Font Size
15px

Di bar itu, Randika lihat Viona sedang duduk di sana.

Viona sedang bersama seorang pria. lihat ini, Randika ngerutkan dahinya. Berani rebut milikku?

Mulutnya juga ikut tersenyum selagi dia berjalan masuk ke dalam bar.

Pada saat ini, Kevin sedang berbincang-bincang dengan Viona. Dari topik yang dibicarakannya, nampaknya pria ini sudah hampir kehabisan.

Sebelum ini, Kevin sudah berkenalan dengan Viona. Bisa dikatakan, itu adalah jatuh cinta pada pandangan pertama. Dari awal pertemuan reka hingga sekarang, Kevin ngejar-ngejar Viona dengan susah payah tetapi tidak ada kemajuan di antara reka.

Viona selalu tidak responsif ketika reka berbicara, njaga jarak dengannya, mbalas pesannya setelah lama terkirim dll. Hal ini mbuat Kevin murung.

Jadi, hari ini dia ngajak Viona untuk bercengkerama agar hubungan reka semakin baik. Jika hari ini tidak berjalan dengan baik, mau tidak mau Kevin harus nggunakan cara liciknya.

"Viona, coba pikirkan dulu saja ngenai hubungan kita ini." Kevin terlihat kecewa. Sejujurnya, Kevin sendiri tidaklah jelek, dia tergolong orang yang tampan. Tapi entah kenapa, hal ini tidak narik hati Viona dan dia rasa ada yang aneh dengan Kevin.

"Aku tidak perlu mikirkannya." Viona nggeleng. "Maafkan aku, aku hanya nganggap dirimu sebagai teman."

"Ayolah Viona, setidaknya berikan aku kesempatan." Kata Kevin. "Aku ncintaimu sejak pertama kali kita bertemu, setidaknya berkencanlah sekali denganku. Kita akan njalani ini dengan pelan kalau perlu."

"Aku akan ngatakan sejujurnya kepadamu. Aku tidak suka denganmu dan aku tidak bisa maksakan perasaanku." Kata Viona dengan muka serius. "Kamu tidak perlu mbuang waktumu denganku. Aku yakin, tidak perlu waktu lama bagimu kalau ngejar perempuan lain."

"Bisa katakan apa penyebabnya?" Kevin tersenyum pahit. "Atau kau ncintai dirimu sendiri sampai-sampai nolak orang lain? Atau ada yang salah dariku?"

Viona nggelengkan kepalanya. "Kau tidak ngerti perkataanku tadi. Aku tidak punya perasaan apa-apa ke kamu dan aku tidak bisa maksa diriku untuk ncintai orang. Setiap orang juga miliki kekurangan dan aku ncari orang yang bisa mbantuku ngatasi kekuranganku dan mbawaku njadi pribadi yang baik."

Di saat Viona berkata demikian, tiba-tiba, dalam pikirannya muncul sosok Randika dengan senyuman nakalnya itu.

Mungkin sejak dia nolong dirinya di taman itu, dia sudah jatuh cinta padanya.

Viona lalu jamkan matanya dan berusaha nenangkan dirinya.

"Dengan begini aku harap kau sadar telah mbuang waktumu untukku. Aku punya urusan lain dan aku perlu ngurusnya segera mungkin." Ketika Viona hendak pergi, tangannya ditarik oleh Kevin.

lihat Viona yang ngerutkan dahinya, Kevin dengan cepat ngatakan. "Viona, aku tahu kita tidak bisa berpacaran setidaknya aku harap kita bisa tetap njadi teman. Sebagai teman, aku minta tolong temani aku sebentar."

lihat muka las Kevin, Viona sedikit ragu.

"Jangan khawatir, kita hanya minum dan ngobrol. Aku tidak akan berbuat aneh-aneh." Kevin maksakan dirinya tersenyum tetapi dalam hatinya dia sangat marah. Dia sudah mbulatkan tekadnya untuk makai obat yang dibawanya untuk mbuat teler Viona.

"Baiklah." ndengar Kevin ingin njaga hubungan pertemanan reka, Viona nganggap tidak ada salahnya dengan hal itu.

"Aku cuma tidak habis pikir, pria mana yang beruntung yang bisa ndapatkan dirimu yang cantik ini sebagai pasangannya." Ketika berbicara, Kevin masukkan obatnya ke dalam minuman Viona tanpa disadarinya.

Namun, hal ini tidak luput dari penglihatan Randika.

"Mungkin ini adalah hari terakhir kita bertemu." Kevin ngangkat gelasnya dan ingin bersulang dengan Viona. "Aku harap besok kita akan sama-sama mbuka lembaran baru."

"Bersulang untuk kebaikan kita masing-masing," Kata Viona sambil tersenyum. "Aku harap kau ndapatkan pasangan hidupmu segera mungkin."

"Bersulang." Mata Kevin sudah dipenuhi sinar kelicikkan. Dia nempelkan bibirnya di gelasnya tetapi tidak minumnya. Dia nunggu Viona minum minuman miliknya.

Malam ini kau milikku!

Pikiran sumnya sudah ke mana-mana. Karena dirinya tidak bisa miliki Viona, setidaknya malam dia akan njadi milikku!

Tetapi seketika itu juga, sebuah tangan nampar ja reka.

Kevin terkejut dan bahkan Viona cahkan gelasnya saking terkejutnya.

"Siapa kamu?" Wajah Kevin terlihat jelek karena rencananya telah gagal. Karena pria ini, gelas Viona telah pecah dan minumannya telah tumpah di lantai.

Viona noleh dan lihat bahwa orang tersebut adalah Randika. Dia terdiam mbeku bukan karena keterkejutannya tetapi karena kata-kata yang dilontarkan Randika.

"Aku pacarnya Viona, kamu siapa?" Randika tersenyum dan minta pelayan untuk mbersihkan minuman yang tumpah. Dia lalu narik tangan Viona dan ngatakan. "Sayang kenapa kamu pergi sendirian tanpa ngabariku?"

Setelah itu, tanpa mpedulikan tatapan Kevin, dia duduk di sebelah Viona.

"Sayang maafkan aku yang terlalu cemburu ini. Minumanmu juga sampai jatuh, sini akan kubelikan yang baru." Randika lalu ngambil nu dan manggil pelayan yang lain. "Minuman ini cocok dengan seleramu yang suka manis itu, yang ini juga terlihat enak."

Randika rangkul bahu Viona sambil terus lihat nunya. Kevin, yang dari tadi lihat reka berdua bersraan, mulai tidak dapat nahan diri karena diabaikan.

"Kalau begitu kami pesan ini dan segelas air untukku." Randika lalu nurunkan buku nu dan bertanya. "Sayang, apakah kamu yang mbayar minuman kita nanti?"

"Tidak." Viona nggelengkan kepalanya. "Temanku Kevin ini ngomong kalau dia akan ntraktirku."

"Oh?" Pandangan Randika ngarah kepada Kevin. "Wah terima kasih bro! Kau mang dermawan sekali. Kalau begitu aku pesan yang lain ya!"

lihat senyuman Randika itu, Kevin tersenyum canggung. Malam penuh gairahnya telah gagal?

Bajingan ini berani-beraninya ingin ngambil apa yang telah njadi milikku. Beruntung aku tidak mbunuhmu! Randika juga berpikir kalau dia mbunuhnya, siapa yang akan mbayar minuman mahal ini.

"Pesan saja, temannya Viona adalah temanku juga!" Kevin segera tersenyum hangat dan Randika mbalas senyumannya. "Kau benar-benar dermawan sekali. Senang berkenalan denganmu."

Kemudian Randika ngajaknya bersalaman.

Untuk nghindari kecanggungan, Kevin berjabat tangan dengan Randika. Seketika itu juga, tangannya diremas kuat oleh Randika. Dia rasa bahwa tangannya itu mulai remuk.

"Lho? Kenapa mukamu jadi pucat begitu?" Randika pura-pura bingung dan gang bahu Kevin. "Apakah kamu perlu ke dokter?" Katanya sambil remas bahu Kevin.

skipun begitu, Kevin tidak berteriak sakit karena dia masih ingin nunjukan sisi kerennya kepada Viona.

Namun, tatapan mata Kevin njadi tajam dan lototi Randika. Ketika dia ngetahui bahwa Viona mperhatikan reka, dia ngatakan. "Ah tidak apa-apa, perutku tiba-tiba sakit."

"Oh begitu! Kalau kau minum alkohol sebanyak itu tidak heran perutmu tidak kuat. Kau malah mbuang uangmu dengan muntahkannya. Spesialis bar ini bukan di alkoholnya tetapi mocktailnya. Sini aku bantu pilihkan, pelayan kami mau pesan!"

Ketika pelayan itu datang sambil mbawa nu, Randika langsung san. "Aku ingin yang ini, ini, itu dan ini."

Seluruh mocktail yang paling mahal dipesan oleh Randika. Kemudian dia mbisiki pelayan tersebut. "Nanti tolong bungkuskan aku 10 tiap minuman itu ya, kira-kira 30 nit lagi aku ambil."

Pelayan itu terkejut tetapi Randika langsung ngatakan, "Jangan khawatir, temanku ini sangat kaya bahkan dia sanggup mbeli bar ini hahaha."

Pelayan itu segera mperhatikan cara berpakaian Kevin dan ngangguk.

Lalu Randika noleh sambil tersenyum, "Jangan khawatir, aku sudah pesan untuk kamu bawa pulang biar kamu nanti nyaman di rumah. Omong-omong ini semua dibayar olehmu kan? Dompetku ketinggalan soalnya di rumah hahahaha!"

Kevin benar-benar naik pitam ketika ndengarnya. Bisa-bisanya pria ini tidak tahu diri seperti itu?

"Tentu saja!" Kata Kevin dengan nada dingin. Harga minuman di bar ini tidak terlalu mahal, tetapi mocktail yang dipesan Randika itu setidaknya berharga 4x lebih mahal daripada minuman biasa. Tiap minuman hampir ncapai 200 ribu rupiah."

Di sisi lain, Randika rasa beruntung karena dia bisa minum secara gratis.

Kevin rasa ada yang janggal dan ingin ngorek informasi lebih lanjut. Dia berkata pada Viona, "Vi, apakah dia beneran pacarmu?"

Viona terkejut ketika ndengar pertanyaan itu. Dia lalu noleh ke arah Randika dan mukanya rah. Dia tidak njawab ataupun nyangkal pertanyaan itu.

lihat Viona yang tertunduk malu itu, hati Kevin terasa sakit. Hampir 10 bulan dia ngejar-ngejar Viona. Pertanyaan utamanya adalah ngapa bajingan tidak tahu diri ini mampu ncuri hati Viona sedangkan dirinya tidak?

Kevin tidak habis pikir.

Randika lihat muka Kevin dan nebak apa yang sedang dipikirkan orang itu. Oke mari kita berdansa!

"Eh ini enak lho beib, cobalah! Jangan takut gemuk, kau cantik apa adanya kok!" Randika nyodorkan mocktail yang dipesannya sebelumnya sambil ncium pipi Viona.

lihat tindakan Randika itu, Kevin kembali naik pitam. Dia sudah ras dirinya dengan san minuman sebanyak itu dan sekarang wanita incarannya dia cium dengan mudah? Yang lebih mbuatnya marah adalah dia hanya bisa nyaksikan semua ini tanpa bisa berbuat apa-apa.

"Oh ya, ini yang tadi aku rekondasikan kepadamu. Cobalah." Randika lihat bahwa api dendam mulai mbara di hati Kevin jadi dia bermaksud untuk mberinya minyak agar lebih berkobar lagi.

Saat nyodorkannya, Randika dengan sengaja numpahkan sedikit minuman tersebut ke Kevin.

"Wah maaf bro! Aku tidak sengaja. Pelayan bisa minta lap tidak?" Randika pura-pura terlihat peduli.

Kevin hanya lototi Randika dengan wajah muramnya. Hanya orang licik yang bisa lihat kelicikan orang lain, Randika pasti berusaha manas-manasi dirinya. Sepertinya orang ini juga tahu tentang rencanaku untuk mbuat teler Viona.

nghela napas panjang, Kevin natap Randika dan bertanya. "Viona, apakah pria ini benar-benar pacarmu?"

Viona ngerutkan dahinya, bukankah kau sudah bertanya?

"Hei kenapa kau ragu begitu? Aku bisa mberikanmu sebuah bukti agar bisa percaya!" Randika lalu berdiri dan luk Viona. Seketika itu juga dia ncium bibirnya!

Kedua bibir itu bertemu dan mpersilahkan lidah reka untuk bersilaturahmi.

Viona aslinya terkejut dengan tindakan Randika ini. Kemudian dia rasakan dada bidang Randika dan tidak bisa nahan diri untuk ngelusnya. Dia lalu berusaha lepaskan diri tetapi lidah Randika tidak mberi kesempatan itu.

Kevin benar-benar patah hati. Dia bahkan bisa ndengar hatinya yang hancur njadi debu.

Kevin natap Randika sambil nggertakan giginya. Dia rasa Randika berkata pada dirinya bahwa dia bisa ndapatkan apa yang dia tidak bisa dapatkan.

Selama 10 bulan ini, dia rasa bahwa Viona pada akhirnya akan jatuh pada pelukkannya dan njadi wanitanya.

Mimpi indah itu sekarang telah hancur!

Setelah 20 detik, reka berdua akhirnya selesai berciuman. Viona terlihat kecapekan.

Randika mperhatikan ekspresi Kevin. Wajahnya benar-benar njadi buruk rupa dengan tatapan matanya penuh dengan amarah.

"Maafkan aku, aku perlu ke toilet." Kevin kemudian berdiri dan ninggalkan reka berdua.

"Apa maksudmu tadi?" Viona bertanya sambil tersipu malu.

"Hmm? Aku hanya negaskan bahwa tidak ada yang boleh ngusik wanitaku!" Kata Randika sambil tersenyum.

"Maksudmu aku?" Viona semakin tersipu malu.

"Tentu saja skipun hubungan kita belum resmi." Randika lalu raih tangan Viona. "Kalau kau mau, sebentar lagi kita ke hotel dan resmikan hubungan kita. Dengan begitu kau akan njadi milikku!"

"Akan kupikirkan." Viona kembali nundukkan kepalanya sambil nikmati minumannya.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 38: Sini Kubuktikan agar Kau Percaya! on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Nightwatcher cover
Similar genre

Nightwatcher

Paperboy ·Harem

Inthisworld,thereis:Confucianism;Taoism;Buddhism,Demons,andMagicians.XuQi’an,a...Readmore Inthisworld,thereis:Confucianism;Taoism;Buddhism,Demons,a...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.