Setelah rangkul pinggang Viona dan keluar dari bar, Randika nanyai Viona.
"Kok bisa kamu kenal pria bajingan seperti itu?" Tanya Randika.
"Dia adalah kenalan dari kenalanku." Viona ngerutkan dahinya. "Dari awal aku juga tidak suka dengannya tapi aku tidak nyangka dia sampai manggil para preman itu."
"Yang sudah berlalu biarlah berlalu." Randika tersenyum. "Asalkan kau selamat aku sudah senang."
"Kau mang pintar berbicara manis ya." Viona juga ikut tersenyum.
"Aku bukan hanya pintar dengan kata-kataku saja, sebenarnya kekuatanku jauh lebih hebat dari yang tadi lho."
"Kekuatan apa?" Viona sedikit penasaran. Dia tahu bahwa Randika jago berkelahi ketika dia mbuat para preman di perusahaan Cendrawasih berlutut semua.
Randika lalu narik Viona ke sebuah gang kecil di mana tidak ada orang dan mojokkannya pada tembok.
Dia lalu ncium Viona sekali lagi!
Kali ini Randika berusaha ndapatkan lidah Viona.
Kepala Viona mulai tidak bisa bekerja lagi, sensasi nikmat dari ciuman panjangnya ini tidak bisa mbuatnya berpikir. Tangan kecilnya itu mulai mukul-mukul ringan dada Randika, entah dia hendak ndorong Randika atau mintanya agar nciumnya lebih intim lagi.
Randika masih nikmati kelembutan bibir Viona sambil mulai raba-raba bagian lain.
Tangan kirinya mulai bergerak ke bagian bawah dan nyelinap masuk dari balik celana dalam Viona sedangkan tangan kanannya raba bagian dada Viona.
rasakan gerakan tangan Randika, Viona mulai sadar dari kenikmatannya dan berusaha lepaskan diri. Dia ndorong dan malingkan wajahnya tetapi percuma, Randika ngecup lehernya sambil terus rabanya. Viona akhirnya nggigit telinga Randika!
"Ah!"
Randika terkejut dan Viona manfaatkan hal ini untuk lepaskan diri.
"Kenapa?" Randika tersenyum pahit, apakah ada yang salah dengan tekniknya?
Hati Viona masih dilanda galau. Dia nyukai Randika sejak pertemuan reka di taman, tetapi dia rasa belum ada kejelasan di antara reka berdua. Dia rasa bahwa hubungan reka yang sekarang terlalu cepat untuk dibawa ke ranjang.
lihat Viona yang terdiam dan nundukkan kepalanya, Randika tersenyum dan ngusap kepala perempuan itu. "Viona, kalau kamu rasa malu karena belum pernah lakukannya kau tidak perlu terlalu mikirkannya. Kita lalui ini secara perlahan saja. Untuk sekarang, bagaimana kalau kita mbiasakan diri dengan ciuman saja? Lama-lama kamu akan terbiasa."
Maksudnya mbiasakan dengan ciuman itu apa?
Viona sedikit kecewa dengan Randika dan berkata dengan nada sedih. "Biarkan aku pulang sendirian."
Randika ngangguk dan ketika Viona lengah, dia nciumnya lagi!
Namun kali ini ciuman itu biasa saja dan hanya beberapa detik. Viona kembali njadi murung.
"Huh!" lihat senyuman nakal Randika, Viona njadi marah.
Jangan harap kau bisa nciumku lagi! Pikirnya.
Ketika lihat Viona naik taksinya, Randika nggelengkan kepalanya dan mutuskan untuk pulang. Masalah utamanya belum dia selesaikan.
...
Setelah kembali di rumah, Randika bertemu dengan Inggrid yang ada di ruang tamu.
"Istriku tercinta, suamimu pulang!" Kata Randika sambil minta peluk. Inggrid hanya nanggapinya dengan muka cemberut dan berjalan njauhinya.
Wah, wah masalah ini ternyata lebih susah dari perkiraannya.
"Tunggu! Yang tadi itu kau benar-benar salah paham." Randika segera ngejar Inggrid.
"Hidupmu tidak ada hubungannya denganku." Kata Inggrid dengan nada dingin. "Kita hanya njadi suami istri selama 3 bulan saja dan setelah itu kita tidak akan bertemu selamanya. Ingat itu baik-baik."
Kali ini Randika rasa Inggrid benar-benar mbencinya.
"Setidaknya dengarkan aku dulu." Randika segera nyusul Inggrid dan berdiri di hadapannya. Inggrid langsung berputar arah, tidak mau lihat wajah Randika.
Randika lalu ncengkeram bahu Inggrid. "Apa yang terjadi malam ini hanyalah salah paham. Aku bersumpah pada Yang Maha Esa kalau aku berbohong, dia boleh motong alat kelaminku!"
Inggrid natapnya tajam dan wajahnya rah, bisa-bisanya pria ini mbawa alat kelaminnya? Dasar pria bar-bar.
"Istriku aku mohon berikan aku beberapa nit untuk njelaskannya! Beberapa detik saja sudah cukup kok." Kata Randika sambil tersenyum.
"Siapa mangnya yang mau ndengarkan alasanmu? Lepaskan aku!" Teriak Inggrid.
"Kau harus ndengarkannya." Randika tetap bersikeras ingin njelaskan.
Inggrid yang berjalan nuju ke lantai 2 segera disusul oleh Randika. "Sejujurnya aku tidak nyangka akan bertemu dengan wanita itu. Setelah aku berhasil ngejar pembunuh itu, aku bertemu dengan wanita yang bernama Elva itu dan kondisinya waktu itu . "
"Aku tidak peduli, aku tidak peduli!" Inggrid segera nutup telinganya dan berlari naiki tangga.
Randika kembali nyusulnya. "Kau harus ndengarnya sampai habis!"
Inggrid lalu berhenti dan noleh. "Buat apa repot-repot njelaskan? Aku punya mata dan aku bisa nyimpulkan sendiri. Aku lihatmu mbawa wanita itu ke hotel dan wanita itu sudah setengah telanjang dan pura-pura tidur pas aku sampai di sana. Buat apa njelaskannya lagi?"
"Jangan percaya dengan apa yang kau lihat, itu bisa nipumu! Aku tahu kau tidak percaya aku akan lakukan hal itu padamu."
"Aku tidak butuh penjelasanmu dan kau tidak perlu repot-repot berusaha njelaskannya." Inggrid lalu naiki tangga lagi, dan Randika nyusulnya lagi. "Aku hanya mbantunya ngeluarkan racun di tubuhnya. Bajunya terlepas karena pori-pori tubuhnya perlu terbuka. Semua itu sama dengan ketika aku nyelamatkanmu dari keracunan di kantor."
"Aku tidak mau dengar, aku tidak mau dengar!"
"Kau harus ndengarnya! Kejadiannya sama persis ketika aku nyuruhmu mbuka baju pada saat itu." Randika ngikuti Inggrid ke mana-mana seperti magnet. Ke mana pun dia pergi, Randika akan ngikutinya. Kalau perlu, dia tidak akan mbiarkan Inggrid tidur sebelum dia ndengarkan dirinya.
Randika tetap bersikukuh njelaskan sedangkan Inggrid tidak peduli dan percaya dengan apa yang dilihatnya. Apalagi, pria ini ahli dalam mpermainkan kata-kata jadi dia tidak boleh terlena dengan kata-kata manisnya.
"Aku tidak mau ndengarmu dan aku tidak peduli denganmu." Inggrid tetap berjalan tanpa henti.
Randika segera berdiri di hadapannya dan mintanya berhenti. "Kau harus ndengarkanku sampai selesai. Semua ini hanya salah paham. Setelah aku berhasil ngejar pembunuh itu, aku bertemu dengan Elva yang diberi obat oleh . "
"AAAAAA!" Tiba-tiba Inggrid berteriak keras dan ngalahkan volu suara Randika.
"Sudah aku bilang kau tidak perlu njelaskan dan aku tidak mau ndengar alasanmu!" Setelah itu Inggrid berlari nuju toilet.
Randika mulai jengkel. mang benar dia mbuka pakaian Elva dan nikmati pemandangan itu, tetapi dia lakukannya untuk nyelamatkan nyawanya sama seperti waktu dia nyelamatkan Inggrid di kantornya. Kalau saja Inggrid mau mahami hal ini, semua kesalahpahaman ini bisa terselesaikan.
Inggrid dengan cepat nutup pintu dan duduk di toilet dengan celananya digantung di pintu. Ketika ndengar tidak ada suara Randika lagi, dia bernapas lega. Sesaat kemudian, pintu toilet itu terbuka dan wajah pria paling dibencinya nampak dari balik pintu.
Inggrid mbeku, pria ini tidak tahu arti kata dari privasi?
Ketika Inggrid hendak berteriak, Randika sudah berlari sekuat tenaga dan nutup mulutnya. Lagi-lagi Randika berhasil ncegahnya untuk berteriak.
Namun, suara langkah kaki dari luar ruangan mbuat hatinya berdegup kencang. "Waduh, Ibu Ipah ngapain juga tiba-tiba naik ke sini."
Inggrid yang tidak makai celana itu natap Randika. Benar-benar pria tidak tahu diri, ini kedua kalinya kau nyekapku di kamar mandiku.
'Huh ketika Ibu Ipah sampai di depan pintu, aku akan berteriak sekuat tenaga dan dia akan nghajarmu!' Pikir Inggrid.
Ketika ndengar suara langkah Ibu Ipah semakin dekat, Inggrid berusaha nggigit tangan Randika seperti sebelumnya. Tetapi Randika sudah belajar dari pengalaman dan tidak mberi kesempatan yang sama.
Inggrid masih belum nyerah. Kali ini dia tidak repot-repot nutupi bagian bawahnya yang terekspos dan berusaha lepas tangan Randika.
"Diamlah sebentar! Ibu Ipah ada di luar" Kata Randika dengan suara pelan.
Inggrid masih berontak dan berusaha mberitahu keadaannya kepada Ibu Ipah yang ada di luar.
ngetahui bahwa lepaskan tangan Randika adalah tindakan percuma, dia mulai nancapkan kukunya ke tangan Randika!
"Hissss." Randika berusaha nahan rasa sakitnya itu sambil nggertakan gigi. Dia tidak punya pilihan, Ibu Ipah sekarang ada di depan pintu kamar mandi.
Ibu Ipah nempelkan kupingnya di pintu untuk beberapa saat. Dia ndengar suara teriakan teredam dan juga suara seperti pinggang yang bertabrakan. Sepertinya ini suara reka lampiaskan hasrat reka? Suara di dalam ngindikasikan bahwa kegiatan reka tidak ingin terdengar.
mang sih pasangan suami istri ini pernah lakukannya di lantai 1 di ruang tamu, tetapi masa lakukannya di kamar mandi?
"Ya ampun, generasi muda mang tidak pilih-pilih tempat. Bahkan kamar mandi saja dijadikan tempat pemuas nafsu. Mau jadi apa negara ini ckck." skipun suara Ibu Ipah pelan, suara ini terdengar oleh Randika dan Inggrid. Inggrid rasa malu dan nyalahkan Randika, sedangkan Randika hanya tertawa.
Ibu Ipah ternyata pengertian juga, mang dia yang terbaik.
"Tolong, aku hanya minta kau ndengarkan tanpa motong penjelasanku kali ini." Kata Randika.
Inggrid masih berusaha berteriak dari balik tangan Randika. Bajingan, kau bahkan tidak mberiku kesempatan untuk lawan.
"Aku anggap kamu setuju." Randika mulai njelaskan. "Setelah aku berhasil ngejar pembunuh itu, aku bertemu dengan Elva, wanita yang ada di hotel itu. Dia rupanya telah diberi obat sama seseorang dan keadaanya benar-benar buruk. Aku mbawanya ke hotel untuk nyelamatkan nyawanya. Aku nggunakan akupuntur jadi aku harus mbuka bajunya. Tentu saja aku tidak mbuka pakaian dalamnya dan setelah aku selesai dan mau makaikannya kembali, kamu ngebel pintu. Percayalah padaku, aku tidak akan ngkhianati istriku yang ncintaiku. Jika aku lakukannya, aku akan lakukannya denganmu."
Setelah Randika selesai berbicara, dia mperhatikan ekspresi Inggrid dan lihat bahwa dia nerima penjelasannya cukup baik. "Istriku, kau percaya kan padaku? Kalau kamu percaya aku akan lepaskanmu."
Inggrid hanya natap tajam pada Randika dan tidak nganggukan kepalanya.
Randika pusing terhadap istrinya satu ini. Dia harus yakinkan Inggrid.
"Baiklah, aku keterlaluan dengan ngancammu seperti ini. Aku akan lepaskanmu dan ndengarkan jawabanmu."
Setelah lepaskannya, Inggrid segera ngatakan. "Jangan lihat ke sini!"
Ha?
Randika tidak nyangka ndengar perkataan seperti itu, barulah dia sadar bahwa Inggrid sedang tidak makai celana.
Setelah Randika tidak lihat, Inggrid segera makai celananya. Di tengah-tengahnya, Randika noleh. "Kamu belum mberikan jawabanmu."
"Kyaa!" Inggrid langsung berteriak. Randika langsung nyekap Inggrid sekali lagi.
Pria ini pasti ingin ngintip! Dia hanya pura-pura nyekapku hanya untuk lihatku telanjang!
Inggrid mulai jengkel. Celananya baru separuh dia pakai dan setelah Randika nerjangnya secara tiba-tiba, celananya lorot hingga ke kaki.
lihat tatapan marah Inggrid, Randika langsung sadar bahwa dia makai cara yang salah lagi. Dia segera ingin nangkap kedua tangan istrinya itu ternyata salah sasaran. Kedua bakpau ngisi penuh tangannya.
Randika dan Inggrid sama-sama terdiam. Tangan Randika yang nyentuh dada Inggrid itu tiba-tiba remas sekali.
"Ah maksudku bukan begini!" Randika langsung narik tangannya.
"Pergi!" Inggrid nampak ingin ncabik-cabik Randika.
"Aku belum ndapatkan jawabanmu. Apakah kau percaya denganku?" Randika masih bersikukuh.
Inggrid benar-benar kehabisan kata-kata. Pria ini benar-benar keras kepala, apa gunanya mang kalau aku mpercayainya atau tidak? Tiga bulan lagi reka akan berpisah dan tidak bertemu lagi.
"Iya percaya, percaya! Keluar sekarang!" Inggrid rasa dirinya nggila.
"Akhirnya! Ternyata istriku pengertian juga." Randika lalu tersenyum. "Kalau begitu aku keluar."
Setelah Randika berada di ambang pintu, Inggrid nghela napas lega. Namun, kepala Randika noleh dan ngatakan. "Kutunggu di kamar beruangku yang manis!"
Seketika itu juga, benda-benda mulai layang.
Pria sum tak tahu diri!
Dirinya mang benar-benar benci dengan pria satu ini!
Reviews
All reviews (0)