bukan orang setega itu." Inggrid masih nyimpan rasa percaya terhadap sekretarisnya itu.

"Jangan khawatir, bukan dia pelakunya. Ini pasti ulah orang lain." Kata Randika berusaha nenangkan istrinya. "Istriku, ijinkan aku untuk riksamu lebih detail lagi."

"Baiklah." Kata Inggrid dengan pelan.

Randika kembali ngukur denyut nadi Inggrid. Setelah beberapa saat, muka Randika mucat. Dia tidak nyangka bahwa pelaku makai racun semacam ini.

Digoxin, racun yang miliki tingkat kematian tinggi ini akan bekerja tanpa ada yang ngetahuinya. Racun ini sering diperjual belikan di dunia bawah tanah karena tingkat keberhasilannya yang tinggi.

Tapi siapa yang ingin mbunuh Inggrid?

"Apakah situasiku gawat?" Inggrid lihat wajah Randika yang mucat dan rasa bahwa dirinya sedikit terharu lihat Randika yang begitu peduli pada dirinya.

"Sayang, kau tenang saja. Kalau cuma sebuah racun, itu hanyalah masalah kecil bagi suamimu ini." Randika berusaha kembali ceria. "Untuk pengobatanmu kali ini, aku butuh kerja samamu."

"Bagaimana caranya?"

"Aku akan makai teknik akupuntur padamu." Kata Randika. "Aku akan mbuat racun itu keluar dari tubuhmu tetapi, aku tidak bisa ngeluarkannya kalau kau masih berpakaian."

Inggrid yang lemas itu masih sempat tersipu malu, "Kau ingin aku mbuka bajuku?"

"Benar." Kata Randika sambil ngangguk. "Akupuntur mbutuhkan akses ke titik-titik tertentu pada kulit."

Inggrid rasa ragu, "Apakah lebih baik kita ke rumah sakit?"

Inggrid masih rasa malu untuk bertelanjang.

Randika sempat ingin mbujuk istrinya itu untuk tidak nolak bantuannya namun tiba-tiba Inggrid berteriak kesakitan.

"Ah!! Sakit!" Teriak Inggrid.

Pada saat ini, Inggrid rasa dirinya semakin lemah dan tidak bertenaga. Randika yang lihat ini segera njadi pucat dan mulai khawatir. Apabila tidak segera ditangani, Inggrid akan mati.

"Istriku tenanglah, aku tidak akan ngintipmu atau ngambil kesempatan." Kata Randika kepada Inggrid. Randika lalu segera ngunci pintu dan nutup tirai jendela, dia segera lepas pakaian Inggrid.

Hari ini Inggrid karena ada rapat, dia makai jas sebagai atasannya. Kaos putih di dalamnya segera dibuka oleh Randika.

lihat bahwa Inggrid sudah di ambang batas kesadarannya, Randika segera mpercepat tindakannya. Dia yang awalnya mbuka kancing satu persatu segera mpretelinya untuk nghemat waktu dan segera mbersihkan barang-barang yang ada di atas ja dengan satu kali ayunan tangannya. Barang-barang berserakan di bawah dan mbuat kegaduhan.

Dengan lembut dia letakkan istrinya itu dalam posisi terlentang. Dia segera ngambil sesuatu di dalam saku celananya dan raih sebuah kotak kecil. Di dalamnya ada jarum tradisional yang dipakai dalam akupuntur.

nyimpan jarum tersebut rupakan kebiasaan Randika sebelum dia njadi Dewa Perang di dunia bawah tanah. Hal ini dia dapat dari kakeknya. Ketika Randika bepergian, dia harus selalu mbawa kotak kecil tersebut. Jadi suatu saat nanti apabila dia terluka, dia bisa nggunakan teknik akupuntur itu untuk mulihkan diri ataupun nghambat lukanya.

Randika kemudian nutup matanya dan berkonsentrasi. Dia musatkan tenaga dalamnya ke dalam jarum dan nusukkannya ke Inggrid.

Satu jarum, dua jarum, tiga jarum!

Penempatan jarum Randika sangat cepat dan akurat.

Dalam lakukan akupuntur, hati dan pikiran yang tenang adalah kunci sebenarnya. Hanya dengan begitulah, penempatan jarum bisa dilakukan dengan akurat.

Persediaan jarum Randika mulai nipis dan warna wajah Inggrid juga kembali normal. Dia rasa nyaman dengan banyaknya jarum yang nusuknya.

Kemudian sepasang mata yang cantik ini ngarah kepada Randika yang masih berusaha nyelamatkan dirinya. Dia rasa bahwa Randika bukanlah pria biasa, dia bahkan ngerti akupuntur.

"Hmmm? Apakah kau terkagum-kagum oleh keterampilan suamimu yang tampan ini?" Randika dapat rasakan bahwa Inggrid telah noleh ke arah dirinya.

Inggrid kemudian malingkan wajahnya dan tersipu malu.

"Tenanglah dulu sayang. Tinggal sedikit lagi maka kau akan sembuh." Kata Randika sambil ngelus rambut istrinya.

ndengar perkataan Randika, Inggrid rasa penasaran karena dia rasa bahwa punggungnya sudah penuh dengan jarum, "Kau akan nusuknya di mana lagi?"

Mata Randika mulai bergerak turun dan jatuh pada beha yang dipakai oleh Inggrid. Warna ungu cerah ini mbuat Randika tidak bisa lepas darinya dan terlebih dia harus lepasnya dan nusukkan jarumnya di bagian yang tertutup tali beha tersebut.

Ketika beha miliknya dipegang, Inggrid segera tersipu malu dan berteriak, "Tidak!"

Randika nelan ludahnya. Istrinya benar-benar miliki dada yang besar di balik behanya ini. Dia rasa bahwa Viona telah kalah dari istrinya ini.

"Sayangku jangan khawatir, aku tidak ngapa-ngapain kok." Kata Randika dengan nada nenangkan. "Jika kau tidak ingin lepasnya seluruhnya, ijinkan aku lepas pengaitnya dan aku juga berjanji tidak lihatnya."

"Tidak mau aku malu" Inggrid tidak mau lihat wajah Randika karena saking malunya. Hatinya benar-benar campur aduk. Apakah badannya yang telah dia jaga selama ini pada akhirnya akan terekspos oleh pria ini?

"Sayangku jangan begitu. Percayalah pada suamimu ini. Aku juga tidak bisa nutup mataku sepenuhnya karena aku masih harus nemukan titik yang tepat untuk masukkan jarum ini." Kata Randika.

"Pokoknya aku tidak mau!" Muka Inggrid semakin rah ketika ngetahui bahwa Randika tidak akan nutup matanya. Dia yang sekarang benar-benar terdengar seperti seorang perawan polos pikir Randika.

Randika juga sedikit kebingungan. Bagaimana caranya dia bisa mbujuk istrinya ini? Dia masih harus nusukkan beberapa jarum lagi agar hal ini bisa selesai. Tiba-tiba dia nemukan sebuah ide.

"Sayangku, apakah kau tahu akibatnya kalau aku tidak nusukkan jarum ini tepat waktu?" Kata Randika.

"Apa yang akan terjadi?" Inggrid mulai nggigit umpan.

"Racun ini miliki sifat yang bisa mbusukkan jaringan pada penampilan orang. Awalnya akan terlihat seperti kerutan biasa pada wajah, kemudian kulitmu akan terasa ngendur dan dadamu akan mulai nggelambir. Lalu kau akan njadi jelek dan terlihat tua, apakah kau ingin seperti itu?" Kata Randika dengan nada yang yakinkan.

"Tidak! Aku tidak mau!" mbayangkan apa yang dikatakan Randika, Inggrid rasa dia lebih mati saja daripada dirinya berubah seperti itu.

"Jadi ijinkanlah suamimu ini nolongmu. Aku akan ngeluarkan seluruh racun dan aku akan nyelamatkan penampilanmu yang cantik ini." Kata Randika dengan lembut.

Inggrid masih ragu-ragu. Kemudian dia ngatakan, "Baiklah, kau bisa lepas pengaitnya."

Randika rasa senang tetapi Inggrid segera nambahkan, "Tapi jangan ngintip dan berbuat aneh."

"Jangan kau khawatir, bukankah suamimu ini seorang jenteln?" Kata Randika dengan penuh kebajikan.

Tidak lama kemudian Randika lepaskan pengaitnya dan dada milik Inggrid seperti seakan mau tumpah.

Besar! Bundar! Lembut!

Randika benar-benar nahan dirinya untuk tidak remasnya dan Inggrid juga tampak sangat malu dengan keadaannya ini. Dia terlihat nutup matanya dan berharap bahwa ini cepat selesai.

"Hei sudahlah, kau tidak perlu khawatir. Aku akan cepat." Randika kemudian nyingkirkan beha yang nghalangi titik akupuntur yang akan dia tusuk.

Di saat lihat punggung istrinya yang indah ini serta dada besar yang penyet, entah kenapa hidungnya terasa berair.

Randika benar-benar kaget. Dia tidak nyangka bahwa dirinya yang dijuluki Dewa Perang ternyata mimisan ketika lihat punggung istrinya yang telanjang ini. Kalau orang lihat hal ini mungkin reka akan ngejeknya.

"Hei! Kau tidak boleh lihat!" Inggrid terdengar malu.

"Tenanglah, aku tidak lihat apa-apa kok." Randika berusaha nenangkan dirinya dan kemudian lanjutkan penyembuhan istrinya ini.

Setelah beberapa saat, dia bernapas lega. Dia akhirnya berhasil lakukan langkah pertama yang krusial dan nyelamatkan istri tercintanya. Sekarang sisanya adalah ngeluarkan racun tersebut hingga tetes terakhir.

"Bersabarlah, sekarang tinggal tahapan akhir." Randika kemudian mbantu Inggrid untuk duduk.

"Aku akan nyalurkan tenaga dalamku padamu untuk ndorong racun itu keluar. Usahakan jangan bergerak dulu." Kata Randika yang nampak sudah bersila. Dia kemudian nyentuh punggung Inggrid dan mulai nyalurkan tenaga dalamnya.

Tiba-tiba, Inggrid rasa bahwa tangan Randika benar-benar panas tetapi dia rasakan kenyamanan skipun terasa panas. Dari punggungnya itu, rasa panas itu mulai nyebar di seluruh tubuhnya.

Saking nyamannya, Inggrid pun ndesah.

Randika masih berkonsentrasi nyalurkan tenaga dalamnya. Wajahnya terlihat pucat. Penyembuhan ini miliki dua tahap. Tahap pertama adalah nahan laju penyebaran racun pada tubuh Inggrid dengan teknik akupuntur miliknya dan maksa racun untuk berkumpul di titik-titik tertentu. Tahap kedua adalah dia nyalurkan tenaga dalamnya untuk ngeluarkan racun yang telah berkumpul tersebut.

Tahap kedua ini lebih krusial lagi daripada yang pertama. Tidak boleh ada gangguan sekecil apa pun dalam proses ini.

Pada saat ini, tangan Randika benar-benar panas seakan-akan kapan saja bisa muncul api. Tenaga dalamnya ngalir deras nuju punggung Inggrid. Tenaga dalamnya akan nyebar di tubuh Inggrid dan maksa racun itu keluar dari sistem tubuh Inggrid!

Randika harus mastikan bahwa penyaluran tenaga dalam ini tidak berhenti. Dia miliki banyak tenaga dalam di dalam tubuhnya ini jadi dia tidak perlu khawatir akan kehabisan.

Setelah beberapa saat, raut wajah Inggrid sudah kembali normal dan bibirnya yang putih itu kembali ndapatkan warna naturalnya. Istrinya yang cantik sudah kembali! Namun, di tengah-tengah pengobatan ini terdengar suara gaduh dari luar ruangan!

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 19: Bagaimana Caranya Bekerja Sama? on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Top-tier Unruly Master cover
Trending now

Top-tier Unruly Master

Be Qin Sanchi ·Other

WhenDingFanopenedhiseyesagain,everythingbeforehimhadchanged.ACultivatorrebornonEarth,hefoundhimselfinthedespisedbodyofadisgracedheir.Fistsstrikinga...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.