Font Size
15px

Dengan satu teriakan saja sudah cukup mbuat seluruh restoran njadi panik. lihat orang-orang yang berbondong-bondong berlari nuju pintu keluar, mbuat Viona njadi panik juga.

Ketika dia hendak lari, sebuah tangan nahan dirinya. Randika nampaknya berusaha nenangkan dirinya.

"Jangan panik, aku ada di sini."

Ares sang Dewa Perang di sini, buat apa takut? Seribu orang pernah dia bunuh sekaligus, apakah hanya satu penyanderaan mbuat dirinya njadi takut?

"Ayo kita lihat apa yang sebenarnya yang telah terjadi."

"Baiklah." Entah kenapa Viona nyetujui saran Randika. Selama dia berada di sisi Randika, dia rasa sangat aman.

Di ruangan dalam, seorang pria sedang nodong pisau di leher seorang wanita yang dipeluknya. Dia lalu berteriak kepada kerumunan orang yang ada di dekatnya, "Jangan ndekat! Satu langkah saja maka dia akan mati!"

Sebagian besar orang yang ada di restoran sudah keluar, sebagian kecil yang tersisa ingin nyelamatkan perempuan tersebut.

"Kawan tenanglah. Letakkan pisau yang kau bawa dan mari kita bicara baik-baik." Seorang pria sedang berusaha nenangkan pelaku.

"Apa yang telah dikatakannya benar, kamu masih muda dan hari-harimu masih panjang. Kau tidak perlu lakukan semua hal ini." Seorang tante-tante juga berusaha nghiburnya. "Kau hanya akan mbuat dirimu nderita. Dengarkan nasihat orang yang lebih tua ini dan letakkan pisaunya. Jika kau mpunyai beban hati yang dalam, kau bisa nceritakannya pada kita."

Manajer restoran segera tiba di lokasi kejadian dan berteriak marah pada bawahannya, "Apa yang sedang terjadi?"

"Pak, kita tidak tahu bagaimana detailnya. Pria itu sedang makan makanannya dengan perempuan tersebut. Lalu tiba-tiba dia ngambil pisau dan nyekapnya." Kata seorang pramusaji.

Ini adalah salah satu mimpi buruk yang nimpa restoran ini!

Si manajer berusaha nenangkan dirinya dan mijat ruang di antara alisnya, berusaha mikirkan apa langkah selanjutnya.

Setelah beberapa saat, si manajer bertanya, "Apakah sudah ada yang manggil polisi?"

Si pramusaji ngangguk, "Sudah kami telepon."

"Baguslah kalau begitu. Kejadian ini sudah di luar tanggung jawab kita, cepat evakuasi orang-orang dan aku akan ngamankan lokasi sebelum para polisi tiba."

Pramusaji itu dengan cepat matuhi instruksi si manajer dan si manajer pun segera ndekati si pelaku.

"Halo tuan, aku adalah orang yang bertanggung jawab atas restoran ini. Bisakah kau ceritakan apa yang telah terjadi pada Anda?" Si manajer berusaha terlihat setenang mungkin sambil ngangkat tangannya, nunjukan bahwa dia hanya ingin berbincang.

Pria itu terlihat marah, matanya sudah terlihat sangat rah dan dipenuhi oleh rasa benci.

"Itu bukan urusanmu!"

Si manajer kembali berusaha njalin komunikasi, "Aku tahu ini bukan urusanku. Aku hanya peduli denganmu yang masih muda tetapi sudah nyia nyiakan hidupmu. Kau masih punya banyak waktu untuk berbuat benar tetapi kalau kau sampai masuk penjara, maka waktu itu akan hilang."

"Aku tidak peduli!" Si pelaku kembali raung marah kepada si manajer.

Si manajer ngerutkan dahinya dan ngatakan, "Hei apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kau sampai berbuat seperti ini? Kalau kau tidak nceritakan apa yang telah terjadi, kami semua tidak bisa mbantumu."

Kali ini pria tersebut hanya terdiam, kemudian dia natap perempuan yang sedang dia cekik itu. Tiba-tiba pria itu nangis dan sambil tersedu-sedu ngatakan, "Febri Si Febri ingin putus denganku!!"

"Siapa itu Febri?" tanya si manajer.

"Perempuan itu yang bernama Febri." Kata seorang pramusaji yang nemani si manajer.

Semua orang yang masih ada di sana kaget. Orang yang disanderanya adalah pacarnya dia sendiri?

Pria itu kemudian kembali natap pacarnya dan berkata sambil nangis. "Aku ncintaimu sepenuh hatiku. Aku telah mberikan segalanya padamu. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan nemanimu sampai ajal njemputku. Bukankah kau juga berkata demikian kepadaku? Apakah kau lupa masa-masa indah yang sudah kita lalui selama ini? Kau lupa tempat-tempat wah yang kubawa kau ke sana?"

Febri yang rasakan bilah pisau di lehernya semakin bergetar ketakutan. Dia tidak nyangka bahwa kejadian hari ini akan berubah njadi seperti ini.

Awalnya, hubungan reka berjalan baik dan akhir-akhir ini hubungan reka mulai renggang. Oleh karena itu, Febri mbuat reservasi di restoran ini untuk ngakhiri hubungan reka. Febri tidak nyukai gaya hidup pria tersebut. Dia suka bermalas-malasan dan hanya bermulut manis. Bagi Febri, pria ini bukanlah pria yang tepat dan dia ingin lanjutkan hidupnya.

Tetapi setelah Febri telah nyatakan maksud dari pertemuan reka hari ini, pacarnya itu ngambil pisau dan mulai nyandera dirinya.

"Hei Feb, kenapa kau ingin putus denganku?" Kata si pria sambil nangis, "Bukankah kau ngatakan bahwa kau ncintaiku? Apakah kau berbohong selama ini? Apakah kau sudah nemukan lelaki lain selain diriku?

Sambil berkata demikian, pisau yang dibawanya semakin nusuk ke leher Febri dan mulai neteskan darah. "Hei Katakan padaku, apakah kau masih ncintaiku?"

lihat darah tersebut, si manajer dan lainnya mulai panik. Si manajer hanya berharap bahwa semoga para polisi segera tiba.

"Ah!" Ketika pisau itu nancap kecil di lehernya, Febri tidak bisa nahan untuk tidak berteriak panik. Dia benar-benar ketakutan.

"Aku masih cinta!" Kata Febri sambil terbata-bata.

"Tidak mungkin Tidak mungkin kau ncintaiku! Kalau kau masih ncintaiku, kenapa kau minta putus?" Teriakan pria ini semakin njadi-jadi. "Dasar pembohong! Kau benar-benar ngkhianati perasaanku!"

"Tenanglah terlebih dahulu. Sepertinya kau salah paham terhadap pacarmu itu. Pacarmu pasti miliki alasannya tersendiri, jadi lebih baik kau mbicarakannya dengan kepala dingin. Jadi letakkan pisau itu dan bicaralah baik-baik."

"Pergi kalian dari sini!"

Pria itu narik pisau yang dia tempelkan di leher pacarnya dan mulai nganyunkannya ke depan, hal ini mbuat takut si manajer.

"Kalian semua saja! Kalian tidak tahu apa-apa ngenai perasaanku!" Pria itu kemudian ngambil satu langkah mundur dan nempatkan pisaunya kembali ke leher Febri sambil ngatakan, "Jika kalian ngambil satu langkah lagi, maka aku akan mbunuh si jalang ini."

"Baiklah, baiklah." Si manajer dengan cepat nurutinya, "Kami tidak akan bergerak lebih jauh lagi."

lihat para kerumunan tidak ngambil langkah maju lagi, pria itu natap kembali si Febri dan bertanya, "Kenapa Kenapa kau ingin ngakhiri hubungan kita?"

Febri nelan ludahnya, dia nyesal bahwa dia rasa harus putus baik-baik dengan pria brengsek ini yang tidak bisa nerima kenyataan.

Si manajer dari jauh berusaha ngirimkan pesan lewat gerakan tubuhnya. Dia ingin nyampaikan bahwa apa pun yang terjadi Febri harus tetap tenang.

Tetapi Febri tidak ngerti apa yang disampaikan si manajer. Dia hanya natap pacarnya itu dan ngatakan, "Kau ingin tahu kenapa kita putus? Apa kau kira aku senang lihatmu hanya bermalas-malasan setiap hari tanpa berusaha ncari kerja? Aku adalah wanita bodoh, bisa-bisanya aku dulu mau dengan pria malas dan tanpa harapan sepertimu."

"Kau bohong. Kau pasti telah berkencan dengan pria lain sebelum akhirnya mutuskan untuk putus denganku." Si pria itu semakin erat nggenggam pisaunya. Setelah itu terdengar jeritan kesakitan dari Febri. Ternyata si pria telah robek bajunya dan nyayat dirinya pada lengannya. Walaupun lengannya hanya tergores, darah masih ngucur dari bajunya.

"Hei tenanglah." Si manajer ini benar-benar ingin nangis. Kejadian ini benar-benar tidak pernah dia pikirkan akan terjadi selama dia bekerja. Apes sekali nasibku bertemu kalian, pikirnya. Kenapa bisa hal ini terjadi di dalam kariernya.

Di saat ini, sebuah sirine telah terdengar dari arah luar dan terdengar orang berteriak, "Polisi telah tiba!"

Pada saat yang sama pula, seorang polisi perempuan dengan beberapa bawahannya masuk ke dalam restoran. Mata Randika terpaku pada pemimpin polisi tersebut, benar-benar bunga yang cantik.

skipun sedang dibalut oleh pakaian polisi dan celana panjang, wajah perempuan ini tetap berhasil mbuat Randika klepek-klepek. Hidung mancung, bulu mata lentik dan terlebih aura yang perempuan ini pancarkan terasa hangat nandakan bahwa perempuan tersebut miliki kepribadian yang tenang, hal ini mberikan kesan tersendiri pada Randika.

Kecantikannya tidak seperti istrinya maupun Viona. mang masih perlu dipoles lagi, tapi kecantikannya yang sekarang sudah berhasil mikat hatinya.

Polisi bernama Deviana ini mimpin timnya dalam kasus ini, dan tugas pertamanya adalah ngevakuasi orang yang tidak diperlukan.

"Kalian bawa orang-orang ini keluar dan amankan lokasi." Perintah Deviana. "Siapa orang yang bertanggung jawab atas tempat ini?"

Si manajer segera nghampirinya dan njelaskan apa yang dia ketahui.

Setelah ndengarnya, Deviana masang wajah tidak percaya. Dasar lelaki bodoh, hanya masalah sepele seperti itu dia lakukan semua ini?

Tapi keselamatan setiap orang adalah hal utama.

Deviana kemudian nghela napas dalam-dalam dan berkata kepada para bawahannya, "Semuanya bersiaplah!"

Kemudian dia segera nuju jarak pandang si pelaku dan ngatakan, "Selamat siang bapak, aku adalah Deviana dari satuan kepolisian kota Cendrawasih. Jika bapak mbutuhkan bantuan, kami akan mbantu bapak."

"Pergi kalian semua! Aku tidak butuh bantuan apa-apa dari kalian!" Lelaki ini sudah tampak nggila dengan pisau yang masih diayun-ayunkan.

"Si jalang ini telah bermain-main dengan pria lain di belakangku. Sekarang setelah ndapatkan pria yang lebih tampan dan lebih kaya, dia langsung ncampakkanku! Dasar wanita murahan!" Pisau yang dipegangnya kembali nuju leher Febri dan hal ini mbuat siapapun yang lihatnya kembali ketakutan.

Deviana nyimpulkan bahwa masalah ini sudah sangat gawat. Kalau hal ini terus berlanjut, dia takut bahwa pria ini akan lakukan hal nekat.

Perempuan itu berada dalam bahaya.

Di saat Deviana tengah berpikir, muncul suara dari alat komunikasinya. "Lapor, hasil periksaan pelaku telah nunjukan bahwa dia miliki karakter yang labil berdasarkan keterangan teman-temannya."

"Hmmm jadi dia miliki kecenderungan untuk lakukan hal ini sampai akhir. Apakah kalian mampu nundukkannya?"

"50%, kesempatan kita akan lebih baik apabila anggota unit khusus dikerahkan."

"Hubungi markas dan jelaskan situasi kita."

"Baik!"

Setelah itu, Deviana kembali langkah ke arah pelaku dan ngatakan, "Tenanglah, kau tidak perlu lakukan semua ini. Perempuan itu juga tidak bersalah."

"Hahaha! Aku sudah tidak peduli lagi. Bahkan kalau hari ini aku mati, aku akan mbawa si pelacur ini bersamaku ke dalam neraka."

Deviana sedang ncari kesempatan. Pelaku sudah tidak bisa lari karena belakangnya sudah tembok tetapi masih terdapat barang-barang yang nghalanginya dari arah samping. Oleh karena itu, untuk naklukan si pelaku hanyalah sebuah tembakan dari arah depan. Tetapi hal itu sulit dilakukan karena adanya sandera.

Orang-orang yang ndengar hal ini mulai marah. Seorang tante-tante yang sebelumnya berusaha nenangkannya malah berteriak, "Dasar pria berengsek! Kalau mau mati jangan bawa-bawa orang lain!"

Ini gawat.

Deviana segera berbalik dan marahinya, "Jangan mprovokasi tersangka."

Ketika si pria itu lihat reka bertengkar, dia hanya tertawa keras. "Ibu itu benar. Aku mang sudah pasrah dengan nyawaku, tetapi sebelum aku mati aku harus mastikan bahwa perempuan ini akan mati bersamaku."

Febri semakin bergetar ketakutan. ndengar kata-kata ini sekaligus rasakan pisau yang ada di lehernya itu semakin nancap, mbuat dirinya berteriak sekencang mungkin.

"Jangan bergerak!" Tiba-tiba si pelaku berteriak ke Deviana. "Jika kau berani ngambil satu langkah lagi, aku akan mbunuhnya!"

Sialan, bagaimana bisa dia begitu jeli.

Deviana semakin mikirkan beberapa skenario terburuk yang bisa terjadi di benaknya. Dia tidak bisa mundur sekarang.

"Bagaimana kalau kau letakkan pisaunya terlebih dahulu? Kami di sini ada untuk mbantu dirimu." Kata Deviana.

"Pergi! mangnya apa yang bisa kau lakukan untukku?" Katanya sambil tertawa. "Apa? Kau takut aku akan mbunuhnya?"

Di mana pasukan khusus? Deviana rasa situasi tiap detiknya semakin gawat.

Di saat ini, sebuah suara mbuatnya kaget. "Apakah kau yakin bisa mbunuhnya?"

Semua yang hadir di sana kaget, mata reka segera nuju ke arah Randika.

Deviana segera njadi marah. Bodoh sekali orang itu, bisa-bisanya dia malah mprovokasi tersangka.

"Hahaha! Bicara apa kau? Tidakkah kau lihat bahwa dia ada di tanganku dan pisau ini bisa nusuk lehernya dengan mudah?" Pria ini rasa bahwa kata-kata Randika sangat lucu.

Randika mbalasnya dengan senyuman di wajahnya, "Aku rasa tidak. Bagaimana kalau begini, cobalah mbunuhnya. Untuk bajingan seperti dirimu, aku hanya mbutuhkan satu garpu."

Deviana natapnya dengan tatapan penuh kebencian. Jika dia berada di samping Randika mungkin dia sudah mbanting pria itu.

"Baiklah kalau begitu!" Si pria ini segera ngangkat tangannya tinggi-tinggi berusaha nikam pacarnya di lehernya.

"Ah!"

Semua yang ada di sana segera berteriak, jantung Deviana seakan-akan berhenti berdetak ketika lihat ayunan pisau itu segera jatuh. Namun, yang terjadi bukanlah adegan berdarah yang dikira orang-orang. Randika yang gang sebuah garpu telah lemparnya dengan kecepatan tidak biasa. Sebelum pisau itu sempat nancap di leher Febri, tangan yang gang pisau sudah tertancap oleh garpu lemparan si Randika.

"Ah!"

Pria tersebut segera berteriak kesakitan. Tangannya lepas pisau yang digenggamnya erat. Deviana segera lihat kesempatan untuk ngamankan si pelaku. Dia segera maju dan mbanting pria tersebut. Dia segera ngamankan tangan pelaku dengan mborgolnya. Selama proses ini, si pelaku hanya bisa nangis kesakitan.

Para polisi yang ada di sana segera mbantu atasan reka itu.

Hanya dalam sekejap, kasus penyanderaan ini telah selesai.

Semua yang ada di sana masih terheran-heran. Di tangan si pelaku masih nancap garpu hingga setengahnya nancap dalam di area sekitar pergelangannya.

Pria yang lemparnya itu apakah masih manusia?

Mata semua orang masih tertuju ke arah Randika. reka lihat dirinya dengan mata yang terkagum-kagum dan heran.

Viona, yang selama ini di sampingnya, masih lihat semua ini dengan mulut yang ternganga dan rasakan kagum yang amat sangat pada Randika.

Deviana yang sudah berhasil ngamankan si pelaku lihat sosok Randika yang natap dirinya dengan wajah yang tersenyum. Polisi wanita ini masih terkejut dengan semua ini, kalau tidak ada campur tangan Randika maka korban mungkin tidak akan selamat tepat waktu.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 17: Untuk Bajingan Seperti Kau, Satu Garpu Saja Suda on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.