Font Size
15px

Randika kembali berlayar nuju pulau terpencil itu seorang diri. Pasukannya berhasil nduduki markas militer ini hingga ke pelosoknya. Dan di waktu yang sama, reka telah nghancurkan markas Bulan Kegelapan ini hingga tidak berbentuk.

lihat pasukannya yang ada di hadapannya, Randika tidak bisa berhenti tersenyum.

"Mari kita pulang!"

"Baik!"

Semuanya setuju dan naiki kapal.

....

Setelah ndarat di pantai, reka semua kembali ke Tokyo.

Sesampainya di rumah amannya, Randika mulai mbagi-bagi tugas.

"Bawa pasukanmu dan carilah informasi ngenai Bulan Kegelapan." Kata Randika pada Dion.

Dion dan pasukannya ngangguk.

"Yang lain beristirahatlah, perjalanan kita masih panjang jadi aku harap kalian siap kapan saja untuk bertempur." Kata Randika pada para pentolan pasukannya.

Setelah rapat ini selesai, Randika masuk ke dalam kamar Yuna.

Sesudahnya dia masuk, Yuna langsung berlari dan luk Randika.

"Aku pikir aku tidak akan bisa bertemu denganmu lagi!" Yuna kembali nangis di dadanya.

Hati Randika tersentuh. Dia lalu mbelai kepala Yuna dan berusaha nenangkannya. "Sudah, sudah, sejak kapan kamu jadi secengeng ini?"

Yuna yang sedikit jengkel mukul dada Randika dengan lembut. Setelah nenangkan dirinya, dia diminta duduk oleh Randika.

"Coba ceritakan kejadian hari itu. Kenapa lokasimu bisa ketahuan?" Tanya Randika.

Perlu diketahui, Yuna bertanggung jawab terhadap divisi penelitian khususnya ngenai ramuan X. Jadi markasnya tidak terletak di istana bawah tanah karena alasan keamanan.

"Aku sendiri tidak yakin." Yuna nggelengkan kepalanya. "Setelah mbangun markas yang baru, aku sama sekali tidak ngontak Catherine dan yang lain untuk njaga kerahasiaan markasku."

"Tetapi beberapa hari sebelum kejadian, aku ndapatkan pesan dari istana bawah tanah. Pesan itu isinya minta bantuan karena markas kita telah diserang dan posisinya terdesak. Jadi, aku ngirim beberapa orang ke sana. Tapi aku tidak nduga bahwa Shadow akan muncul tiba-tiba dan nyerang markas baruku itu."

Randika ndengarkan penjelasan Yuna ini dengan seksama. Kalau dia boleh nebak, pasti ada mata-mata Shadow yang berada di laboratoriumnya itu. Tetapi semua itu sudah berlalu, Shadow sekarang sudah mati dan orang-orang yang berkhianat sudah berkumpul bersama Bulan Kegelapan di markas utamanya.

"Laboratoriumku itu dihancurkan hingga tidak tersisa dan orang-orangku juga dibunuh tanpa ampun. Shadow sengaja nangkapku dan nahanku di pulau itu sebagai jebakan."

"Selama ditahan, aku benar-benar berpikir bahwa aku tidak akan bisa bertemu denganmu lagi."

Setelah ndengar penjelasan ini, Randika bisa mahami seluruh situasinya. Dia lalu berkata pada Yuna. "Kamu sekarang tenang saja, Shadow sudah mati kubunuh dan sekarang hanya Bulan Kegelapan yang nghalangi kita."

Setelah luapkan seluruh perasaannya, Yuna rasa lebih baikan dan dia akhirnya tersenyum pada Randika. "Di tengah penderitaanku itu, aku tahu bahwa kamu tidak akan ninggalkanku. Hanya kamulah yang tidak akan ninggalkanku. Ketika ini selesai, apakah kamu ingin bertemu denganku di kamarku?"

Yuna masih makai baju compang-campingnya, dadanya yang besar itu bergelantungan tepat di sebelah tangan Randika.

Kedua pucuk gunung itu terlihat dan warna pinknya sangat nawan. Boleh dikatakan bahwa dada Yuna adalah yang terbesar di antara Inggrid dan yang lain. Benar-benar nggoda!

Randika kembali sadar dan nggelengkan kepalanya. Dia bersyukur Yuna sudah kembali ke dirinya yang dulu.

"Sekarang lebih baik kamu istirahat dulu. Kamu pasti capek karena telah disekap begitu lama." Kata Randika.

"Tidak mau! Aku ingin tidur bersamamu. Aku yakin adikku juga ingin tidur bersamamu atau kamu ingin kita berdua sekaligus?" Yuna masih tidak ingin nyerah.

Sejujurnya cinta pertama Yuna adalah Randika. Ketika dirinya diselamatkan oleh Randika, detik itu juga dia jatuh cinta pada sosok penyelamatnya. Untuk ndapatkan perhatiannya, baju longgar serta guyonan sum dia pakai. Tetapi sayang, semua itu masih belum cukup untuk ndapatkan hati pujaannya.

Bagaimanapun juga, Yuna bekerja untuk Randika.

Setelah nolak tawaran Yuna dengan susah payah, Randika kembali ke kamarnya dan beristirahat. Sambil berbaring dia mikirkan situasi pasukannya ini. Bisa dikatakan bahwa pasukannya ini ngalami keruntuhan yang sangat luar biasa. Pengkhianatan Shadow, Harimau dan Bulan Kegelapan mbuat pasukannya kocar-kacir.

Prioritas utamanya adalah mbangun kembali pasukannya ini. Dia juga harus nyaring anak buahnya untuk ncegah adanya mata-mata yang masih ditanam oleh para pengkhianat. Dan yang paling penting, reka harus nemukan keberadaan Bulan Kegelapan yang asli.

Tidak lama kemudian, Catherine dan Frank kembali ke rumah aman ini.

Setelah duduk bersama, Randika minta reka untuk njelaskan laporan reka.

"Aku sudah ngontak divisi perang kita yang bersembunyi." Kata Frank. "Kebanyakan dari reka ingin kembali ke pangkuan kita. Namun, ada juga yang sebagian tidak ingin kembali karena kekuatan kita yang sudah lemah. Aku sudah ncoret nama-nama orang itu."

Randika ngangguk, Catherine neruskan laporannya. "Beberapa organisasi di dunia bawah tanah ada yang tertarik bergabung dengan kita tetapi aku tidak terlalu berharap banyak dengan bantuan orang luar."

Matthew neruskan. "Martin dan aku juga mulai rekrut orang-orang dan latih reka, tetapi jumlahnya masih terlalu sedikit. Kalau dihitung bersama pasukanku sekarang, pasukanku masih terisi 1/3."

Dion dan Polemos juga ngangguk. Prajurit di bawah perintah reka juga tidak terlalu banyak.

Selain Serigala, yang ndapatkan prajurit dari tahanan penjara, dan Kyoko, semua jenderal dan letnan telah kehilangan pasukan reka secara drastis.

Dan juga, Randika kehilangan sosok Gilbert dan Carlos pada pertempuran sebelumnya.

Randika ngerutkan dahinya. Dia tidak nyangka situasi pasukannya ternyata senyedihkan ini. Terlebih, dengan berkhianatnya Shadow, dia tidak miliki jaringan intelijensi. mang awalnya orang di divisi itu tidak terlalu banyak, tetapi kehilangan satu saja sudah cukup mbuatnya pusing!

Randika berpikir sebentar dan akhirnya berkata pada semuanya. "Untuk masalah jaringan intelijensi, aku nyerahkan tanggung jawab ini pada Yuna. Mulai dari detik ini, dia akan bertanggung jawab untuk ngolah semua informasi untuk pasukan kita."

Yuna ngangguk. Intelijensi sangatlah penting di sebuah organisasi. Bisa dikatakan bahwa divisi itu adalah telinga, mata dan mulut dari sebuah organisasi. Jika pasukannya ini ngetahui bahwa Bulan Kegelapan hendak nyerang istana bawah tanah reka, maka hasil pertempurannya tidak akan sama dengan yang sekarang.

Terlebih lagi, Yuna rupakan orang kepercayaan Randika dan loyalitasnya sama sekali tidak dia ragukan. Tidak masalah baginya mberikan tugas berat seperti ini.

Randika lanjutkan. "Untuk Catherine, aku mpercayakanmu untuk rebut kembali istana kita itu. Dan untuk para jenderal lainnya teruslah ncari informasi dan rekrut orang sebanyak mungkin. Setelah kalian ndapatkan orang, kirim reka ke Serigala dan dia akan latihnya dengan bantuan Martin dan Matthew."

Para jenderal nganggukan kepalanya.

"Sedangkan untuk para letnan." Randika berpikir sebentar. "Bagilah pasukan kalian njadi 4. Tiap pasukan akan dipimpin oleh dua letnan. Tetapi untuk sekarang kalian harus mimpin pasukan kalian seorang diri. Kalian akan njadi pusat kekuatan kita di masa depan jadi aku ngharapkan totalitas dari kalian semua."

Semua letnan nganggukan kepalanya. Karena pertempuran panjang ini, reka telah kehilangan 4 letnan khususnya setelah Yuna ditarik oleh Randika ke divisi intelinjensi.

"Dan juga, buatlah divisi keamanan yang bertanggung jawab atas ketertiban dan hukum yang berlaku di pasukan kita. Posisi ini untuk sentara waktu akan diisi oleh pasukan milik Dion."

"Frank, kamu bertanggung jawab untuk mbangun cabang dari markas kita. Posisi kita di dunia bawah tanah benar-benar hancur dan kita harus nyerang kembali dengan kuat. Bekerja samalah dengan Yuna dan bangunlah jaringan informasi di markas baru kita. Aku ingin setelah perang ini selesai, skala operasi kita njadi global. Ambilah beberapa orang yang kamu percaya dan rekrut sisanya nanti."

Frank ngangguk. Ketika Randika noleh ke arah Raihan, dia lihat Raihan sibuk lamun sambil gang pedangnya.

Sambil nghela napas, Randika berkata padanya. "Sebaiknya kamu terus latih ilmu pedangmu."

Setelah mbagi tugas, mata Randika terlihat ncekam. "Satu tambahan lagi, jangan lupa untuk nemukan keberadaan Bulan Kegelapan yang asli."

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 229: Reorganisasi Pasukan Ares on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.