Ketika Randika mbuka pintunya dia disambut oleh sosok yang tidak terduga.
Dia adalah Inggrid!
Bagaimana bisa istrinya itu ada di tempat ini?
Ketika lihat Randika yang ada di balik pintu, Inggrid bernapas lega. Dia pada saat itu hanya lihat Randika yang ngejar pembunuh tanpa bisa berbuat apa-apa. Karena khawatir akan keselamatan Randika, dia mutuskan untuk ngejarnya bersama Ibu Ipah.
Dengan bantuan Ibu Ipah, lacak pergerakan Randika hanyalah masalah sepele. reka juga ngikuti petunjuk berupa para preman yang berlarian sambil telanjang. Di dunia ini, mungkin hanya Randika yang miliki keberanian dan ide absurd seperti itu hingga dapat maksa para preman itu.
Ketika reka lihat Randika nggendong seorang wanita ke arah hotel, hati Inggrid sedikit terasa sakit. Setelah minta nomor kamar Randika di resepsionis, dia segera nuju kamar tersebut.
Randika masih terkejut di balik pintu sedangkan Inggrid ingin ndobraknya. Ketika Inggrid hendak masuk, Randika ncegahnya.
"Istriku yang cantik kenapa kau ada di sini?" Kata Randika dengan senyuman canggung.
Inggrid rasa ada yang aneh dan tetap berusaha masuk. Dia nggocek ke kanan dan ke kiri tetapi tetap tertahan oleh Randika.
"Bukannya kau sedang ngejar orang tadi? Ngapain kau di sini sekarang?" Nada Inggrid terdengar dingin. Dia selalu rasa bahwa Randika orang tidak tahu diri dan teraneh yang pernah ditemuinya tetapi dia masih tidak mau mpercayai bahwa Randika adalah orang yang suka selingkuh.
Sepasang lelaki dan perempuan berjalan nuju hotel berdua, orang bodoh pun tahu apa yang akan reka lakukan di dalam.
Randika lalu mberitahu bahwa dia ingin istirahat dulu sebelum pulang karena rumahnya jauh dan sudah ngejar pembunuh itu cukup lama.
Inggrid benar-benar tidak percaya dengan perkataan Randika. Dia lihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Randika nggendong seorang wanita ketika reka masuk ke dalam hotel.
"Yah begitulah ceritanya haha!" Randika maksakan diri untuk tertawa. "Kalau begitu aku akan Ah!"
Ketika perhatian Randika sedikit teralihkan, Inggrid segera ndorong Randika dan masuk secara paksa!
Gawat. Ini benar-benar gawat!
Randika tersenyum pahit lihat adegan ini. Inggrid telah lihat Elva yang gaunnya sedang terbuka dan nampilkan behanya yang putih itu. Dia benar-benar terkejut dengan kenyataan ini dan sebenarnya berharap bahwa matanya tadi nipunya.
"Hmm.."
Inggrid ndengus dingin dan berjalan balik nuju pintu.
Sesuai dugaanku pria ini hanya pria sum dan mikirkan dirinya, pikirnya.
Hati Inggrid sekarang sedang ngalami gejolak batin. Dia tahu bahwa hubungan reka hanyalah kawin kontrak dan akan berakhir dalam 3 bulan. Lalu kenapa dirinya rasa hatinya sakit ketika dia lihat Randika hendak lakukannya dengan wanita lain? Kenapa dia sebelumnya peduli dengan pria semacam ini yang bermain di belakangnya?
Inggrid rasa muak dengan semua ini jadi dia ingin segera keluar dari sini. Namun, sekarang dia dicegah oleh Randika.
"Minggir!" Teriak Inggrid.
"Tunggu!" Randika langsung ncegah Inggrid yang hendak keluar itu. Permainan nggocek kembali terjadi.
"Inggrid tunggu dan dengarkan aku." Kalau Randika njelaskan hal ini sambil bercanda mungkin Inggrid benar-benar akan ninggalkannya.
Akhir-akhir ini, dia rasa bahwa hati Inggrid sudah mulai terbuka untuk dirinya. Terutama setelah percobaan pembunuhan di rumah reka itu. Dengan datangnya Inggrid ke tempatnya ini rupakan bukti tak terbantahkan bahwa dirinya sudah njadi orang penting di hidup istrinya itu.
Yang terpenting sekarang adalah njelaskan bahwa situasi yang tampak erotis ini hanyalah sebuah pertolongan yang dibutuhkan untuk nyelamatkan wanita yang setengah telanjang tersebut.
Randika benar-benar ingin nangis sekarang. Dia sebelumnya tidak ndapatkan apa-apa ketika bersama Elva sekarang istrinya hendak ninggalkannya.
"Jelasin apa?" Inggrid berteriak keras pada Randika. "Aku tidak peduli kamu mau berbuat apa dengan wanita itu!"
"Tenanglah, ini semua tidak seperti yang kau bayangkan." Randika segera nampar dirinya sendiri, dia rasa telah berbuat sesuatu yang sangat buruk terhadap istrinya itu.
"Apa? Kau ingin markan hubunganmu dengan wanita itu di depanku?" Entah kenapa kali ini, suaranya terdengar serak.
"Istriku Aku mohon dengarkan aku." Randika benar-benar mohon kepada Inggrid.
"Siapa yang kau sebut istri?" Inggrid malingkan wajahnya. "Ingat hubungan kita ini terjalin cuma karena kontrak, kita akan berpisah dalam 3 bulan!"
Inggrid lalu ngangkat kakinya dan nginjak keras kaki Randika.
Karena Randika sibuk dengan kakinya yang sakit, Inggrid segera ninggalkan ruangan terkutuk itu.
lihat Inggrid yang berjalan keluar itu, hati Randika terasa sakit. Kenapa semuanya njadi seperti ini? Bukankah awalnya dia sedang ngejar pembunuh dari Jeratan Neraka lalu tiba-tiba bertemu dengan Elva yang telah diberi obat? Lalu karena suatu alasan dia bertemu Deviana dan sekarang setelah nyelamatkan hidup Elva, istrinya malah ngira dirinya selingkuh?
Akhirnya, setelah beberapa saat terdiam, Randika nghela napas. Dia hanya nyalahkan ketampanan dirinya itu dan para perempuan yang klepek-klepek karena pesonanya itu.
'Yah nanti aku akan jelaskan lagi saat tiba di rumah.' Pikirnya. Lagipula, reka tinggal seatap dan agar dirinya tidak diusir dan untuk nyelamatkan citranya, dia harus njelaskan situasi ini dengan sejelas mungkin.
nutup pintu kamarnya, Randika kembali nuju tempat tidur. Seharusnya efek obat dalam tubuh Elva sudah hilang sekarang dan seharusnya dia sudah bangun sekarang.
Namun, di tempat tidur tidak ada siapa-siapa.
Di saat Randika terkejut, sebuah bayangan sudah nerjang turun ke arah kepala Randika. Tanpa peringatan apa-apa dia hendak mukul Randika!
Namun, reaksi Randika jauh lebih cepat. Dia langsung ngelak dan ncengkram erat pergelangan tangan bayangan tersebut. Dia lalu nariknya jatuh!
Namun, bayangan tersebut sangatlah lentur. Dia manfaatkan montum jatuh tersebut untuk bersalto di udara dan nerkam punggung Randika. Keempukan dada perempuan itu nempel dan kaki panjangnya yang mulus itu ngapit leher Randika.
"Kau sudah gila apa?" Sambil berteriak pada Elva, dia masih sempat nikmati dan nggigit kecil paha putih itu. rasa bahwa Randika malah manfaatkan keadaan ini untuk aji mumpung, dia segera lepas pelukan mautnya itu. Namun, Randika segera ngunci salah satu kaki Elva dengan salah satu lengannya.
Elva berusaha larikan diri tapi tidak bisa.
"Kau harusnya berterima kasih padaku bukan nyerangku!" Randika ngerutkan dahinya.
lihat pria paling dibencinya di dunia ini, dia segera ngangkat tangan kanannya untuk nghajar pria itu. Namun tangannya malah tertangkap dan posisinya njadi canggung.
Elva lalu nganalisa situasinya sambil terus mberikan tatapan tajam, dia lalu ngangkat tangan kirinya dan mukul ke arah kepala Randika. lihat Elva yang terdiam beberapa saat, Randika juga sudah ngetahui bahwa perempuan ini tidak akan nyerah. Dia lalu berdiri sambil nggenggam erat kedua kaki Elva dengan capitan lengannya itu. Dengan begini, Elva tidak bisa nggapai Randika sama sekali.
Elva, yang rasa posisinya sudah skak mat, berhenti lawan dan terdiam.
"Kau gila atau apa?" lihat Elva, Randika masih sedikit jengkel. Dia sudah susah payah nyelamatkan hidup perempuan itu, sekarang malah dia nyerang dirinya tanpa berkata apa-apa. Apakah dia lupa mon panas reka? Dan mana imbalanku karena telah nyelamatkanmu?
"Huh!" Elva rasa muak ketika lihat muka Randika. Ketika dia terbangun tadi, gaun yang dipakainya telah terlipat dan mperlihatkan dadanya. Celana pendek ketatnya yang dia pakai di balik gaunnya ternyata terpakai terbalik. Hanya ada satu penjelasan logis. Ketika dia tidak sadarkan diri, Randika pasti telah berbuat tidak senonoh terhadap dirinya!
Terlebih lagi, ruangan ini nampak seperti kamar sebuah hotel. Jadi Randika pasti telah berbuat aneh-aneh terhadap dirinya.
"Apa yang kamu lakukan padaku saat aku tidak sadarkan diri?" Tanya Elva dengan tatapan dingin.
Randika terkejut, bajingan berarti kau ingin mukulku hanya karena itu? Kenapa tidak berbicara dengan kepala dingin saja?
"Aku cuma mbantumu ngeluarkan obat para preman itu keluar dari tubuhmu itu!" Senyum canggung naik di wajahnya. "Kalau tidak, kenapa kau rasa enakan sekarang?"
"Bukan itu inti permasalahannya!" Elva lihat senyum canggung Randika itu dan ngamuk.
"Bukankah itu saja yang terpenting?" Randika pura-pura kaget. Setelah berpikir beberapa saat, dia ngatakan. "Apakah kau mau tahu kalau aku suka doraemon atau tidak?"
"Kurang ajar!" Ketika ndengarnya, dia ingin nampar Randika tetapi dia tidak bisa bergerak.
Dia maki-maki Randika sambil ngutuknya dengan tatapan matanya.
Dasar pria tidak tahu diri! Aku akan mbalas perbuatanmu!
Randika hanya bisa tersenyum pahit, sebagai seorang pria dia tidak bisa lewatkan kesempatan emas seperti itu.
"Jika kau tidak segera diam, aku akan tunjukan apa saja yang kulakukan tadi." Randika tersenyum nakal padanya. Posisi reka sekarang terlihat canggung, intinya Randika luk erat kakinya Elva. Elva tidak bisa bergerak karena pahanya telah dirangkul oleh Randika. Randika hanya perlu mbenamkan kepalanya di antara paha Elva dan itu sudah cukup untuk nyulut api peperangan.
"Kau!" Elva natapnya tajam.
Randika tidak bisa nahan dirinya untuk tidak nghela napas. Kenapa gadis ini begitu naif? Seorang Ares takut dengan ancaman manusia? Dirinya semakin tertantang untuk lakukannya.
Seketika itu juga, bukannya mbenamkan kepalanya tetapi Randika nurunkan posisi Elva hingga wajah reka berhadap-hadapan.
"Kau!" Elva rasa malu sekaligus marah. Karena wajah Randika ada di hadapannya, dia segera malingkan wajahnya.
Percuma untuk malingkan wajah, dia sudah rasakan bahwa hidung Randika sudah nempel di wajahnya dan turun ke lehernya.
"Sungguh leher yang nggoda..." Randika lalu njilatinya! Elva rasa jijik dan nutup matanya. Dia berusaha nahan rasa malu ini.
Randika lalu berbisik di telinganya. "Telinga yang kelihatan lezat..." Dia lalu nggigit telinga Elva dan suara desahan yang imut keluar dari mulut Elva.
Elva rasa tubuhnya akan dinodai seluruhnya jadi dia berusaha lepaskan diri. Namun usahanya percuma, dirinya sedang dipeluk oleh salah satu orang terkuat di dunia jadi dia tidak bisa lawan sama sekali.
Elva hanya bisa ndam amarah ini dan maki-maki Randika dalam hatinya. Bahkan orang-orang di Arwah Garuda tidak berani lecehkannya seperti ini.
"Hmm? Mulut berkata tidak tapi tubuhmu berkata cukup jujur." Randika nyadari di bagian dadanya ada yang ngeras dan suara napas Elva semakin berat. Berarti titik erotis Elva berada di telinga itu telah respon dirinya. Dia sendiri tidak bisa ngontrol miliknya lagi.
"Jika kau tidak lepaskan aku, aku akan mburumu seumur hidupku! Seluruh Arwah Garuda akan nghantui hidupmu!" Teriak Elva.
Sejujurnya, ancaman ini tidak berguna di depan Randika. Arwah Garuda nghantui dirinya? Para bawahan milik Randika jauh lebih kuat daripada reka, jadi kenapa perlu takut?
"Angsa putihku yang cantik ternyata tidak mau lepas dariku?" Randika terus nyerang telinga Elva. "Apakah kau ingin bersamaku hingga ujung bumi?"
"Kau!" Elva ingin mberontak tapi telinganya selalu digigit ataupun disebul, jadi kekuatan tubuhnya nghilang. Dia rasa malu karenanya.
"Sudah jujur saja, skipun mukamu biasa saja, dadamu biasa saja, pantatmu kurang semok, kulitmu kalah mulus dan kakimu kalah panjang, aku tetap nerimamu dengan senang hati." Kata Randika sambil tertawa.
"Mimpi!" Elva sekarang diserang secara verbal juga, ini mbuatnya lebih marah lagi.
Randika tiba-tiba teringat akan jam dan istrinya yang masih ngambek di rumah. Dia rasa sudah cukup main-mainnya dan lepas Elva dari pelukannya. Elva yang terkejut hampir saja terjatuh.
Setelah mbenarkan pakaiannya, Elva nyadari bahwa Randika sudah ada di depan pintu dan dia berkata pada dirinya. "Lain kali, aku akan berpikir dua kali sebelum nyelamatkanmu. Aku mbuka baju dan celanamu bukan karena aku miliki pikiran aneh-aneh. Pilihannya hanya lakukan itu dan nyelamatkanmu atau lihatmu mati overdosis."
Wajah Elva masih dipenuhi api amarah. Dia langsung masang kuda-kuda nyerangnya dan hendak nerjang Randika. Namun, dia dihentikan oleh kata-kata Randika, "Serang aku sekali lagi maka aku akan nganggapmu ancaman."
Ketika aura yang dipancarkan Randika keluar, Elva milih untuk mandam rasa amarahnya itu.
"Huh!"
Kemudian Elva mbalikkan badannya dan lompat sambil ngambil semua barangnya di tempat tidur.
"Tunggu saja pembalasanku!" Kata Elva dengan nada tidak enak didengar. Dia lalu lompat keluar dari jendela!
Saking marahnya, Elva tidak mau nyentuh apa yang Randika sentuh dan keluar dari jendela. Randika hanya geleng-geleng ketika lihatnya. Perempuan itu benar-benar berpikiran dangkal. nunggu balasannya? Kalau perempuan itu berani nyerangnya lagi, dia tidak segan-segan mberinya pelajaran. Lagipula reka berdua adalah sama-sama ahli bela diri jadi sedikit luka bukanlah suatu masalah.
Sekarang karena Elva sudah tidak ada, Randika tidak perlu lama-lama lagi di hotel ini. Dia masih harus njelaskan situasinya ke istrinya yang sedang ngambek di rumah.
Ketika dia berjalan hendak pulang ke rumahnya, dia lirik kembali ke bar sebelumnya. Ternyata, dia lihat sesosok orang yang dikenalnya dan ngintipnya dari luar.
Reviews
All reviews (0)