Randika terlihat sibuk dengan pembuatan ramuan X ini. skipun dia sudah ndelegasikan langkah-langkah pengerjaannya njadi beberapa kelompok, semua proses masih mbutuhkan pengawasan dan persetujuan darinya. Ketika dia masih sibuk njelaskan, pintu ruangannya terbuka.
Ternyata itu adalah Inggrid yang sedang ncari dirinya.
"Randika, ini aku nemukan orang baru yang pernah mpelajari ilmu farmasi. Aku akan ngenalkannya padamu." Kata Inggrid.
Di saat Randika ingin nggoda istrinya itu, matanya terpaku pada seorang perempuan berdada besar yang ada di belakang istrinya. Dia berdiri diam ketika ngetahui siapa orang itu.
Viona, yang berada di belakang Inggrid, juga kaget ketika lihat sosok Randika. Bukankah pria ini adalah pria yang nolongnya sebelumnya di taman?
lihat tatapan mata Randika mbuat Viona tersipu malu.
Hari ini Viona tidak makai baju seterbuka kemarin. Dia makai keja putih lengan pendek dengan rok biru. Tangan serta kakinya yang putih mulus itu masih dapat terlihat. Nampaknya rambutnya sudah dia cat kembali njadi hitam. Wajahnya saat di taman yang terlihat muda itu dibalut dengan riasan ringan. Mulutnya masih sama mungilnya dengan kemarin dan terlihat seakan ingin ngatakan sesuatu tapi dia pendam.
Viona masih tidak habis pikir, takdir macam apa ini? Bisa-bisanya pria ini yang njadi atasannya? Dia nampak gelisah dan gangi roknya dengan erat.
Randika di lain sisi malah tersenyum lebar. Benar-benar suatu kebetulan bisa bertemu dengannya lagi.
"Hmmm? Kenapa?" Inggrid rasakan suasana yang canggung ini. Dia kemudian mperhatikan wajah kedua orang itu, "Apakah kalian saling kenal?"
"Aku baru ngenalnya kemarin." Kata Randika sambil tersenyum. "Dia sedang mancing dan aku mbantunya ndapatkan ikan."
ndengar respon si Randika, Viona pun nambahkan, "Benar Bu Inggrid, kemarin beliau telah mbantu banyak diriku."
"Baiklah kalau begitu, dengan ini kita bisa nghemat waktu." Kata Inggrid. "Kalau begitu aku pergi duluan dan bekerjalah dengan baik."
lihat Inggrid yang sudah ninggalkan ruangan, Viona ngumpulkan keberaniannya dan ngatakan, "Benar-benar suatu kebetulan!"
"Benar-benar suatu kebetulan!"
Keduanya ngatakan hal tersebut secara bersamaan, kemudian reka tertawa bersama.
Viona mulai rasa dirinya sudah tidak terlalu malu lagi. Dia lalu ngatakan, "Aku rasa kemarin belum berterima kasih secara sopan. Aku berniat neleponmu nanti malam, ternyata kita malah bertemu di sini sekarang."
"Jadi kita mang ditakdirkan bersama." Kata Randika sambil berkedip. "Kita ditakdirkan bersama skipun jarak misahkan dan akhirnya kita dipertemukan kembali. Bisa dilihat bagaimana alam ingin kita bersama?"
Viona ngangguk keras. "Sebenarnya untuk nyampaikan rasa terima kasihku, aku ingin ngajakmu makan malam." Setelah ngatakan hal ini, Viona natap Randika sambil ragu-ragu.
Randika mperhatikan tatapan mata Viona yang nawan dan berkata dengan senyuman lebar, "Kamu ingin ngajakku makan malam? Bagaimana kalau sekarang? Aku sudah lapar dan malam masih lama."
"Baiklah!" Viona tampak bahagia lalu wajahnya tiba-tiba njadi suram dan dia ngatakan, "Tapi bagaimana dengan pekerjaan?"
"Tidak apa-apa." Kata Randika. "Aku yang berkuasa di sini jadi tidak akan ada yang berani mbantahku. Kamu cukup nuruti perkataanku."
Viona yang pundaknya tiba-tiba dirangkul itu rasa malu dan wajahnya rah. reka berdua akhirnya pergi makan siang.
....
-Restoran-
Randika dan Viona tampak berbincang-bincang sambil nunggu makanan reka tiba. reka duduk saling berhadap-hadapan.
"Viona kenapa kau milih untuk bekerja di perusahaan ini?" Tanya Randika. "Kalau tidak salah lihat, di laporanmu bukannya kamu adalah ahli parfum?"
Viona tersenyum manis, "Karena aku suka parfum dan alat-alat kostik lainnya. Aku miliki hobi untuk ngoleksi segala macam parfum."
Randika ngangguk dan mulai makan makanannya yang baru saja tiba. Sambil ngecap, dia ngatakan "Aku tidak nyangka bahwa kau akan dipindahkan ke divisiku."
"Aku juga tidak nyangka Bu Inggrid akan mindahkanku ke divisimu."
"Oh? Apakah kamu nyesal tidak bisa bekerja sesuai hobimu?"
"Ah maksudku bukan begitu." Kata Viona dengan cepat, "Aku hanya tidak nyangka saja bahwa kau tiba-tiba njadi atasanku, tetapi setelah ngetahuinya aku rasa lega."
"Oh? Lega kenapa?" Senyum nakal mulai terlihat di wajah Randika.
lihat senyuman nakal ini mbuat Viona tersipu malu. Apakah kurang jelas kenapa dia rasa lega? Bagaimana mungkin dia bisa ngatakannya!
lihat Viona yang malu-malu mbuat Randika tersenyum lebar. Dia pun ngatakan, "Viona kamu ngerti ngapa aku miliki ruangan laboratorium sendiri?"
Viona nggelengkan kepalanya.
"Karena aku adalah ahli parfum terbaik di perusahaan." Kata Randika dengan muka serius. "Aku adalah andalan perusahaan Cendrawasih dalam mbuat produk parfum terbaru, oleh karena itu aku dibuatkan ruangan tersendiri."
"Benarkah?" Mata Viona tampak berbinar-binar.
"Tentu saja!" Randika mungkin tidak sadar bahwa dirinya yang sekarang bagaikan serigala yang sedang nipu domba. Jika ada orang yang berani ngatakan hal ini kepadanya, mungkin dia akan namparnya dan nyuruhnya diam karena mangsanya sebentar lagi akan berhasil dia terkam.
"Jadi Viona, aku bisa ngajarimu secara privat ngenai pekerjaanmu ini." Lanjut Randika dengan senyuman liciknya. "Aku bisa mbuatmu njadi orang terkenal di dunia parfum."
Ketika ndengar hal ini, Viona terlihat bersemangat dan alisnya sedikit bergetar.
"Kemarilah ke sisiku." Randika raih tangan Viona. Dia lalu tersenyum dan ngatakan, "Aroma yang kau pancarkan wangi sekali, bolehkan aku nciumnya?"
Ketika tangannya ditarik oleh Randika, Viona rasa hatinya bergetar dan mbiarkan tangannya dicium.
Tangan ini terasa lembut. Randika ngelus-elus terlebih dahulu tangan itu kemudian ncium tangan tersebut untuk ngetahui parfum apa yang dia pakai.
Viona hanya terdiam ketika Randika ncium tangannya. Kemudian tak lama Randika ngangkat kepalanya dan ngatakan, "Hmmm Kurasa tanganmu saja tidak cukup bagiku untuk nentukan parfum apa ini, bolehkah aku ndekatimu agar baunya bisa tercium lebih jelas?"
Viona yang ndengar hal ini semakin tersipu malu. Wajahnya benar-benar rah. Dia ngetahui bahwa Randika sedang aji mumpung terhadap dirinya, tapi entah kenapa dia tidak bisa nolak pesona orang ini dan hanya bisa terpana ketika lihatnya.
Viona akhirnya hanya nundukan kepalanya, tidak tahu harus berkata apa. Randika yang lihat hal ini langsung tersenyum nakal. "Viona, jika kau tidak berkata apa-apa aku akan anggap kau ngijinkanku."
Randika segera berdiri dan duduk di samping Viona. Viona sama sekali tidak berbicara dan hanya nundukan kepalanya.
Randika lalu ngatakan, "ndekatlah, biarkan aku ncium parfum apa yang sedang kau pakai." Setelah ngatakan hal ini, Randika sudah berada di dekat wajah Viona. Dia ncium aroma sesuatu yang wangi.
"Wangi!"
Wangi parfum dan wangi dari seorang gadis yang masih suci mbuat Randika tersenyum lebar dan nyukai bau tersebut.
"Apakah Kau ncium sesuatu?" Suara Viona terdengar sangat kecil.
"Tentu saja! Itu sangat harum." Kata Randika sambil tersenyum.
Viona kemudian ngangkat kepalanya dan natap mata Randika. "Aroma apa yang kau cium?"
"Burberry. [1]"
Dalam sekejap wajah Viona kembali rah. Kemudian Randika raih tangannya kembali.
Viona natap wajah Randika yang terlihat sangat serius. "Viona, kau adalah wanita yang sangat cantik."
"Hmmm terima kasih." Ketika tangannya kembali ditarik oleh Randika, dia berusaha untuk lepasnya namun gagal.
lihat hal ini, Randika segera lepas tangannya dan duduk kembali ke tempatnya. "Cepatlah makan makananmu, kita akan lanjutkan ini nanti."
Ketika lihat sosok Randika yang njauh, Viona rasa lega sekaligus kecewa seakan-akan dia ingin lanjutkan hal tersebut.
"Baiklah." Viona kemudian ngambil sendok dan garpunya. Ketika Randika juga ingin ngambil alat makannya, sendoknya terjatuh.
Randika kemudian minta maaf dan mbungkuk untuk ngambilnya. Dia manfaatkan hal ini untuk ncuri-curi kesempatan untuk ngintip. Namun apa yang dilihatnya mbuatnya benar-benar tidak bisa berkata apa-apa.
Di saat dia ingin ngintip warna celana dalam apa yang dipakai oleh Viona ternyata dia disambut sebuah bibir berwarna rah muda. Ia begitu kecil dan rapat, terlihat sedikit basah.
Viona tidak makai dalaman!
Randika rasa bahwa matanya telah nipu dirinya dan kepalanya mulai pusing.
Viona penasaran kenapa Randika ngambil alat makannya yang jatuh itu tidak balik-balik. Dia tiba-tiba terpikirkan kejadian pagi hari ini, seketika itu juga dia ingin berteriak tetapi akhirnya hanya nunduk malu sambil nutup rapat-rapat kakinya. Pagi hari ini dia terlambat bangun dan terburu-buru ketika dia berangkat nuju kantor, oleh karena itu dia lupa makai dalaman. Dia hanya berdoa bahwa Randika alias atasannya ini tidak lihat apa-apa ketika dia ada di bawah ja.
Ketika Randika kembali duduk di tempatnya, Viona hanya bisa nundukkan kepalanya. Dia tidak berani natap langsung mata Randika. Tetapi dia rasa bahwa hatinya ngepal ketika tatapan mata Randika yang penuh makna lihatnya.
Randika pun berusaha nenangkan nafsu birahi yang mulai naik dan lanjutkan makannya. Dia dalam hati berpikir, Randika tenanglah, kau adalah Ares sang Dewa Perang bukan lelaki sum jadi tenangkanlah dirimu.
Selama beberapa saat suasana makan siang ini berlangsung canggung. Randika berusaha nenangkan dirinya sedangkan Viona hanya nundukkan kepalanya sambil nahan malu dan nutup erat kakinya.
Hanya ada keheningan pada saat ini.
"Viona!" Pada saat ini Randika cah keheningan. Viona kemudian ngangkat kepalanya dan lihat senyuman di wajah Randika, seketika itu hatinya ngepal.
"Bolehkah aku ngambil kembali alat makanku yang jatuh?" Tanyanya sambil tersenyum.
"Tidak!" Viona segera tersipu malu dan ngatakan ketidaksetujuannya dengan suara yang bergetar. Hatinya yang awalnya sudah tenang sedikit kembali berdegup kencang.
Dia lihatnya, dia pasti lihatnya!
Viona rasa sangat malu dan Randika sangat senang lihat tingkah laku Viona yang kebingungan ini sehingga dia ingin kembali nggodanya.
nggenggam tangan Viona, Randika kembali tersenyum dan ngatakan, "Viona tenang saja, aku tidak lihat apa-apa kok."
"Hentikan berbicara bohong seperti itu, aku tidak akan takluk oleh kata-katamu yang manis itu." Viona benar-benar ingin ngubur dirinya dalam-dalam dan berteriak.
Randika kemudian duduk di samping Viona dan mbelai rambutnya. "Maafkan aku, aku tidak bermaksud seperti itu. Kalau kau marah, aku mpersilahkanmu untuk nampar diriku ini."
"Tidak usah." Viona segera nolaknya.
Setelah beberapa saat, Viona kembali natap Randika. Randika pun mbalasnya dengan senyuman dan lihat bahwa seluruh muka Viona benar-benar rah.
"Jangan beritahu siapa-siapa tentang hal ini." Kata Viona dengan suara yang pelan.
"Jangan khawatir, aku tidak akan mbagi kebahagiaan ini dengan siapapun." Kata Randika sambil nyeringai.
"Apa maksudmu!" Viona kembali tersipu malu.
"Hahaha.. Ayo cepat selesaikan makanmu, kita harus segera kembali." Kata Randika.
Di saat reka ingin nyelesaikan makan reka, terdengar kegaduhan dari samping serta suara piring dan gelas yang pecah bersamaan.
"Tolong! Ada orang yang sedang nyandera!"
Sebuah teriakan minta tolong muncul dan mbuat seluruh restoran njadi panik.
[1] rek parfum mahal dari Inggris
Reviews
All reviews (0)