Kevin segera nuju ke kamar mandi dengan berwajah muram. Dia segera nelepon seseorang sesampainya di sana. Tidak butuh waktu lama untuknya terhubung. Suara di balik teleponnya sangat bising.
"Siapa? Aku sedang main poker tahu! Ganggu saja!"
"Aku punya kerjaan buatmu, mau tidak?" Hati Kevin masih penuh dengan kebencian terhadap Randika.
"Kerjaan apa?"
"nghajar orang."
"Bah, aku tidak punya waktu untuk itu. Sudah jangan telepon lagi, aku masih bermain"
Kevin langsung ngerti bahwa dia harus masang harga terlebih dahulu.
"Sepuluh juta."
"Aku sudah bilang, aku tidak punya waktu."
"Dua puluh."
"Hmmm baiklah, besok akan kami urus orang itu."
"Tiga puluh dan kau harus nghajarnya sekarang!" Kevin benar-benar ingin lihat Randika yang bonyok di depan Viona.
"Lima puluh dan aku berangkat sekarang."
Bajingan tidak tahu diri, masih sempat untuk nawar?
Kevin tidak punya pilihan selain nggertakkan giginya. Walaupun dia kaya, perasaan diperas seperti ini tidaklah nyenangkan.
"Baiklah, cepat bawa orang-orangmu ke sini. Aku di tempat bar kapan hari."
Setelah nutup teleponnya, Kevin nghela napas.
Kembali ke tempat duduknya, dia lihat Randika dan Viona yang asyik ngobrol dengan sra selagi dirinya tidak ada.
"Maaf aku agak lama." Kevin duduk kembali. Randika natapnya dan lihat wajah pria itu sudah tenang kembali. Dia tersenyum di dalam hatinya.
"Akhirnya kau kembali, ini minumlah yang baru kupesan. Rasanya sepadan dengan harganya!" Randika kembali nyodorkan minumannya.
Kevin ragu ketika diberi minuman tersebut, dia tidak tahu apa isi dari minuman tersebut.
"Maaf, perutku sedang tidak enak. Aku berhenti dulu minumnya." Kevin mbuat alasan masuk akal agar tidak minumnya.
"Sayang sekali." Randika nggelengkan kepalanya. Dia lalu noleh ke Viona dan ngatakan, "Viona sudah waktunya untuk kita pulang."
"Ah, jangan pergi dulu! Temani aku sebentar." Kevin langsung ncegat reka. Kalau reka pulang, buat apa dia mbayar 50 juta?
Randika dan Viona saling bertatapan, tapi Randika ngetahui bahwa Kevin ingin ncegahnya pulang. Tatapan mata Kevin ngindikasikan bahwa dia miliki rencana.
"Baiklah, kita akan nemanimu sebentar. Tidak baik juga tiba-tiba ninggalkanmu ketika kau baru balik." Randika sebenarnya penasaran, rencana licik apalagi yang dipersiapkan olehnya.
Kevin mulai was-was, apakah pria itu ngetahui rencananya? Dia hanya bisa berharap bahwa Randika tidak ngetahuinya. Lagipula, setelah para preman itu datang maka dirinya lah penang sesungguhnya.
"Omong-omong, bagaimana pria ini bisa luluhkan hatimu Viona? Coba ceritakan kisah kalian." Kevin segera ngganti topik dan berusaha ngulur waktu.
Viona mulai bercerita ketika dirinya yang mancing di taman dan Randika nyelamatkan dirinya. Ketika dia bercerita, terdengar suara gaduh dari luar. Akhirnya semua tatapan mata di bar nuju suara itu berasal. Ternyata itu adalah segumbulan orang yang mbawa tongkat logam di tangan reka.
Muka Kevin tidak bisa berhenti tersenyum dan tidak sabar lihat muka bonyok Randika.
"Lho kok kamu tersenyum ke arahku? Maaf aku tidak homo karena aku punya Viona." Kata Randika dengan santai.
"Hahaha kita lihat apakah sebentar lagi kau bisa bacot seperti sekarang. Kau telah ncuri Viona dariku dan sekarang kau akan nerima ganjarannya!" Kata Kevin dengan suara dingin. Viona terkejut dengan perkataan Kevin, jadi orang-orang itu adalah suruhannya?
"Tunggulah aku di sini." Bisik Randika pada Viona. Randika lalu berdiri dan berbicara di depan wajah Kevin. "Ternyata kau bukan hanya modal tampang saja ya, pintar juga kau manggil orang ke sini."
"Tentu saja, aku tidak mau ngotori tanganku dengan darah hinamu itu." Penampilan tenang Kevin benar-benar hilang dan sekarang dia terlihat jahat dan licik.
"Kau salah akan satu hal." Randika nghela napas. "Yang hina itu yang naruh obat di minuman orang."
"Kau!" Kevin benar-benar marah. "Aku akan nghajarmu sendiri!"
"Ayo kita keluar, jangan mbuat keributan di sini."
Randika lalu berjalan keluar sambil diikuti Kevin dan teman-temannya.
Ketika reka semua keluar, orang-orang di jalan langsung nyingkir karena penampilan nakutkan dari para preman itu. reka segera ngepung Randika dan bermain-main dengan tongkat logam reka, nghasilkan kegaduhan.
"Hmmm? Kalian ingin kuhajar juga?" Randika berkata dengan nada datar pada para preman itu.
Salah satu dari reka maju dan ngatakan. "Jadi kau adalah mangsa kami?" Dia adalah yang ditelepon oleh Kevin sebelumnya. Orang yang bernama Rio ini sudah lakukan pekerjaan kotor Kevin berkali-kali.
"Hajar dia sampai mati dan akan kuberikan 50 juta itu setelahnya."
Ketika para preman ini ndengar nominalnya, reka segera bersorak dan darah reka ndidih. Rio juga tidak kalah bersemangatnya, dia nunjuk Randika dengan tongkatnya. "Akan kuberi kau pilihan, mati secara cepat atau mati perlahan?"
"Perlahan saja." Kata Randika dengan santai.
"Oke, akan kukabulkan." Setelah itu, Rio mberi sinyal pada bawahannya dan reka nyerbu Randika.
"Tunggu! Apakah aku perlu makai kedua tanganku?" Randika pura-pura takut.
Ketika ndengarnya, Rio dan semuanya terkejut lalu tertawa. "Sebentar lagi tanganmu itu tidak bisa bergerak!"
"Baiklah kalau begitu, aku tidak perlu nahan diri." Kata Randika.
Seketika itu juga, Randika nerjang maju. Para preman yang masih sibuk tertawa tidak bisa bereaksi terhadap kecepatannya.
Duak!
Salah satu dari reka telah layang dan nabrak temannya yang lain. Dari arah belakangnya, sebuah tongkat sudah ngarah padanya. Randika tidak nghindari lainkan muku perut orang tersebut yang terbuka dan mbantingnya hingga pingsan.
ngambil tongkat yang jatuh, dia lemparnya dan ngenai salah satu kepala hingga akhirnya berdarah-darah.
Salah satu dari reka lalu raung dan nerjang maju, Randika hanya nendangnya dan dia pun tergeletak di tanah.
Sekarang, semua preman itu nerjang Randika dan Randika hanya perlu 2 nit mbereskan reka semua.
Dari awal hingga akhir, Rio hanya berdiri di samping Kevin. Sekarang dia tidak bisa berhenti getar, begitu pula si Kevin yang wajahnya bertambah pucat tiap detiknya.
Apa yang terjadi?
Pria itu ternyata jago berkelahi? mangnya dia mantan pasukan khusus kok bisa-bisanya nghajar suruhannya semua? Bahkan pasukan khusus pun pasti akan kewalahan.
lihat Randika yang berjalan ndekati dirinya, Rio berteriak dengan suara serak. "Mau apa kau ke sini?"
Randika tidak njawab dan terus berjalan ke arahnya.
"Tidak! Jangan bunuh aku!" Rio pun lari terbirit-birit dan tersandung setelah beberapa langkah. Pejalan kaki yang lihatnya langsung tertawa.
Jleb!
Saat dia hendak berdiri, sebuah tongkat telah nancap di antara pahanya.
"Bukannya kau berniat mbunuhku?" Randika sudah berada di depannya dan Rio tidak bisa berhenti ketakutan. skipun dia mbawa senjatanya sendiri, dia tidak punya tenaga untuk lakukannya.
Bahkan, dia mulai ngompol dan nangis. Randika lalu ngambil tongkat yang nancap itu dan ngarahkannya kepada Rio, "Kuberi 3 detik buat kalian lari dari sini. Kalau tidak mayat kalian akan ngapung di sungai."
Rio yang ndengar hal itu langsung kabur tanpa mpedulikan apa-apa.
Para bawahannya juga lari semburat. Sedangkan yang pingsan telah digendong oleh teman reka.
reka takut dengan pria mirip iblis ini.
Randika lalu rasa puas bahwa satu masalah telah selesai. Dia lalu noleh ke arah Kevin yang masih berdiri beku di samping.
Kevin masih tidak dapat percaya dengan kejadian yang di depannya, saat dia nyadari tatapan Randika, dia langsung bergetar tanpa henti. Ketika Randika nghampirinya, dia ngambil langkah mundur tetapi tersandung dan jatuh.
Semua orang yang di bar tertawa. Muka Kevin yang pucat njadi rah ketika ndengar ejekan tawa itu. Hari ini dia benar-benar kalah. Yang lebih penting, kesempatannya untuk ndapatkan Viona sudah benar-benar hilang dan dia sudah tidak miliki wajah untuk kembali ke bar ini.
Ketika Randika sudah berdiri di hadapan Kevin, raut wajahnya yang sombong tadi itu benar-benar njadi putih.
"Tidak sepertimu, aku tidak perlu manggil orang untuk ngatasi masalahku." Randika lalu ngangkat Kevin dengan satu tangannya. "Pergi dan jangan pernah tunjukan batang hidungmu lagi!"
Randika lalu lempar Kevin hingga terjatuh dan berbalik nuju bar.
Setelah itu, dia njemput Viona dan luk pinggangnya lalu berjalan pergi dari bar itu.
Reviews
All reviews (0)