"Ayo Viona, kita pergi dari sini." Kata Randika sambil tersenyum.
Viona, yang masih bingung dengan apa yang telah terjadi, ngangguk dan ngikuti Randika. Namun pada saat ini, seorang polisi ndekatinya dan sepasang mata cantik natap Randika tanpa berkata apa-apa.
Setelah beberapa saat dia ngatakan, "Kau! Kau ikut denganku!" Kata Deviana sambil raih tangan Randika.
"Randika" Viona terlihat takut kalau Randika akan dibawa pergi.
"Tidak apa-apa, tunggulah aku di sini." Kata Randika untuk nghibur Viona.
ngikuti Deviana, reka berdua sudah berada di bagian samping restoran tanpa ada siapa-siapa selain reka berdua. Randika pun berkata sambil tersenyum. "Ada apa? Apa kau ingin mujiku karena aku berhasil nyelamatkannya tepat waktu? Ataukah aku ndapatkan dali dan kau ingin nyerahkannya? Asal kau tahu saja, aku selalu nolong orang tanpa pamrih. Itu gayaku dan aku berusaha njadi pria jenteln."
Deviana ngerutkan dahinya, "Kau pikir ini hanya lelucon? Siapa sebenarnya dirimu?"
Randika sedikit kaget ndengar pertanyaannya. "Siapa aku? Tentu saja aku adalah aku. Siapa lagi mangnya?"
Deviana natap Randika lekat-lekat. "Jangan kira kau bisa nipuku. Asalkan kau tahu saja, jika tadi tidak berjalan seperti sekarang ini, kau mungkin sudah ndapatkan ganjarannya."
Randika nghela napas, "Ganjaran? Maksudmu hukuman? Aku hanya lihat seseorang telah nyelamatkan perempuan itu dari todongan pisau pelaku. Bukankah harusnya orang tersebut ndapatkan pujian ataupun dali?"
"Jangan ngalihkan pembicaraan." Nada suara Deviana sedikit ninggi. "Sepertinya kau percaya diri bahwa kau bisa lumpuhkan pelaku?"
"Oh tidak kok." Kata Randika sambil nggelengkan kepalanya. "Kalau aku tidak bisa lakukan hal sekecil itu, mungkin lebih baik san tanah dan ngubur diriku sendiri."
Penyanderaan dengan sebuah pisau nyusahkan Ares sang Dewa Perang? Dia pernah mbantai 1000 orang suruhan mafia italia seorang diri. Kalau dia tidak bisa nyelesaikan masalah sepele ini, dia tidak pantas nyandang nama besarnya seperti sekarang. Jangan rehkan orang yang berada di daftar 12 Dewa Olimpus.
"Itu maksudku." Kata Deviana dengan suara dingin. "Orang sekalibermu sudah dapat dibandingkan dengan satuan khusus. Sebagai penegak hukum di kota ini, aku berhak riksa identitasmu."
Dibandingkan dengan satuan khusus kota ini mbuat Randika sedikit kecewa. Ketika Arwah Garuda ndatangiku pun reka makai bahasa sopan padaku. Dan sekarang dirinya dibandingkan dengan satuan khusus kota ini?
"Apa maksudmu?" Randika berusaha terlihat bingung. "Ada apa dengan identitasku?"
Kemudian suara yang dipenuhi ejekan keluar dari mulut Randika, "Ataukah kamu sedang makai wewenangmu sebagai pihak hukum agar dapat ngenalku dan njadi dekat denganku? Kau juga ngincar kesucianku? Aku tahu bahwa aku tampan tetapi bisa-bisanya kau berbuat sejauh ini?"
Deviana kembali ngerutkan dahinya. Pria ini benar-benar tidak tahu diri.
Randika natap polisi wanita ini dengan ekspresi datar. "Jika kau ingin pria kuat untuk nuhi harimu maka aku tidak akan lawan. Baiklah jika kau ingin milikiku, kita lakukan di sini sekarang juga. Aku harap dengan ini kau puas dan tidak ncari-cariku lagi. Dan kalau bisa jangan berbuat seperti ini lagi, biarkan aku njadi yang terakhir."
Setelah ngatakan itu Randika lepas bajunya, dia pun juga terlihat nutup matanya.
Apabila orang-orang lihat situasi reka berdua yang ada di pojokan restoran ini, entah cerita apa yang akan nyebar. Randika benar-benar pandai nyudutkan orang.
Deviana nggelengkan kepalanya. Dia tidak tahu apa yang ada di kepala pria ini. Dia lalu mutuskan untuk ninggalkan Randika dan ngurungkan niatnya untuk nanya-nanyainya. "Pakai dulu bajumu!"
"Apa? Baiklah." Randika pura-pura kaget dan kembali ngenakan pakaiannya.
Deviana lalu berkata dengan nada dingin, "Jangan ngalihkan pembicaraan lagi. Aku hanya akan bertanya satu pertanyaan lalu kita selesai. Jika kau tidak ngerti situasimu sekarang maka kau akan kuanggap sebagai orang berbahaya."
"Orang berbahaya?" Randika ngerutkan alisnya dan ngatakan. "Permisi ibu, apakah aku lakukan hal buruk? Apakah aku rampok bank atau njarah toko perhiasan? Ataukah aku ditangkap karena telah lecehkan perempuan? Bahkan jika kau polisi, kau harus miliki bukti sebelum berbicara yang tidak-tidak. Jangan ngintimidasiku, aku adalah warga negara yang taat akan hukum."
Deviana njadi murka ketika ndengarnya. Dia telah njadi polisi beberapa lama dan tidak pernah bertemu dengan orang semacam Randika. Selama ini, orang-orang selalu bekerja sama dengannya ketika dia bertanya tetapi hari ini Randika malah nyerang balik dirinya.
"Kemampuanmu itu sudah lebihi orang biasa. Hal ini bisa mbahayakan dan nimbulkan keresahan masyarakat. Jadi aku hanya ingin kau bekerja sama denganku dan ikut denganku kembali ke kantor."
"Kau juga sepertinya tidak ngerti situasimu sendiri." Kata Randika sambil nggelengkan kepalanya. "Kau tidak bisa ngatakan bahwa setiap orang yang tidak secara sengaja lempar garpunya adalah orang jahat. Bukankah kalau begitu setiap orang yang ada di restoran ini juga tersangka? Kau hanya berasumsi saja. Sebagai satuan penegak hukum, apabila kau nuduh seseorang bukankah itu perlu bukti? Jika kau asal nuduh tanpa adanya sebuah bukti, bukankah itu sudah njadi kasus pencemaran nama baik?"
Deviana rasa bahwa kesalahan dia berbicara dengan pria ini. Kemampuan pria ini dalam mutar balikkan kata benar-benar sangat hebat dan dirinya bukan saingannya.
Jika kau tidak punya apa-apa, jangan kau ganggu aku!
Deviana kemudian natap kembali Randika, "Jadi kau tidak akan bekerja sama denganku?"
"Aku akan nuruti kata-katamu. Bukankah kau ingin aku kooperatif?" Kata Randika dengan senyum nakalnya.
"Kau!" Deviana sudah rasa dirinya di ambang batas kemarahannya.
"Kalau begitu, tolong ikut aku ke kantor jika kamu ingin mbantuku." Kata Deviana dengan suara dingin. Dia juga raih borgolnya.
"Tidak! Apa yang akan kau lakukan" Randika pura-pura rasa takut. "Aku lebih baik mati daripada ikut denganmu."
"Keputusan itu bukan ada di tanganmu." Setelah berkata demikian, Deviana segera berlari ke arah Randika. Dia sudah bertekad untuk mbawa Randika kembali dengannya.
Tangan kanannya nahan tangan Randika, tangan kirinya nggenggam borgol berusaha makaikannya ke Randika. Sedangkan Randika hanya berdiri diam ketika Deviana berlari ke arahnya.
Ketika tangannya hendak terborgol, dia narik tangannya dan nahan tangan Deviana. Deviana pun bereaksi tepat waktu dan berhasil nghindar. Namun di saat dia ngelak, Randika masih sempat nggenggam tangannya. Deviana tidak nyangka bahwa orang ini sangat cepat. Randika lalu narik tangan Deviana dan nahan erat tangannya.
Randika rasa bahwa tangan ini sangat halus dan lentur.
Randika rasakan kelembutan kulit Deviana sambil terus beraksi. Dia lalu raih borgol yang digenggam Deviana dan makaikannya padanya.
"Dasar bajingan!"
Deviana benar-benar terkejut. Dia tidak nyangka bahwa dia akan tertangkap. Dia lalu nendang Randika di perutnya dengan lututnya.
"Hahaha! Ternyata kau hebat juga." Randika ngelak dan muji Deviana yang masih sempat berpikir untuk lawan dirinya.
Serangan lutut itu hanya ngenai udara kosong. Di saat itu juga, Randika sudah berada di belakang Deviana. Dia lalu ngangkat tinggi tangannya lalu hendak raih tangan Deviana satunya. Dia hendak mborgol kedua tangan wanita cantik ini.
Deviana ngerti bahwa gerakan pria yang mbelakanginya ini sangat krusial. Ketika dia ingin berputar badan, dia rasakan bahwa pihak lain telah nahan dirinya dan dia sudah tidak bisa berbuat apa-apa.
Hanya dengan begitu saja, Randika berhasil mborgol kedua tangan Deviana di balik punggungnya.
Setelah mastikan bahwa Deviana sudah benar-benar tidak bisa lawan, Randika berjalan ke depannya dan natapnya sambil tersenyum. "Bagaimana rasanya? Apakah ini pertama kalinya kau berperan njadi penjahat?"
"Dasar bajingan, lepaskan aku!" Tatapan mata Deviana sangat berapi-api.
"Kalau aku tidak mau bagaimana?" Randika tersenyum ketika lihat polisi yang tidak berdaya ini.
Karena tangannya di borgol di belakang punggungnya, dada milik Deviana dalam keadaan mbusung dan terlihat mbesar.
Wah ternyata perempuan berdada besar kembali muncul di hadapannya. Randika bingung siapa yang terbesar di antara reka bertiga.
Randika kemudian ndekat dan riksa siapakah yang terbesar di antara Inggrid, Viona dan polisi satu ini. Karena dia belum pernah gang semua gunung besar itu, dia tidak bisa mutuskan siapa penangnya.
lihat bahwa Randika sedang mperhatikan badannya secara dekat, Deviana rasa bahwa dia telah dilecehkan. "Dasar pria bajingan! Lepaskan borgol ini dan aku nghajar otak summu itu!"
Randika kemudian nghampiri telinga Deviana, di saat seperti ini pun perempuan ini masih ronta-ronta. "Apakah kau berpikir aku akan nurutimu? Apakah kau pikir aku bodoh?"
Sambil berkata demikian, Randika mbelai pipi Deviana. Karena di belakangnya adalah tembok, Deviana tidak bisa pergi ke mana-mana.
"Aku tidak nyangka bahwa polisi sepertimu sangat mperhatikan penampilanmu hmmm Deviana?" Randika nikmati mon ini, mon di mana dia bisa nggoda seorang wanita cantik. Ketika Randika sedang asyik mbelai pipinya, Deviana hendak nggigit tangan tersebut!
Tetapi pada saat itu terjadi, Randika berhasil ngelaknya.
"Kukira kau angsa putih yang cantik, siapa ngira bahwa kau ternyata seekor anjing." Kata Randika. Saat ini tatapan mata Deviana sangatlah dingin dan dia tidak nahan dirinya untuk tidak ncabik-cabik Randika hidup-hidup. Selain ayahnya yang dulu suka ngelus rambutnya, tidak ada yang pernah nyentuh dirinya!
"Baiklah, baiklah tidak akan kuulangi lagi." Randika terlihat sedang tersenyum nakal. "Aku tidak akan nyentuhmu lagi."
Setelah berkata seperti itu, Deviana terlihat sedikit tenang. Tiba-tiba Randika malah ncubit pelan pipinya.
"Wah empuk sekali! Aku suka!" Kata Randika sambil tersenyum dan Deviana rasa dirinya telah lengah. Bisa-bisanya pria ini lakukan hal itu lagi.
Di saat itu juga, Deviana terlihat berusaha nanduk Randika. Randika segera nahan tubuh perempuan ini dan nahannya di tembok.
"Pria macam apa kau!" Kata Deviana dengan tatapan mata yang berapi-api. Dia natap mata Randika yang sedang ada di hadapannya ini. Dia tidak bisa bergerak. Dia masih berpikiran untuk lawan kembali dengan nendang pria ini.
Kali ini, Randika sudah tidak mau repot-repot dan mbebaskan Deviana.
"Sentuh aku sekali lagi maka kau akan nerima akibatnya!" Deviana yang sudah bebas sedikit rasa lega bahwa dia sudah tidak terborgol.
Randika di lain sisi masih tersenyum, "Aku aslinya tidak puas hanya nyentuh mukamu saja, aku ingin.."
Ha? Kau mau nyentuh apa lagi?" Deviana rasa bahwa dirinya belum boleh rasa lega dan ngambil langkah mundur.
"Aku ingin sekali remas bokongmu." Randika segera nghilang bagai asap dan sudah berada di bagian belakang Deviana sambil gangi pinggangnya.
"Dasar pria sum! Kau harus mati!" Deviana yang kaget lihat sosok Randika yang nghilang, segera rasakan tangan Randika yang ada di pinggangnya.
Karena Randika gang pinggangnya dengan kuat, Deviana tidak bisa berputar. Randika ngambil kesempatan ini untuk nghirup udara di sekitar leher Deviana. "Hmmm.. harum sekali kamu!"
"Dasar bajingan! sum!" Dia rasa bahwa Randika adalah pria terberengsek yang pernah dia temui.
"Karena aku sum, tidak ada salahnya aku gangnya sekarang. Lagipula aku juga tidak ingin mati dengan perasaan nyesal." Kali ini Randika gangi bokongnya. Dia remas pantat itu dengan sekuat tenaga.
"Kau!" Deviana benar-benar tidak habis pikir. "Aku akan mastikan kamu ndapatkan ganjarannya!"
"Oh? Apakah kau yakin bisa?" Randika kembali tersenyum nakal. Kali ini matanya terfokus pada dada milik Deviana.
"Kau Apa yang akan kau lakukan?" Deviana noleh ke belakang dan lihat senyum lebar milik Randika.
"Tidak apa-apa. Aku hanya takut sebelum hukuman itu tiba, aku masih tidak ingin mati dengan penuh penyesalan." Kata Randika sambil nyentuh pelan dada milik Deviana.
Deviana ingin lawan orang ini tetapi dia bahkan tidak bisa mbalikkan badannya. Apabila dia masih berusaha lawan dan berkata aneh-aneh, dia rasa bahwa kali ini target pria ini adalah dadanya.
"Hmmm? Apakah kau sudah tenang?" Kata Randika ketika lihat bahwa perempuan ini sudah pasrah dengan keadaannya.
"Baiklah kalau begitu, kita akhiri di sini saja. Sampai bertemu nanti." Randika tidak suka dengan wanita yang tidak miliki reaksi sama sekali. Oleh karena itu dia tidak ragu untuk ninggalkannya.
"Tidak ada kata lagi, ingat itu baik-baik!" Deviana benar-benar marah. Dia lalu nggertakan giginya ketika lihat sosok Randika yang semakin nghilang.
Reviews
All reviews (0)