Ketika Randika hendak masukkan peluru ke-3 itu ke mulut Rohim, tangan kanannya ditarik oleh seseorang.
Ketika dia noleh, ternyata itu adalah Deviana yang sudah berurai air mata di wajahnya.
"Randika jika kau teruskan lama-lama dia akan mati!" Deviana nangis, karena bagaimanapun juga Rohim adalah atasannya. skipun cara yang dipakai Rohim terlihat salah ketika minta Randika kembali ke kantor bersama reka, apabila nyangkut keselamatan masyarakat, seluruh penegak hukum tidak akan takut apa pun demi negakkan hukum dan ncegah hal buruk terjadi.
"Bukankah tadi itu adalah penyalahgunaan kekuasaan?" Kata Randika sambil nyeringai. "Sekarang karena sudah tidak berdaya, dia rengek minta ampun? Kalau aku tidak ngeluarkan peluru itu sebelumnya, maka peluru itu sudah bersarang di tubuhku!"
"Aku tahu itu dan kami minta maaf." Deviana terus nangis sambil nggigit bibirnya.
Randika mperhatikan wajah cantik Deviana yang bergelimang air mata itu. Dia rasa hatinya lunak ketika lihatnya. Dia lalu mperhatikan muka pucat Rohim dan lemparkannya kepada kedua polisi lainnya itu.
"Kukembalikan teman summu itu." Randika lalu berjalan dan nggendong Elva. "Untuk peluru yang sudah dia telan, segera bawa dia ke rumah sakit dan dia akan selamat."
Kedua polisi tersebut dan Deviana tidak berkata apa-apa dan segera mbawa Rohim ke mobil reka. reka langsung nuju rumah sakit.
Di sisi lain, Randika sudah sampai di hotel sambil nggendong Elva di kedua tangannya.
"Selamat malam tuan, apakah ada yang bisa kami bantu?" Resepsionis hotel nyambut Randika dengan senyuman walaupun Randika masuk sambil nggendong Elva.
"Kami mau san kamar untuk satu malam."
"Pertama-tama saya minta KTP tuan dan kami akan segera mprosesnya."
Randika lalu letakkan Elva di sofa dan berusaha ngambil dompet di saku celananya. Namun saku celananya terasa penuh dan dia mutuskan untuk ngeluarkan semua benda itu terlebih dahulu.
Di depan resepsionis ini, Randika naruh kotak kondom-kondomnya di ja bahkan ada yang terjatuh dan isinya sampai keluar.
Randika ngintip perempuan itu dan lihat keterkejutan di mukanya.
Kenapa pria ini punya banyak sekali kondom? skipun kita sama-sama dewasa dan kita tahu bahwa arti dari nginap semalam, bisa-bisanya pria ini mbawa kondom segitu banyaknya?
Randika lalu cah keheningan dengan tertawa dan resepsionis ini segera sadar kembali.
"Hahaha Maaf." Randika tidak malu sama sekali. "Sebelumnya temanku itu sudah sangat antusias dan kami terlanjur mbelinya terlalu banyak."
"Aku ngerti tuan." Perempuan itu berusaha tetap tersenyum.
Setelah itu, Randika nyadari bahwa dia lupa mbawa dompet. Sebelumnya dia ngejar pembunuh itu dengan terburu-buru dan dia tidak mbawa apa-apa dengannya.
"Maaf, aku lupa mbawa dompet." Kata Randika kepada resepsionis tersebut. Lalu, di bawah tatapan tajam resepsionis itu, Randika ncari-cari dompet di tubuh Elva.
Hei aku tidak berbuat sum, aku hanya sedang ncari dompetnya!
Randika lalu nyadari bahwa Elva sedang makai gaun pesta mini dress dan tidak ada kantongnya sama sekali. Lalu dia berpikir karena sebelumnya Elva berada di bar, bagaimana dia akan mbayar tagihannya?
Lalu dia teringat ketika dirinya berciuman panas dengan Elva sebelumnya, dia rasakan sesuatu yang keras di pantat Elva, apakah itu dompetnya? Lalu diam-diam dia ngeceknya dan nemukan dompet tersebut.
Dia berusaha terlihat tenang skipun tatapan mata resepsionis itu nusuknya.
Randika lalu mberikan KTP milik Elva dan tidak lama kemudian kamar reka telah siap.
"Ini kunci kamar Anda tuan. Selamat nikmati malam hari ini."
ndengar perkataan itu, Randika tersenyum dan berjalan nuju lift.
Ketika dia masuk, dia segera nidurkan Elva di ranjang.
"Kau berhutang budi padaku kali ini." Randika natap Elva yang masih tidak sadarkan diri dan nanggalkan pakaiannya. Tidak lama kemudian, bagian atas Elva hanya tertutup oleh beha putihnya.
Luar biasa!
Randika tidak bisa nahan diri untuk tidak nelan air liurnya. Dada wanita ini besar, sama seperti istrinya dan Viona.
lihat Elva yang tidak sadarkan diri itu, Randika secara tidak sadar njulurkan tangannya dan remasnya. Keempukan yang luar biasa itu segera dia rasakan.
Ketika dadanya dipegang, Elva mbuka matanya sedikit dan luk erat Randika.
Asyik!
Aku tidak tahu bahwa kau masih ingin lanjutkannya.
rasa bahwa dirinya telah diundang, Randika tidak sungkan dan remasnya beberapa kali lagi. "Ketika waktunya tiba, aku akan minta hutang ini dibayar lunas."
Namun secara tiba-tiba, wajah Elva njadi pucat pasi dan tubuhnya mulai kejang-kejang.
"Gawat!" Randika terkejut. Sebelumnya dia sudah nekan titik-titik tubuh akupuntur Elva ketika reka bersraan di jalan sebelumnya. Dengan bantuan tenaga dalamnya juga, dia telah nghentikan penyebaran obat yang telah dia terima dari para preman itu. Namun, rupanya tenaga dalam Randika tersalurkan terlalu banyak dan mbuat tubuh Elva terguncang.
Begitu ini terjadi, mustahil untuk disembuhkan. Hanya ada satu cara untuk nyelamatkan Elva dan dirinya.
Elva rupakan salah satu anggota Arwah Garuda, jadi apabila perempuan ini mati karena dirinya, bisa-bisa terjadi keributan yang tidak perlu.
Tanpa ragu-ragu lagi, Randika segera ncopot celana pendek ketat yang dipakai Elva di balik gaunnya dan sepasang paha putih yang mulus nyambutnya.
"Aku tidak nyangka ada sisi kekanak-kanakkan di dirimu." Randika lihat celana dalam doraemon yang dipakai Elva dan sedikit tertawa karenanya.
Di saat yang sama, Randika juga lepas baju dan celananya. Seluruh otot kekarnya dan luka-lukanya terekspos.
Dia perlu nggunakan tenaga dalamnya yang murni ini untuk nyelamatkan Elva. Semakin pori-pori tubuh yang terbuka, semakin bagus.
Ketika semuanya sudah siap, dia segera nancapkan jarum akupuntur untuk njaga detak jantung Elva. Kemudian dia nancapkan beberapa jarum sekaligus naruh tangannya di dada Elva!
Bukan waktunya untuk dirinya terpesona dengan keempukan dada Elva. Tenaga dalamnya yang berada di tubuh Elva segera ngalir kembali ke tubuhnya dengan cepat. Tiba-tiba, Elva responnya dengan suara desahan yang cukup erotis.
Tangan kanan Randika masih terus nancapkan jarum di titik-titik tertentu pada tubuh Elva. Karena serangkaian tindakan Randika ini, Elva mulai mancarkan asap berwarna pink dari tubuhnya.
Asap-asap pink ini dipaksa keluar oleh Randika. reka keluar dari pori-pori tubuh Elva dan nyebar ke seluruh ruangan. Kamar yang terang ini segera dipenuhi asap berwarna pink ini.
Karena proses penyembuhan ini, seluruh tubuh Randika sekarang dipenuhi oleh tenaga dalamnya.
Muka Randika terlihat penuh konsentrasi. Ketika dia ngangkat tangan kirinya dari dada Elva, dia nepuk pelan dada itu dan tiba-tiba Elva tidur telungkup dengan sendirinya.
Tangan kirinya sekarang diletakkannya di punggung Elva dan tangan kanannya masih nusukkan beberapa jarum lagi. Kecepatan asap pink yang keluar dari tubuh Elva tersebut mulai berkurang dan rona wajahnya kembali njadi normal.
Setelah beberapa saat, Elva terlihat bernapas kembali dengan normal. Kemudian Randika ndudukkan Elva dan mulai ncabuti jarum-jarumnya.
lihat bahwa Elva sudah kembali normal, Randika bernapas lega.
"Aku ngharapkan imbalan yang sepadan!"
Asap pink di kamar ini juga perlahan mulai hilang. Randika lalu beristirahat di samping Elva dan tidak perlu nunggu waktu lama untuk dirinya ngantuk.
Sebelum dia tertidur, dia mastikan bahwa Elva sudah tertidur dengan pulas. Butuh beberapa waktu untuk perempuan itu agar tersadar kembali jadi dia tidak perlu khawatir ketika tidur di sampingnya.
Lalu ketika dia nutup matanya, dia lupakan sesuatu. reka berdua hanya makai celana dalam! Dia bisa-bisa dibunuh Elva kalau dia terbangun dengan keadaan reka seperti ini.
Dia segera lompat berdiri dan mulai berpakaian. Setelah itu, dia berusaha makaikan Elva gaunnya dan celana ketatnya.
Ketika dia selesai makaikannya, paha mulus dan dada empuk itu tertutup lagi. Dia rasa sayang kalau dia tidak lihatnya sekali lagi dan dia longgarkan gaun tersebut hingga ke perut. Dia ingin rasakan keempukkan itu sekali lagi.
Ketika tangannya hendak raih kegembiraannya itu, bel kamarnya berbunyi.
"Ha? Siapa?" Randika segera waspada. Apakah anggota Jeratan Neraka lainnya telah nemukan dirinya? Randika segera nempelkan telinganya pada tembok dan berusaha ndengarkan suara apa saja yang bisa dia tangkap.
"Iya siapa?" Teriak Randika. Namun tidak ada jawaban dari pihak luar skipun suara bel itu tidak berhenti.
Randika mulai waspada. Dia mancarkan aura mbunuhnya ketika dia berjalan nuju pintu.
Reviews
All reviews (0)